
Sedikit memijat, menggosok dan sesekali mengusap sesuatu yang menonjol, bagian paling sensitif dari perempuan. Karina mengerang hebat gara-gara ulah suaminya.
Fin turun dari atas tempat tidur, kemudian menanggalkan semua pakaiannya. Karina tersipu, wajahnya memerah dengan mulut terbuka lebar saat melihat milik, suaminya.
"Apa benda sebesar itu, akan cukup?" tanyanya dalam hati.
Fin berdiri disisi tempat tidur, dengan kedua tangan bertolak pinggang. Dia pandangi istrinya yang tengah berbaring dengan wajah merahnya.
Kemudian, Fin naik kembali ke atas tubuh istrinya. Wajahnya turun ke bawah perut Karina, kemudian dia kecup bekas operasi yang masih tercetak jelas di perutnya.
Setelahnya, Fin mulai memasukan miliknya. Bagian yang masuk, kurang dari seperempat nya. Karina panik! Dia meronta sambil mendorong tubuh Fin. Fin mengerutkan keningnya sambil menatap Karina frustasi, karena kegiatan panasnya harus terhenti akibat ulah istrinya.
"Da-Daddy...jangan, aku takut. Itu terlalu besar untuk masuk ke dalam sana! Dan rasanya... pasti sangat menyakitkan. Jangan sekarang! Daddy, please!" mohon Karina dengan paniknya.
Fin tersenyum dalam hati, melihat kepanikan istrinya.
"Itu akan cukup, Baby. Seperti tiga tahun lalu, saat kamu di buat memohon olehnya." Batin Fin sambil mengelus miliknya.
Fin turun dari atas tubuh Karina, kemudian membaringkan tubuh polosnya di samping Karina sambil dia raih tubuh polos istrinya. Karina melesak masuk ke dalam pelukan, Fin. Ini pertama kalinya Karina berani memeluk Fin seperti malam ini.
"Maaf..." ucap Karina kembali penuh penyesalan.
###########
Karina baru bangun dari tidurnya, saat jam menunjukan pukul setengah tujuh pagi. Dia, kesiangan! Semalam, dia baru terlelap sekitar pukul sebelas malam. Bukan begadang karena menuntaskan kegiatannya yang sempat Karina hentikan, melainkan begadang karena Karina merindukan Devin, sang anak.
Kegiatan semalam, tidak mereka tuntaskan karena Karina yang ketakutan. Hadirnya Devin pun Karina tidak mengingat saat proses pembuatannya. Jadi, Karina benar-benar tidak tau bagaimana rasanya bercinta. Karena saat berpacaran dengan Ramon pun dia berpacaran secara sehat. No *** before married. Dia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.
Karina gelisah sepanjang malam. Padahal jika dilihat dari CCTV kamar Devin yang tersambung pada gadget milik Fin, Devin anteng bermain, kemudian tertidur setelah Bu Linda membacakannya cerita.
Karina bergegas bangun, dan membereskan tempat tidurnya sebelum akhirnya masuk kedalam kamar mandi. Di dalam kamar mandi pun, Karina hanya menghabiskan waktu dua puluh menit saja. Segera di pakainya setelan kerja yang sudah terbungkus di dalam paper bag berlabel butik ternama.
Karina mengerutkan keningnya bingung. Berapa harga yang harus suaminya bayar untuk memaksa butik tersebut buka di pagi buta seperti ini? Pikir Karina bingung.
Total ada empat paper bag yang tergeletak diatas meja kamar. Paper bag pertama, berisi pakaian wanita Victoria Secret yang ukurannya sangat pas dengan, Karina. Paper bag kedua, berisi setelan kerja model fitted peplum dress dengan tinggi sebatas lutut, paper bag ke tiga, berisi high heels berbahan beludru dengan model yang cantik, sementara paper bag terakhir, berisi peralatan make up lengkap. Karina tersenyum melihat isi dari paper bag tersebut. Kemudian mulai memakainya satu persatu dan keluar dari dalam kamar.
Dia edarkan pandangannya meneliti sekeliling untuk mencari suaminya. Namun nihil, Karina hanya sendiri di dalam apartemen tersebut. Karina tertunduk lesu sambil berjalan menuju kitchen island, Apa Fin marah perihal semalam? Pikir Karina.
__ADS_1
Karina dudukan bokongnya diatas bar stool berwarna coklat tua dengan motif kayu. Mata Karina berbinar tatkala melihat sarapan pagi yang sudah tersaji di atas kitchen island ditambah sepucuk memo yang diganjal piring tempat sarapan Karina. Karina raih memo yang dia yakini dari suaminya tersebut.
"Mommy, makan yang banyak! Daddy harus keluar kota untuk bertemu klien!" isinya dalam sepucuk memo tersebut. Karina menyimpan memo dari suaminya tersebut ke dalam note book miliknya. Karina harus segera menyelesaikan sarapannya, karena dia sudah benar-benar terlambat untuk pergi ke kantor.
"Terima kasih sarapannya, suami!" ucap Karina penuh syukur.
Karina turun menuju lobby. Di sana sudah ada sopir pribadi Karina yang menunggu. Karina segera naik, dan mobilnya melaju menuju kantor tempat nya bekerja,
Sesaat setelah mobil yang di tumpanginya berhenti di depan kantor, Karina tidak langsung turun. Dia mengeluarkan cermin dari dalam tas miliknya. Karina periksa kembali riasan yang menutupi luka lebam di pipinya dan bekas kecupan suaminya di sekeliling leher miliknya.
Setelah dirasa semuanya aman, Karina keluar dari dalam mobil dan masuk dengan setengah berlari ke dalam perusahaan.
"Untung masih tersisa beberapa menit lagi." gumam Karina sambil mengelus dadanya lega dan nafas memburu sehabis berlari.
Karina masuk ke dalam lift yang di isi beberapa karyawan Grahatama Group. Saat berada didalam lift, ada beberapa orang yang menatap Karina. Tidak sedikit pula yang saling berbisik membicarakan Karina. Karina mengerutkan keningnya bingung dengan seribu tanya di benaknya.
Saat Karina sampai di dalam ruangannya, Karina berjalan menuju meja, Nisa.
"Mba, apa ada yang aneh dengan, saya?" tanya Karina tiba-tiba sambil kedua tangannya dia angkat ke samping tubuhnya dengan telapak tangan menghadap ke atas.
"Ckk," decak Nisa sambil mengusap dadanya pelan.
Karina tergelak.
"Maaf, Mba!" ucapnya kemudian dia ambil kursi kosong meja sebelah untuk mendudukan bokongnya diatas sana.
"Jadi, jawabannya?" tanya Karina kembali.
"Nggak ada yang aneh, sayang." Nisa mengalihkan fokusnya pada Karina yang tengah duduk di depan nya.
"Mereka hanya kasihan sama, kamu!" lanjutnya menjelaskan.
Karina semakin mengerutkan keningnya bingung. Kemudian refleks Karina memegang pipinya yang terkena tamparan ibu tirinya.
"Apa orang kantor mengetahui kejadian di hotel?" batin Karina.
"Woy, malah ngelamun," pekik Nisa yang berhasil mengembalikan kesadaran Karina.
__ADS_1
Karina tersenyum kaku.
"Ka...kasihan kenapa, Mba?" gugup Karina.
"Tentang kamu yang ditunjuk sebagai perwakilan kantor pusat untuk mengecek perusahaan cabang yang ada di pelosok," terang Nisa.
"Hah? Mba, nggak bercanda kan?" tanya Karina tak percaya.
"Loh, loh... Kamu belum mengetahui rencana tersebut?" tanya Nisa sama bingungnya.
"Belum," Jawab Karina lemas sambil menyandarkan punggungnya pada kursi yang tengah dia duduki.
"Kamu, tanya Pak Robert, saja! Kalau tidak salah, dia juga tau perihal ini! Berita ini sudah tersebar di antara orang kantor. Kebanyakan dari mereka prihatin dengan, kamu. Hanya gara-gara telat sepuluh menit, kamu harus berakhir sepuluh hari di pelosok Negeri," ucap Nisa dramatis, dan membuat Karina mengedikan bahunya tidak kuat walau hanya membayangkannya.
"Ya sudah nanti tanya, Pak Robert," ucapnya sambil berdiri dan berjalan gontai menuju meja miliknya.
"Daddy, kenapa harus seperti itu hukumannya? sepuluh hari berpisah dengan Devin?" Karina menengadahkan wajahnya menahan bulir air mata yang mengumpul di pelupuk matanya.
Karina saat ini tengah berada di sebuah restoran tempat dia bertemu dengan Robert. Setelah Karina mendapat kabar dari sahabatnya tersebut, Karina langsung menghubungi Robert dan menayakan perihal kebenaran berita tersebut.
Alih-alih menjawab, Robert malah mengajaknya bertemu di salah satu restoran seberang perusahaan. Karina yang penasaran, akhirnya mengiya kan ajakan tersebut.
Karina berdiri, kemudian membungkuk hormat saat Robert tiba.
"Kamu, tidak perlu se formal ini dengan saya, ini di luar perusahaan!" ucap Robert, sambil duduk diseberang kursi Karina.
Karina tidak menjawab. Dia hanya tersenyum sopan sebagai respon.
"Maaf Pak, perihal pertanyaan saya tadi"
Robert mengangkat tangannya, meminta Karina untuk tidak melanjutkan perkataannya.
"Sebelum membahas hal tersebut, ijinkan saya untuk bertanya sesuatu sama kamu," ucapnya.
"Hem?" tanya Karina bingung.
"Apa kamu bersedia menjadi bagian dari hidup saya?" tanyanya to the point.
__ADS_1
"Hah?" pekik Karina kencang dengan mulut terbuka lebar.
Di sebelah meja Karina dan Robert, seseorang tengah duduk dengan kedua tangannya mengepal erat, dan wajah yang merah padam siap meledakan amarahnya.