
"Aku harus cepat-cepat membawa Devin pergi!!"
Karina bangkit, kemudian merapikan surat yang tadi dia baca dan menyimpannya kembali ke dalam laci.
Karina bergegas pergi meninggalkan ruang kerja suaminya dan masuk ke dalam kamar untuk membawa tas serta pasport miliknya. Selanjutnya dia berangkat menuju bandara.
"Ibu mau kemana?" tanya Bi Surti saat melihat Karina keluar dari dalam rumah dengan membawa tasnya.
"Saya mau keluar sebentar, Bi. Terlalu bosan kalau terus menerus tinggal di dalam rumah," dusta Karina.
"Tapi, Bu, Aden..."
"Bapak sedang di luar kota, Bi. Bapak tidak akan tau kalau saya pergi sebentar" bujuk Karina.
"Jangan lama ya, Bu. Bibi takut Aden marah,"
"Gak mungkin!! Bapak tidak mungkin memarahi Bibi. Dia selalu menghormati orang tua," jawab Karina spontan. Karina merutuki mulutnya yang lancang. Di saat seperti ini pun tanpa Karina sadari, dia memuji suaminya. Hati dan pikirannya tidak sinkron.
__ADS_1
"Ya sudah, Bi. Aku berangkat dulu," pamitnya pada Bi Surti.
Karina berusaha sebaik mungkin menutupi kesedihannya. Dia pergi hanya dengan membawa tas kecil dan baju yang di pakainya.
Karina berangkat ke bandara dengan menaiki sebuah taksi. Pak Deni tengah cuti karena sakit. Kalaupun Pak Deni ada, Karina tidak mungkin meminta Pak Deni untuk mengantarnya ke bandara bisa-bisa rencananya untuk pergi ke Singapura, gagal.
Di jalan menuju bandara, Karina mematikan telepon genggamnya. Dia kembali larut dalam kesedihan dan kekecewaannya.
Kenapa hidup selalu tidak berpihak padanya? Tanya Karina. Begitu banyak penderitaan yang dia lalui selama ini. Apa dengan kehilangan ingatan dan di coret dari keluarga Ayahnya belum cukup bagi Karina?
Karina pikir, pernikahannya dapat menjadi awal dari segala kebahagiaannya. Dia menggantungkan sebuah harapan besar pada keluarga barunya ini. Angan-angan Karina selama ini dalam sekejap mata sirna. Mimpinya hancur. Ternyata, pernikahan yang di jalani selama enam bulan terakhir ini, malah menjadi awal baru bagi penderitanya yang lain.
Karina mengangkat sebelah tangannya ke udara, kemudian menjentikkan jarinya seperti yang selalu Fin lakukan saat memanggil para bodyguardnya.
Dan benar saja, saat Karina menjentikkan jarinya ke udara beberapa bodyguard dari berbagai sudut bandara datang menghampiri Karina. Mereka berkumpul di depan Karina sambil menunduk hormat.
Dalam sesaat, Karina menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitar bandara. Beberapa orang terkejut saat melihat sosok Karina, Nyonya Grahatama yang akhir-akhir ini tengah hangat di perbincangkan di sosial media.
__ADS_1
Karina tidak menghiraukan orang-orang di sekitarnya. Dia fokus pada ke empat bodyguardnya yang saat ini tengah berdiri di hadapannya.
"Kalian jangan ikuti saya!!" perintah Karina dengan tegas.
"Cukup sampai bandara saja!" lanjutnya.
"Tapi Bu..."
"Saya akan pergi ke luar kota menyusul suami saya. Saya ingin memberi kejutan suami saya. Saya ingin memberi kejutan untuknya. Jadi, jangan beritahu dia tentang apapun!!" ancam Karina.
"Tap..."
"Saya sudah berkomunikasi dengan Pak Renal. Di bandara ada bodyguard yang sudah dia siapkan untuk menjemput saya. Jadi, jangan khawatir!!" ucap Karina melanjutkan kebohongannya.
Ke empat bodyguard itu terlihat bingung dan ragu. Mereka saling lirik satu sama lain.
"Ck... ck... ck..., kalian tidak mempercayai saya??!!" Marah Karina.
__ADS_1
"B... bukan begitu, Bu," gagapnya tidak enak.
"Kami akan menjaga disini, sampai ibu benar-benar sudah naik ke atas pesawat. Memastikan keselamatan ibu, sudah menjadi tugas kami," tegas seorang bodyguard.