Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Alergi hewan!


__ADS_3

Fin mengerutkan dahinya. Dia membuka mata, kemudian melihat nama si pemanggil yang tertera dalam telepon genggam miliknya.


"Kenapa?" tanya Fin dengan suara seraknya yang khas.


"Abang bisa kesini? Aku takut sendirian" lirihnya meminta Fin untuk datang.


"Sendiri? Bukannya Kiara dan Renal ada di sana?" tanya Fin heran.


"I... iya..., tapi ... mmm... kalau banyak orang kan lebih tenang," jawab Queen tergagap dengan pertanyaan Fin.


"Abang tidur di rumah sakit. Karina sedang benar-benar membutuhkan Abang saat ini. Lagipula, disana kan banyak orang juga, Queen. Disini Karina hanya berdua sama Abang," jelas Fin.


"Sudahlah. Abang istirahat dulu." ucap Fin mengakhiri panggilannya.


Queen mengumpat kesal saat Fin menutup panggilannya begitu saja.


"Kenapa Abang berubah begitu cepat? Dukun mana yang si janda itu pake, hah?" umpatnya sambil meremas telepon genggam miliknya.


Saat sedang di ruang tengah rumah sang Mama, Queen ijin ke belakang pada Renal untuk menghubungi Fin secara diam-diam. Dia akan meminta Fin datang. Namun, penolakan lah yang Queen dapatkan.


Queen pun sudah terlalu muak melihat kebucinan Renal pada Eca. Dia tidak suka semua hal yang berhubungan dengan Karina termasuk pada Eca yang notabennya pengawal pribadi dari Karina.


Setelah di hubungi Queen, Fin tidak bisa tidur lagi. Dia turun dari atas ranjang kemudian membawa sebuah kursi dan duduk di depan istrinya.


Dia pandangi wajah cantik istrinya yang tengah terlelap. Dokter bilang, ada kemungkinan Karina langsung tertidur setelah pingsan tadi, karena efek dari obat yang sebelumnya dia minum.


Fin mengambil remote AC dan menaikan suhunya. Saat ini, Fin bertelanjang dada karena sang istri yang membenci bau Queen yang menempel pada pakaiannya.


Fin raih tangan sang istri, dia genggam tangan tersebut dengan erat. Fin mengarahkan kamera dari handphonenya kemudian memotretnya secara diam-diam.


Fin mengunggah gambar yang baru di ambilnya itu, ke dalam media sosial miliknya.


"Terima kasih sudah kembali," cuitnya di bagian caption.


Postingannya, langsung di banjiri komentar netizen yang memang mengfollow akun sosial media milik Fin. Banyak perempuan yang mengaku iri dengan caption yang dia tulis untuk istrinya itu. Caption yang begitu singkat itu, dinilai romantis saat Fin lah yang membuatnya.


Bagi mereka, seseorang seperti Fin mengucapkan terima kasih saja merupakan hal yang mustahil. Mereka sudah bisa menilai, sebucin apa seorang Fin Grahatama sampai-sampai memposting sesuatu tentang istrinya di laman media yang biasa dia isi dengan gambar-gambar pemandangan yang dia ambil saat kunjungan kerja.


Setelah keluar dari media sosialnya, Fin mengecek CCTV kamar anaknya yang terhubung pada handphone miliknya.


Dia penasaran dengan apa yang Kakeknya lakukan saat tengah menjaga, Devin. Fin masih belum mempercayai sang Kakek seratus persen.


Baginya, seseorang tidak akan berubah secepat membalikan telapak tangan. Apalagi itu seorang Bram yang Fin tau seperti apa sifatnya.


Devin sudah terlelap di atas ranjang miliknya. Tidak tampak sang Kakek ataupun pengasuh Devin di dalam sana. Saat di rasa tidak ada yang perlu Fin khawatirkan, tiba-tiba matanya melebar saat menangkap sesuatu di pojok depan lemari sang anak.


Dia melihat sang Kakek tengah duduk di bawah lantai sambil memasukan baju Devin ke dalamn koper. Fin terperanjat dan berdiri secara tiba-tiba dari atas kursi yang tengah di dudukinya.


"Sudah aku duga! Memang mustahil seseorang dapat berubah secepat itu!" Fin berjalan ke arah balkon ruangan sang istri.


Fin mencoba memanggil seseorang dengan tangan sebelah yang dia masukan ke dalam saku celananya. Wajahnya mengeras menahan amarah.


Tubuh atletis yang saat ini masih bertelanjang dada itu dia sandarkan pada pembatas balkon. Giginya saling beradu, menunggu panggilannya di angkat oleh seseorang.


Pada panggilan ke tiga, panggilan itu akhirnya di angkat oleh seseorang yang Fin hubungi.


"Kenapa? Apa sesuatu terjadi dengan menantu Kakek?" tanya Bram. Ya, saat melihat apa yang Bram lakukan di kamar sang anak, Fin langsung menghubungi sang Kakek.

__ADS_1


"Apa itu yang Kakek mau, heh? Apa Kakek menginginkan sesuatu terjadi dengan istri, Abang?" tanya Fin dengan mulut tajamnya.


Bahkan Fin tersenyum sinis saat mendengar Bram memanggil Karina dengan panggilan menantu yang menurut Fin hanya sebuah kepura-puraan untuk menutupi ketidaksukaan sang Kakek pada istrinya.


"Kamu kenapa, bang? Perasaan semenjak Kakek bertemu dengan kamu, sedikit pun Kakek tidak disambut dengan baik?" tanya Bram pada cucunya itu. Nadanya terdengar biasa saja. Namun, menyimpan kegetiran di setiap kalimat yang di ucapkannya.


"Abang tau apa yang Kakek lakukan! Kakek akan..."


"Apa memang? Tau apa kamu?" tanya Bram tidak membiarkan sang cucu menyelesaikan kalimatnya.


"Mau Kakek bawa kemana anak, Abang?!" tanya Fin sedikit menaikkan nada bicaranya. Fin langsung bertanya ke intinya sebelum di potong kembali oleh Kakeknya.


Bram mengerutkan alisnya mencoba menafsirkan apa yang cucunya tanyakan.


"Maksud kamu?" tanya Bram.


"Abang tau, Kakek berniat membawa kabur, Devin. Jangan pikir, Kakek bisa memisahkan Devin dan Abang!" ancam Fin pada Kakeknya.


"Ha... ha... ha..." tiba-tiba tawa Bram pecah. Fin mengerutkan wajahnya bingung.


"Ternyata seburuk itu Kakek di mata kamu, bang!" ucap Bram sambil tersenyum miris.


"Lantas, untuk apa Kakek mengemasi pakaian, Devin?" tanya Fin sinis sambil tersenyum miring.


"Oh... jadi gara-gara itu! Apa Kakek semencurigakan itu, sampai-sampai kamu memantau CCTV yang ada di kamar anakmu?" tanya Bram emosi. Bahkan Fin dapat mendengar nada kekecewaan dari apa yang Kakeknya utarakan. Sebenarnya, dalam hati kecil Fin, ada rasa kasihan saat sang Kakek merasa tidak di inginkan kedatangannya. Namun ego sudah menguasai diri Fin, sehingga mengabaikan nuraninya.


"Kamu tanya adik kamu, dia tau semuanya!" lanjut Bram sambil mematikan panggilannya.


Fin mematung, sambil menatap layar handphonenya yang mati.


Dia segera mencari kontak sang adik dan akan bertanya tentang apa yang di maksud Kakeknya.


Beberapa kali Fin menghubungi sang adik, namun tidak satupun panggilannya di terima oleh Kiara. Fin nyaris frustasi. Dia sudah sangat tidak sabar untuk mengetahui yang sebenarnya.


Akhirnya solusi terakhir yang Fin lakukan adalah dengan menghubungi Queen. Kiara masih ada di rumah Queen.


"Abang..." jawab Queen dengan ceria. Queen berpikir kalau Fin telah berubah pikiran dan akan ke rumahnya sesuai permintaan Queen tadi.


"Kiara mana?" tanya Fin to the point.


"Kiara?" tanya Queen bingung.


"Ya. Bisa kamu panggil Kiara? Ada sesuatu yang harus Abang tanyakan padanya!" jelas Fin tidak sabar.


Queen melebarkan matanya. Dia kesal, ternyata Fin menghubunginya untuk berbicara dengan adiknya.


'Apa Abang tidak ingin tau keadaan, aku?' jerit Queen dalam hati.


"Queen!!" panggil Fin sedikit lebih kencang, menyadarkan Queen dari lamunannya.


"I... iya..., sebentar, bang!" jawab Queen.


Dia pergi menuju lantai satu, dimana Kiara berada. Dia memberikan handphone dan duduk di samping, Kiara.


"Siapa?" tanya Kiara.


"Abang!" jawab Queen berbisik.

__ADS_1


Sementara itu, di atas sofa tampak Eca dengan kaki di perban dan mengangkatnya di atas meja. Secara diam-diam, dia tengah memperhatikan segala gelagat dari Queen. Dia sangat mengetahui kalau Queen mencintai suami dari bos nya.


"Kenapa bang?" tanya Kiara.


"Kenapa Kakek mengemasi pakaian, Devin??" tanya Fin dengan nada yang cukup keras.


"Kamu sekongkol sama Kakek?" tuduh Fin membuat Kiara membuka mulutnya lebar.


"Astaga!!" desah Kiara kesal.


"Abang kenapa langsung marah sih?" tanya Kiara tak kalah kencangnya.


"Besok, Kakak Devin dan Kakek akan ikut ke Singapura sama, aku!" jawab Kiara.


"Siapa yang mengijinkan Devin untuk ikut?" tanya Fin kembali.


"Aku sudah janji akan membawa Kakak Devin bertemu dengan Ara. Apa Abang tega membuat Kakak Devin sedih?" tanya Kiara membuat Fin diam.


Sementara itu, Queen yang duduk di samping Kiara, hanya menyunggingkan senyum sinis nya mendengar percakapan kakak dan adik itu.


'Kenapa harus se khawatir itu sih? Dia hanya anak tiri, abang! Benar-benar... tidak mungkin kalau Ibunya si anak haram itu tidak melakukan sesuatu untuk menjerat semua orang.' tuduh Queen dalam hati.


"Apa yang Abang khawatirkan sih? Kakek ingin bertemu Ara makanya dia ikut. Lagipula, apa Kakak tidak dapat melihat ketulusan di mata, Kakek?" tanya Kiara.


Fin masih diam. Dia tengah berpikir keras dengan apa yang adiknya bilang.


"Ya sudah. Jangan berangkat dulu sebelum Abang datang ke Bandara!" ancam Fin kemudian mematikan panggilannya begitu saja.


Kiara memberikan handphone itu pada Queen. Queen menerimanya dengan senang hati. Tanpa melihatnya, dia menempelkan handphone itu ke telinganya.


"Abang..." panggil Queen.


"Sudah mati Queen! Kaya gak tau Abang saja! Kalau keperluannya sudah terpenuhi dia akan langsung mematikan panggilan tanpa bilang terima kasih ataupun meminta maaf." ucap Kiara kemudian berlalu pergi menuju dapur.


Sementara itu, di atas sofa, Eca tengah tercicit mentertawakan Queen yang berharap masih bisa mengobrol dengan Fin.


Queen menatap tajam Eca.


"Kenapa kamu tertawa?" tanya Queen sambil berjalan menghampiri Eca.


Eca menghentikan tawanya, kemudian menatap Queen sambil tersenyum sinis.


"Maaf, saya alergi hewan. Bisa anda menjauh?" tanya Eca sambil menutup mulut dan hidungnya.


"Ka... kamu...!!!" kesal Queen dengan tangan terangkat, siap menampar Eca.


"Yank," panggil Renal tiba-tiba. Queen menurunkan kembali tangannya sambil pergi dengan kaki yang dia hentakan kencang menahan amarahnya.


##########


Fin masuk dan kembali bergabung dengan istrinya yang tengah terlelap di atas ranjang. Dia mengangkat kepala Karina dan menyimpannya di atas lengannya.


Fin pandangi wajah damai sang istri.


"Apa yang akan Mommy lakukan kalau Mommy tau, Devin sebenarnya anak kandung, Daddy!" bisik Fin sambil jarinya menyentuh setiap lekuk wajah Karina.


"Da... Daddy!!" pekik Karina sambil perlahan membuka matanya. Fin melebarkan matanya, kaget.

__ADS_1


__ADS_2