Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Kenyataan.


__ADS_3

Mendengar ucapan pria tersebut, dahi Renika berkerut.


"Bekerja untukmu?" Dia merasa sedikit bingung.


"Ya," jawab pria itu singkat. Perusahaanku memerlukan mu."


Renika menghela nafas, perasaannya di serang rasa aneh yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Hal itu membingungkan sekaligus menyinggungnya.


Pria di hadapan sedang memintanya untuk bekerja sama dengan perusahaannya?! Dia lebih mementingkan itu di bandingkan makan siang bersamanya?!


"Oke. Sebaiknya kita bicarakan ini saat makan siang besok," ucap Renika sengaja memaksa pria itu agar menerima ajakan makan siangnya. Kalau di tolak sebagai selebgram terkenal, malu berat sih!


"Tapi..."


"Besok," tegas Renika sembari menyisir rambutnya ke belakang.


"Hari ini, aku lelah. Tidakkah kamu ingat apa yang baru saja terjadi?" tanyanya.


"Aku baru saja di khianati, apa kamu begitu tega membahas kerja sama dengan seseorang yang sedang patah hati?"


Sejenak sepasang mata zamrud itu menatap Renika lekat. Akhirnya, pria itu pun menghela napas sembari mengangguk menyetujui.


"Baiklah."


"OK, deal! Mana ponsel mu?" Renika menyodorkan telapak tangan kosongnya.


Melihat tangan Renika, pria itu refleks meletakkan ponselnya ke tangan gadis itu. Saat sadar, dia pun bertanya.


"Kamu sedang apa lagi?"


Renika mengabaikan ucapan pria tersebut sibuk dengan telepon genggam milik mereka berdua. Setelah selesai, dia tersenyum dan mengembalikan ponsel pria tersebut.


"Aku sudah simpan kontak kamu dan kontak ku juga ada di ponsel mu, besok kita kontak-kontakkan, ya!" Tanpa menunggu balasan, Renika melambaikan tangannya sembari berjalan meninggalkan klub itu.


"Sampai jumpa besok, Kakak ganteng!"


Di tempatnya, pria bernetra zamrud itu termenung. Dia memandangi sosok Renika yang sesekali menyapa kepada para fansnya. Kemudian, maniknya bergeser pada kontak Renika yang telah tersimpan di ponselnya.

__ADS_1


Bibir pria itu terpisah membacakan nama kontak yang Renika gunakan untuk dirinya di ponsel tersebut.


"Renika... Sayang?" Tangan pria itu menutup setengah wajahnya, menghalangi orang lain dari melihat sudut bibir pria tersebut yang terangkat.


"Gadis yang percaya diri."


########


TRING! TRING! TRING!


Suara dering ponsel yang memekakkan telinga membangunkan Renika dari tidurnya. Gadis itu pun meraih benda pipih tersebut tanpa membuka mata.


"Halo...."


"Ren, bangun! Buka Insta*arm mu sekarang!" Ucapan sang asisten yang lebih terdengar sebagai sebuah perintah membuat Renika mengerutkan kening.


"Apaan sih..."


"Buka! Sekarang!"


Karena begitu di tekan oleh asistennya, Renika langsung mematikan panggilan untuk kemudian membuka aplikasi Insta*arm. Mendadak, matanya membelalak.


Renika setengah melompat jadi terduduk di atas tempat tidur. Dia tatap kembali layar telepon genggamnya untuk memastikan kalau penglihatannya tidak salah.


"Renika Ludwig Araav sukses menjadi satu-satunya selebgram dengan jumlah followers terbanyak!" teriak Renika dengan riang.


Hanya dalam satu malam, akun Insta*arm Renika sukses di ikuti oleh lebih dari satu juta pengikut!


Setelah puas melakukan pengumuman konyol itu, Renika kembali menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Dia tengkurap sambil mengotak-atik telepon genggamnya hingga beberapa detik kemudian saat tengah asik membaca komentar para followernya, mulut Renika dibuat menganga saat tidak sengaja mengetahui sebuah fakta tentang identitas pria yang menolongnya semalam.


Renika kembali terduduk di ranjangnya dengan mata terbelalak. Dia menggulir layar ponselnya dengan cepat membaca artikel yang tertulis.


"Devin Grahatama!?"


Di dalam artikel in semua informasi mengenai Devin Grahatama, CEO dari Grahatama Cosmetics, sebuah perusahaan kosmetik terbesar di Indonesia. Tidak hanya itu, pria yang notabenenya adalah penyelamat Renika itu juga ahli waris dari Keluarga Grahatama yang ternama!


"Ya Tuhan!" Gadis itu mencengkeram rambutnya, mengingat semua kejadian memalukan yang dia lakukan terhadap pria tersebut.

__ADS_1


"Aku manggil CEO Grahatama Cosmetic Kakak Ganteng?!" Renika langsung menutup wajahnya dengan frustrasi.


"Astaga, aku juga nyimpen kontak di ponselnya pake nama Renika Sayang lagi!"


Semakin Renika mengingat apa yang telah dia lakukan di malam yang lalu dengan Devin, semakin Renika ingin menggali tanah dan mengubur dirinya.


"Dari sekian banyak cowok yang ada di klub, kenapa yang nolongin aku harus dia?!" racau Renika sembari kembali melirik artikel di depan mata.


( Devin Grahatama, CEO Grahatama Cosmetic dan juga putra sulung dari pebisnis sukses Fin Grahatama, terlihat dekat dengan selebgram dan model ternama Renika! )


"Hah?!" Mata Renika membesar saat melihat satu kenyataan yang kembali mengejutkannya.


"F... Fin Grahatama?! I... itu kan temennya papih?!" Gadis itu langsung mengacak-acak rambutnya kembali.


"Renika, gila banget kamu!"


Ting!


Bunyi notifikasi yang menandakan ada satu chat masuk dari ponselnya itu pun sukses menghentikan racauan Renika.


Gadis itu meraih benda pipih tersebut, lalu menyalakannya dengan perasaan khawatir. Nama 'Kakak Ganteng' muncul pada layar ponselnya, kedua mata Renika langsung membelalak lebar dengan napas yang tercekat di ujung tenggorokan.


Dengan telunjuknya yang sedikit bergetar dan kedua matanya yang menyipit, Renika lantas membuka chat yang masuk dari 'Kakak Ganteng' yang tidak lain adalah CEO Grahatama Cosmetic itu.


( Kita bertemu di Restoran XXX, jam tujuh malam ini )


Melihat pesan ketus dan dingin itu, Renika sontak mendengus kasar. Kenapa pria itu seolah-olah sedang memerintahnya?! Bukan hanya itu, Devin mengubah jadwal temu dengan seenak jidat, membuat Renika merasa jengah.


"Dih...." Renika merengut.


"Aku ngajak kamu makan siang, bukan dinner!" keluh gadis itu sambil menunjuk-nunjuk layar telepon genggam yang menampilkan chat dari Devin.


Renika lantas melempar asal ponselnya ke sisi ranjang, lalu merebahkan tubuhnya dan mengabaikan sepenuhnya chat tersebut.


"Cuma karena dia CEO, dia pikir aku bakal patuh buat ikutin keinginannya?! Enak saja" Renika menggerutu sembari kembali mendengus jengkel.


"Kamu berharap aku datang?" Senyuman percaya diri terlukis di bibirnya.

__ADS_1


"Nope! aku nggak bakal datang!"


__ADS_2