
Di jalan pulang, setelah meninggalkan Queen seorang diri di tengah keheningan malam, Kiara menghubungi Renal.
"Kenapa Kiara? Ssshhh" tanya Renal sedikit mendesah.
"Kak Renal enak-enak dimana? Jangan bilang kalau Kak Renal pergi ke club dan hunting perempuan murahan di sana," celetuk Kiara tanpa menyaring pertanyaannya.
"Mulut mu, mau aku cabein? Gara-gara kamu si Cece kabur di tengah *******," gerutu Renal tidak terima.
"Gak ada ******* ini itu, ya. Keadaan lagi genting! Taruhannya rumah tangga Abang!" sewot Kiara di balik teleponnya.
"Aku udah urus Kiara! Abang mu udah aku nasehatin," jawab Renal dengan percaya dirinya.
"Kak Renal nasehatin Abang buat ciuman sama si Queen?" tanya Kiara membentak.
"Gila aja! Mana ada aku nasehatin Abang mu kaya gitu!" jawab Renal tidak terima.
"Tapi buktinya Abang kaya gituuu..., mana Kak Karina lihat saat Abang lagi ciuman sama si Queen,"
"Kurang ajar!!!" bentak Renal sambil bangkit dari tidurnya.
"Tunggu, Abang ke sana sekarang!" pinta Renal membuat Eca penasaran dengan apa yang terjadi.
"Kak Renal urus si Queen saja. Aku sudah buang dia di tengah jalan," pinta Kiara dengan entengnya.
"Kamu bunuh si Queen? Kiaraaaaaa... kenapa gak nunggu aku dulu, hah? Kenapa bertindak sendirian?" marah Renal.
"Gak aku bunuh ih," kesal Kiara.
"Kak Renal cari saja si Queen di jalanan sepi terus minta anak buahnya Abang untuk mengurus dia. Kalau perlu kirim dia kembali ke luar Negeri. Jangan biarkan si Queen masuk kembali ke Indonesia." pinta Kiara dengan seenaknya.
Kiara langsung mematikan panggilannya dan berniat kembali ke rumah Abangnya. Dia sudah dapat membayangkan seperti apa keadaan Karina saat ini. Saat Fin dengan tanpa alasan marah dan menghancurkan pesta kejutan yang sudah Karina siapkan saja, Karina menangis dengan begitu kesakitan nya. Apalagi sekarang dengan mata kepalanya menyaksikan pengkhianatan sang suami.
Di sebuah hotel, Renal tengah bersiap untuk pergi. Saat menjemput istrinya di bandara tadi, Renal membawa Eca ke hotel terlebih dahulu untuk menuntaskan hasratnya.
"Yank, ada sesuatu yang harus di selesaikan. Kamu tidur di sini saja sampai besok pagi," pesannya pada sang istri. Dia raih tubuh istrinya untuk dia peluk sesaat.
"Kak Karina tidak apa-apa kan?" tanya Eca penasaran.
"Gak tau juga. Si Kiara ngasih informasi nya cuma setengah," jawab Renal sambil memakai jaket kulitnya. Dia akan pergi menggunakan motornya.
"Sepertinya keadaan mereka jauh lebih buruk dari pada sebelumnya," tebak Renal.
############
Fin baru kembali ke dalam kamarnya setelah meminta maaf dan mengakui kesalahannya di depan sang anak yang tengah tertidur pulas. Di sana juga sudah tampak sang istri yang baru keluar dari dalam walk in closet setelah berganti pakaian menggunakan lingerie seksi yang biasa dia pakai kalau tidur malam.
Fin terus memperhatikan perubahan dari istrinya. Namun, dia tidak menemukannya. Karina masih sama seperti sebelum-sebelumnya. Dia masih melayani suaminya dengan baik.
"Ganti baju dulu, Dad," Karina menyerahkan baju ganti untuk suaminya.
Fin membuka selapis demi selapis pakaiannya di hadapan Karina sampai Fin benar-benar tidak menggunakan sehelai benang pun. Tidak ada wajah merona seperti biasanya di wajah istrinya. Wajah itu terkesan dingin dengan fokus yang entah kemana.
'Kalau Mommy sakit bilang. Mommy cemburu pun Mommy harus bilang. Kenapa seolah semuanya tidak berarti? Semua yang akan Daddy jelaskan tentang kesalahan pahaman tadi pun rasanya sia-sia,' batin Fin bertanya-tanya.
__ADS_1
Fin sudah menyiapkan segala jawaban dari pertanyaan tentang Queen yang diam-diam langsung menyerangnya dengan pelukan dan ciuman. Namun sampai detik ini sang istri tidak juga membahas ataupun mempertanyakan kejadian tadi. Karina seolah tidak peduli dengan apa yang suaminya itu lakukan. Walaupun kejadiannya di depan mata Karina.
Harga diri Fin terluka dia frustasi. Baju yang sudah di pakainya dia lepaskan kembali. Karina mengerutkan keningnya kebingungan.
"Kenapa? Apa Mommy salah ambil baju?" tanya Karina pada suaminya.
Fin duduk di atas kursi depan meja rias dengan tubuh tidak terlapisi apapun.
"Sini!" panggil Fin pada istrinya. Dengan ragu Karina mendekat.
"Ke... kenapa?" tanyanya ragu. Mata Karina tidak bisa lepas dari milik Fin yang besar dan berdiri dengan gagahnya. Tidak bisa di pungkiri Karina sangat merindukan cumbuan suaminya. Hormon kehamilan Karina berperan penting dengan datangnya rasa tersebut.
Fin meraih tangan Karina kemudian menariknya ke bawah agar Karina bersimpuh di hadapannya. Dengan posisi seperti saat ini tanpa di interupsi pun dia tau apa yang harus di lakukannya. Karina langsung melakukan apa yang mesti dia lakukan. Sedangkan Fin tangannya menarik rambut Karina, mengatur irama dari setiap apa yang di lakukan Karina.
******* dan lenguhan menggema di dalam kamar mereka. Setelah puas bermain-main dengan mulut istrinya, kini Fin merubah posisi dan mulai mengeksplor area lain dari tubuh istrinya. Sekarang giliran Karina yang Fin puaskan.
Dia ingin melihat, apa ada yang berubah dari istrinya saat tengah bercinta. Fin tidak tau saja, Karina bahkan menangis di tengah cumbuan nya. Di kamar itu, bukan hanya bayangan dia dan suaminya lagi yang Karina lihat. Tapi, bayangan wanita lain tengah berciuman dan beradegan mesra dengan suaminya yang saat ini memenuhi otaknya.
Kiara sendiri baru sampai di kediaman Fin. Rumah itu begitu sepi dengan lampu yang sudah padam di beberapa ruangan. Dengan hati-hati Kiara berjalan masuk sambil mencari keberadaan Abang dan Kakak iparnya. Atribut pesta sudah hilang dari ruang tengah. Begitu juga dengan menu makan malam yang awalnya berjajar rapi di atas meja makan semuanya sudah bersih.
"Bi, Abang dan Kakak ipar kemana? Keduanya tidak baku hantam kan?" tanya Kiara pada seorang maid yang tengah membungkus makanan sisa pesta.
"Ya ampun Nyonya... saya kaget loh." jawab nya sambil mengusap dada.
"Ckk, jawab bibi," kesal Kiara.
"Tidak, Nyonya. Bapak dan ibu makan malam seperti biasanya. Ibu juga melayani Bapak seperti malam-malam sebelumnya. Mereka naik ke lantai dua setelah selesai dengan makan malamnya." jawab maid tersebut.
"Nyonya bahkan menyuruh saya membagikan makanan ini di jalanan. Sayang soalnya masih banyak sisa juga." jelasnya.
"Bibi gak bohong kan?" tanya Kiara memastikan.
"Ya Allah... mana berani saya bohong," jawabnya kembali.
"Ya sudah, Bibi lanjutkan pekerjaan Bibi. Saya pulang dulu kalau begitu,"
Setelah memastikan semuanya baik-baik saja Kiara akhirnya bisa meninggalkan kediaman Kakaknya dengan keadaan lega. Dia tinggal menunggu kabar dari Renal yang saat ini tengah mengurus Queen.
###########
Siang hari Fin bergegas pulang dari kantornya. Dia mengeluarkan sesuatu dari bagasi mobil dan membawanya masuk ke dalam rumah. Wajahnya berseri saat membawa hadiah di kedua tangannya itu.
"Baby..." teriak Fin dari arah pintu masuk.
"Devin..." panggilnya kembali.
Fin membawa sebuah cake dengan hiasan meteor dan astronot serta sebuah kado besar yang entah apa isinya. Bayangan Devin yang bahagia saat mendapat surprise dari nya itu membuat Fin bersemangat untuk segera bertemu dengan sang anak.
Setelah tidak mendapati anak dan istrinya di lantai satu lantas Fin bergegas naik menuju lantai dua. Dia langsung pergi menuju kamar sang anak berharap dengan apa yang di bawanya saat ini sang anak dapat memaafkannya.
Namun, lagi-lagi dia tidak mendapati anak dan istrinya di sana. Fin simpan cake dan kado yang di bawanya itu di atas meja kamar Devin. Kemudian dia simpan kedua tangannya di atas pinggang. Wajahnya berkerut bingung.
"Kalian kemana?" tanya Fin heran.
__ADS_1
"Apa di lantai tiga?" tanyanya pada diri sendiri. Fin mengira kalau keduanya tengah berenang.
Dengan cepat Fin pergi menuju lantai tiga. Namun di lantai tiga pun suasananya sepi. Tidak ada tanda-tanda kehadiran anak dan istrinya di sana. Fin semakin bingung.
"Bik....!!! Bibi...!!!" teriak Fin memanggil Bi Surti.
Namun bukan Bi Surti yang datang melainkan maid lain yang menjadi bawahan Bi Surti lah yang menghadap Fin.
"Bi Surti masih di kampung Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya sopan.
"Istri dan anak saya kemana?" tanya Fin to the point.
Maid tersebut mengerutkan dahinya bingung.
"Bukannya Ibu bilang akan berlibur bersama Bapak?" jawabnya.
"Apa maksud kamu??!!" bentak Fin.
"I... ibu bilang akan pergi berlibur bersama Bapak dan Aden. Ibu bahkan membawa dua koper di tangannya," jawab maid tersebut dengan gelagapan.
Fin melebarkan matanya.
"Kurang ajar!! Lagi-lagi kalian kecolongan!!!!" marah Fin dengan nafasnya yang memburu.
Fin bergegas naik menuju lantai dua kamarnya untuk melihat isi dari lemari pakaian istrinya. Benar saja beberapa tumpuk pakaian milik Karina sudah menghilang dari tempatnya.
"Apa-apaan ini??!" marahnya sambil membanting pintu lemari pakaian.
Dia mengeluarkan telepon genggamnya dan berusaha menghubungi Karina. Namun percuma, nomor itu tidak bisa di hubungi. Fin segera menghubungi bodyguard yang mengikuti istrinya, namun jawaban mereka membuat Fin semakin marah Karina mengancam mereka dengan nyawanya jika mereka terus mengikuti Karina. Pada akhirnya para bodyguard hanya bisa pasrah menunggu hukuman untuk mereka.
Saat Fin akan keluar dari kamarnya, dia melihat sebuah map tergeletak di atas meja. Fin yakin map itu dari istrinya. Dia bawa dan buka secara perlahan untuk melihat isinya.
Degh... Dada Fin sakit saat melihatnya. Sebuah surat cerai yang sudah Karina tanda tangani tergeletak di dalam map tersebut.
"Jadi ini alasan dari ketenangan Mommy semalam? Ini yang Mommy inginkan, heh?" tanya Fin dengan sudut bibir terangkat mentertawakan nasibnya.
"Jangan harap Daddy mengabulkan keinginan, Mommy," gumamnya.
Selain surat cerai di sana juga tergeletak sebuah amplop berisi surat. Walau ragu namun Fin penasaran dengan isinya. Dia buka kemudian membacanya secara perlahan.
"Fin, aku pergi sekarang. Tidak ada lagi yang tersisa dari pernikahan kita selain anak dalam rahim ku. Sesuai janji ku dulu tidak akan ada keributan dari perpisahan kita. Aku anggap segalanya karma dari perbuatan Papa dulu. Jangan mencari ku! Anggap saja kita tidak pernah bertemu. Semakin kamu mencari semakin jauh aku akan pergi! Semoga bahagia dengan pilihan mu," begitulah isi dari pesan yang Karina tinggalkan.
Fin meremas surat yang baru selesai di bacanya itu. Fin benar-benar berada dalam di lema. Karina mengancamnya. Dia tidak ingin berpisah dengan istrinya. Namun ancaman Karina tidak main-main. Resikonya Fin akan kehilangan jejak istri dan anaknya kembali jika dia memaksa Karina untuk tetap bersamanya.
Dengan keadaan kalut, Fin pergi menuju kamar sang anak kemudian menatap kue yang tadi di belinya. Sambil menangis, Fin membelah kue tersebut seorang diri kemudian mulai memakannya.
Kenangan saat Fin menghancurkan kue sang anak terlintas begitu saja dalam benaknya.
"Maafkan Daddy Nak, Daddy menyesal," lirih Fin menyesali perbuatannya. Fin tidak mempedulikan air matanya. Wajah kecewa sang anak terus berlari di dalam pikirannya.
Masih dalam keadaan menangis, Fin naik ke atas ranjang Devin dan mulai memeluk bantal sang anak. Wangi tubuh Devin masih tercium di kamar tersebut seolah-olah Devin masih ada di sana.
"Maaf... Daddy minta maaf," ucapnya dengan mata terpejam. Air mata dari kedua sudut matanya menetes. Sebuah air mata penyesalan.
__ADS_1
Fin takut menghadapi dunia tanpa kehadiran orang-orang terkasihnya. Dunianya berhenti dalam sesaat. Fin bahkan tidak dapat melihat masa depannya. Segalanya begitu gelap.