Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Salah paham!


__ADS_3

"Tidak, Bu. Bapak meminta saya untuk tetap di kantor membantu Pak Raiden" jelas Vera.


"Siang ini, kantor akan kedatangan investor dari Malaysia. Bapak meminta kami untuk menemani investor tersebut sampai Bapak menyelesaikan urusannya di kota lain," lanjut Vera.


"Oh...." Karina hanya mengangguk. Dia terdiam sesaat memikirkan seberapa sibuknya menjadi seorang Fin.


Meeting dari kota satu ke kota lain yang di laksanakan dalam satu hari. Belum lagi segala pekerjaan yang ada di kantor. Karina benar-benar bersyukur, suaminya masih memiliki waktu untuk memanjakan serta memperhatikannya, pikir Karina.


Tiba-tiba, telepon genggam Karina berbunyi menyadarkan Karina dari lamunannya.


"Iya, Dad!" jawab Karina.


"Oh. ... Mba Vera sudah di sini," jawabnya kembali.


Vera hanya tersenyum kecil mendengar panggilan yang Karina sematkan untuk dirinya, 'Mba Vera'. Jika orang lain yang mendengarnya mungkin mereka akan berpikir kalau keduanya sangat akrab satu sama lain. Begitulah Karina. Dia tidak pernah memandang status seseorang. Bagi dia semua orang sama. Tidak ada si miskin dan si kaya.


"Hardisk?" tanya Karina pada suaminya.

__ADS_1


"Oke, Mommy cari dulu. Bye... love you too," ucapnya sebelum mematikan panggilan dari suaminya itu.


"Mba, sebentar ya, aku bawa hardisk nya dulu di atas," pamit nya pada Vera.


"Iya, Bu, silahkan," jawab Vera mempersilahkan istri dari bos nya itu untuk pergi menuju lantai dua dan membawa barang yang bos nya pesan.


Karina beranjak menuju lantai dua ruang kerja. Dia mencari sebuah hardisk berisi file-file yang di minta suaminya. Karina membuka laci meja kerja dimana hardisk itu tersimpan. Yang menjadi perhatian Karina saat ini bukanlah hardisk melainkan sebuah kotak cincin yang tempo hari dia temukan di kantor.


Rasa penasaran Karina semakin besar saat melihat sepucuk surat yang dulu baru dia baca sebagian tersimpan juga di sana.


Karina mengesampingkan dulu rasa penasarannya. Dia kembali menuju lantai satu untuk menyerahkan barang yang suaminya minta pada Vera.


Jantung Karina kembali berdebar kencang saat melihat kalimat dari isi surat tersebut.


"Dear, Cintaku. Bertemu denganmu adalah anugerah terbesar di sepanjang perjalanan hidupku," Karina merona padahal kalimat tersebut sudah pernah dia baca sebelumnya.


Karina kembali fokus untuk lanjut membaca isi dari surat tersebut.

__ADS_1


"Aku telah berjuang cukup panjang demi kembali bersama kamu. Tiga tahun. Tidak singkat. Penantian yang begitu melelahkan." Karina menahan nafasnya saat membaca bait demi bait isi dari surat tersebut. Dadanya sesak namun untuk berhenti, dia tidak bisa.


Sedalam apa rasa yang suaminya miliki untuk perempuan dari tiga tahun lalunya itu? Untuk mengetahuinya, Karina hanya harus membacanya sampai selesai walaupun resiko dari tindakannya itu akan mengakhiri sebuah hubungan yang baru berjalan setengah tahun itu.


"Aku hanya perlu bersabar sebentar lagi. Biarkan segalanya berjalan sesuai dengan apa yang Tuhan gariskan untuk kita. Aku hanya perlu menunggu sampai segalanya membaik dan wanita dari tiga tahun yang lalu ku itu kembali. Kita mulai segalanya dari awal, tanpa ada dusta dan kepalsuan. Hanya ada cinta dan kebahagiaan. Cinta seperti tiga tahun lalu saat pertama kali kita bertemu."


Degh... Dalam sesaat, dunia Karina runtuh. Harapan Karina pun, pupus. Surat yang tengah di bacanya jatuh, Karina mematung. Dengan air mata yang mengucur dari kedua sudut matanya.


Lantas, apa arti perhatian dan kebaikan suaminya selama ini? Tanya Karina pada dirinya sendiri. Apa dugaan awal kalau suaminya hanya menginginkan darah langka nya itu benar? Tanya Karina kembali.


"Bodoh!! Kamu terlalu bodoh, Karina!! Bisa-bisanya kamu terperdaya sampai mengandung anaknya!!" teriak Karina dengan isak tangis yang mulai pecah.


Karina duduk di atas lantai.


"Benar kata Queen. Aku tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan perempuan dari tiga tahun lalunya itu," lirih Karina, sambil tersenyum miring mentertawakan kebodohannya.


"Devin..." ucap Karina tiba-tiba.

__ADS_1


Karina menghapus air matanya menggunakan kedua tangannya.


"Aku harus cepat-cepat membawa Devin pergi dan menjauh dari keluarga ini!" ucapnya sambil bangkit, bersiap untuk menyusul Devin ke Singapura.


__ADS_2