
"Wah, kalian di sini juga?" tanya Kakek tersebut pada Karina dan Devin yang saat ini berjalan ke arahnya.
"Ya, kebetulan ini sudah jam makan siangnya, Devin!" jawab Karina. Devin terus berjalan dan berhenti tepat di hadapan sang kakek. Dia menjulurkan tangannya kemudian muncium punggung tangan kakek tersebut.
"Kakek makan siang juga?" tanya Karina kembali.
"Ya, Kakek baru mau memesan!" jawabnya sambil mengusap kepala Devin.
"Apa Kakek mau gabung bersama kita?" tanya Karina menawarkan.
"Bolehkah?"
"Tentu saja! Lihatlah Devin sudah memegang tangan Kakek sejak tadi." ucap Karina sambil menunjuk tangan Kakek yang sedang Devin pegang erat.
"Ha... Ha... Tau saja kalau Kakek tua ini hanya makan sendirian!" ucapnya sambil mengelus tangan mungil Devin.
Karina berjalan di depan Kakek dan Devin untuk mencari meja yang kosong. Setelah menemukan meja kosong tersebut, Karina memandu mereka berdua untuk menuju meja yang sudah di pilih Karina.
Karina menggeser kursi kemudian mempersilahkan sang Kakek untuk duduk. Selanjutnya Karina memangku Devin dan menempatkan nya pada kursi di tengah-tengah antara dia dan Kakek tua tersebut.
"Kamu masih ingat dengan Kakek?" tanyanya. Kakek sengaja menyerongkan badannya agar bisa berhadapan dengan Devin.
Devin hanya mengangguk dengan antusias sebagai jawabannya. Kakek tersebut membuka kacamata dan topi pendora yang di kenakannya, kemudian dia letakan di atas meja.
"Kakek dari mana? Sendirian?" tanya Karina sambil celingukan mencari seseorang yang mungkin saja datang bersama sang Kakek.
"Ya, Kakek hanya sendiri. Cucu-cucu Kakek sibuk semua. Sementara istri Kakek, sudah pergi terlebih dulu meninggalkan Kakek sendiri di sini." ucapnya sendu.
Karina raih kedua tangan Kakek yang tersimpan di atas meja, kemudian menepuknya pelan.
"Tidak masalah, Kakek! Kakek tidak sendiri, ada kita di sini." ucap Karina mencoba membesarkan hati si Kakek.
"Saya pun pernah ada di posisi, Kakek. Sendirian dalam kebingungan." ucap Karina ambigu sambil matanya menerawang jauh.
Karina mengembalikan kesadarannya saat tangannya merasakan sebuah tepukan. Tepukan menenangkan dari tangan renta sang Kakek tua yang duduk dihadapan Karina.
"Maaf, Kakek! Kadang dengan mengingat masa lalu selalau membuat kita emosional" jelas Karina sambil tertawa canggung.
"Tidak perlu meminta maaf. Semua orang berhak menyimpan ataupun membuang masa lalunya!" ucap si Kakek bijak.
"Oh iya, saat di taman tempo hari, kita belum sempat berkenalan. Aku panggil Kakek apa?" tanya Karina pada Kakek tersebut.
"Ya, saat itu kita hanya dapat berbincang sebentar." ucapnya.
__ADS_1
"Panggil saja, Kakek Bram." sang Kakek memperkenalkan namanya.
"Blam," ucap Devin meniru sang Kakek.
Kakek Bram yang mendengar Devin memanggilnya dengan sebutan yang menggemaskan, membuat tawanya pecah.
"Ha....ha... ha... ya ampun, Cu... kamu sangat menggemaskan!" ucapnya sambil mencapit hidung mancung Devin.
"Kakek Buyut! Sepertinya panggilan itu yang paling cocok untuk kamu panggil Kakek." lanjut Kakek Bram.
Perbincangan mereka harus terhenti karena pelayan restoran datang membawa pesanan mereka. Pelayan tersebut mulai menata makan siang di atas meja dan setelahnya mempersilahkan mereka untuk menyantap makan siangnya.
Sebelum pamit, si pelayan membungkuk memberi hormat. Karina yang masih berdiri di samping kursinya, kemudian melakukan hal yang sama.
"Terima kasih!" ucap Karina sambil tersenyum tulus.
Segala yang Karina lakukan tidak lepas dari pengawasan mata elang Kakek Bram. Dia bahkan menyunggingkan senyum bangganya dengan segala bentuk kesopanan yang Karina tunjukan.
Karina mulai melayani Kakek Bram dan Devin, seperti dia melayani suami dan sang Bibi saat di rumahnya. Kebiasaan Karina itu memang tidak bisa dia rubah begitu saja.
Devin mulai memasangkan serbet di atas dadanya, kemudian menyatukan kedua tangannya untuk berdoa. Matanya terpejam dengan kepala yang sedikit dia tundukan.
Kakek Bram terpaku melihat attitude dari anak dua tahun tersebut. Dia kemudian mengikuti apa yang Devin lakukan.
"Kenapa?" tanya Karina saat melihat sang anak belum menyentuh makanannya.
Perhatian Kakek Bram teralihkan. Dia melihat ke arah kursi Devin.
"Aku nggak cuka!" jawabnya memberengut.
"Hem? Kenapa?" tanya Karina. Dia tau kalau anaknya bukan tipe pemilih dalam makanan.
"Ini!" tunjuknya pada daun bawang.
"Aku nggak cuka, Mommy!" rengek nya. Devin mulai menggerakkan garpu dan pisau nya untuk menyingkirkan daun bawang yang ada di atas makan siangnya.
Karina tersenyum sambil menggeleng pelan.
"Sorry! Mommy lupa, Baby!" cicit Karina sambil membantu Devin menyingkirkan daun bawang.
"Oke, no problem!" jawab Devin kembali dengan mood yang cukup baik.
"Mau ganti yang baru saja?" tanya Kakek Bram memberi solusi.
__ADS_1
"No, thanks! Tuhan tidak cuka olang-olang yang menyia-nyiakan makanannya!" jawabnya, membuat Kakek Bram yang mendengar jawaban dari Devin tercengang.
"Ya, di luar sana masih banyak orang-orang yang untuk makan saja harus bekerja keras terlebih dahulu. Devin harus banyak bersyukur dengan segala kebaikan Tuhan." sambung Karina dengan tangan yang tidak berhenti membuang daun bawang dari atas piring Devin.
"Oh, Baby! Kakek buyut bangga sama anak yang peduli dengan sesama!" ucapnya sambil mengelus kepala Devin.
Devin menatap Kakek bermata zambrud tersebut dengan senyum yang menenggelamkan matanya.
"Saat melihat kamu yang tidak menyukai daun bawang, Kakek jadi teringat seseorang yang sama persis dengan kamu, Cu" ucapnya dengan mata yang menerawang ke masa lalu.
"Sudah selesai. Ayo, mam lagi!" ucap Karina menyadarkan lamunan Kakek Bram.
"Kakek juga, habiskan makan siangnya!" Karina memperingatkan.
Kakek Bram mengangguk kemudian mulai mengisi perut kosongnya dengan makanan.
"Kadang aku suka aneh dengan orang-orang yang tidak menyukai daun bawang. Padahal itu sebagai penikmat tambahan dalam sebuah masakan!" gerutunya dengan bibir yang berkerut kesal.
"Di rumah kami saja, yang tidak menyukai daun bawang ada dua orang. Devin dan Daddy nya. Entah kenapa mereka begitu banyak memiliki kesamaan dalam berbagai hal!" ceplos Karina tanpa memfilter segala ucapannya.
"Wajar saja kalau Ayah dan anak kandung memiliki banyak kesamaan." ucap Kakek Bram menjawab pertanyaan Karina.
Karina tertawa canggung. Dia lupa kalau yang ada dihadapannya hanya seorang pria asing yang bahkan baru ditemuinya dua kali.
"Kakek ke toilet dulu! Sudah tua seperti ini, tempat itu memang yang sekarang sering Kakek sambangi."
"Kakek tau kan tempatnya dimana?" tanya Karina pada sang Kakek.
"Tentu saja! Ini bukan kali pertama Kakek datang ke restoran ini!" jawabnya.
"Baiklah kalau Kakek tau tempatnya!"
Karina kembali melanjutkan makan siangnya. Sementara sang Kakek sudah pergi menuju toilet restoran.
Telepon genggam Karina berdering menampilkan nama sang suami di sana.
"Mom! Daddy baru sampai kantor!" ucapnya saat Karina mengangkat panggilan tersebut.
"Mommy sama Devin lagi di restoran depan perusahaan, Dad!" jawab Karina.
"Ya sudah, Daddy ke sana sekarang! Mommy jangan pulang dulu!" perintah Fin.
Karina mematikan panggilannya dan langsung menyelesaikan makan siangnya. Fin sendiri langsung keluar dari dalam kantornya dan bergegas pergi menuju restoran yang istrinya maksud.
__ADS_1