Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Tak ingin mengingat masa lalu!


__ADS_3

Karina memejamkan matanya, dengan kedua tangan berada di atas dada, Fin. Tangan Karina mengusap setiap bagian yang kekar menonjol, dari otot-otot dada suaminya.


Fin yang terpancing setelah mendapat sentuhan sensual dari jari tangan istrinya meningkatkan frekuensi dari gerakan lihai bibir dan lidahnya.


"Mmmmphh..." lenguh Karina saat tangan Fin mulai masuk ke dalam pakaian Karina dan mulai membelai bagian lembut dari dua gunung kembar istrinya itu.


Karina melebarkan matanya, saat sudut matanya menangkap pergerakan dari sang anak yang tengah terlelap di atas chair set di jok belakang.


Dengan refleks, Karina mendorong dada suaminya dengan cukup kencang, takut Devin akan melihat hal yang seharusnya tidak boleh dilihatnya. Fin mengerutkan keningnya bingung. Di saat sedang on, istrinya malah menghentikan aksinya.


"Kenapa?" tanya Fin kebingungan dengan apa yang dilakukan istrinya.


Karina masih ngos-ngosan mencoba menghirup oksigen.


"Takut Devin bangun! " cicitnya sambil menunjuk Devin yang tertidur kembali.


"Daddy lupa, kalau di jok belakang masih ada, Devin." Fin menertawakan kebodohannya.

__ADS_1


Dia tidak memikirkan posisinya saat ini. Bibir Karina yang tengah berkerut membuat Fin gemas, dan langsung melahapnya tanpa berfikir panjang terlebih dahulu.


Karina pun tertawa pelan mendengar pernyataan suaminya. Apa yang Fin bilang memang benar. Nafsu sudah menguasai jiwanya, sehingga menghilangkan akal sehatnya untuk berfikir.


Fin menatap Karina tanpa berkedip, saat istrinya itu sedang tertawa seperti tadi. Karina yang sadar tengah diperhatikan suaminya langsung menghentikan tawanya, kemudian memasang wajah datarnya kembali seperti tadi.


"Mommy sudah memaafkan Daddy sepenuhnya?" tanya Fin pada istrinya.


Karina mengangguk tanpa menjawab dengan kata-kata.


"Daddy janji, ini terakhir kalinya Daddy membahas perihal tadi!" janji Fin pada istrinya.


"Mommy sudah nyaman dengan kondisi Mommy saat ini. Kalau sampai ingatan Mommy benar-benar kembali, bahkan hanya dengan membayangkannya saja Mommy tidak sanggup!" lirih Karina.


"Saat ingatan itu kembali, satu yang Mommy takutkan. Mommy takut membenci, Devin!" lanjut Karina pelan.


Fin mengerutkan keningnya, tengah berpikir keras dengan apa yang Karina ucapkan. Kenapa harus membenci Devin? Pikir Fin tidak mengerti.

__ADS_1


"Mommy takut, hadirnya Devin hasil dari kejahatan orang lain, sehingga Mommy ingin melupakan kenangan tersebut. Karena efek dari kecelakaan itu, hanya menghapus sebagian memori, Mommy. Dan memori itu, tentang siapa Ayahnya Devin!" jelas Karina membuat Fin merasa terpukul.


Fin bawa tubuh rapuh istrinya, ke dalam pelukan hangatnya.


"Kenapa Mommy berpikir seperti itu?" tanya Fin pada istrinya.


"Devin hadir dari rasa cinta dan kasih sayang. Mommy tidak akan pernah menyesali kehadiran Devin seumur hidup, Mommy. Daddy janji!" ucap Fin sambil mengusap punggung istrinya.


"Kalau benar demikian, kenapa lelaki itu tidak pernah datang mencari?" tanya Karina refleks.


'Daddy menghabiskan segala cara untuk menemukan, Mommy. Tapi minimnya informasi yang Mommy berikan pada Daddy, membuat semuanya sulit untuk, Daddy. Daddy akan membayar segala penderitaan Mommy seumur hidup, Daddy.' janji Fin dalam hati.


"Sorry! Ini terakhir kalinya Mommy membicarakan masa lalu, Mommy." ucap Karina sambil keluar dari pelukan suaminya dan kembali pada tempat duduknya.


Karina memasang sabuk pengamannya.


"Ayo. Sebentar lagi sore." ajak Karina pada suaminya.

__ADS_1


Fin memasang sabuk pengamannya juga. Dia mengusap kepala istrinya sebelum akhirnya melajukan kembali mobilnya untuk melanjutkan perjalanannya menuju rumah sakit tempat Tante Nada dirawat.


__ADS_2