
Padahal, tiga tahun lalu dia hanya seorang perempuan malang yang serba kekurangan. Saat hamil Devin, Karina mengunjungi Dokter Sinta di rumahnya atas rekomendasi sang Bibi yang kenal baik dengan beliau.
Saat Karina mulai drop karena mual muntahnya yang hebat, Dokter Sinta juga yang memboyong Karina untuk di rawat di Medistra dengan biaya yang beliau keluarkan sendiri.
Maka dari itu, Karina malu tiap kali bertemu dengan beliau. Dia sudah sangat merepotkan Dokter Sinta di masa lalu. Namun, Dokter Sinta tetaplah Dokter Sinta. Dia selalu menjadi Dokter yang ramah, yang tidak pernah perhitungan dengan apa yang dia beri di masa lalu.
"Kamu kesini dengan siapa?" tanya Dokter Sinta.
"Sendiri, Dok. Suami aku kebetulan tidak bisa mengantar," jelas Karina.
"Dari dulu Ibu sudah bilang, jangan panggil Dokter! Panggil Ibu!" tegas Dokter Sinta.
Karina tersenyum canggung.
"Tapi, Dok," sanggahannya tidak enak.
"Ssssttt" desisinya.
"Ayo, bukannya kesini untuk diperiksa?" lanjut Dokter Sinta.
"I... iya, Bu," jawab Karina malu. Dokter Sinta tersenyum sambil mengusap kepala Karina.
"Ayo, kamu bisa naik ke atas bed pemeriksaan." ajak Dokter Sinta.
Dokter Sinta hanya seorang diri saat ini. Sebelum Karina datang, beliau meminta suster yang membantunya untuk pulang.
Karina mengikuti perintah Dokter Sinta untuk naik ke atas bed, walaupun sebenarnya dia ragu.
"Bu, tapi saya tidak merasa sedang hamil," cicit Karina pelan.
"Tidak apa-apa. Dokter Maya tidak mungkin merujuk klien begitu saja. Berdoa saja, mudah-mudahan dugaan Dokter Maya benar," ucap Dokter Sinta meyakinkan Karina.
Karina berbaring, sementara Dokter Sinta tengah mempersiapkan alat pemeriksaan. Dia mempersiapkan segalanya dengan mulut yang terus memberikan pertanyaan pada Karina.
"Apa, menstruasi kamu lancar?" tanyanya.
"Lancar, Bu. Hanya saja... bulan ini, aku telat satu mingguan." jelas Karina sambil mencoba mengingat
"Oh, bulan lalu masih menstruasi berarti ya?" tanyanya kembali. Dokter Sinta memeriksa tekanan darah, nadi dan pernafasan Karina, sebelum melakukan USG.
Karina mengangguk. Selanjutnya dia mengoles gel pada bagian perut bawah dari Karina. Dokter Sinta akan mulai melakukan USG, untuk memeriksa dugaan Dokter Maya, yang menyebutkan kalau Karina tengah mengandung.
Sebuah alat, tengah bergerak di atas perut Karina. Karina dengan cemas menunggu hasil yang akan disampaikan oleh Dokter Sinta. Dia takut, pernyataan sebelumnya dari Dokter Maya, membuatnya kecewa karena sebenarnya dia tidak hamil. Namun, apapun hasil yang Dokter Sinta sampaikan, Karina akan menerimanya dengan ikhlas hati.
"Bulan lalu, apa menstruasi kamu masih lancar?" tanya Dokter Sinta, memecah keheningan.
"I... iya Bu. Ke... kenapa?" tanya Karina cemas melihat wajah Dokter Sinta yang mengerut bingung.
"Plek"
"Gimana, Bu?" bingung Karina dengan pernyataan Dokter Sinta.
"Bulan lalu kamu hanya menstruasi sedikit kan? cenderung seperti plek," jawabnya menjelaskan.
Karina berpikir sejenak.
"Sepertinya...i... iya, Bu." jawab Karina heran dengan Dokter Sinta yang mengetahui bahwa bulan lalu, dirinya menstruasi tidak seperti bulan-bulan sebelumnya.
"I see!" jawabnya tiba-tiba, membuat Karina semakin bingung.
__ADS_1
Dokter Sinta tersenyum melihat Karina kebingungan.
"Tuh!" tunjuknya pada layar monitor.
"Kamu lihat, sesuatu yang tengah bergerak aktif itu?" tanyanya pada Karina.
Karina mengangguk.
"Apakah itu...?" tanyanya sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Dokter Sinta mengangguk sambil tersenyum hangat.
"Ya, dia buah cinta kalian yang sedang tumbuh di sini. Usianya memasuki minggu ke tujuh," jelas Dokter Sinta sambil menunjuk perut Karina yang rata.
"Oh, God!" ucap Karina dengan kedua mata sudah digenangi air mata.
"Maaf Bu, akhir-akhir ini, aku sering menangis. Bahkan dengan hal sepele sekalipun." ucapnya.
"Tidak masalah sayang. Itu semua hal yang wajar." ucapnya sambil membersihkan perut Karina menggunakan tisu, kemudian membantunya untuk duduk.
Dokter Sinta membereskan kembali alat-alat bekas pemeriksaannya. Sementara itu, Karina dia persilahkan untuk menunggu di ruang konsultasi.
Sejak keluar dari ruang pemeriksaan, senyum Karina terus mengembang.
Pikirannya dipenuhi dengan bayangan janin yang tengah bergerak aktif di dalam perutnya. Namun setelahnya, wajah Karina murung dalam seketika. Air matanya menggenang di pelupuk matanya.
"Devin, maafkan Mommy, Saat pertama kali Mommy tau kamu tumbuh di perut Mommy, Mommy tidak seantusias saat ini. Mommy benar-benar menyesal," lirihnya sambil mengusap air mata yang terus mengalir.
Ingatan Karina, tertarik kembali pada momen saat dia dinyatakan hamil. Dia sangat terpukul dengan kehadiran bayi yang bahkan proses pembuatannya saja Karina tidak ingat.
Beberapa kali Karina berencana untuk melenyapkan bayi yang di kandung nya saat itu.
"Devin... Mommy menyesal. Maafkan Mommy, Nak. Besok Mommy ke sana. Tunggu Mommy datang," tangis Karina mulai pecah. Dia tidak dapat mengontrol emosinya. Dia benar-benar sedang emosional saat ini.
Dokter Sinta datang. Dengan cepat Karina menghentikan tangisnya, namun tangis itu terdengar semakin pilu. Tanpa banyak bertanya, Dokter Sinta menghampiri Karina dan memberinya sebuah pelukan. Karina yang merasa nyaman, menumpahkan semua kegelisahannya.
Pelukan Dokter Sinta, senyaman pelukan hangat seorang Ibu. Pelukan yang selalu memberinya kekuatan dan ketenangan.
Setelah dirasa puas, Karina keluar dari pelukan Dokter Sinta sambil membersihkan sisa-sisa air mata.
"Lega?" tanya Dokter Sinta sambil memberikan beberapa lembar tisu.
Karina mengangguk, sambil menerima tisu pemberian Dokter Sinta.
"Maaf, Bu." cicit Karina.
Dokter Sinta hanya tersenyum, kemudian duduk di depan Karina menempati tempat duduknya.
"Tidak ada yang salah. Hormon berperan tinggi dalam naik turunnya mood kamu. Jadi, kalau kamu ingin menangis, menangis saja. Tidak perlu di tahan." Jelas Dokter Sinta
Karina mengangguk membenarkan. Dia memang memiliki mood yang berubah-ubah secara drastis belakang ini.
"Tapi Bu, bulan kemarin saya masih menstruasi," bingung Karina.
Dokter Sinta memfokuskan dirinya pada Karina. Walaupun ini kehamilan kedua, namun kondisi dulu dan sekarang sangat berbeda. Karina masih sangat awam dengan yang namanya kehamilan.
"Itu bukan darah menstruasi. Sebenarnya, itu fase dimana, janin kamu mulai menempel pada dinding rahim. Hal itu menyebabkan dinding rahim kamu terluka, sehingga mengeluarkan darah. Kamu lihat sendiri bukan, darah itu hanya sedikit dan bersifat sementara." dengan sabar Dokter Sinta menjelaskan.
Karina kembali mengangguk membenarkan.
__ADS_1
"Di usia yang memasuki tujuh minggu ini, organ-organ penting dalam tubuh si janin mulai terbentuk. Janin sedang benar-benar membutuhkan banyak asupan vitamin dan zat gizi Nanti, vitamin nya kamu habiskan ya" pesan Dokter Sinta.
"Kamu tidak mual kan?" tanyanya kembali, mengingat kehamilan Karina sebelumnya, memiliki riwayat mual dan muntah yang berlebihan atau bahasa medisnya hiperemesis gravidarum.
Karina menggeleng.
"Bu, boleh minta satu hal?" tanya Karina pada Dokter Sinta.
"Apa?"
"Mmmm... Ibu bisa kan, merahasiakan kehamilan aku untuk sementara?" tanya Karina dengan suara yang pelan.
"Kenapa?"
"Ini kejutan untuk ulang tahun Daddy nya si baby, bulan depan," bisik Karina membuat Dokter Sinta tergelak.
"Oke... oke! Kalau ada apa-apa, segera hubungi Ibu!" pesannya.
"Satu lagi. Sampai usia kandungan kamu berumur empat bulan," jedanya. Karina menyimak dengan seksama.
"Suruh suami kamu untuk tidak mengeluarkan sesuatu di dalam," lanjutnya membuat Karina berkerut bingung.
"Apa yang jangan di keluarkan di dalam Bu?" polos Karina.
"Ckk... Ya ampunnn... Ibu lupa, kamu masih polos." ucap Dokter Sinta.
"Saat kalian melakukan hubungan suami istri, suami kamu jangan mengeluarkannya di dalam. Atau, kamu suruh saja suami kamu pakai ******," Dokter Sinta menjelaskan dengan lebih rinci.
"Kenapa?" tanya Karina refleks. Mana bisa suaminya di atur perihal seperti itu. Fin si pemegang kendali. Saat di puncak kenikmatan, kemudian Karina harus melepaskan cengkeramannya, agar milik suaminya yang gagah, memuntahkan cairan cintanya itu di luar. Sungguh Karina tidak bisa membayangkan hal seperti itu akan terjadi sebelumnya.
Mendengar Karina bertanya mengapa, Dokter Sinta hanya bisa tersenyum. Karina bukan pasien pertamanya yang bertanya tentang itu.
"Usia kehamilan satu sampai empat bulan, merupakan masa rawan keguguran. ****** sendiri, mengandung suatu zat yang dapat memicu terjadinya kontraksi. Biasanya untuk kandungan yang lemah dengan ****** masuk saja, sudah dapat membuat seseorang keguguran." jelas Dokter Sinta membuat Karina bergidik ngeri saat membayangkannya.
"Baik Dok, akan aku ingat pesan Dokter."
"Kalau ada apa-apa, kamu bisa langsung hubungi Ibu, ya," pesan Dokter Sinta.
"Baik Ibu. Kalau begitu, aku pamit ya. Terima kasih untuk semuanya," tulus Karina sambil berdiri memeluk tubuh wanita paruh baya tersebut.
Karina keluar dari ruang pemeriksaan dengan perasaan yang campur aduk.
'Apa bisa merahasiakan kejutan besar ini sampai bulan depan?' gumamnya dalam hati.
Karina masih mematung di depan pintu ruangan Dokter Sinta dengan pikiran yang melayang kesana kemari, membayangkan segala kemungkinan yang akan terjadi ke depannya.
Status Devin yang hanya seorang anak sambung membuat Karina membayangkan perubahan Kakek dan suaminya terhadap Devin dengan kehadiran pewaris Grahatama yang baru. Dia tidak ingin kehadiran anak ini melukai perasaan Devin.
Saat tengah larut dalam imajinasinya sendiri, tiba-tiba sebuah tangan kekar melilit pada perut Karina. Karina tersentak kaget. Namun, bau parfum yang masuk ke dalam indera penciuman Karina membuat Karina sedikit lega. Pasalnya, bau parfum itu milik suaminya.
Karina menyandarkan kepala belakangnya pada dada berotot suaminya. Tangan Karina sendiri sibuk mengelus punggung tangan dari Fin. Matanya terpejam menikmati pelukan yang selalu membuatnya nyaman itu.
"Kenapa melamun disini?" bisik suaminya.
"Apa Mommy mau masuk ke ruangan ini?" tanya suaminya tiba-tiba, sambil menunjuk ruangan Dokter Sinta.
Karina melebarkan matanya.
"Kenapa Mommy harus masuk ke sana? Lagi pula ini jam istirahat. Semua Dokter pergi untuk makan siang. Ayo, kita pulang!" ajak Karina sambil menggeliat keluar dari pelukan suaminya.
__ADS_1