Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Anda mau apa?


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Fin sudah meninggalkan ruangan tempat dia menghabiskan malam pertamanya bersama Karina, bukan di hotel ataupun resort mewah di sebuah pulau tetapi di rumah sakit tempat Karina dirawat.


Malam pertamanya pun tidak seperti pasangan lainnya yang dipenuhi dengan ******* dan erangan, malam pertama Fin dan Karina mereka habiskan dengan tidur di tempat masing-masing Karina di atas ranjang bersama Devin sementara Fin di atas sofa bed.


Baik Karina maupun Devin mereka masih terlelap saat Fin meninggalkan ruang rawat inap tersebut, pagi ini Fin ada meeting penting dengan beberapa klien.


Rencananya Karina akan keluar rumah sakit siang ini sebelum meninggalkan Rumah Sakit tersebut Karina berniat untuk menemui bibinya terlebih dahulu.


"Mommy cudah cembuh?" tanya Devin saat melihat Karina sudah berjalan tanpa kursi roda.


"Ya, Mommy sudah sembuh" jawab Karina mencoba membenarkan perkataan Devin.


"Devin ikut Mommy ketemu nenek ya" ajak Karina pada anaknya, Devin mengangguk dengan antusias sebagai jawaban.


Tangan mereka saling menggenggam saat berjalan melewati lorong rumah sakit, Karina berjalan dengan pelan karena cedera di pergelangan kakinya masih belum sembuh sepenuhnya.


Mereka telah sampai di depan pintu ruangan yang merupakan tempat Bibi dari Karina dirawat, Karina membuka pintu tersebut pelan agar tidak mengganggu istirahat Bibi Vina, Bibi Vina menengok ke arah datangnya Karina dan Devin disertai sebuah senyuman hangat.


"Nenek" panggil Devin pelan.


"Yes, baby De... nenek kangen!" ucap Bibi Vina sambil membawa Devin masuk ke dalam pelukannya.


Karina menghampiri sang Bibi kemudian memeluknya penuh rindu, Karina memperhatikan wajah Bibinya yang terlihat jauh lebih segar setelah dipindahkan ke rumah sakit ini.


Karina mengambil jatah sarapan Bibi Vina dari atas meja yang dia yakini belum Bibinya sentu sama sekali.


"Bibi aku pulang siang ini" ucap Karina sambil memasukkan sendok ke dalam mulut Bibinya, Bibi Vina mengangguk sambil tersenyum hangat ke arah keponakannya.


"Mulai hari ini kamu resmi menjadi istri dari seseorang, bertindaklah sebagaimana seorang istri harus bertindak, jadilah istri yang patuh dan hormat pada suami kamu" wejangannya pada Karina sambil tangannya mengusap pelan punggung Karina penuh sayang.


"Apa aku bisa jadi istri yang baik buat Pak Fin? dengan Ramon saja yang sudah kenal sejak dulu dia hanya memanfaatkan aku" tutur Karina pada Bibinya sambil menundukkan wajahnya sendu.


"Tentu saja kamu bisa, lihatlah bagaimana kamu membesarkan Devin dua tahun terakhir ini, kamu Ibu yang hebat untuk menjadi istri yang hebat pun kamu lebih dari mampu" jelas Bibi Vina sambil menunjuk Devin yang tengah menatap jalanan Ibukota dari atas kamar Bibi Vina.

__ADS_1


"Terima kasih Bibi, karena selalu ada untuk kami selama tiga tahun terakhir ini, aku rasa Tuhan begitu baik pada kita, Tuhan membuat Fin menjadi Ayah sambung bagi Devin, mereka memiliki kesamaan di bagian mata sehingga orang-orang tidak akan mempertanyakan status Devin orang akan menduga kalau Devin adalah anak kandung dari Pak Fin" ucap Karina penuh syukur.


Bibi Vina mengangguk membenarkan namun dalam hati kecilnya Bibi Vina meyakini suatu saat nanti Karina akan mengingat segalanya termasuk tentang anak dan suaminya yang memang sudah memiliki takdir untuk bersama.


##########


Pukul dua siang Karina sudah bisa meninggalkan Rumah Sakit tempat dia dirawat beberapa hari terakhir ini, sopir yang ditugaskan untuk mengantar jemput Karina sudah siap untuk membawa Karina dan Devin pulang menuju kediaman mewah Fin, Fin masih sibuk dengan pekerjaannya sehingga dia tidak bisa menjemput Karina.


Pak Deni nama sopir yang dipekerjakan sebagai sopir pribadi Karina tersebut, beliau kira-kira berusia empat puluh lima tahun kalau dilihat dari gurat di wajahnya.


"Bu mulai hari ini Bapak mempekerjakan saya sebagai sopir pribadi Ibu" terang Pak Deni pada Karina.


Karina tersenyum tulus ke arah pria paruh baya tersebut.


"Terima kasih sebelumnya Pak" ucap Karina tulus.


"Mari saya bantu" ucap Pak Deni sambil membawa tas pakaian yang sudah Karina bereskan.


"Mommy, itu lumah capa?" tanya Devin saat mereka tiba di halaman mansion milik Fin.


Jarak dari halaman menuju rumah utama cukup jauh, di kanan dan kiri jalan yang Karina lewati terdapat banyak bunga, pepohonan dan terdapat kolam ikan di sana, untuk menuju rumah utama pun harus melewati jalanan yang menanjak karena rumah Fin terletak di atas bukit di sekitar rumah itu pun dikelilingi banyak pohon pinus, sungguh suasana yang menenangkan di tengah kondisi kota yang semerawut.


"Itu rumah Daddy, sekarang Devin sama Mommy tinggalnya di sana" tunjuk Karina pada rumah yang sekelilingnya terdapat kaca besar itu.


"Devin tidak apa-apa kan?" tanya Karina pada anaknya.


Devin menggelengkan kepalanya sambil tersenyum ke arah Karina.


"Aku cuka, Daddy baik sama aku" terangnya pada Karina, Karina tersenyum kemudian mengelus kepala Devin penuh sayang.


"Devin suka, Daddy baik sama Devin" ulang Karina sambil membenarkan cara Devin berbicara.


##########

__ADS_1


Sore ini Karina sedang berada di dapur untuk menyiapkan makan malam, tadi siang Karina dikenalkan dengan para maid yang bekerja di sana namun Karina meminta untuk urusan memasak dia ingin melakukannya sendiri.


Selain dikenalkan kepada para maid, Karina pun dikenalkan dengan pengasuh Devin. Bu Linda, empat puluh lima tahun merupakan pengasuh berpengalaman, yayasan yang menaunginya khusus dilatih sebagai pengasuh para anak sultan.


Pukul enam semua menu untuk makan malam sudah siap di atas meja makan, selain memasak untuk orang rumah Karina pun memasak makanan sehat khusus untuk Ibu menyusui dan menyuruh Pak Deni untuk mengirimkannya ke rumah adik iparnya, Kiara.


Setelah dirasa semuanya selesai, Karina masuk ke dalam kamar untuk mandi dan membersihkan tubuhnya, Fin sendiri belum pulang menurut pesan yang Fin kirim dia masih memiliki satu pertemuan terakhir dengan kliennya.


Karina menanggalkan semua pakaiannya dan memasukkannya ke dalam keranjang tempat pakaian kotor, segala kebutuhan Karina sudah tersedia di sana entah berapa uang yang Fin habiskan untuk menyiapkan segala sesuatu untuk Karina dan Devin termasuk membuat kamar anak khusus untuk Devin, tentunya hanya memakan waktu singkat.


Karina masuk ke dalam bathtub dan mulai menyalakan beberapa lilin aroma terapi, Karina memejamkan matanya berusaha menikmati segala fasilitas yang sudah lama tidak Karina nikmati setelah dia diusir dari rumah mewah sang Ayah.


Setelah kurang lebih tiga puluh menit Karina menikmati sensasi berendam di dalam bathtub, Karina menyelesaikan acara mandi sorenya dengan membilas seluruh tubuhnya dengan shower, dia memakai kembali bathrobe nya karena Karina lupa membawa baju ganti ke dalam kamar mandi.


Saat Karina keluar dari kamar mandi alangkah terkejutnya dia ternyata di dalam kamar sudah ada Fin yang tengah menanggalkan jas kerjanya dan mulai membuka empat kancing teratas kemejanya, otot padatnya mengintip dari balik ke meja hitam Fin.


"Su... sudah pu... pulang Pak?" tanya Karina tergagap sambil memegangi bathrobe nya.


"Ya" ucap Fin singkat.


Karina kelimpungan dan berusaha masuk kembali ke dalam kamar mandi, namun Fin menarik lengan Karina saat badan Karina nyaris mencapai pintu.


Karina memekik kaget karena tubuhnya terbentur dada bidang Fin, Fin memegang pinggang ramping Karina sambil wajahnya menunduk menatap wajah polos Karina, rambutnya masih basah dengan titik-titik air berjatuhan mengenai leher dan dada Karina, kurang ajarnya pemandangan tersebut membuat Karina semakin terlihat seksi di mata Fin.


Karina seperti tersihir oleh mata hijau Fin, Karina hanya diam saat Fin membawa tubuh itu mendekat ke arah meja rias dan mendudukkannya di atas sana.


Tangan Fin dia letakkan di sisi kanan dan kiri meja sementara tubuh Karina terpenjara di tengah-tengah tangan Fin, Fin pun mencondongkan tubuhnya ke depan badan Karina, Karina menahan dada Fin dengan kedua tangannya.


"Pak... a... anda mau apa?" tanya Karina tergagap dengan jantung yang saling bertalu.


Namun Fin hanya menyeringai yang menurut Karina seringai Fin sangat menakutkan.


"Tuhan... apa dia akan meminta hak nya sekarang?" batin Karina menjerit.

__ADS_1


__ADS_2