
"Mom, apa restorannya masih jauh?" tanya Fin pada istrinya. Wajahnya tertekuk, kesal. Dalam seketika, mood Fin menjadi buruk saat istrinya merengek untuk ikut ke Singapura.
Tentu saja Fin tidak mengijinkan. Mana bisa dia jauh dari Karina. Dia tidak akan tahan, tidur tanpa memeluk istrinya. Bau tubuh Karina sudah menjadi candu baginya.
"Ckk..." Karina hanya menanggapi pertanyaan suaminya dengan decakan.
"Hmmm..." Fin menghembuskan nafas kasarnya.
"Oke, Daddy salah. Daddy minta maaf!" ucap Fin dengan lancarnya.
Kalau di pikir kembali, minta maaf untuk apa? Entahlah Fin pun tidak tahu. Sebenarnya, ini trik yang di ajarkan Renal padanya.
Saat perempuan marah tanpa sebab yang jelas, pria hanya perlu meminta maaf, tanpa harus tau kesalahan apa yang dia perbuat.
Seumur hidupnya, ini kali pertama Fin merendah dan meminta maaf pada seseorang. Fin bahkan meminta maaf untuk hal yang menurut Fin bukan kesalahannya. Inilah yang dinamakan kekuatan cinta. Cinta dapat merubah karakter seseorang dalam sekejap mata.
Setelah menikah dengan Karina, Fin belajar satu hal. Bagaimana pun posisinya, istri selalu benar. Fin sadar, dia tidak akan pernah menang berdebat dengan istrinya.
Karina menatap Fin dengan binar di matanya.
"Jadi, Mommy boleh kan ikut Kakek dan Devin ke Singapura?" tanya Karina penuh antusias.
"Mom, apa itu restorannya?" tanya Fin mengalihkan pertanyaan istrinya. Beberapa meter dari tempat Fin mengemudi, ada sebuah restoran mewah yang terlihat masih buka di jam setengah sebelas malam.
"Daddy benar-benar gak tau seperti apa bentukan dari Martabak?" tanya Karina, heran. Pertanyaan Fin benar-benar mengalihkan perhatian Karina. Keinginan besarnya untuk menyantap martabak telor membuat Karina melupakan keinginan lainnya.
Fin menggeleng ragu. Faktanya, Dia memang tidak tau seperti apa bentuk dari Martabak itu. Dia sudah terbiasa mengkonsumsi makanan dari restoran yang sudah melayani keluarganya secara turun temurun sejak dia masih balita. Sudah pasti yang dia makan hanya makanan terpilih yang di sajikan oleh koki terbaik dunia.
"Martabak tidak di jual di tempat seperti itu, Daddy..." kesal Karina.
Fin menatap Karina penuh tanya.
"Kalau bukan di restoran, lantas di mana?" tanya Fin penuh kebingungan.
"Ckk... terus saja jalan. Sebentar lagi sampai!" perintah Karina pada suaminya.
Fin tidak bertanya kembali. Dia fokus mengemudi seperti permintaan sang istri. Suasana di dalam mobil hening. Baik Karina ataupun Fin tidak ada yang mengeluarkan suaranya. Mereka larut dalam pikirannya masing-masing.
"Dad, tadi kenapa turunnya lama?" tanya Karina untuk memecah keheningan.
"Menuntaskan sesuatu dulu, Mom" jawab Fin masih fokus mengemudi.
"Hmm?" tanya Karina bingung.
"Memang apa yang belum tuntas?" tanya Karina kembali.
"Ckk... Jangan pura-pura bodoh, Mommy!" jawab Fin sambil menyentil kening Karina.
"Daddy!" kesal Karina sambil mengusap keningnya yang terkena sentilan jari Fin.
"Mommy memang tidak tau!" lanjutnya dengan nada yang sedikit di tekankan.
"Yang membangunkan 'dia' dari tidur lelapnya siapa??" kesal Fin sambil menunjuk 'milik' Fin.
Karina tersenyum. Dia malu sendiri, memikirkan keliarannya saat di ruangan tadi. Itu benar-benar di luar kendalinya. Hasrat untuk bercinta datang begitu saja saat melihat suaminya keluar bertelanjang dada dengan rambut yang masih basah.
Entah kenapa, Karina begitu terobsesi dengan ******* suaminya. Saat Fin mendesah karena perbuatannya ada sensasi aneh dalam jiwanya seperti ada ribuan kupu-kupu yang terbang dari dalam perutnya. Karina tidak menyangka dapat merasakan sesuatu seperti itu. Dia terkejut dengan keliarannya sendiri.
"Ya... kenapa juga, Daddy keluar kamar mandi dengan penampilan seperti itu? Jangan salahkan Mommy dong!" sewot Karina yang tidak ingin di salahkan.
Fin melebarkan matanya, mendengar jawaban dari istrinya. Sejak kapan istrinya itu pintar ngeles?
__ADS_1
"Mom... bukannya kalau di rumah, Daddy selalu seperti itu? Daddy bahkan tidak jarang keluar kamar mandi hanya bertelan..."
"Dad... stop!!" pinta Karina sambil mengangkat tangannya ke atas. Dia panas dingin, hanya dengan memikirkan suaminya bertelanjang saat keluar dari kamar mandi. Fantasi liarnya kembali terpancing hanya dengan kalimat pendek yang suaminya ucapkan.
Fin menggeleng. Dia benar-benar tidak dapat memahami kemauan istrinya.
"Oke, Daddy lagi yang salah!" kesal Fin pada istrinya.
Karina mengerutkan wajahnya tidak suka dengan apa yang di dengarnya.
"Daddy terpaksa ya, ngomong kaya gitu?!" tanyanya.
"Jadi Daddy hanya pura-pura bersalah dan tetap menganggap Mommy lah yang salah? Gitu?" sewot Karina tidak terima.
"Astaga..." desah Fin.
"Apa perlu, kita berdebat untuk hal tidak penting seperti ini?!" tanya Fin dengan nada yang sedikit meninggi.
"Daddy!!! Stop!!!" teriak Karina membuat Fin mengerem kendaraannya secara tiba-tiba. Tubuh mereka berdua terjerembab ke depan.
"Mommy!!!" bentak Fin.
"Mommy kenapa sih? Tau gak sifat Mommy sudah seperti anak kecil? Devin saja yang masih berusia dua tahun tidak melakukan hal berbahaya seperti yang Mommy lakukan. Bagaimana kalau keadaan jalanan sedang ramai? Kita berdua bisa mati!!" ucapnya panjang lebar. Apa yang Fin ucapkan keluar dari kontrolnya. Dia mengucapkan segala sesuatu yang ada di kepalanya tanpa memikirkan perasaan Karina.
Kedua tangan Karina saling meremas. Dia ketakutan melihat amarah suaminya. Matanya berembun siap menjatuhkan butir air mata yang tertampung di pelupuk matanya.
"Ma... ma... maaf..." ucapnya dengan suara bergetar yang semakin mengecil.
"Mo... Mommy, tidak bermaksud mencelakai, Daddy," lirihnya kembali. Wajahnya tertunduk, dengan air mata yang mulai berjatuhan.
Selalu mendapat perlakuan yang lembut akhir-akhir ini membuat Karina melupakan bagaimana caranya bertahan dari rasa sakitnya.
"Maaf, Daddy refleks memarahi, Mommy." sesal Fin.
"Daddy tidak mau terjadi sesuatu dengan, Mommy. Daddy akan menyesal seumur hidup, kalau hal buruk sampai terjadi pada Mommy." jelas Fin sambil meraih tubuh istrinya untuk masuk ke dalam pelukannya.
"Maaf, Mommy juga hanya reflek." jelas Karina.
"Mommy melihat gerobak penjual martabak," cicit Karina pelan.
"Gerobak apa?" tanya Fin memastikan pendengarannya.
"Gerobak penjual martabak," jawab Karina sambil menunjuk ke belakang, dimana gerobak penjual martabak berada.
"Mommy, jangan aneh-aneh!"
"Memang apa yang aneh?" tanya Karina.
"Mommy hanya mau martabak! Tidak ada yang aneh dengan itu!" tegas Karina.
"Tapi tempatnya..."
"Tiga tahun terakhir, Mommy sudah sering mengkonsumsi martabak jalanan seperti itu dan lihat..., sampai sekarang Mommy masih hidup, Daddy..." jelas Karina dengan tangan terlipat di atas dada.
Mulutnya berkerucut saat menjelaskan kondisinya. Air matanya mengering begitu saja. Karina yang awalnya ketakutan melihat kemarahan suaminya, tiba-tiba berubah menjadi Karina yang kesal mendengar celotehan suaminya.
Fin kehabisan kata-katanya. Lihatlah, bagaimana istrinya berubah dalam sesaat.
"Ya sudah. Ayo turun!" ajak Fin pada istrinya. Jangan sampai istrinya itu marah untuk kesekian kalinya.
"Ckk... gak ada romantis-romantisnya," keluh Karina sambil keluar dari dalam mobil kemudian menutup pintu mobil dengan sedikit membantingnya.
__ADS_1
"Salah lagi..." desah Fin kembali. Karina marah hanya gara-gara Fin tidak membukakan pintu untuknya.
Fin mulai kewalahan menghadapi mood istrinya yang selalu berubah-ubah. Entahlah, apa jadinya kalau Fin tengah dalam kondisi yang tidak baik. Mungkin saja akan ada adu mulut di setiap waktunya. Andai Fin tau, kalau dia tengah menghadapi mood seorang ibu hamil yang memang naik dan turun secara drastis, mungkin Fin akan dengan senang hati menerima setiap perubahan mood dari istrinya.
Sayangnya, sekarang bukan waktu yang tepat bagi Fin ataupun Karina menyadari tentang kehadiran calon anak kedua mereka.
Fin turun mengekori istrinya. Melihat istrinya yang berjalan ragu, Fin yakin pasti ada sesuatu yang tidak beres.
"Kenapa?" tanya Fin yang berhenti tepat di samping istrinya. Wajah sang istri terlihat sendu.
"Tutup..." jawab Karina lirih.
Fin mengalihkan pandangannya pada gerobak biru yang beberapa meter berada di depannya. Tampak sang penjual tengah menggulung tenda yang menjadi tempat berteduh para pembeli yang menunggu pesanannya.
Seorang lainnya, tengah membersihkan gerobaknya dan mengemasi barang-barang yang akan mereka bawa pulang.
Karina mengajak Fin untuk berjalan mendekat ke arah gerobak penjual martabak.
"Mas, sudah tutup?" tanya Karina pada penjual martabak tersebut.
Fin yang mendengar istrinya memanggil si penjual dengan sebutan 'Mas' mendengus tidak suka. Dia juga menatap si penjual itu dengan tatapan tajam yang mengintimidasi.
"Iya, Bu." jawabnya sopan.
"Yahh... padahal saya benar-benar menginginkan martabak sekarang!" keluh Karina dengan wajah sendunya.
"Wah ibu telat, kami sudah terlanjur membereskannya," jawab si tukang martabak yang satu lagi.
Fin menjentikkan jarinya ke belakang, meminta salah satu bodyguard nya untuk mendekat. Tidak perlu lama, mereka segera datang memenuhi panggilan Tuan nya.
Fin membisikan sesuatu dan di angguki bodyguard nya. Sang bodyguard kembali ke dalam mobilnya untuk membawa sesuatu yang Fin minta.
"Apa tidak bisa, kalian membuatkan satu saja untuk istri saya?" tanya Fin dengan wajah arrogant nya.
"Kami benar-benar minta maaf, Pak. Bapak dan ibu bisa kembali lagi besok malam." jawab si penjual martabak berusaha menolak dengan halus.
Fin melebarkan matanya mendengar penolakan dari tukang martabak itu. Mampus! Apa dia tidak tau tengah berhadapan dengan siapa? Sepertinya celana yang Fin pakai membuat dia sulit di kenali. Image yang terpatri di masyarakat selama ini kan, Fin Grahatama yang rapi dengan setelan jasnya.
Fin berjalan beberapa langkah dan berhenti tepat di depan gerobak. Fin menyimpan segepok uang berjumlah sepuluh juta rupiah, sambil berkata.
"Yakin harus kembali lagi besok malam?" tanyanya dengan senyum yang mengejek.
Secara tidak langsung, Fin tengah memberitahu si penjual martabak bahwa orang yang ada di hadapannya saat ini bukanlah orang sembarangan.
Karina dan kedua penjual martabak itu melebarkan matanya tidak percaya. Satu gepok uang pecahan seratus ribu untuk sebuah martabak? Wah dengan uang itu bukan hanya martabaknya saja yang dapat di beli tapi juga beserta gerobak-gerobak nya.
"Dad, tidak perlu seperti itu!" Karina mengingatkan suaminya.
"Apa yang tidak bisa untuk seorang GRAHATAMA?" tanya Fin sombong. Dia sengaja menyebut 'gelar bangsawannya' dengan sedikit kencang untuk memberitahu status dia pada kedua orang yang tengah berdiri sambil ternganga, kaget.
Kedua penjual martabak itu, semakin shock dibuatnya. Apalagi saat tau kalau yang dihadapannya saat ini adalah sang Tuan muda, Grahatama.
"Ka... ka... kami akan menyiapkan martabaknya dengan segera. Tuan dan Nyonya, bisa menunggu di sini," ucapnya sambil memberikan dua buah kursi plastik yang mereka bersihkan terlebih dahulu.
Fin tidak merespon. Dia hanya memasang wajah datar tanpa ekspresinya kemudian mempersilahkan sang istri untuk duduk terlebih dahulu.
Karina tidak bisa menutupi kebahagiaannya karena keinginannya terpenuhi. Dia mencium pipi Fin, sebagai ucapan terima kasihnya. "Love you," bisik nya, kemudian kembali pada tempat duduk, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Fin hanya menggeleng pelan sambil memegang pipi yang mendapat kecupan dari istrinya.
'Mommy bahagia hanya dengan hal kecil seperti sekarang ini. Padahal, Daddy bisa memberikan Mommy yang jauhhh..., daripada ini.' batin Fin menyelipkan syukur dalam hatinya.
__ADS_1