Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Pertimbangan?


__ADS_3

Peletak!


Fin menyentil dahi Karina menggunakan telunjuk dan ibu jari yang dia lipat.


"Gila Mommy bilang?" tanya Fin. Nada bicaranya sudah lebih lembut daripada sebelumnya.


Fin kemudian mengusap kepala Karina dengan lembut. Tubuh Fin sedikit condong ke depan menatap manik coklat milik Karina.


"Ya. Sepertinya Daddy memang gila. Daddy gila karena berpisah dengan, Mommy," ucap Fin terdengar seperti sebuah gombalan. Sejak kapan seorang Fin yang terkenal dingin sudi melontarkan gombalannya di tempat seperti ini? Entahlah. Hanya dia dan Tuhan yang tau.


Karina mengerutkan kening melihat perubahan Fin yang tiba-tiba.


"Sepertinya lift ini berhantu. Kenapa si keras kepala ini berubah lembut dalam beberapa saat saja?" batin Karina berbicara pada dirinya sendiri.


Bagaimana tidak heran, beberapa waktu yang lalu saat mereka berdua bercerai. Fin terkesan dingin dan tidak ramah dengan Karina. Tapi saat ini, Fin kembali pada mode suami perhatian seperti beberapa bulan yang lalu sebelum keduanya menyandang status janda dan duda. Walaupun keromantisan Fin saat itu hanya berupa perhatian-perhatian kecil yang mungkin Fin anggap biasa saja.


Karina arahkan matanya melihat sekeliling lift yang dia naiki bersama Fin.


"Kenapa?" tanya Fin sedikit berbisik.

__ADS_1


Hembusan nafasnya bahkan mengenai daun telinga Karina.


Dengan refleks, Karina menengok ke samping tempat Fin berdiri dengan tangan sebelah kanannya menyentuh belakang leher Karina baru sadar ternyata posisi mereka amat sangat dekat bahkan terkesan menempel.


Karina terus menatap Fin dalam diam. Dia memperhatikan setiap sudut wajah tampan dari mantan suaminya itu. Bibir tebalnya, mata sipitnya, hingga leher jenjang seksi yang dulu selalu jadi sasaran dari bibir Karina yang kehausan.


Fin yang di tatap seperti itu oleh Karina lantas mencondongkan tubuhnya semakin menempel dengan perut Karina yang membuncit. Sementara itu tangan Fin melilit posesif pada pinggang Karina yang sedikit berisi, karena efek dari kehamilannya. Dahi Fin berkerut. Fin juga mengerucutkan bibirnya dengan menggemaskan.


"Kenapa menatap Daddy dengan tatapan lapar seperti itu, hem?" bisik Fin sedikit kencang, seolah tau apa yang saat ini tengah Karina pikirkan.


Karina mengerjapkan matanya sambil membuang muka menyembunyikan wajah merahnya dari Fin. Dia tertangkap basah tengah berfantasi liar dengan Fin sebagai objeknya. Karina gelagapan.


"Mommy belum membalas pernyataan cinta, Daddy," ucap Fin menggelikan.


Karina yang awalnya membuang muka kembali memfokuskan dirinya pada Fin.


"Harus di jawab?" tanya Karina mencoba biasa saja. Padahal hatinya berdebar tidak karuan.


Sudah sangat lama dia tidak mendengar ungkapan cinta dari seseorang. Saat menikah dengan Fin pun, Fin tidak pernah bilang i love you atau semacamnya. Maka saat Karina mendengar Fin mengungkapkan perasaannya secara langsung, ada perasaan aneh menyelusup masuk ke dalam hatinya. Bagi sebagian orang, apa yang Fin ungkapkan mungkin terkesan kaku. Namun bagi Karina, hal itu merupakan kemajuan besar dari perubahan mantan suaminya itu.

__ADS_1


"Tidak perlu di jawab! Segala keputusan, Daddy yang menentukan." jawab Fin dengan entengnya


"Loh... loh... loh!! Mana bisa begitu??!" Karina sedikit menjauh dengan mendorong tubuh Fin ke belakang.


"Ya sudah, kalau begitu. Apa jawaban Mommy?" tanya Fin kembali.


"Mmm... ya... ya... gak bisa langsung di jawab juga, dong!" elak Karina gelagapan.


"What?" pekik Fin tidak percaya. Dia sudah dengan percaya dirinya meyakini kalau Karina akan langsung menerima cintanya.


"Why??" tanya Fin kembali dengan kedua matanya yang terbuka lebar.


Gisa mengerenyitkan dahi mendengar pekikan Fin.


"Ya... ya... kan ada banyak hal yang harus aku pertimbangkan dulu, Kak..." jawab Karina mencari alasan.


"Pertimbangan? Apa yang harus dipertimbangkan?" tanya Fin tidak habis pikir.


"Apa ini ada hubungannya dengan pria yang tadi pagi datang ke rumah kamu? iya?" tuduh Fin. Panggilannya sudah berubah kembali.

__ADS_1


__ADS_2