
"Pada akhirnya semua laki-laki sama saja, lihatlah dia langsung pergi setelah mengetahui kenyataan kalau aku sudah mempunyai seorang anak" lirih Karina sambil di arahkan pandangannya pada mobil yang menghilang di sebuah belokan.
"Mami macuk" ajak Devin sambil menunjuk ke arah pintu rumah.
Karina menoleh ke arah Devin sambil memberikan senyum hangatnya.
"Oke baby let's gooo..." pekiknya sambil berlari ke arah rumah dengan posisi Devin dibuat seperti pesawat terbang.
Gelak tawa Devin dan Karina terdengar sampai di tempat Fin berhenti, sebenarnya Fin belum pulang, Fin meminta sopir berhenti di tikungan dekat rumah Karina sambil melihat ke arah Devin yang sedang tertawa bahagia.
Dia memegang dadanya yang berdetak cepat nafasnya terasa sesak dengan mata yang memanas siap menumpahkan segala rasa yang berkecamuk dalam hatinya.
Fin keluar dari dalam mobil dengan tangan kanannya merogoh ponsel dari dalam saku celananya dia cari nama seseorang di sana dengan tangan yang gemetar.
Renal calling...
Yang Renal hubungi adalah Renal, sahabat Fin yang tahu segala perjalanan hidup Fin, saat nada panggilan ke tiga Renal menjawab panggilan dari Fin, dia pergi ke balkon kamar rawat Kiara agar tidak mengganggu Kiara yang tengah tertidur pulas.
"Renal... Renal" lirih nya saat Renal mengangkat panggilan Fin, kemudian setelahnya tangis Fin mulai pecah.
"Fin, kenapa apa terjadi sesuatu?" tanyanya panik.
"Renal, Karin aku benar-benar menemukannya" lirihnya sambil duduk di pinggir jalan dengan kedua kaki ditekuk dan tangan bersandar pada lutut.
"Kapan kamu bertemu dengan dia bukannya saat ini kamu sedang mengantar pegawai magang yang mendonorkan darahnya untuk Kiara?" tanya Renal pada Fin.
"Karina Grizelle Putri, dia adalah Karin" tuturnya terjeda, Fin mencoba mengatur kembali nafasnya.
"Bahkan tato yang kami buat di hari perpisahan kami di Melbourne masih jelas terpajang indah di leher jenjang nya" lanjut Fin dengan antusias.
Saat di dalam mobil Karina menggulung rambutnya ke atas sehingga tato sayap kupu-kupu yang dibuat di belakang lehernya terlihat dari tempat Fin duduk karena posisi Karina yang menghadap ke arah jendela.
Perasaannya seketika membuncah, ingin rasanya Fin memeluk Karina saat itu juga namun Fin mencoba menahan segala egonya sebelum semua kebenaran tentang menghilangnya Karina tiga tahun lalu terungkap.
"Jadi maksud kamu Karin adalah Karina perempuan yang sudah membuat hidup kamu berantakan selama tiga tahun terakhir?" tanyanya tidak percaya.
"Ya dia Karin bahkan saat ini dia memiliki anak yang sangat mirip dengannya" jawab Fin dengan antusias, dia menghapus air matanya dengan punggung tangan sambil terselip senyum saat mengingat wajah anak itu.
"Wait, jadi dia sudah menikah?" tanya Renal penasaran.
__ADS_1
"Dia belum menikah!" jawab Fin.
"Kalau belum menikah lantas siapa Ayah dari anak itu? apa dia janda?" tanya Renal kembali.
"Ckk dia anak aku Renal, dia adalah daging ku, aku yakin 100%" jawab dengan penuh keyakinan.
"Tunggu... tunggu... tunggu kamu tidak sedang berkhayal kan?" tanya Renal memastikan sambil tangan Renal mengurut keningnya pusing setelah mendengar hal mengejutkan tersebut.
"Aku tidak pernah seyakin ini Renal, seorang Fin Grahatama yang terkenal dengan kemampuannya menaklukkan pesaing perusahaan lain bahkan seringkali ragu dalam mengambil keputusan" sombongnya hingga membuat Renal di seberang sana merotasi bola matanya jengah dengan kenarsisan sahabatnya.
"Tapi untuk hal ini aku yakin dia anakku, dia bahkan mewarisi warna mataku, warna mata langkah yang bahkan Kiara pun tidak mewarisinya hanya pria Grahatama yang memilikinya" jelasnya kembali.
"Tapi sepertinya dia tidak mengenali kamu" ragu Renal.
"Itu yang sedang aku cari tahu, aku sudah memerintahkan informan untuk mencari tahu segala sesuatu tentang Karin dari tiga tahun yang lalu"
"Oke semoga berhasil aku turut bahagia kawan, bahkan kamu sudah menjadi seorang Ayah hanya dalam waktu semalam" ucap tulus Renal diakhiri dengan gelak tawa yang tertahan saat dia ingat kalau Kiara tengah tertidur pulas.
#########
Siang ini Karina akan pergi menemui Ayahnya,itu adalah jalan terakhir dia mendapatkan biaya operasi untuk bibinya.
Karina datang ke sebuah restoran mewah tidak jauh dari perusahaannya, Karina menelepon rumah Ayahnya terlebih dahulu namun menurut asisten rumah tangga yang bekerja di sana Ayahnya pergi ke restoran XXX untuk bertemu klien, sang Ibu tiri pun pergi ke restoran yang sama untuk arisan sosialita nya.
Saat Karina masuk ke dalam restoran tersebut diedarkan pandangan matanya ke segala arah untuk mencari posisi sang Ayah, tampak sang Ayah sedang bersama asistennya, tidak jauh dari tempat Ayahnya sang ibu tiri tengah asik berbincang dengan ibu-ibu sosialita yang diyakini sebagai istri para pejabat dan pengusaha.
Karina menarik nafasnya panjang kemudian dia hembuskan pelan, berusaha mengumpulkan keberanian bahkan tangannya dia kepalkan sesaat untuk menyalurkan kegugupannya dia pandangi sesaat wajah sang Ayah yang tiga tahun ini sangat dia rindukan.
Hari ini Karina memakai kemeja Lilac dengan pita di bagian leher dan sebuah rok span berwarna putih setinggi lutut dengan belahan di bagian belakang, heels putih setinggi tujuh cm membuat Karina tampak anggun saat berjalan mendekati meja Ayahnya.
"Ayah" panggil nya saat dia sudah berdiri di seberang kursi sang Ayah.
Agam nama dari Ayah Karina, dia menengok ke arah sumber suara, Agam menatap Karina dengan tatapan tidak suka, Karina berpindah ke samping tempat duduk sang Ayah.
"Ayah" panggilnya lagi penuh rindu matanya sudah mengkristal.
"Siapa yang kamu panggil Ayah?" tanyanya nada dingin sambil membuang mukanya ke arah lain.
"Ada perlu apa kamu datang ke sini?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Ayah, Bibi... Bibi, membutuhkan biaya operasi" ucapnya pelan sambil menundukkan wajahnya tidak kuat jika harus melihat wajah dingin Ayahnya.
"Sudah kuduga wanita kurang ajar seperti kamu memang hanya bisa menyusahkan, anak tidak tahu diri!" hardik Eliz ibu tirinya yang datang menuju meja tempat Karina berdiri, entah sejak kapan dia mendengarkan pembicaraan Karina dan Ayahnya.
Karina hanya menunduk menyembunyikan wajahnya dari pandangan orang-orang yang mulai saling berbisik membicarakannya, kedua tangan Karina saling meremas satu sama lain.
Eliz ibu tiri Karina langsung mendorong tubuh Karina hingga dia terhuyung dan jatuh tersungkur ke lantai, Karina meringis memegangi kakinya yang sakit.
Sambil bertolak pinggang, Elis tidak menghentikan hinaannya.
"Setelah membuat malu keluarga dengan mengandung anak haram kamu dengan tidak tahu dirinya datang dan meminta uang, dasar wanita tidak tahu di untung," hinanya pada Karina.
Karina terpekur, matanya panas, hatinya hancur sejujurnya Karina ingin sekali pura-pura tuli sehingga tidak harus mendengar kata-kata menyakitkan yang ibu tirinya utarakan.
Agam Ayah Karina hanya berdiri di samping istrinya sambil menarik lengan istrinya pelan agar menghentikan tindakannya.
"Sudah Ma, malu dilihat banyak orang" bisiknya pada Eliz.
"DIAM! Mama belum puas bicara dengan anak kurang ajar ini" bentaknya pada Agam sambil jari telunjuknya dia simpan di depan mulut suaminya.
"Jangan sekali-kali lagi muncul di hadapan kami ingat itu" lanjutnya.
Karina semakin menundukkan wajahnya, dia mencoba menyembunyikan tangisnya, hatinya hancur saat anaknya dihina sedemikian rupa dihadapan banyak orang Karina bahkan mendengar orang menggunjing apalagi saat ini Ayah kandungnya sendiri tidak membela Karina sedikitpun.
Perhatian orang-orang teralihkan saat pria tampan datang dari arah yang berlawanan dengan kursi Agam bahkan tidak sedikit dari mereka tahu dengan pria tersebut.
Ibu-ibu ingin menjadikan pria tersebut sebagai seorang menantu sementara gadis-gadis ingin dijadikan istri oleh pria yang terkenal dingin terhadap perempuan itu.
Penampilan yang begitu mencolok, dia menggantung Sunglasses mahalnya pada kemeja hitam yang tiga kancing teratasnya terbuka, lengan kemeja tersebut di gulung sebatas siku sehingga memperlihatkan lengannya yang putih berotot, di belakang pria tersebut berdiri satu orang pria yang tidak kalah tampan yang memegang tas kerja dengan brand ternama.
Mereka berjalan ke arah meja Agam, Eliz langsung merapikan penampilannya sementara Agam langsung menyambut pria tersebut dengan senyuman bahkan Karina yang masih berada di lantai tak Agam hiraukan.
Pria itu berhenti saat akan mencapai meja Agam kemudian berkata.
"Batalkan semua proyek yang berhubungan dengan pria itu" perintahnya pada asisten yang berdiri di belakangnya sambil menunjuk pada wajah Agam.
Karina menengadahkan wajahnya melihat ke arah pria tersebut tanpa diduga pria itu berjongkok, dia bawa tubuh rapuh itu masuk ke dalam pelukannya.
"Kamu..." panggil Karina lirih dengan air mata yang tumpah saat itu juga.
__ADS_1