Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Dijebak.


__ADS_3

"Urgh"


Lenguhan kesakitan itu terlontar dari bibir Renika seiring kesadarannya kembali. Pening yang menyelimuti kepalanya membuat gadis itu mengernyitkan wajah kala dirinya membuka mata dan melihat pemandangan sekeliling.


Sadar bahwa dirinya tidak mengenali ruangan tempatnya berada, Renika melonjak duduk di tempat tidur.


"I... ini di mana?" Saat matanya menyapu seisi ruangan, dia yakin akan satu hal.


"Ini bukan kamar ku!"


Saat Renika sedang berusaha menenangkan dirinya sendiri dengan bangkit dari tempat tidur, dia berakhir di buat panik ketika menyadari tidak ada sehelai kain pun yang membalut tubuhnya.


"Loh, baju ku...?!" Belum sempat dia selesaikan ucapannya, mata Renika berakhir membulat kala dirinya menangkap keberadaan sesosok pria yang tengah terbaring di sampingnya.


"AAAAAAAAAA!!" Dia melilit tubuhnya dengan selimut dan menggunakan tangan kanannya untuk memukul-mukul pria tersebut.


"Pria kurang ajar, mesum!"


"Ugh!" Pukulan keras Renika pada kepala pria asing itu membuat sang pria terbangun dengan cepat, terduduk dengan bagian atas tubuhnya yang kekar tidak berbusana.


"Berhenti!" Tangan pria tersebut mencekal tangan Renika berusaha menghentikannya.


"Renika buka matamu dan tatap aku!"


Begitu mendengar suara tersebut, Renika terkejut. Dia merasa sangat familiar dengan dalamnya suara pria itu.


Renika pun membuka mata, lalu terkejut saat mengenali pria di hadapan.


"Devin Grahatama?!"


Tidak salah lagi, pria di hadapan dengan tubuh kekar dan otot liat itu jelas adalah CEO Grahatama Cosmetics, Devin Grahatama!


"Devin?!" seru Renika dengan nada tinggi sambil menatap Devin dengan marah.


"Pria kurang ajar! Kamu ngapain aku, hah?!" Gadis itu melupakan semua formalitas yang dia gunakan kemarin malam.


Dengan tangan masih mencengkeram tangan gadis di hadapan, Devin yang masih terkejut karena di bangunkan dengan begitu kasar mengerutkan kening. Dia terlihat ingin mengatakan sesuatu tapi bibirnya berubah kelu ketika menyadari kondisi dirinya dan Renika.


"Apa yang...?" Devin kentara bingung, tapi dia mencoba memahami situasi yang ada. Di saat dirinya tak berhenti merasakan dentuman pening di bagian belakang kepala, pandangannya berubah dingin.


"Kamu tenang dulu," ucapnya saat melihat air mata berkumpul di pelupuk Renika, kemarahan dan ketakutan terpancar jelas dari manik cokelat terang gadis cantik tersebut.


"Bagaimana aku bisa tenang?!" Renika membalas dengan ekspresi di selimuti ketidakpercayaan. Ini bukan masalah reputasi saja, melainkan harga dirinya!

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya sudah kamu lakukan?!"


"Aku tidak melakukan apa-apa," jawab Devin seiring dirinya melepaskan pergelangan tangan Renika, yakin gadis itu sudah mampu mengendalikan diri.


Pria itu turun dari tempat tidur dan memungut pakaiannya yang ada di lantai. Gerakannya yang tiba-tiba membuat Renika harus memalingkan wajahnya, tidak berani menatap lebih lama pemandangan yang di suguhkan di hadapan.


"Tidak ada yang terjadi semalam," ujar Devin meyakinkan.


Sepasang mata indah milik Renika menyipit.


"Bohong," desisnya seiring kepalanya kembali menoleh untuk menatap pria yang telah kembali mengenakan pakalannya itu.


"Kalau memang nggak terjadi apa-apa, terus kenapa keadaan kita seperti ini?!"


Devin yang tengah mengancingkan kemeja hitamnya sontak terdiam, matanya pun memancarkan tatapan dingin yang menusuk. Namun, pandangan tersebut tidak di arahkan pada Renika melainkan pada kejadian yang melibatkan mereka berdua tadi malam.


Di malam yang lalu


"Renika... Renika...."


Devin memanggil nama Renika ketika perempuan itu tiba-tiba menjatuhkan kepalanya di atas meja. Pria itu mengulurkan tangannya dan menyentuh bahu selebgram tersebut, tapi tidak ada reaksi. Dahinya terlihat berkerut kebingungan.


"Dia... tertidur?"


"Maaf, Tuan. Apa ada masalah?" Seorang pelayan berkata ketika masuk ke ruangan. Wajahnya berubah panik ketika melihat sosok Renika terkulai tak berdaya di atas meja.


"A... ada yang bisa saya bantu?"


Setelah terdiam beberapa saat, Devin berdiri dan mengangkat tubuh Renika dengan mudah menggendongnya.


"Bereskan tempat ini, lalu siapkan satu kamar untuk ku." Mata zamrudnya menatap sosok gadis dalam gendongan yang terlihat tak berdaya.


"Tamu ku berada dalam kondisi yang kurang baik."


"B...baik, Tuan!"


Tidak perlu waktu lama bagi Devin untuk membawa Renika ke dalam kamar yang telah dia pesan.


Setelah membaringkan tubuh gadis itu dan juga menyelimutinya. Pria tersebut menatap Renika sesaal sembari membatin.


'Tidakkah dia jauh lebih jinak ketika tidur?'


Devin mendengus lalu menegapkan tubuh dengan niat untuk berbalik meninggalkan kamar. Namun, baru saja dirinya berdiri tegap, dia mendengar suara langkah kaki cepat yang menghampiri di belakang. Dia berniat untuk menoleh, tapi...

__ADS_1


BUK!


Mengingat kejadian itu membuat Devin mengernyitkan wajahnya.


"Aku tidak ingat apa pun lagi."


"Maksud mu, kamu pingsan?" cibir Renika seiring dirinya mendengus.


"Apa dasarnya aku percaya padamu?" tanya gadis itu dengan pandangan curiga.


Sejujurnya, Renika memang tidak merasakan apa pun yang aneh kecuali badannya yang terasa remuk, tapi itu lebih karena pegal dari posisi tidur yang sepertinya salah. Hanya saja, kecurigaan tetap menumpuk di hati.


"Setiap sudut hotel ini di lengkapi CCTV. Kamu bisa memeriksanya sendiri," ujar Devin dengan nada datar.


Renita yang sekarang telah mengenakan pakaiannya lengkap tengah berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada memandang Devin dengan tatapan sengit.


"CCTV itu tidak membuktikan apa pun."


Kesal, Devin menatap Renika dingin.


"Lalu, apa yang kamu inginkan?" Pria itu berujar.


"Menikahimu?"


Mata Renika membelalak, seakan di tantang.


"Kamu..." Wajahnya memerah.


Renika memandang kesal sosok Devin yang tengah menoleh ke arah tempat terakhir dia sadarkan diri di malam sebelumnya. Kesal karena di abaikan gadis itu melayangkan pukulan ke pria tersebut.


"Pria menyebalkan!"


"Argh!" Devin tiba-tiba meringis kesakitan saat pukulan Renika mengenai area tengkuknya.


Renika yang tadinya sedang di kuasai emosi pun langsung berhenti dan tersadar dengan gurat lebam membiru yang ada pada tengkuk Devin.


"Kamu terluka?" tanya Renika melupakan sejenak emosinya dan langsung menghampiri pria itu dengan khawatir. Saat jari-jarinya menyentuh lebam itu, kening gadis tersebut berkerut.


"Belakang leher mu seperti ada bekas puku..."


Sepasang mata Renika membelalak, dia menutup mulutnya karena terkejut .Gadis itu menatap Devin dengan pandangan tidak percaya.


"Kita sungguh di jebak?"

__ADS_1


__ADS_2