Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Anggur.


__ADS_3

"Aku kira kamu tidak akan datang"


Suara dalam dari pria yang tengah terduduk di kursi restoran ruang VIP selagi menatap ke arahnya membuat Renika mendengus kesal.


Meski dalam mode kesal, Renika memutuskan untuk mengubah caranya berbicara agar lebih formal.


"Saya tidak pernah ingkar janji, Pak Devin" ujarnya, sengaja memberi penekanan khusus terhadap nama pria di hadapan.


Tanpa Renika sadari, sudut bibir pria itu terangkat membentuk sebuah senyuman saat melihat dirinya menumpahkan emosi selagi memotong daging di atas piring dengan begitu barbar. Pancaran mata pria bernetra zamrud itu menunjukkan rasa terhibur kala pandangannya mendarat pada bibir Renika yang merenggut menggemaskan.


Dengan tatapan lekat pada setiap gerakan gadis itu, Devin berujar.


"Mengenai tawaran saya kemarin..."


"Anda bisa membicarakannya dengan agensi saya." Renika tersenyum dalam hatinya bersorak penuh kemenangan.


'Rasain!' makinya.


'Sudah ganti waktu seenak jidat, masih mau dapatin kerja sama? Enak aja!' Renika tidak berhenti menggerutu dalam hati.


"Hari ini, kita berbincang mengenai satu sama lain saja, bagaimana?"


Sayangnya, reaksi pria di hadapan Renika tidak sesuai harapan. Bukannya terlihat marah atau paling tidak memasang wajah tidak senang, Devin malah menatap gadis itu dengan tenang.


"Ini tidak sesuai pembicaraan kita kemarin," ujar Devin.


"Aku kemari untuk membahas kerja sama dengan mu."


Renika menaikkan bahunya.

__ADS_1


"Saya tidak bisa menyetujui tawaran kerja sama tanpa adanya persetujuan agensi." Sebuah senyuman tipis tersungging di wajah gadis tersebut seiring dia membatin.


'Gila, Renika. Pinter banget sih kamu aktingnya!'


"Begitukah?" tanya Devin dengan pandangan datar. Kemudian, pria itu pun mengutak-utik ponselnya sebentar membuat Renika mengerutkan kening.


'Apa yang dia lakukan?' batin Renika, sedikit tersinggung karena pria itu memilih untuk sibuk dengan ponselnya.


Tidak semua orang mendapatkan kesempatan makan dengan nya, oke? Apa tidak bisa sedikit saja pria itu menghargai keberadaannya?!


Tepat ketika Renika memikirkan hal tersebut, getaran dari dalam tasnya sendiri menarik perhatian gadis tersebut. Dia meraih ponselnya dan menatap layarnya hanya untuk berakhir dengan mata membesar.


'Bu CEO?!' batin Renika merasa terkejut lantaran pimpinan agensi turun tangan untuk menghubungi dirinya. Gadis itu kembali mengangkat pandangan dan menatap Devin, merasa tidak enak tapi dia harus mengangkat panggilannya.


"Silahkan," ucap Devin dengan sebuah senyuman tipis penuh arti, tahu sang gadis tengah meminta izinnya.


"Halo? Ya?" Kening mulus gadis itu berkerut.


"Tapi, Bu saya masih ada kontrak..." Maniknya terarah kepada Devin, entah kenapa memancarkan kekesalan.


"Saya mengerti...."


Setelah mematikan panggilan itu, Renika melemparkan tatapan mematikan kepada Devin yang menyantap hidangannya dengan tenang. Pria itu seakan tidak peduli dengan apa yang baru saja gadis itu bahas atau paling tidak dia sudah tahu apa yang telah terjadi.


Renika menaruh ponselnya di atas meja.


"Ibu Imel? Serius?" Dia menatap pria itu dengan kesal.


"Seharusnya pembicaraan ini hanya antara kita saja."

__ADS_1


Pria itu menatap Renika dan berujar dengan tenang.


"Kamu sendiri yang berkata perlu ada persetujuan agensi mu, bukan?"


"Aku mengundang mu makan malam karena ingin berterima kasih kenapa kamu malah memaksa ku ke dalam sebuah kerja sama?" balas Renika, merasa Devin sangat tidak tahu terima kasih.


Devin meletakkan alat makannya dan meneguk sedikit anggur dari dalam gelasnya. Dia menatap Renika selagi berkata.


"Dan aku menerima undangan mu karena mengira kita akan membicarakan kerja sama, kenapa kamu terus menolaknya?"


Mendengar balasan Devin, Renika merasa kehabisan kata.


'Ya ampun, muka ganteng, tapi kenapa sikapnya nyebelin kayak gini?! Cowok ganteng di dunia ini nggak ada yang bener apa?!' geramnya seraya meraih gelas berisi anggur merah dan meneguknya cepat.


'Emang cuma ada dua tipe cowok di dunia ini. Dia membanting gelasnya dan menancapkan pandangannya pada wajah rupawan Devin.


"Kalau nggak kurang ajar, ya ho-! Eh....'


"Renika, kamu baik-baik saja?"


Suara Devin terngiang di telinga Renika. Akan tetapi, entah kenapa pandangan gadis tersebut mulai membuyar.


"Aku...."


Renika ingin menjelaskan tapi bibirnya terasa kelu. Pandangannya terarah pada gelas anggur yang kosong, lalu alisnya tertaut.


'Anggur macam apa yang...'


Namun, sebelum Renika bahkan bisa menyelesaikan ucapan batinnya, semuanya berubah menjadi gelap.

__ADS_1


__ADS_2