Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Alergi pada orang ketiga...


__ADS_3

"Ayo Kak Ziko ikut sarapan juga," ajak Karina pada Alziko yang datang bersamanya. Pria yang datang bersama Karina adalah Alziko Davidson. Karina tidak menghiraukan Fin yang terlihat kesal saat melihat Alziko.


"Jangan sungkan! Kita sudah biasa numpang sarapan di sini," cicit Renal sambil mengarahkan tangan pada dadanya dan pada Fin.


Fin mendelik tajam. Dia tidak suka mendengar kata "numpang" yang Renal lontarkan.


Alziko duduk di samping Renal berhadapan langsung dengan Fin. Sementara Karina duduk di samping Devin bersebelahan dengan Fin. Fin tersenyum sinis untuk menyapa Alziko. Alziko membalasnya dengan senyuman ramah.


"Kalian dari mana?" tanya Renal melupakan nasehat Devin yang memintanya untuk diam saat makan.


"Mommy, aku selesai!" lapor Devin pada Mommy nya dengan tangan bergerak membersihkan mulutnya menggunakan serbet yang sebelumnya tersimpan di depan dadanya.


"Selesai? Bukannya kita baru mulai sarapan?" tanya Renal.


"Dia gak ngobrol kaya kamu!" jawab Fin singkat.


Karina tersenyum sambil mengusap lembut kepala Devin.


"Good job, baby!" puji Karina saat melihat piring Devin sudah bersih tak bersisa.


"Bu Linda siapkan perlengkapan Devin! Dia akan saya bawa untuk menghadiri pembukaan perpustakaan di taman kota!" perintah Fin.


"Boleh kan?" tanyanya pada Karina.


"Boleh!" Jawab Karina memberinya ijin.


"Bukannya si boy bilang gak mau ikut?" Tanya Renal.


"Aku ikut!" sahut Devin dengan semangat.


Fin tersenyum saat mendengar perpustakaan Devin langsung setuju. Kenapa sebelumnya tidak terpikirkan oleh Fin? Padahal karakter sang anak sama dengannya. Devin pergi bersama Bu Linda untuk mengganti pakaiannya. Semua orang yang duduk di depan meja makan kembali melanjutkan sarapan mereka.


"Kalian dari mana?" tanya Renal kembali.


Diam-diam Fin memasang telinganya untuk mendengarkan jawaban dari Karina dan Alziko.

__ADS_1


"Dari rumah Bi Vina." jawab Karina.


"Kalian berdua dari sana?" tanya Renal.


"Meminta restu?" celetuk Renal kembali membuat wajah Fin memerah menahan amarahnya. Dia tidak suka dengan apa yang Renal lontarkan. Sementara itu Alziko hanya tersipu mendengar pertanyaan Renal.


"Renal!!" bentak Fin tidak suka.


"Kenapa?" tanya Renal pura-pura tidak mengerti. Sebenarnya Renal tau kalau Fin tengah cemburu.


"Bukan!" jawab Alziko dengan cepat. Dia tidak ingin di salah pahami.


"Kami bertemu di jalan. Dia tengah berdiri menunggu taksi." jelas Alziko.


"Mobil kamu kemana?" tanya Fin sinis.


"Pak Deni aku suruh ke rumah Kiara untuk mengantarkan rendang yang mau dia bawa ke Singapura. Terus pas mau balik ke rumah Bi Vina, Kiara meminta Pak Deni untuk mengantarnya terlebih dahulu ke Bandara," jawab Karina dengan sejelas-jelasnya


Alziko menatap Karina dan Fin yang saat ini tengah berbicara dengan saling berhadapan satu sama lain. Dia tau Karina tidak ingin Fin salah paham. Karina bahkan hanya menjelaskan kronologisnya pada Fin. Padahal di sana ada Renal dan Alziko.


Saat Karina tengah menjelaskan kronologisnya, mata Fin tidak lepas dari wajah Karina. Dia terus menatapnya dengan seksama sampai akhirnya mata Fin menatap ke arah leher Karina.


"Jangan pernah mengikat rambut seperti itu lagi, apalagi saat keluar rumah!!" perintah Fin dengan posesif.


Karina membelalakkan matanya.


"Kenapa??" heran Karina.


"Gak usah tanya alasannya kenapa!" jawab Fin singkat.


"Loh!! Gak bisa gitu dong!!" jawab Karina tidak terima. Karina memberanikan diri untuk keluar dari zona sebelumnya. Seorang Karina yang penurut dan penakut.


Renal dan Alziko saling pandang satu sama lain. Mereka hanya bisa menyaksikan perselisihan diantara keduanya. Karina dan Fin sepertinya melupakan kehadiran Renal dan Alziko di sana.


"Ckk... dengan rambut terikat, Mommy terlihat jelek!!" dusta Fin. Padahal, alasan sebenarnya dia tidak ingin leher mulus mantan istrinya dijadikan fantasi liar oleh pria-pria yang bertemu dengannya. Dia tidak rela saat mata pria melihat keindahan yang hanya boleh Fin miliki itu.

__ADS_1


"Mommy jelek?? Daddy bilang, Mommy jelek??" tanya Karina marah. Sekarang, keduanya persis seperti suami istri yang tengah berdebat karena hal sepele. Bahkan tanpa sadar panggilan Mommy dan Daddy kembali mereka sematkan.


"Bisa bertengkar nya nanti saja? Kita sudah lapar," ujar Renal dengan wajah memelas nya yang menyedihkan.


"Oh, God! Maaf aku lupa," sesal Karina.


Karina mendelik tajam ke arah Fin. Bibirnya berkerut kesal. Dia pindah ke tempat sebelumnya Devin duduk. Dia terlanjur marah dengan mantan suaminya itu.


Semua orang mulai menyantap sarapan mereka. Secara diam-diam, Fin sering mencuri pandang ke arah Karina. Dia memperhatikan Karina yang tengah makan.


"Kenapa makan sedikit?" tanya Fin pada Karina. Nadanya masih tidak bersahabat.


"Makan yang banyak! Anakku membutuhkan banyak asupan nutrisi!"


"Dia anakku juga FIN!!" jawab Karina yang sudah benar-benar kesal dengan Fin.


"Apa??? Fin??" tanya Fin terkejut. Dia terkejut karena ini kali pertama Karina memanggilnya hanya dengan nama tanpa embel-embel Daddy ataupun Kakak.


"Ya Tuhannn..." pekik Renal sambil memutar bola matanya jengah.


"Apa perlu aku pesankan ring untuk kalian saling pukul satu sama lain?" tanya Renal menyindir keduanya.


Fin tidak menjawab. Dia hanya menatap Renal dengan tatapan tajamnya. Sementara Alziko sendiri, dia hanya tersenyum tanpa banyak bicara.


Karina menundukkan kepala sambil memejamkan matanya. Fin tersenyum seolah dia pemenang dari perdebatannya dengan sang mantan istri.


Namun setelahnya, gurat cemas terlukis dari wajah Fin saat dengan tiba-tiba Karina bangkit sambil memegangi mulutnya, kemudian bergegas pergi menuju toilet dapur.


"Uuuoooo..." dia memuntahkan semua yang masuk ke dalam perutnya. Padahal, beberapa hari yang lalu dia sudah tidak merasakan mual dan muntah lagi. Tapi entah apa yang terjadi, hari ini dia kembali seperti dulu lagi.


Fin mematung, menatap punggung Karina yang berlalu pergi menuju wastafel dapur. Sementara itu, Alziko dengan cepat berdiri untuk menyusul Karina. Namun saat beberapa langkah meninggalkan meja makan, Fin menahannya.


"Anak kami, alergi pada orang ketiga!! Jadi lebih baik tunggu di sini!!" ucap Fin sinis membuat Alziko bingung.


Alziko menatap Renal penuh tanya sambil mengangkat kedua tangannya ke udara. Renal menggeleng kemudian menepuk punggung Alziko pelan.

__ADS_1


"Jangan terlalu dipikirkan! Dia hanya sedang cemburu," ucap Renal menjelaskan. Berteman sejak kecil dengan Fin membuat Renal benar-benar memahami perangai dari sahabatnya itu. Semakin Fin cemburu, semakin aneh yang dilakukannya.


Fin bergegas menyusul Karina ke dapur sambil membawakannya segelas lemon tea hangat. Fin mencoba bersikap tenang walau sebenarnya dia tengah cemas. Apa ini waktunya dia membuang semua ego dan mulai mengungkapkan segalanya? Tapi, bagaimana dengan gengsinya??


__ADS_2