Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Jangan harap dia lolos begitu saja.


__ADS_3

Keluarga Grahatama saat ini tengah berkumpul di rumah sakit. Mereka tengah menunggu dengan cemas. Sudah hampir satu jam namun Dokter belum ada yang memberi kabar tentang kondisi Karina dan seseorang yang menyelamatkannya.


Kiara sendiri saat ini tengah mendonorkan darahnya untuk Karina. Stok darah milik Karina tidak sebanyak yang di butuhkan nya. Karina kekurangan satu labu lagi.


Kakek Bram sendiri terus mencari keberadaan Fin. Dia mengerahkan anak buahnya untuk mencari sang cucu di setiap Negara yang mungkin di kunjungi nya. Keluarga kehilangan kontak dengan Fin sejak satu minggu yang lalu. Dia pergi begitu saja setelah menitipkan perusahaan kepada Raiden. Kesedihan dan penyesalan dari perubahan sikap Devin membuat Fin terpuruk dan memilih pergi untuk menenangkan diri.


"Keluarga dari Ny. Eca Ludwig!" panggil Dokter yang baru saja keluar dari ruang tindakan. Semua yang ada di sana bergegas bangkit untuk menanyakan kondisi dari Eca dan Karina kepada Dokter tersebut.


"Saya suaminya," ucap Renal. Dia segera mendekat dengan wajah cemasnya.


"Boleh kita bicara?" tanyanya.


"Baik Dok," jawab Renal dengan cepat.


Kakek Bram menepuk punggung Renal untuk menguatkannya.


"Jangan khawatir Kakek sudah memanggil dokter-dokter terbaik untuk menyelamatkan mereka," hibur Bram.


Seseorang yang menyelamatkan Devin adalah Eca. Dia secara diam-diam selalu mengikuti kemanapun Karina pergi. Dia juga mengamati keduanya dari kejauhan tanpa Karina tau.


Setiap hari Eca berangkat pagi dan pulang pada petang hari. Renal sendiri tidak mengetahui apa yang di lakukan istrinya. Yang dia tau, Eca selalu berada di rumahnya. Karena saat Renal pulang bekerja, Eca selalu menyambut kepulangannya.


Renal berjalan mengikuti Dokter dan berhenti di ruangannya. Dokter tersebut menyerahkan sebuah foto hitam putih kepada Renal. Renal yang bingung mengerutkan dahinya sambil mengamati gambar yang ada di dalamnya.


"Ini gambar apa Dok?" tanya Renal bingung.


"Ini foto USG, Pak. Janinnya tidak bisa di selamatkan," jelas Dokter membuat Renal tercengang.


"Karina keguguran???" pekik Renal kencang.


"Bukan Bu Karina, Pak," jawabnya.


"Hah??" refleks Renal.


"Terus ini foto USG siapa?" tanya Renal sudah tidak enak hati.


"Ini foto USG istri anda. Ibu Eca mengalami keguguran di usia lima Minggu kehamilannya," jelas Dokter tersebut membuat Renal membeku. Dia tidak mengetahui tentang kehamilan istrinya.


"Saya membutuhkan tanda tangan dan ijin dari Bapak untuk melakukan tindakan curettage. Rahim ibu Eca harus di bersihkan agar pendarahannya berhenti," jelas Dokter.


Renal tersentak dengan fakta yang baru di ketahui nya.


"Hamil??? Istri saya hamil??" tanya Renal kembali masih tidak percaya.

__ADS_1


"Ya. Bapak harus segera mengambil keputusan"


"Lakukan apapun yang terbaik untuk istri saya," jawab Renal pada akhirnya.


Renal kembali bergabung bersama keluarga Grahatama yang lain. Wajah Renal pucat pasi. Kakek Bram yang menyadari perubahan Renal segera memberinya air minum.


"Minum dulu," ucap Kakek Bram sambil menyodorkan air mineral dalam botol.


Renal menghabiskan setengah dari isi air mineral tersebut. Kejadian hari ini benar-benar membuat Renal shock berat. Dia seperti di hantam dua benda berat secara bersamaan. Bagaimana Renal tidak shock, pertama Renal mendapat kabar tentang kecelakaan istrinya. Yang kedua tentang keguguran yang bahkan kehamilannya pun tidak Renal ketahui.


"Apa kata Dokter?" tanya Bram pelan-pelan. Dia tau kalau ada sesuatu yang terjadi dengan Eca.


"Eca keguguran, Kek," jawab Renal lirih.


Kiara yang baru bergabung bersama mereka melebarkan matanya sambil menutup mulutnya karena refleks.


"Eca keguguran? Dia hamil?" tanya Kiara sambil mendudukkan tubuhnya di samping Renal.


"Ya. Dia hamil lima Minggu. Bodoh! aku sebagai suaminya bahkan tidak tau apa-apa tentang istri ku sendiri," Renal menyalahkan dirinya sendiri.


Kakek Bram mengusap punggung Renal untuk menenangkannya.


"Dia pasti baik-baik saja. Eca perempuan kuat." ucap Bram menenangkan.


"Pak Renal, silahkan masuk." panggil suster meminta Renal untuk masuk dan menemani Eca di dalam.


Renal mengikuti suster dan masuk ke dalam ruang tindakan. Sementara itu, Kiara bergeser dan duduk tepat di samping Kakek Bram.


"Apa Abang masih tidak bisa di hubungi?" tanya Kiara pada Kakeknya.


"Mau menghubungi anak kurang ajar itu pakai apa?? Handphonenya sengaja dia tinggalkan di rumah. Memalukan!! Sifatnya masih kekanakan. Bukannya menyelesaikan masalah yang sudah dia buat malah kabur begitu saja!!!" marah Bram.


'Ckk... Kakek kalau ngomong sama cucunya gak pernah lembut,' gerutu Kiara dalam hati.


"Dokter yang menangani Kak Karina belum keluar Kek?" tanya Kiara kembali.


"Belum. Berdoa saja mudah-mudahan segalanya berjalan lancar," ucap Bram. Kedua tangannya terlipat di atas dada dengan kaki yang terus Kakek gerakkan karena cemas.


Kakek Bram tengah khawatir. Ketidakhadiran Fin membuat kekhawatirannya bertambah beberapa kali lipat. Selain itu, Devin yang terus menangis di rumah membuat beban pikiran Kakek Bram semakin banyak.


"Kakek istirahat saja. Biar aku yang menunggu di sini," saran Kiara yang melihat gurat kelelahan di wajah Kakeknya.


"Mana bisa seperti itu!! Kakek tidak akan pergi sampai Dokter memberitahukan kondisi Karina dan bayinya," kekeh Bram.

__ADS_1


Kiara hanya bisa menarik nafas tanpa bisa melawan Kakeknya. Dia lupa kalau Kakeknya keras kepala.


"Ya sudah. Aku menghubungi Bu Linda dulu untuk menanyakan kondisi Kakak Devin saat ini. Dia pasti masih shock. Dengan mata kepalanya sendiri menyaksikan Mommy nya kecelakaan. Hati aku sakit anak sekecil Kakak Devin harus menanggung beban yang sangat berat. Dia juga bahkan menjadi saksi bagaimana hubungan Mommy dan Daddy nya berakhir," lirih Kiara dengan air mata yang menetes dari kedua sudut matanya.


Bram hanya diam meresapi apa yang Kiara sampaikan. Dia yakin kalau sang cicit akan tumbuh menjadi anak yang tahan banting nantinya. Secara tidak sadar dia sudah di libatkan dalam berbagai macam cobaan selama tiga tahun kehidupannya.


Pintu ruangan tempat Karina mendapat tindakan medis terbuka. Kakek Bram yang tengah melamun bangkit dan langsung menghampiri Dokter.


"Bagaimana kondisi cucu saya?" tanyanya to the point.


"Apa anda keluarga dari Ny. Karina?" tanya Dokter tersebut kepada Kakek Bram.


"Anda tidak mengenal saya? Dia istri dari Fin, cucu saya!!" marah Bram pada sang Dokter.


Kiara yang baru selesai menelepon Bu Linda segera menghampiri Kakek Bram dan menenangkannya.


"Kek..." Kiara mengusap punggung Kakek Bram.


"Dia hanya melakukan tugasnya. Sudah sepatutnya dia bertanya seperti itu," bisik Kiara.


"Kami keluarganya, Dok. Bagaimana keadaan Kakak ipar dan bayinya?" tanya Kiara pada akhirnya.


"Kecelakaan yang Nyonya alami cukup fatal. Dengan berat hati kami harus menyampaikan kabar buruk ini," ucap Dokter dengan hati-hati.


Degh... dada Kiara berdetak cepat saat Dokter menyebutkan kata 'buruk'. Segala pikiran jelek tentang Karina bermunculan dalam otaknya.


"Kabar buruk apa?? Jangan ngarang kamu!!!" marah Kakek Bram.


"Hantaman yang cukup keras melukai bagian kepala dari Nyonya Karina. Saat ini beliau koma." jelas Dokter.


Kiara dan Kakek Bram melebarkan matanya.


"Koma kamu bilang??" bentaknya.


"Kek..." Kiara mengingatkan kembali.


"Bagaimana dengan bayinya Dok?" tanya Kiara.


"Ini mungkin sebuah mukjizat dari Tuhan. Walaupun terkena hantaman yang sangat keras tapi bayinya kuat. Dia tidak terlalu terpengaruh dengan kecelakaan ini. Saat ini kami masih terus memantau kondisi Ibu dan bayinya," jelas Dokter kembali.


"Syukurlah..." ucap Bram dan Kiara secara berbarengan.


Dokter kembali masuk ke dalam ruangan Karina. Sementara Kiara dan Bram menempati kembali tempat duduknya.

__ADS_1


"Andai saja kita tidak pernah mengenal Queen mungkin kejadian seperti ini tidak akan terjadi." celetuk Kiara tiba- tiba.


"Jangan harap dia lolos begitu saja. Seorang Bram tidak pernah melepaskan mangsanya!!" ucap Kakek Bram sambil tersenyum miring. Dia sudah menemukan hukuman yang cocok bagi Queen.


__ADS_2