Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Kita lihat seperti apa selera seorang, Renal!


__ADS_3

Karina mulai mengusap punggung Fin dan sedikit mengurut di bagian tengkuk.


"Daddy kenapa lagi?" tanya Karina kembali.


Fin menggeleng, kemudian mencuci mulutnya dengan air. Dia bangkit sambil menyandarkan tubuhnya pada sisi wastafel. Karina mendekat dan berdiri di hadapan suaminya.


"Daddy baik-baik saja kan?" tanya Karina untuk kesekian kalinya.


Fin menarik tangan sang istri. Tubuh Karina jatuh ke dalam pelukan suaminya dengan posisi Karina yang membelakangi Fin.


Fin lilitkan tangannya dari pinggang menjulur ke perut. Dagunya dia simpan di atas kepala sang istri. Fin memejamkan matanya, menikmati setiap aroma Karina yang masuk ke dalam hidungnya. Wangi tubuh istrinya tersebut selalu menjadi obat di saat Fin merasa mual.


"Dad, ini sudah ke berapa kalinya Daddy seperti ini? Apa Daddy tidak ingin memeriksakan kondisi Daddy ke Dokter?" tanya Karina sambil tangannya mengelus punggung tangan Fin yang tengah melilit di depan perutnya.


"Mmmhh" gumam Fin sambil menggelengkan kepalanya tanda dia menolak permintaan Karina.


"Sekarang parfum siapa yang membuat Daddy seperti ini? Hem?" tanya Karina kembali.


"Perempuan ular!" jawabnya singkat.


"Hem?" tanya Karina bingung kemudian membalikan tubuhnya agar bisa berhadapan dengan suaminya.


Sekarang tubuh mereka berdua menempel satu sama lain. Tangan Fin melilit di belakang punggung Karina begitupun dengan tangan Karina yang melilit di belakang punggung Fin.


"Eliz!" mengucapkan nama seseorang.

__ADS_1


"Daddy sudah menahannya sejak tadi masih di bawah. Dia bahkan belum di beri pelajaran, gara-gara mual yang datang saat parfumnya menyeruak masuk ke dalam hidung, Daddy," lanjut Fin menjelaskan keadaannya pada Karina.


Deg...


Dada Karina kembali sesak saat mendengar nama Eliz di sebutkan. Fin yang melihat perubahan ekspresi dari wajah Karina langsung membawa tubuh ramping istrinya tersebut masuk ke dalam pelukannya sambil tangannya mengelus punggung Karina mencoba menenangkan.


"Mommy percayakan semuanya pada, Daddy!" janji Fin pada istrinya.


Fin menggendong Karina dan membawanya keluar dari kamar mandi. Fin baringkan tubuh istrinya di atas tempat tidur.


"Mommy istirahat dulu! Daddy harus menghubungi Renal untuk membahas sesuatu!" Fin berjalan ke luar menuju ruang tengah, kamar hotel nya.


Dia keluarkan iphone miliknya untuk menghubungi Renal. Namun, Renal tidak mengangkat panggilannya sama sekali.


Selanjutnya Fin menghubungi Eca untuk menanyakan keberadaan Renal. Berbeda dengan Renal, Eca langsung mengangkat panggilan dari Fin.


Cukup sekali Fin bepergian menggunakan kereta. Karena menurut Fin, itu semua menyita banyak waktu berharganya dan membuat hampir seluruh tubuhnya sakit. Kalau saja bukan permintaan sang istri, sudah pasti Fin menolak mentah-mentah.


"Satu lagi! Kalau dia sudah pulang, sampaikan pada Renal, segera hubungi, saya!" perintah Fin dengan nada dinginnya sebelum mematikan panggilannya.


###########


Di Jakarta sendiri, saat ini Eca tengah menghubungi Renal melalui panggilan telepon. Setelah mengurus segala kebutuhan Fin untuk berangkat ke Yogyakarta, Renal belum kembali ke kediamannya.


Dari tadi pagi, Eca hanya seorang diri di dalam rumah Renal yang kini menjadi tempat tinggalnya juga.

__ADS_1


Eca tidak pergi menemui Karina karena hari ini merupakan weekend dan sudah pasti Fin ingin menghabiskan waktunya bersama anak dan istrinya tanpa gangguan dari orang lain. Eca cukup sadar diri perihal itu semua.


Eca terus menunggu Renal pulang, untuk menyampaikan pesan yang Fin titipkan padanya.


Jam sudah menunjukan pukul sembilan malam, dan Renal belum kembali. Dengan berbekal keahlian yang di pelajarinya dari sang Papi, Eca mulai mengutak-atik laptop untuk meretas telepon genggam milik suami dadakannya tersebut.


Tidak membutuhkan waktu lama untuk Eca mengetahui posisi dari Renal. Dia bergegas masuk ke dalam kamar pribadi miliknya yang terpisah dengan kamar Renal.


Eca mengganti pakaiannya dan merias wajahnya dengan riasan yang benar-benar berbeda dari biasanya. Dia segera pergi dengan menaiki mobil yang dikendarai nya.


Mobilnya tersebut melaju dengan kencang membelah keramaian jalanan ibu kota pada malam hari.


Tiga puluh menit berkendara akhirnya mobil tersebut berhenti di depan sebuah klub malam yang terkenal mewah.


Eca membenarkan penampilannya sebelum masuk ke dalam. Dia juga membuka jaket yang dia pakai dari rumah.


Eca berjalan dengan anggun dan masuk ke dalam klub tersebut untuk mencari keberadaan suaminya. Begitu Eca masuk, dia langsung menjadi pusat perhatian dari orang-orang yang ada di sana.


Wajah bule, kulit putih, tubuh yang tinggi membuat perempuan yang hadir di sana menjadi iri.


Pakaian yang Eca pakai benar-benar minim dengan memperlihatkan paha mulus serta bagian perut yang terekspos.


Para pria mulai mendekatinya dan mengajak Eca menjadi partner minum nya. Eca menolak setiap ajakan pria tersebut dengan anggun tanpa terlihat murahan. Mata elang Eca terus meneliti mencari sosok suami yang Eca anggap hanya sebagai bebannya itu.


"I got u!" ucap Eca saat matanya menangkap sosok Renal yang tengah duduk di depan meja bar, bersama seorang perempuan di atas pangkuannya.

__ADS_1


Eca tersenyum sinis.


"Kita lihat seperti apa selera seorang, Renal!"


__ADS_2