Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Keanehan!


__ADS_3

Karina baru sampai di kantor tempatnya bekerja. Seperti biasa, dia berhenti di tempat yang sepi dari lalu lalang karyawan Grahatama Group.


Saat akan masuk ke dalam lift, Karina berpapasan dengan suaminya. Dia membungkukkan tubuhnya bersama karyawan lain yang juga ada di tempat yang sama dengan Karina.


Fin tidak menghiraukannya. Dia terus berjalan menerobos barisan orang-orang yang tengah menunggu lift terbuka. Kepalanya sedikit menunduk dengan tangan yang Fin simpan di atas mulut dan hidung nya.


Fin segera masuk ke dalam lift eksekutif yang di rancang khusus untuknya. Karyawan menatap Fin dengan tatapan heran. Pasalnya tidak seperti biasanya Fin berjalan dengan terburu-buru dan menunduk seperti barusan.


Biasanya Fin akan berjalan tegap, dengan wajah yang menatap lurus ke depan. Ekspresinya akan sedingin es dengan mata yang setajam mata elang.


"Pak Fin kenapa?" tanya karyawan yang ada di sana.


"Iya, tidak seperti biasanya Pak Fin berjalan dengan menundukan kepalanya. Kemana wajah arrogant nya?" ucap karyawan yang lain. Karina tidak menanggapi. Dia hanya menyimak semua percakapan yang orang-orang lontarkan.


"Selamat pagi, Pak! Bu!" Para karyawan termasuk Karina kembali membungkukkan tubuhnya, saat tiba-tiba dari arah belakang datang Renal beserta Queen yang berjalan menuju lift eksekutif.


Renal menyapa dengan ramah sementara Queen berjalan begitu saja dengan wajah yang arrogant tanpa menghiraukan sapaan dari para karyawan kantor. Dia bahkan menatap Karina dengan tatapan sinis yang menjengkelkan.


Lift eksekutif yang sudah tertutup tiba-tiba terbuka kembali menampilkan Fin yang masih berada di dalamnya. Queen tersenyum manis saat berhadapan langsung dengan Fin.


Degh!


Tiba-tiba dada Karina terasa sesak saat melihat pemandangan di hadapannya.


'Apa Daddy sengaja membuka lift karena tau Queen ada di sana?' batin Karina berburuk sangka.


Fin mengangkat kepalanya. Saat mata Fin dan Queen bersitatap dengan refleks Fin memundurkan tubuhnya ke belakang. Queen maju untuk masuk ke dalam lift namun dengan cepat tangan Fin terangkat meminta Queen berhenti dan tidak masuk ke dalamnya.


Queen membulatkan matanya. Dia tidak percaya telah di permalukan di depan publik seperti sekarang ini. Beberapa karyawan saling berbisik satu sama lain. Sementara Karina tertawa puas dalam hatinya. Dia bahkan tersenyum remeh ke arah Queen. Queen menatap tajam karyawan yang membicarakan nya satu persatu tanpa terkecuali.


"Karina!" panggil Fin memanggil Karina.


Semua karyawan yang tengah riuh membicarakan Queen dalam sekejap langsung diam, kemudian mengalihkan perhatian nya dari Queen kepada Karina.


"I... iya, Pak!" jawab Karina.


"Kamu masuk ke sini!" perintah nya.


Semua karyawan kantor yang ada di sana membulatkan matanya tidak percaya. Bagaimana bisa seorang model internasional di kalahkan oleh seorang pegawai magang?


Ya, Fin menolak Queen namun dengan mantap meminta Karina untuk masuk ke dalam lift eksekutif bersamanya.


Karina masuk ke dalam lift bersama Fin di dalamnya. Para karyawan kantor semakin riuh membicarakan apa yang tersaji di hadapannya.

__ADS_1


"Ckk, apa kalian akan terus bergosip di depan lift?" Renal mengingatkan bawahan nya yang tengah membicarakan bos mereka secara terang-terangan.


"Tidak lihat sekarang jam berapa, heh?" tegasnya kembali.


Semua orang yang berkerumun di depan lift membubarkan diri dan mulai menaiki lift yang akan membawa mereka menuju lantai ruang kerja mereka masing-masing.


Di dalam lift eksekutif, saat pintu lift tertutup, Fin langsung memeluk tubuh Karina dan melesakkan wajahnya masuk ke dalam leher Karina.


"Daddy tidak apa-apa?" tanya Karina sambil mengelus punggung Fin.


"Mom, Daddy nggak kuat nyium bau parfum dari orang-orang yang dekat dengan, Daddy!" lirih Fin dengan posisi yang masih memeluk istrinya.


"Hem?" tanya Karina bingung.


"Kok bisa?" tanya nya kembali.


Fin menggelengkan kepalanya. Dia sendiri tidak tau penyebab dari sensitif nya indera penciuman nya.


"Mommy juga kan pakai parfum, Dad!" seru Karina sambil mencoba melepaskan pelukan Fin.


"Justru itu! Daddy saja heran!" jawab Fin.


Lift yang mereka naiki sudah sampai di lantai atas tempat kantor Fin berada. Vera berjalan untuk menghampiri Fin dan membacakan jadwalnya hari ini. Namun Fin berbisik pada istrinya.


Fin mengangkat tangannya ke udara meminta Vera untuk tidak mendekat. Walaupun bingung dengan apa yang di lakukan bos nya, tetapi Vera menurut dan tetap diam pada tempatnya.


Karina berjalan dan menghampiri Vera.


"Mba maaf, Bapak sedang tidak enak badan. Apa boleh saya yang membacakan jadwal Bapak hari ini?" pinta Karina dengan sopan.


Vera mengangguk sungkan pada Karina. Selain Karina istri dari bos nya, pembawaan Karina yang sopan pun membuat Vera segan.


Sebelum menyerahkan catatan kecil yang merupakan jadwal harian Fin, Vera menjelaskan semua yang di tulisnya terlebih dahulu agar Karina bisa memahami apa yang harus disampaikan nya.


##########


Saat ini Karina dan Fin tengah berada di dalam ruangan Fin. Fin duduk di atas kursi kebesarannya sementara Karina berdiri di sebelahnya. Fin menepuk pahanya agar Karina duduk di atasnya.


"Dad, ini jam kerja!" Karina mengingatkan. Namun Fin tidak mengindahkan peringatan dari istrinya tersebut. Fin menarik tangan istrinya sehingga Karina terjatuh tepat di atas pangkuan Fin.


"Dad...!" Karina kembali memperingatkan suaminya.


"Ssshuutt... " Fin mengambil kacamata bacanya dari dalam laci meja kemudian memakainya dan mulai membuka file yang sudah menumpuk dan minta untuk di periksa.

__ADS_1


Karina mulai membacakan jadwal yang sudah Vera tulis. Fin mengangguk paham dengan apa yang di sampaikan istrinya.


"Dad, Mommy harus kembali!" Karina meminta izin.


"Sebentar, Mom! Ada yang harus Daddy sampaikan pada, Mommy!" Tangan sebelah kiri Fin melilit pada perut istrinya sementara tangan kanannya sibuk menandatangani dan merevisi file yang tengah diperiksanya.


Dagunya Fin, dia sampirkan di atas bahu Karina. Menghirup aroma tubuh istrinya menjadi kebiasaan favorit Fin akhir-akhir ini. Setelah menghirup wangi tubuh istrinya, Fin akan mendapatkan kekuatannya untuk melanjutkan kembali aktivitasnya.


Karina mengkerutkan keningnya tengah berfikir keras saat Fin bilang ada yang ingin dia sampaikan.


"Menyampaikan apa?" tanya Karina tidak sabar.


Melihat istrinya yang penasaran akhirnya Fin mengalah dan menyimpan pekerjaannya serta membawa Karina untuk duduk di atas sofa ruang kerjanya.


"Sini!" Fin menepuk kursi kosong sebelahnya untuk Karina duduk di atasnya.


"Ini bulan ketiga Mommy kan bekerja sebagai pekerja magang di Grahatama Group?" tanyanya. Karina mengangguk membenarkan apa yang suaminya sampaikan.


"Apa Mommy punya rencana lain, setelah magang ini selesai?" tanya Fin kembali.


"Rencana lain?" bingung Karina.


"Ya, rencana lain kalau Mommy tidak bisa melanjutkan kerja di Grahatama Group!"


Karina mematung. Dia tidak pernah memikirkan ini sebelumnya. Dia terlalu percaya diri untuk bisa bekerja sebagai karyawan tetap di perusahaan yang di pimpin suaminya.


"Apa Mommy mau melanjutkan bekerja sebagai karyawan tetap di sini?" Fin datang menawarkan pilihan lain.


Karina merenung mencoba berpikir untuk sesaat.


"Mommy menolak tawaran perusahaan untuk menjadi karyawan tetap di Grahatama Group!" jawab Karina mantap.


"Mommy yakin?" tanya Fin kembali. Pasalnya dulu Karina sendiri yang mengajukan tetap bekerja di Grahatama Group sebagai persyaratan pranikah mereka.


"Ya, Mommy yakin!"


"Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusan, Mommy! Sekarang Mommy boleh kembali ke ruangan mommy dan bekerja untuk terakhir kalinya sebelum benar-benar berhenti!" ucap Fin mengijinkan istrinya kembali.


"Terima kasih, Pak Fin!" ucap Karina formal dengan tubuh yang membungkuk hormat.


Fin hanya tersenyum sambil menatap punggung istrinya yang tengah berjalan keluar meninggalkan ruangan Fin. Namun Karina tiba-tiba kembali dengan tergesa dan cup...


Karina mengecup pipi Fin untuk sesaat kemudian berlari dan benar-benar keluar dari dalam ruangan suaminya.

__ADS_1


'Devin, terima kasih sudah menjadi anak yang pengertian di usia Devin yang masih sangat kecil. Terima kasih juga sudah menjadi anak yang tidak banyak bertanya tentang sesuatu yang tidak ada jawabannya! Sekarang, waktu Mommy buat, Devin. Terima kasih sudah hadir di hidup Mommy dan menjadi kuat bersama Mommy!" ucap Karina penuh syukur.


__ADS_2