Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Tidak sesuai rencana!


__ADS_3

Bram berjongkok mensejajarkan tinggi badannya sambil merentangkan kedua tangannya, menyambut kehadiran sang cicit.


"Baby, stop!" pekik Fin saat sang anak berlari menghampiri sang Kakek.


Devin menghentikan langkahnya sambil menatap sang Daddy dengan tatapan penuh tanya.


Bram sendiri mengerutkan keningnya.


"Kenapa kamu melarangnya mendekat? Dia cicit ku!" tegas Bram dengan sorot mata tajam yang mengintimidasi, Fin.


"Sini sayang. Jangan dengarkan Daddy mu!" ucapnya sambil meraih tubuh mungil Devin untuk masuk ke dalam pelukannya.


Devin tersenyum bahagia dapat bertemu kembali dengan Kakek Bram nya.


"Sudah sejauh mana Kakek mengetahui tentang Karina dan Devin?" tanya Fin pada sang Kakek.


Beda halnya dengan Fin, Kiara dan Queen justru kebingungan melihat sifat lembut Kakek Bram yang sangat bertolak belakang dengan sifat yang mereka tau sebelum-sebelumnya.


Kiara tidak terlalu dekat dengan sang Kakek. Kiara cenderung dekat dengan mendiang Neneknya. Selama ini pun, Kiara sudah melihat banyak sifat otoriter sang Kakek yang membuatnya membatasi diri agar tidak berakhir seperti sang Kakak yang di paksa menikah dengan jodoh yang sudah Kakeknya pilihkan.


"Apa kamu ingin membicarakan hal tersebut di sini? Sekarang?" tanya Bram sambil matanya menatap Fin dan Devin bergantian. Bram mengatur nada suaranya untuk tetap rendah agar sang cicit tidak ketakutan.


Kembali Fin di buat membungkam oleh sang Kakek. Namun, dalam lubuk hati terkecilnya ada setitik harapan melihat kedekatan sang anak dan Kakek nya.


Fin berharap kedekatan itu bukan hanya sebagai kedok sang Kakek untuk memisahkannya dengan anak dan istrinya. Fin kembali mengingat sang istri yang saat ini belum kembali ke ruangan tersebut.


"Apa Ibu melihat, Karina?" tanya Fin pada Bu Linda.


Bu Linda menggeleng.


"Tadi saya hanya di suruh Ibu untuk ikut bersama Bu Kiara, ke sini." jawab Bu Linda jujur.


"Jadi Abang belum menemukan Kakak ipar?" tanya Kiara. Pasalnya, saat Kiara masuk ke dalam ruangan, Fin meminta Kiara menjaga Queen yang tengah tertidur kemudian Fin pergi untuk mencari istrinya.


"Ada. Abang sempat bertemu juga di taman belakang. Tadi Abang meminta Karina untuk naik duluan. Abang kira, Karina sudah ada di sini," jawab Fin yang mendapat delikan sinis dari Kakeknya.


"Masih di luar mungkin. Tadi Kakak bilang ingin mencari udara segar karena mual" ucap Kiara dengan suara yang semakin mengecil karena baru mengingat sesuatu. Matanya mengarah menatap Fin penuh tanya.


"Kenapa?" tanya Fin bingung saat adiknya menatap Fin dengan tatapan yang mencurigakan.


"Apa mungkin, Kak Karina, ha..."


"Kiara, apa pemakaman Mama sudah ada yang mengurus?" tanya Queen tiba-tiba memotong pembicaraan Kiara dan Fin.


Perhatian semua orang beralih menatap Queen yang duduk di atas sofa bed.


"Ada Kak Renal yang mengurus pemakaman dan segala sesuatu di rumah Tante," jawab Kiara.


"Hiks..." Queen tiba-tiba terisak.

__ADS_1


"Maaf sudah merepotkan semua orang. Aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi selain kalian," ucap Queen di sela tangisnya.


"Sudahlah, Queen. Mata kamu sudah bengkak. Seperti yang Abang bilang, kamu bagian dari keluarga kita. Jadi jangan sungkan dan jangan merasa tidak enak pada kita," tutur Fin sambil berjalan menghampiri Queen dan memberinya selembar tisu.


Queen kembali memeluk Fin yang tengah berdiri di hadapannya.


"Kalau tidak ada Abang, tidak tau aku akan seperti apa," lirihnya.


Kakek Bram hanya diam sambil mendudukkan Devin di atas pahanya. Devin sendiri terus menatap sang Daddy dengan tatapan tajam dan dingin persis seperti tatapan Fin saat menghadapi lawan bisnisnya.


Bram mencubit hidung mancung mungil cicitnya karena gemas.


"Ada apa dengan tatapan itu, hem?" bisik Bram tepat di telinga sang cicit.


"Bisa-bisa punggung Daddy kamu terluka saking tajamnya kamu menatap dia," lanjutnya sambil terkikik.


Devin mengalihkan perhatiannya pada sang Kakek buyut.


"Aku tidak suka Daddy peyuk bukan Mommy," ucapnya mencoba merangkai kata.


Walau kalimatnya tidak benar namun Bram dapat menangkap apa yang ingin sang cicit sampaikan padanya. Anak dua tahun dengan segala kepintaran dan kepekaannya. Siapa yang tidak jatuh cinta? Itu juga yang melatarbelakangi Bram menerima pernikahan dadakan sang cucu dengan Karina. Tidak lain dan tidak bukan itu semua karena seorang Devin.


Bram luluh dan jatuh cinta pada pandangan pertama. Dia melihat Devin untuk pertama kalinya saat dia berkunjung ke Grahatama Group beberapa bulan lalu. Saat itu, Fin membawa Devin ke perusahaan dan tanpa sengaja Bram melihat mereka berdua tengah berjalan memasuki lift.


Dengan kekuasaannya, Bram meminta seseorang untuk mencari tau segala hal tentang Karina dan Devin. Dia meminta seorang informan untuk menceritakan kehidupan Karina dan Devin. Tanpa sadar, segala cerita dan kisah masa lalu dari Karina dan Devin membuat Bram jatuh cinta pada mereka.


"Mommy!" panggil Devin saat matanya menangkap sosok sang Mommy yang tengah mematung menatap Fin yang tengah di peluk oleh Queen.


"Baby," jawab Karina mencoba baik-baik saja di hadapan sang anak.


Karina mengerutkan keningnya bingung saat netra nya menangkap sosok Kakek Bram tengah duduk sambil memangku Devin, berada di ruangan sang Tante.


"Mommy dari mana?" tanya Fin berusaha mendekati Karina dan merentangkan kedua tangannya untuk membawa Karina masuk ke dalam pelukannya.


Namun, beberapa langkah lagi sampai di hadapan Karina, tangan Karina terangkat ke atas menghentikan suaminya.


"Stop, Daddy!" ucap Karina dingin.


Fin menghentikan langkahnya. Kedua alisnya beradu, berkerut.


"Kenapa?" tanya Fin bingung.


"Mommy mual. Sepertinya bau parfum yang menempel pada pakaian Daddy yang membuat Mommy ingin muntah." ucapnya sambil melengos pergi dari hadapan Fin.


"Jangan aneh-aneh, Mommy!" kesal Fin.


"Bukankah Daddy pernah ada di posisi Mommy? Pasti Daddy tau rasanya, kan?" jawab Karina sinis.


"Sesering apa sih kalian berpelukan sampai parfum Daddy berganti jadi bau Kak Queen!" gumam Karina pelan namun masih dapat di dengar oleh Fin.

__ADS_1


Lihatlah betapa menggemaskannya saat sang istri tengah cemburu. Pikir Fin.


"Ya sudah, Daddy ganti baju kalau gitu," tawar Fin pada istrinya.


"Mau ganti baju pakai apa, Daddy? Baju rumah sakit?" tanyanya sinis.


Hari ini mood Karina benar-benar hancur. Walau pun Karina mencoba biasa-biasa saja, tapi entah kenapa dia kadang mulai menangis dan mual datang kembali saat otaknya mulai mengingat Queen atau tanpa sengaja mulutnya menyebut nama Queen.


"Kenapa Kakek disini?" tanya Karina pada Bram.


"Maaf perihal di taman tadi." sesal Karina.


"Yang mana?" tanya Bram pura-pura tidak mengerti.


"Maaf atas ketidaksopanan suami aku," jawab Karina pelan.


"Tidak masalah, Kakek sudah memaklumi sifatnya. Dari dulu, dia memang tidak pernah berubah," jawab Bram sambil menatap Fin yang mematung di hadapan istrinya.


Fin tidak berani mendekati istrinya. Fin tau, seberapa tersiksanya dia saat mual minggu lalu.


"Hem? Dari dulu? Sebentar..." ucap Karina heran dengan kalimat ambigu Kakek Bram.


Karina menutup mulut menggunakan kedua tangannya. Matanya melotot tidak mempercayai apa yang di pikirannya saat ini.


Karina secara bergantian menatap netra zamrud sang suami dan netra zamrud Kakek Bram.


"Jangan bilang, kalau kalian..." pekik Karina.


"Kenapa kamu terkejut seperti itu?" tanya Bram pada Karina.


Karina meraih tangan Bram kemudian mencium punggung tangannya.


"Kakek maaf. Aku tidak tau. Maaf kalau selama ini aku tidak sopan pada Kakek," panik Karina sambil meraih Devin dari atas pangkuan Bram.


"Devin duduk di bawah. Minta maaf pada Kakek!" perintah Karina pada anaknya. Karina takut, Bram tidak menyukai Devin. Apalagi, Devin hanya anak tiri bagi Fin. Pikir Karina.


Bram memegang tubuh Devin agar tetap pada posisinya.


"Kamu tidak perlu seperti itu. Kakek tetap Kakek Bram yang kalian kenal selama ini," ucap Bram membuat Karina terharu dengan penerimaan tetua keluarga Grahatama.


"Maaf, kalau aku tidak sesuai harapan Kakek. Aku tidak seperti menantu yang Kakek harapkan untuk mendampingi cucu Kakek," lirih Karina.


"Jangan merasa seperti itu. Kamu sebuah paket komplit yang melengkapi kekurangan cucu Kakek," tulus Bram.


Fin dan Kiara saling pandang satu sama lain. Bahkan ribuan syukur terpancar dari mata Fin untuk penerimaan Kakeknya. Kiara pun menangis haru melihat bagaimana Devin begitu dekat dengan sang Kakek.


Berbeda halnya dengan Fin dan Kiara, Queen justru menunjukan ekspresi yang berbeda. Dada Queen naik turun melihat pemandangan menjijikan yang tersaji di hadapannya. Kedua tangannya pun terkepal di balik selimut yang menutupi tubuhnya.


Wajahnya memerah. Rencana yang sudah dia susun selama ini hancur dalam seketika, saat dia melihat bagaimana Bram yang menjadi harapannya satu-satunya justru berbalik mendukung serta merestui hubungan Fin dengan Karina.

__ADS_1


'Kakek akan menarik kembali semua pujian Kakek hari ini, saat tau masa lalu menantu Kakek yang hamil tanpa seorang suami!' umpat Queen dalam hatinya.


__ADS_2