Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Maaf!


__ADS_3

"D... Daddy..." lirih Karina terbata. Matanya yang sudah menyimpan begitu banyak kristal dalam pelupuknya, dalam seketika luruh bersama hatinya yang patah.


Fin mengerang kencang sambil memegang kepalanya.


"Aaarrghh" teriak nya frustasi.


Ya, Fin frustasi. Frustasi dengan keadaan yang mengharuskannya untuk menyimpan rapat-rapat semua masa lalu demi kesehatan mental istrinya.


Bukan sekali dua kali Fin ingin menyampaikan fakta tentang masa lalu mereka. Namun, pesan dari Dokter yang tau kondisi Karina saat ini meminta Fin untuk tetap diam, sampai Karina sendiri yang mengingat masa lalunya. Atau anggap cerita dari tiga tahun lalu memang tidak pernah ada. Pesannya pada Fin.


Fin menarik nafas, kemudian menghembuskan nya secara perlahan. Dia mencoba meraih kembali kewarasannya.


Fin tidak boleh egois. Dia harus memikirkan masa depan anak dan istrinya.


Fin kembali mensugesti pikirannya sendiri dengan selalu berkata, 'Sabar. Belum waktunya! Sebentar lagi, saat itu akan tiba!' selalu itu yang Fin pikirkan, saat hatinya ingin mencoba berkhianat.


Fin menatap wajah ketakutan anak dan istrinya secara bergantian. Rasa bersalah mulai merasuki hatinya.

__ADS_1


Fin raih tangan anaknya yang masih menangis di bangku belakang. Dia bawa tangan mungil itu untuk selanjutnya di kecup beberapa kali.


"Baby! Maaf ... Daddy minta maaf sama kamu, sayang!" ucapnya penuh penyesalan.


Devin mengangguk, namun masih dengan isakan yang tersisa. Fin usap pipi chubby nya secara perlahan sambil menatap mata sang anak dengan dalam untuk memberitahu sang anak kalau Fin benar-benar menyesali tindakan spontan nya yang mengakibatkan Devin ketakutan.


Devin kembali mengangguk sambil mengusap air matanya. Fin memberikan sebuah senyuman tulus pada sang anak sebagai rasa terima kasihnya.


Selanjutnya, Fin mulai menatap istrinya yang masih mematung di tempatnya. Kedua tangan Karina dia simpan di atas wajah untuk menutupi tangisnya dari sang anak.


Demi maaf dari istrinya, dia rela merendahkan harga dirinya dengan meminta maaf yang belum pernah dia lakukan sebelumnya.


Gengsi Fin sebesar gunung. Seumur hidupnya, dia tidak pernah meminta maaf kepada orang lain untuk segala kesalahannya, Fin memanfaatkan uang nya untuk menutup mulut orang-orang yang pernah dilukainya.


Fin mencoba kembali. Dia raih kembali kedua tangan istrinya.


"Maaf!" lirih Fin sambil mendekatkan wajahnya untuk mengecup tangan istrinya yang masih menutupi wajahnya.

__ADS_1


Devin sendiri kembali terlelap di jok belakang. Mobil yang Fin kendarai saat ini, tengah menepi di pinggir jalanan yang sepi.


Karina terperanjat saat bibir lembut suaminya mendarat pada punggung tangan miliknya. Karina membuka kedua tangan yang menutupi wajahnya secara perlahan. Mata Fin dan Karina bertemu dengan jarak yang sangat dekat.


Fin bahkan dapat merasakan hembusan nafas istrinya.


"Maaf!" lirih Fin sekali lagi. Terlihat gurat penyesalan dari wajahnya.


Karina bergeming. Dia masih belum menjawab permintaan maaf dari suaminya.


Fin bawa kedua tangan Karina.


"Mommy mau kan memaafkan, Daddy?" tanyanya lembut. Matanya menatap mata Karina secara dalam.


Karina seperti tersihir. Tanpa sadar Karina mengangguk menerima permintaan maaf dari suaminya.


Fin tersenyum. Tangannya terulur meraih tengkuk istrinya. Fin melabuhkan ciuman lembut di atas bibir istrinya. Ciuman itu benar-benar lembut. Mencium dengan hati-hati dengan sesekali mencium bagian atas dan bawah dari bibir istrinya itu secara bergantian.

__ADS_1


__ADS_2