Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Baby boy..


__ADS_3

Fin memasuki ruang operasi lengkap dengan baju steril biru telor asinnya. Walaupun sebagian wajahnya tertutupi masker namun semua orang tau kalau pria tersebut adalah Ayah dari anak yang akan mereka tolong kelahirannya itu.


Sesaat para petugas medis membeku, tersihir dengan ketampanan Fin. Tubuh tinggi menjulang, mata tajam dengan bola matanya yang indah. Sungguh jauh lebih tampan dari pada yang mereka lihat di televisi ataupun surat kabar.


"Mom," sapa Fin sambil mengusap dan mengecup kening Karina. Selanjutnya Fin berdiri di samping kiri Karina.


Karina yang tengah memejamkan mata kemudian membuka kedua matanya kala mendengar sapaan lembut dari sang mantan suaminya itu. Dia berusaha tersenyum di tengah ketegangannya.


"Apa Mommy sudah cantik?" tanya nya pada Fin.


"Selalu. Mommy selalu jadi yang tercantik," jawab Fin membuat pipi Karina memerah karena malu.


"Daddy serius! Mommy gak mau bertemu baby dengan keadaan yang berantakan!" jelas Karina.


Fin tersenyum.


"Tapi Daddy suka saat Mommy berantakan," bisik Fin tepat di telinga Karina.


"Daddy..." Karina pura-pura marah saat mendengarnya.


Ooeeee...


Tangis kencang sang anak membuat Karina dan Fin membeku dalam sesaat. Mereka menatap satu sama lain.


"Dad, apakah sudah lahir?" tanya Karina pada mantan suaminya.


"Selamat Pak Fin, Bu Karina anak kedua kalian sudah lahir." ucap Dokter Sinta sambil mengangkat bayi merah yang baru di keluarkannya itu.


Karina mematung. Dia tidak menyangka akan secepat itu.


"Apakah dia baik-baik saja Dok?" tanya Karina.

__ADS_1


"Untungnya dia menangis dengan kencang. Jadi yang di khawatirkan sudah terlewati," jelas Dokter Sinta.


"Syukurlah..." ucap keduanya.


"Pak Fin bisa mendekat?" tanya Dokter Sinta.


Fin mendekat ke arah Dokter Sinta. Begitu sampai di sana hati Fin tiba-tiba merasakan sakit kala melihat kondisi perut Karina yang terbuka. Begitu besar pengorbanan Karina demi melahirkan anak-anaknya.


Hati Fin semakin teriris kala mengingat persalinan Karina yang pertama. Dia berjuang seorang diri di tengah penderitanya. Dia tetap mempertahankan Devin meski banyak penolakan dari lingkungan dan keluarganya bahkan di tengah pertanyaan siapa Ayah kandungnya.


Tanpa terasa air mata Fin menetes. Banyak yang dia rasakan saat ini. Haru, bahagia, syukur bahkan penyesalan untuk setiap penderitaan yang Karina alami karenanya.


"Pak," ulang Dokter Sinta.


"I... iya Dok," jawab Fin sambil menghapus air mata menggunakan punggung tangannya.


"Silahkan potong tali pusatnya," Dokter Sinta membimbing Fin untuk memotong tali pusat sang bayi.


"Bapak, Ibu anaknya laki-laki, ya" terang Dokter Sinta sambil menunjukannya pada Karina dan Fin.


"Terima kasih Dok," tulus Karina dan Fin.


"Mommy akan jadi yang tercantik di rumah," goda Fin. Karina tidak menjawab. Dia hanya tersipu.


Dokter Sinta menyimpan baby boy tersebut di atas dada Karina untuk memberikannya ASI pertama. Tidak terlalu lama hanya sebentar sampai si bayi mendapatkan hak nya. Selanjutnya mereka membawa bayi mungil tersebut ke ruang perinatologi untuk di masukkan ke dalam inkubator dan di pantau kondisinya oleh Dokter anak yang bertugas.


Fin mengeluarkan sesuatu dari dalam saku bajunya. Dia berlutut di bawah ranjang operasi dengan kondisi Karina yang masih dalam tindakan penjahitan.


"Daddy, kenapa?" tanya Karina bingung,


"Ayo kita menikah!" ucapnya sambil mengeluarkan cincin.

__ADS_1


Semua orang yang ada di ruangan tersebut melebarkan matanya.


'Menikah?' tanya mereka dalam hatinya masing-masing.


'Bukankah keduanya sudah menikah? Kenapa melamar kembali?'


begitulah pertanyaan dalam benak orang-orang yang ada di sana.


Fin tidak menunggu jawaban Karina. Dia langsung memasangkan cincinnya ke dalam jari manis Karina. Fin bangkit kemudian mengecup Karina beberapa kali.


"Mommy belum menjawab, Dad," sela Karina.


"Mommy tidak mempunyai pilihan lain selain menikah dengan Daddy!" jawab Fin penuh percaya diri.


Karina mendelik pura-pura tidak suka. Dia mengangkat cincin dan menatapnya.


"Cincin ini?"


"Ya, cincin yang dulu jadi penyebab kesalahpahaman, Mommy," jawab Fin.


Cincin tersebut adalah cincin yang pertama kali Fin beli untuk melamar Karina sebelum terjadinya tragedi kecelakaan yang menghilangkan sebagian ingatan Karina. Cincin ini juga yang menjadi penyebab perceraian Karina dengan Fin. Dulu Karina pikir cincin tersebut untuk Queen atau perempuan lain dari masa lalu Fin.


Awalnya Fin sempat ragu untuk memberikannya namun karena cincin yang sudah di persiapkan tertinggal di dalam kue terpaksa Fin menggunakan cincin yang hampir terbuang itu.


"Sebenarnya Daddy sudah mempersiapkan cincin yang jauh lebih bagus dari ini tapi cincinnya tertinggal di dalam kue yang belum sempat Mommy potong," jelas Fin.


Semua yang ada di sana tercicit menahan tawa mereka mendengar penjelasan Fin. Dokter Sinta sendiri hanya menggeleng sambil tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.


"Tapi Mommy suka yang ini. Banyak memorinya," ucap Karina sambil ingatannya menerawang jauh.


"Selesai." ucap Dokter Sinta.

__ADS_1


"Selamat atas kelahiran anak kedua kalian dan lamaran yang begitu mengejutkan ini. Wah ruangan ini sungguh bersejarah," lanjut Dokter Sinta sambil beranjak pergi meminta asisten membersihkan Karina sebelum di pindahkan menuju ruang observasi.


__ADS_2