Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Berdetak kencang...


__ADS_3

"Buku Devin, Mom!" jawabnya, meminta buku yang tadi dibelinya.


"Di dalam tas, sayang. Di belakang stroller, Devin," jawab Karina.


"Telima kasih, Mommy!" ucap Devin sebelum berjalan mendekati stroller yang di simpan di dekat sofa.


Devin mencoba menurunkan tas yang tersimpan di atas rak penyimpanan stroller nya. Namun, saat akan menariknya turun, tali tas Dinosaurus Devin, tersangkut dan susah untuk di turunkan.


Devin berjalan menghampiri sang Daddy,


"Dad," panggilnya.


Fin yang masih berdiri di hadapan jendela kaca, menatap Devin yang tengah menengadahkan wajah mungilnya sambil tangannya menarik kemeja Fin.


Fin tersenyum melihat bagaimana lucunya wajah sang anak yang tengah mendongakan kepalanya.


Fin mengarahkan kedua tangannya untuk meraih pipi gembul sang anak. Fin sengaja menekan kedua pipinya agar bibir sang anak maju seperti bibir seekor bebek.


"Oh, baby! Kenapa kamu lucu sekali?" ucapnya sambil terkikik menahan tawanya.


Devin cemberut diperlakukan seperti itu oleh Daddy nya. Namun itu membuat Devin terlihat semakin menggemaskan.


"Daddy! Kasihan!" pekik Karina saat matanya tidak sengaja menangkap kelakuan suaminya.


Fin tidak menghiraukannya. Dia malah terkikik geli melihat wajah sang anak yang memberengut, namun pasrah diperlakukan seperti itu oleh sang Daddy.


Fin berjongkok, kemudian melabuhkan sebuah kecupan pada bibir anaknya itu.


"Kenapa sayang?" tanya Fin sambil melepaskan tangannya dari pipi Devin.


Devin mengusap kedua pipinya sambil mendelik, menatap tajam netra sang daddy.


"Maaf, bisa bantu aku?" tanyanya sopan. Walaupun kesal, Devin tidak melupakan ajaran Mommy nya untuk selalu sopan saat akan meminta bantuan.


"Tentu saja! Apa yang bisa Daddy bantu, hem?" tanyanya pada sang anak.


Devin menuntun tangan Daddy nya menuju tempat tas Dinosaurus nya tersimpan.

__ADS_1


"Tolong tas aku, dad!" Devin menunjuk tas nya.


Fin menurunkan tas milik Devin kemudian memberikannya pada sang anak.


"Telima kasih," ucap Devin tulus.


"Sini duduk," ajak Fin sambil menepuk sofa kosong di sebelahnya.


Devin menurut. Dia duduk di samping Fin dan mulai mengeluarkan dua buku baru yang di belinya saat di Mall tadi siang.


"Buku apa?" tanya Fin penasaran.


"Nih," Devin mengangkat buku nya, kemudian menunjukan bagian cover bertuliskan 'Under the sea.' kepada sang Ayah.


Setelah minggu lalu membaca buku tentang antariksa, hari ini Devin Dean jatuh pada buku dunia bawah laut.


Selain buku tentang hewan-hewan bawah laut, buku dongeng tentang masing-masing hewan nya pun, tidak lupa Devin masukan ke dalam list bacaannya untuk seminggu ini.


Mata Devin berbinar, begitu membuka lembar demi lembar dari buku yang di pilih nya. Fin mengusap kepala Devin gemas.


Karina tersenyum menyaksikan dua pria kesayangan tengah anteng dengan mainan favorit mereka. Ya, buku adalah mainan favorit dari keduanya.


Mata Karina yang sebelumnya fokus menatap kedua pria yang tengah duduk di atas sofa, teralihkan saat mendengar suara rintihan dari arah bed tempat sang Tante terbaring.


Karina menghampiri Tante Nada untuk melihat kondisinya. Saat Karina sampai di sampingnya, Nada tengah tersenyum menatap bunga-bunga yang berjejer di hadapannya.


Di atas nakes sebelah ranjangnya pun, sebuah buket besar dengan rangkaian dari beberapa bunga tersimpan cantik menyambut Nada saat bangun dari tidurnya.


"Tan," sapa Karina sambil berjalan mendekat, kemudian meraih tangan sang Tante secara hati-hati karena terpasang infus.


Nada mengalihkan perhatiannya. Matanya berbinar bahagia, saat dia bisa bertemu kembali dengan Karina. Dia tersenyum penuh syukur.


Karina mendekatkan kursinya untuk duduk di samping ranjang sang Tante.


"Tan, bagaimana keadaan Tante sekarang?" tanya Karina dengan tangan yang kembali dia letakan di atas tangan Nada.


Nada mengedipkan matanya sambil mengangguk pelan, tanda kalau dia baik-baik saja. Nada belum bisa banyak berbicara karena kondisinya sendiri masih lemah. Sebuah sungkup oksigen pun masih terpasang menutup mulut dan hidungnya.

__ADS_1


"Oh iya Tan, aku bawa buku buat Tante." terangnya.


"Sebentar ya, aku bawa dulu. Nanti aku bacakan untuk, Tante." ucap Karina sambil beranjak, berniat membawa buku yang tadi di belinya dari Mall.


Namun, saat Karina berdiri untuk pergi, tangan Nada menahan tangan Karina agar tetap di sampingnya. Karina menatap sang Tante dengan senyuman.


"Sebentar kok, Tan!" ucap Karina meyakinkan.


Karina menggelengkan kepalanya. Dia meminta agar Karina tidak beranjak.


"Ya sudah, aku di sini nemenin, Tante." finalnya.


Nada tersenyum. Dia menurunkan sungkup oksigennya agar bisa berbicara dengan Karina.


"Tan, kenapa?" bingung Karina saat melihat sang Tante menurunkan sungkup nya.


"Si... sini..." lirih Nada sangat pelan, meminta Karina untuk maju mendekat


Karina mendekat dengan mencondongkan telinganya ke depan mulut Nada yang sepertinya akan menyampaikan sesuatu.


"Ada yang bisa aku bantu, Tante?" tanya Karina sambil menatap matanya.


Nada mengangguk sambil mengedipkan matanya.


"Ta... Tante, minta sesuatu boleh?" bisiknya sangat pelan. Suaranya terdengar lirih menahan segala kesakitan nya.


Karina menatap mata sang Tante.


"Apa tan? Tante mau apa?" tanya Karina sambil mengelus kepala Nada pelan.


"Ta... tante, mi... minta satu hal saja," lirihnya kembali.


Karina mengangguk menyetujui permintaan tantenya itu.


"Qu... Queen" lirih nya mengucapkan satu nama, yaitu nama anaknya.


Degh... jantung Karina berdetak kencang saat mendengar nama Queen di sebutkan.

__ADS_1


__ADS_2