
"Kamu kenapa, Sayang? Lesu banget."
Suara wanita paruh baya yang tengah duduk di sampingnya menyadarkan Renika dari lamunannya.
Gadis itu menoleh pada sang ibu sambil mengulum senyum tipis.
"Nggak apa-apa, Mi. Aku hanya sedikit lelah saja," kilah Renika.
Kemarin, setelah terbangun di ruangan yang sama, Renika dan Devin langsung menemui manajemen hotel untuk memeriksa rekaman CCTV hotel. Namun, pihak hotel menyatakan CCTV mengalami kerusakan di malam tersebut dan berakhir tidak memiliki rekaman apa pun.
Walaupun Renika merasa tenang lantaran tidak ada bukti yang bisa mengganggu reputasinya, tapi Devin berpikiran sebaliknya. Seseorang telah menjebak mereka dan menempatkan mereka bersama dalam kondisi tidak senonoh sesuatu jelas akan terjadi.
'Dia bilang akan menemukan pelakunya, tapi sampai sekarang masih belum ada kabar,' batin Renika sembari menggigit bibirnya.
Memang Devin menyatakan agar gadis itu duduk manis dan tidak berulah bahkan menyuruhnya untuk melupakan masalah itu karena dia akan membereskannya. Akan tetapi, karena dirinya seorang model dan selebgram ternama, terlibat, Renika jelas tidak bisa tenang!
"Makanya jangan semua tawaran pekerjaan kamu ambil. Sekali-kali istirahat sayang" omel ibunya.
"Iya, Mami Eca," jawab Renika menyebut nama sang ibu sambil mencolek hidungnya.
"Kamu ini," decak sang ibunda saat sang anak menggodanya.
Renika tersenyum tipis kemudian mengedarkan pandangannya ke arah lain guna mencari keberadaan sang Ayah Renal Araav, Ayah Renika ternyata tengah berbincang dengan seseorang di telepon.
Saat ini, Renika bersama kedua orang tuanya sedang berada di sebuah ruangan VVIP salah satu restoran mewah, guna memenuhi undangan salah satu sahabat dekat dari orang tuanya, yang Renika sendiri pun tidak tahu siapa. Karena saat tiba di sana, ruangannya masih kosong.
"Pap..."
Gadis itu baru akan memanggil Ayahnya saat tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan memunculkan sepasang suami istri, serta seorang pria muda tampan yang berdiri di belakang mereka.
Sepasang mata Renika hampir melompat keluar saat melihat Devin berdiri di sana.
"Gawat! Kok dia bisa di sini, sih?!!
Renika seketika mengumpat dan langsung memalingkan wajahnya ke arah lain sambil berusaha menutupinya dengan salah satu tangannya.
Kedua mata Renika bergerak gelisah mengamati sekelilingnya.
'Aku harus keluar dari sini!' batin Renika panik. Di tengah kepanikan itu tatapan Renika berhenti pada sebuah pintu lain yang ada di ruangan tersebut.
Dengan perlahan Renika berdiri berniat melangkahkan kakinya secepat mungkin untuk meninggalkan ruangan tersebut. Namun baru beberapa langkah kecil, sang ibu yang duduk di sampingnya menangkap pergelangan tangan Renika dan menahannya.
"Kamu mau ke mana?" tanya wanita tersebut.
__ADS_1
"I... itu, Mi... aku mau"
"Duduk!" perintahnya.
"Nggak sopan pergi saat Om dan Tante baru datang!" tegur Eca pada putrinya.
Mau tidak mau, Renika terpaksa memasang senyuman paling manis di hadapan para orang tua. Berpura-pura menjadi anak yang baik.
'Tenang paling lama dua jam doang di sini. Jangan panik, Renika. Pasang senyuman terbaik mu!'
Berbeda dari kedua orang tua Renika dan Devin yang tampak asik berbincang di sela-sela menyantap hidangan makan malam, kedua muda mudi itu justru hanya terdiam dan menanggapi ocehan para orang tua dengan sebuah anggukan atau seulas senyuman tipis.
Sambil menanggapi beberapa pertanyaan yang di ajukan untuknya, tangan Renika sibuk di bawah meja. Gadis itu mengetikkan sesuatu untuk Devin yang duduk di hadapannya.
"Jangan sampai ada yang tahu soal kemarin"
Renika memperhatikan Devin yang mengeluarkan ponselnya dari saku jas dan terlihat membaca sesuatu di sana yang gadis itu yakini adalah pesan darinya. Kemudian, gadis itu melihat sebelah alisnya terangkat.
Namun, tingkah pria itu yang memasukkan kembali ponselnya membuat Renika terbelalak.
'Wah, apa dia baru saja mengabaikan ku? Kurang ajar sekali'
Ingin rasanya Renika diam-diam menendang kaki Devin yang berada di bawa meja, tapi sayangnya kakinya tidak cukup panjang untuk menjangkau kaki pria itu.
Ibunda Devin tersenyum lebar. Dia berkata dengan nada riang.
"Kalian tahu nggak, kalau acara makan malam ini bukan sekedar temu kangen?" Kalimat ibunda Devin yang terdengar sedikit ambigu itu pun otomatis membuat Renika melempar tatapan penuh tanya pada wanita paruh baya tersebut.
"Seperti yang kalian tahu, kami sudah bersahabat sejak lama bahkan keluarga Grahatama sudah menganggap Om Renal dan Tante Eca seperti keluarga sendiri." Kali ini, orang yang menyahut adalah Fin Grahatama, Ayah Devin.
"Dan sekarang, impian kami akan segera terwujud, melalui pernikahan kalian!" seru Renal, Ayah Renika dengan gembira.
Namun, pernyataannya itu jelas membuat kedua anak mereka sama-sama terkejut.
"Pernikahan?!" Tanpa sadar, Renika memekik kaget. Dia menatap kedua orang tuanya dengan tatapan tidak terima.
"Iya, pernikahan sayang..." sahut ibunda Renika dengan santainya.
"Sebenarnya, dari dulu kalian sudah kami jodohkan," sambungnya lagi dengan antusias
"Di jodohkan?!" Suara Renika semakin melengking tinggi.
"Memangnya sekarang masih zamannya Siti Nurbaya?!" protesnya tidak terima.
__ADS_1
"Renika!"
Ayahanda Renika seketika memelototi putrinya yang langsung menyatakan penolakannya dengan lantang. Namun, Renika bersikap tidak peduli.
"Nggak! Pokoknya aku nggak mau nikah!" ucap Renika penuh emosi.
"Papi sama Mami jangan seenaknya gitu dong! Aku ini udah dewasa! Aku yang menentukan jalan hidup ku sendiri!" tegasnya.
"Aku mau fokus sama karir dulu!" Renika lagi-lagi menyuarakan penolakannya, tidak peduli pada reaksi para orang tua yang jelas terkejut dengan reaksi gadis itu.
Sekilas, gadis itu melirik ke arah Devin yang masih tidak mengatakan apapun membuat Renika semakin kesal.
'Kenapa dia tidak mengatakan apapun?!' batin Renika kesal.
"Jennar, sayang... kamu tenang du..."
Tok... Tok... Tok....
Ketika Ibunda Devin berusaha menenangkan putri sahabatnya, sebuah ketukan di pintu mengalihkan perhatian mereka semua. Seorang pelayan muncul, dia berjalan masuk dengan membawa sebuah amplop coklat.
"Ehm, permisi. Maaf mengganggu waktunya, tapi kami ingin memberikan titipan untuk Tuan Fin Grahatama," ujar pelayan tersebut menyebutkan nama lengkap Fin.
"Untuk saya?" Pria paruh baya itu sontak mengerutkan keningnya.
"Iya, Tuan."
Pelayan itu lantas mengangguk kemudian menyerahkan sebuah amplop coklat kepada Fin sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Ekspresi kebingungan masih terlihat di wajahnya, tapi dia tetap membuka amplop coklat itu. Hanya saja, sesaat setelah beliau membuka amplop itu, kedua matanya tampak membelalak kaget. Emosi selanjutnya yang memenuhi matanya adalah kemarahan.
Entah kenapa, Renika merasakan atmosfer di ruangan tersebut menjadi terasa menegangkan, hingga membuat bulu kuduknya ikut berdiri.
"Ada apa?" tanya Ibunda Devin hati-hati saat melihat raut marah pada wajah suaminya.
Namun, alih-alih menjawab, Fin malah memberikan tatapan penuh kemarahan kepada putranya, sebelum kemudian beliau melemparkan foto-foto tersebut ke atas meja.
"Jelaskan foto-foto ini!!!" bentak Fin penuh emosi.
Renika yang sudah merasakan firasat buruk, seketika tampak menegang di tempat duduk saat mengetahui kalau foto- foto tersebut adalah foto-fotonya bersama Devin. Foto-foto yang di ambil dengan posisi mereka yang saling berpelukan dengan sebuah selimut yang menutupi tubuh polos mereka!
"Saya sudah memutuskan, pernikahan kalian akan di percepat!"
Mendengar pernyataan tersebut, sontak saja membuat Renika dan Devin saling bertukar pandang dengan ekspresi wajah mereka yang tampak shock dan tegang.
__ADS_1
'Mampus aku!!'