
Acara inti dari pesta Gender Reverral akan segera di mulai. Semua tamu sudah berkumpul sesuai team yang mereka pilih. Team biru berdiri di sebelah kanan dan tim merah muda berdiri di sebelah kiri.
Semua orang terlihat begitu antusias menunggu momen mendebarkan tersebut. Tidak terkecuali dengan Fin yang terlihat cemas dan tegang. Karina yang menyadari kegugupan yang di rasakan oleh Fin lantas bertanya kepadanya.
"Daddy, are you oke?" tanyanya.
Fin tersenyum mencoba meredam kegugupannya. Dia mengusap pipi Karina.
It's oke. Daddy terlalu excited menunggu momen ini," dusta Fin.
Pada kenyataannya dia gugup menunggu momen lamarannya. Dia takut semua tidak berjalan sebagaimana yang sudah Fin bayangkan sebelumnya. Perihal jenis kelamin anaknya Fin tidak terlalu mempermasalahkannya. Mau yang lahir anak laki-laki ataupun perempuan, dia akan tetap menyambut buah hatinya itu dengan penuh suka cita.
"Mom, sebentar. Daddy ke kamar mandi dulu," ijin Fin pada Karina. Dia perlu menenangkan diri sejenak. Padahal saat meeting dengan kliennya pun, Fin tidak pernah setegang ini.
"Dad, sebentar lagi acaranya akan di mulai," ucap Karina sambil menahan tangan Fin.
"Hanya sebentar. Daddy janji!" bujuk Fin sambil mengusap punggung tangan Karina.
"Oke. Cepatlah!"
Fin pergi di ikuti Renal dari belakang.
"Kamu mau kemana?" tanya Renal sambil menepuk bahu Fin.
Fin terus berjalan dan berhenti tepat di halaman belakang villa. Dia menyandarkan tubuhnya sambil sesekali menarik nafas untuk menenangkan pikirannya.
"Semuanya sudah siap kan?" tanya Fin pada Renal.
"Siap. Mereka bahkan sudah membawa kue nya ke depan," jelas Renal.
"Kamu taruh cincinnya di dalam kue?" tanya Fin kembali.
"Ya, sesuai saran EO nya. Kata mereka biar surprise nya berkali-kali lipat," jawab Renal menyampaikan apa yang sang EO jelaskan kepadanya.
"Kenapa kamu tegang? Perasaan saat proyek gagal saja kamu gak setegang sekarang,"
__ADS_1
"Entahlah! aku gak enak hati. Gak biasa nya aku kaya gini," terang Fin.
"Lebay banget. Ayo aku gak sabar dengan jenis kelamin adiknya si boy," desak Renal agar Fin bergegas kembali menuju tempat acara
"Ck... aku gak peduli dengan jenis kelaminnya. Yang penting anak ku sehat, sempurna."
"Terus, kenapa kamu pakai baju biru?" tanya Renal pada Fin.
"Syarat doang!" jawab Fin singkat sambil berjalan masuk kembali menuju tempat acara.
"Dari tadi aku cari-cari Dokter Sinta"
"Kenapa?" potong Fin.
"Istri mu hamil?" tebak Fin.
"Ckk" decak Renal.
"Aku hanya penasaran dia datang kesini memakai baju warna apa?" terang Renal pada Fin.
"Putih." jawab Fin singkat.
"Ya udah gak usah ada acara potong kue kalau gitu. Tinggal suruh Dokter Sinta ganti baju saja. Beres!" jawab Fin asal.
"Huhhh" sorak Renal kesal.
##########
Fin berdiri di samping Karina yang sudah siap dengan pisau di tangannya. Devin sendiri berdiri di tengah-tengah antara Karina dan Fin. Dia memakai pakaian yang sama persis dengan Daddy nya.
MC tengah menjelaskan tentang apa yang harus Karina dan Fin lakukan.
"Disini Pak Fin dan Bu Karina hanya perlu memotong cake nya. Setelah di potong nanti akan muncul warna yang akan menjadi jawaban dari jenis kelamin buah hati Bapak dan Ibu, bersamaan dengan konfeti, balon dan tulisan yang akan muncul dari atas memberitahukan hasilnya pada semua orang yang hadir malam ini." jelas sang pemandu acara.
"Bagaimana Ibu, Bapak, apakah sudah cukup jelas?" tanya sang pemandu acara kembali.
__ADS_1
Fin hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suaranya. Selama sang pembawa acara menjelaskan, Karina terus bergerak dengan gelisah. Tangannya sesekali mengusap bagian belakang dress tutu nya.
Fin yang menyadari kegelisahan Karina lantas bertanya kepada mantan istrinya tersebut.
"Kenapa?" tanya Fin khawatir.
"Dad, basah," bisik Karina tepat di telinga Fin.
"Hem?" Tanya Fin dengan alis berkerut bingung.
"Apanya yang basah?"
"Jangan panik tapi," pinta Karina pada mantan suaminya.
"Kenapa?" tanya Fin penasaran.
"Janji dulu," pintanya.
"Astaga... Oke." jawab Fin menyetujui permintaan Karina.
"Sepertinya... ketuban Mommy pecah,"
"Apa???" pekik Fin membuat semua yang ada di ruangan mengalihkan perhatiannya pada Fin yang terlihat terkejut.
"Dad" Fin menarik nafas berusaha setenang Karina.
"Sayang, boleh naik ke lantai atas dulu? Di kamar ada buku baru yang Daddy beli buat Devin." Fin membujuk Devin untuk naik ke lantai dua.
Walaupun bingung namun Devin tetap patuh dan naik menuju lantai atas di temani Bu Linda.
Renal dan Eca bergegas mendekat menghampiri Fin yang tengah melebarkan matanya melihat bagian bawah kaki Karina yang sudah sangat basah dengan cairan ketuban.
"Baby, are you oke?" panik Fin.
Renal mengikuti arah pandangan Fin.
__ADS_1
"Oh God! Kamu pipis?" tanya Renal melihat kondisi Karina.
"Dokter Sinta! Ketuban istri saya pecah!!!!" teriak Fin dengan panik. Dia bahkan melupakan status Karina yang kini bukan istrinya lagi.