
"Selama dua bulan terakhir tidak ada makanan yang benar-benar masuk ke dalam perutnya. Dia selalu muntah sesaat setelah menghabiskan makanannya! kamu lihat kan, badan kurusnya? kamu kira kondisi saat itu mudah bagi dia, hah??!!" tanya Renal sedikit marah.
Fin membisu. Membayangkan bagaimana Karina kesusahan setiap harinya membuat rasa bersalah dalam diri Fin semakin besar.
"Dia kecelakaan dua minggu yang lalu dengan empat hari koma di rumah sakit. Dia mempertaruhkan nyawa demi bayi yang di kandungannya. Apa kamu gak lihat seberapa parahnya dia terluka? kamu tanya gak seberapa kerasnya dia menjaga anak mu? Dia mengorbankan punggung untuk melindungi perutnya dari benturan!" Renal membeberkan fakta-fakta yang harus Fin ketahui.
Rasa bersalah dalam diri Fin semakin menjadi. Dadanya sesak saat mengingat bagaimana Karina harus berjuang seorang diri di tengah hidup dan matinya. Fin mengucap beribu syukur saat hari ini dia masih bisa melihat mantan istrinya itu.
"Bagaimana kabar Devin?" tanya Fin pelan. Bayangan wajah sang anak saat tengah memintanya pergi terus berkelebat dalam memori Fin. Selain perpisahannya dengan Karina penolakan dari Devin pun menjadi bagian tersakit dan terpahit dalam hidup Fin.
"Dia selamat. Ada seorang malaikat cantik yang mempertaruhkan nyawanya demi Devin." kenang Renal.
Fin mengerutkan keningnya.
"Karina?" tanyanya.
Renal menggeleng.
"Karina tidak sempat menyelamatkan Devin, karena tubuh dia duluan yang terpental tertabrak mobil." Jawab Renal.
__ADS_1
Fin memejamkan matanya. Dia tidak sanggup walau hanya membayangkannya.
"Kenapa bisa kecelakaan?" tanya Fin semakin penasaran.
"Eliz! Orang suruhan, Eliz!" jawab Renal singkat.
Rahang Fin mengeras dengan kedua tangan mengepal erat.
"Apa Kakek sudah membereskannya??!"
"Kamu pikir Kakek akan membiarkannya? Apalagi ini menyangkut keselamatan dari cicit-cicit nya!" jawab Renal membalikan pertanyaan.
Fin mengangguk. Dia setuju dengan yang Renal sampaikan. Kakek Bram tidak mungkin membiarkan Eliz begitu saja. Setidaknya Kakek akan menghukumnya dengan cara yang sama seperti yang sudah Eliz lakukan pada Karina sebelum akhirnya Kakek serahkan pada pihak berwajib.
Fin membisu sambil diam-diam meresapi apa yang Renal katakan padanya. Semuanya benar Fin yang terlalu pengecut.
"Renal, siapkan penerbangan untuk kembali besok!!" perintah Fin seperti biasanya. Dia memerintah sambil berlalu pergi meninggalkan Renal begitu saja.
Fin berniat kembali secepatnya untuk menemui Devin dan meminta maaf.
__ADS_1
Fin kembali menuju kamar Karina. Di sana tampak Karina yang tengah meringkuk tertidur pulas. Fin mendekat dan duduk di atas lantai berhadapan dengan Karina.
Fin sapukan tangannya di atas pipi tirus Karina.
"Maafkan Daddy!" lirih Fin.
"Sepertinya... berpisah dengan Daddy merupakan pilihan Mommy yang paling tepat!" Fin berbicara seorang diri. Karina sama sekali tidak mendengar apa yang Fin utarakan. Dia sudah masuk ke alam bawah sadarnya.
"Untuk meminta kembali pun, Daddy malu. Daddy sadar Daddy belum layak di sebut sebagai suami maupun seorang Ayah!" curhatnya.
"Mommy layak mendapatkan seseorang yang jauh lebih sempurna dari pada Daddy. Untuk saat ini, Daddy benar-benar takut untuk meminta Mommy kembali." Fin berdiri kemudian naik ke atas ranjang Karina dan tidur di sebelahnya. Kepala Karina, Fin tempatkan di atas lengannya. Dia mengelus lembut perut Karina yang terus bergerak aktif.
"Baby, jadi anak baik. Jangan buat Mommy sakit! Baby tau, Kakak Devin, Mommy dan Daddy sangat menantikan kehadiran kamu. Tumbuh jadi anak yang kuat, oke!"
Seolah paham dengan apa yang Daddy nya katakan, bayi dalam perut Karina pun kembali tenang. Gerakannya halus seolah takut menyakiti Mommy nya.
Karina yang merasa nyaman melesakan tubuhnya masuk ke dalam pelukan Fin.
"Maaf... Mommy minta maaf... Mommy menyesal!" gumam Karina mengigau.
__ADS_1
Fin semakin erat memeluk Karina yang masih terlelap. Air matanya menetes tanpa dia sadari.
"Mungkin ini akan jadi pelukan terakhir, Daddy. Status kita berbeda sekarang! Carilah kebahagiaan Mommy sendiri!" lirih Fin sambil memejamkan matanya.