
Karina sudah kembali dari rumah sakit sejak dua hari yang lalu. Kondisi Karina sendiri sudah jauh lebih baik dari pada beberapa hari ke belakang. Dia saat ini tinggal di rumah yang Fin siapkan untuknya.
Sampai sekarang, Fin belum juga di temukan. Anak buah Kakek Bram mendatangi setiap tempat yang Karina sebutkan. Tapi tidak ada satupun dari mereka yang menemukannya.
Sebenarnya masih ada satu tempat yang belum Karina beritahukan pada Kakek Bram. Tempat tersebut menjadi pilihan terakhir dari Karina. Jika Fin tidak di temukan di sana, Karina benar-benar tidak tahu lagi harus kemana mencari manatan suaminya tersebut.
Karina menunggu waktu yang tepat. Dia berusaha sembuh secepat mungkin agar bisa pergi mendatangi tempat terakhir tersebut. Kondisinya harus benar-benar sehat dan prima. Perjalanan yang akan di tempuhnya sangatlah jauh.
Malam ini, Karina mengumpulkan semua anggota keluarganya termasuk Renal dan Eca. Dia mengundang semua orang untuk makan malam. Karina masih harus banyak beristirahat jadi urusan masak memasak dia serahkan pada dua maid yang Fin siapkan untuk membantu Karina di rumah barunya itu.
Di tengah kegundahannya, Karina berusaha selalu terlihat ceria di hadapan semua anggota keluarganya. Dia tidak ingin membuat semua orang khawatir.
Setelah menyelesaikan makan malam, Karina meminta semua orang untuk berkumpul di ruang tengah. Ada sesuatu yang ingin dia sampaikan.
"Ada apa?" tanya Bi Vina cemas. Dia khawatir, karena keponakannya meminta semua orang untuk berkumpul di satu ruangan.
Selain Bi Vina, gurat kecemasan juga terlukis pada wajah semua orang yang ada di sana. Pasalnya, Karina tidak pernah mengumpulkan mereka untuk sebuah pembicaraan serius. Saat akan bercerai dengan Fin pun, Karina lebih memilih untuk menyendiri.
Karina menarik nafasnya dalam sebelum mengutarakan maksudnya.
"Begini, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan tentang Kak Fin," jelas Karina to the point.
Semua orang masih diam menyimak apa yang selanjutnya akan Karina sampaikan.
"Ada satu tempat yang mungkin Kak Fin kunjungi saat ini," Karina membuka pembicaraannya.
__ADS_1
"Kamu masih berharap anak kurang ajar itu kembali?" tanya Bram kesal. Saat ini, Kakek Bram sedang benar-benar marah dengan Fin.
Bram menganggap apa yang di lakukan Fin sungguh kekanakan. Dia selalu seperti itu dari dulu. Pergi sesukanya dan kembali saat dia ingin kembali. Sikap Fin yang berulang kali melakukan hal seperti itu membuat Kakek Bram muak. Apa yang Fin lakukan sudah tidak bisa di toleransi lagi oleh Kakek Bram. Kakek Bram sudah lelah dengan pola berulang yang cucunya lakukan.
"Aku harus bertemu dengan Kak Fin, Kek," jawab Karina.
"Untuk apa? Jangan bilang kalau kamu ingin kembali pada anak kurang ajar itu??!!" marah Kakek Bram. Kiara, Eca dan Renal saling pandang satu sama lain.
"Jangan harap Kakek memberi ijin! Kamu berhak mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dari pada cucu Kakek yang kurang ajar itu!" tegas Bram berapi-api.
Dia menyayangi Karina lebih dari rasa sayangnya kepada Fin. Bram tidak ingin Karina kembali terluka karena ulah cucunya. Sudah terlalu banyak penderitaan yang Karina alami karena ulah dari Fin di masa lalu.
"Kek ada yang harus aku dan Kak Fin bicarakan. Selain itu, aku juga harus meluruskan tentang kesalahpahaman aku selama ini," jelas Karina sambil mengusap punggung tangan Kakek Bram mencoba untuk menenangkannya.
"Lagi pula... dengan banyaknya kesalahan yang sudah aku lakukan pada Kak Fin, belum tentu Kak Fin masih ingin kembali pada aku. Bisa jadi dia sudah mempunyai wanita lain di sana," ucap Karina sambil tersenyum. Namun, senyuman itu hanya sebuah topeng untuk menutupi kegelisahannya. Dia gelisah jika dugaannya mungkin saja benar. Hatinya belum siap menerima.
"Jangan bicara sembarangan! Kamu berharga. Kamu tidak pantas di sia-siakan!" yakin nya membuat Karina terharu dengan perhatian Kakek Bram.
"Tadi Kakek bilang Kak Karina jangan kembali dengan Kak Fin. Tapi aku yakin, kalau Kak Karina pada orang lain pun Kakek tidak akan rela. Itu hanya kekesalan sesaat Kakek," bisik Kiara pada Renal dan Eca.
"Ckk... biasa aki-aki. Nanti juga kalau si Fin kembali Kakek akan meminta mereka untuk menikah lagi," celetuk Renal yang di angguki Kiara. Sementara Eca hanya tersenyum mendengarkan percakapan Renal dan Kiara.
"Rencananya, aku akan berangkat besok. Aku titip Devin ya," terang Karina sambil menatap Kiara.
"Maaf, lagi-lagi harus merepotkan kamu," sesal Karina. Tapi, Karina tidak punya pilihan lain. Dia tidak mungkin membawa Devin untuk perjalanan jauhnya.
__ADS_1
"Ckk... jangan seperti itu!" kesal Kiara.
"Kamu serius akan pergi?" tanya Bram.
"Ya, Kek." jawab Karina penuh keyakinan.
"Memang kemana kamu akan menyusul anak itu?" tanya Kakek kembali.
"Swiss. Walaupun tidak yakin seratus persen tapi hanya tempat itu yang belum anak buah Kakek datangi,"
"Swiss?? Swiss kamu bilang?" pekik Bram.
"Ya, aku baru ingat kalau kita pernah membicarakan Negara tersebut," jelas Karina.
"Ka Kak Karina akan pergi ke Swiss? Dengan
"Kak Gisa akan pergi ke Swiss? Dengan kondisi Kakak yang baru bangun dari koma?" tanya Kiara ridak kalah terkejutnya.
"Berikan alamatnya! Biar anak buah Kakek yang ke sana!"
"Aku mohon pada Kakek, biar aku saja yang berangkat ke sana," mohon nya.
"Tidak! Itu terlalu beresiko untuk kamu yang tengah mengandung," tolak Bram.
"Bayi yang ada dalam kandungan aku selalu berulah sejak pisah dengan Daddy nya. Apa Kakek tidak kasihan dengan aku?" bujuk Karina dengan wajah memelas nya.
__ADS_1
Bram diam. Dia tengah berpikir untuk mencari solusi terbaik.
"Oke. Kakek ijinkan kamu pergi ke Swiss. Tapi, Renal dan Eca akan ikut ke sana. Kakek siapkan dulu pesawat yang akan kalian gunakan besok," ucap Kakek tidak ingin di bantah. Kakek Bram pergi keluar rumah untuk mengurus penerbangan besok.