
Fin mematung sambil memegang dua pop corn ukuran jumbo di tangannya. Ketiga sahabat Karina menatap Fin dengan tatapan penuh tanya.
Karina sendiri hanya bisa mengernyitkan wajah nya dengan pertemuan yang tanpa terduga dan tidak di rencanakan nya itu.
"Bisa jelaskan semua ini kepada, kami?" bisik Nisa sambil menyenggol pundak Karina. Karina hanya menyengir. Dia belum menjawab kebingungan sahabat-sahabat nya
Fin sendiri melanjutkan langkah nya dan berdiri di hadapan sang istri sambil memberikan pop corn yang di belinya.
Fin kemudian membungkukkan sedikit tubuh nya sebagai sapaan pada sahabat-sahabat dari istrinya tersebut tanpa mengeluarkan sepatah katapun dari mulut nya. Dia kembali menegakkan tubuhnya dengan sebelah tangan nya yang dia masukan ke dalam saku celana pendek nya.
"Dad, kenalkan ini teman-teman, Mommy!" ucap Karina memperkenalkan sahabat-sahabat nya.
Nisa, Mila dan Rina membungkuk sambil menjulurkan tangan nya untuk bersalaman. Fin menyambut uluran tangan mereka namun tetap dengan keadaan mulut nya yang diam tidak bersuara.
"Teman-teman, ini suamiku!" cicit Karina sedikit berbisik.
"Hah?" tanya mereka kompak dengan mata yang hampir melompat keluar.
"Suami?" pekik Rina kemudian mengatupkan kembali mulut nya saat sadar kalau dia memekik terlalu kencang.
Karina merotasi bola mata nya jengah melihat reaksi berlebihan dari sahabat-sahabatnya itu.
Fin bahagia dengan pengakuan sang istri. Tiba-tiba hati nya membuncah saat Karina memperkenalkan Fin sebagai suami nya. Setidaknya Karina tidak menutupi status nya yang sudah menikah
Fin yakin sahabat-sahabat dari istrinya itu tidak tau kalau suami sahabat mereka adalah bos mereka sendiri.
Fin memakai masker dan menutup kepalanya menggunakan Hoodie yang di gunakannya. Hanya bagian mata hijau nya yang tajam lah yang tampak saat ini
Fin berdiri di samping Karina. Tangan yang semula dia masukan ke dalam saku celananya kini beralih menggenggam tangan sang istri dan memasukan nya ke dalam saku dari Hoodie nya.
"Menikah? Sejak kapan?" tanya Nisa memastikan kembali.
Mereka terkejut mendengar berita pernikahan Karina. Pasalnya, Karina tidak pernah menceritakan hal pribadi nya pada ketiga teman nya tersebut. Namun dalam hati kecil, mereka memaklumi tentang ketertutupan Karina tentang hal pribadi nya, mengingat mereka baru dekat tiga bulan ini.
"Belum lama kok. Baru mau dua bulan!" jelas Karina.
"Maaf... kalau tau sudah menikah kemarin nggak mungkin ngasih tau Pak Robert tentang pakaian adat yang akan kamu pa..." celetuk Rina menghentikan ucapan nya setelah mendapat senggolan dari Mila.
Mata zamrud Fin menatap tajam sahabat-sahabat dari istrinya itu. Mereka yang salah tingkah berpamitan pulang pada Karina.
Selain karena mereka sudah selesai menonton mereka juga takut dengan suami Karina yang mereka anggap terlalu misterius dan dingin. Aura nya terlalu mendominasi sehingga tanpa alasan mereka merasa terintimidasi.
"Daddy," panggil Karina lembut. Sebelah tangan Karina masih di dalam genggaman Fin. Mereka tengah duduk menunggu teater film yang akan mereka tonton di buka.
"Hem," jawab Fin pelan. Fin memejamkan matanya sambil menyandarkan tubuh nya pada tembok.
__ADS_1
Karina mendongak menatap Fin. Dia arahkan tangan sebelah kiri nya untuk mengelus dagu bermasker suaminya. Fin membuka matanya menatap manik coklat sang istri.
"Kenapa?" tanya Fin tak kalah lembutnya. Fin mengeluarkan tangan nya yang tengah menggenggam tangan istrinya dari dalam Hoodie. Kemudian dia usap tangan itu secara lembut.
"Daddy kenapa jutek pada teman, Mommy?" tanya Karina masih menatap manik suami nya.
"Nggak jutek, Mommy." elak Fin sambil mengelus kepala istri nya.
"Mungkin memang karakter Daddy yang sudah seperti ini dari lahir!" lanjutnya mengelak.
Karina mengerucutkan bibir nya mendengar jawaban dari suami nya. Memang sulit untuk merubah karakter dari seseorang. Pada dasarnya karakter Fin sudah terbentuk seperti itu dari dia masih muda. Personal branding nya sudah melekat karena bentukan dari sang Kakek yang sudah menanamkan karakter tersebut sejak dini.
##########
Pukul setengah delapan pagi, Karina masih mematut dirinya di depan cermin walk in closet nya. Fin sendiri masih di dalam kamar mandi dan belum menyelesaikan ritual membersihkan diri nya.
Siang ini Karina akan pergi ke rumah sakit untuk menjemput Bibi nya dan melakukan donor darah untuk dia simpan di bank darah. Sudah satu bulan lebih dia tidak mendonorkan darah nya karena terbentur jadwal padat nya setelah menjadi Nyonya Grahatama.
Hari ini Karina hanya memakai pakaian santai nya. Sebuah rok mini di padukan dengan kaos branded berwarna putih dan sebuah sepatu kets. Rambut nya dia gulung sembarang berbentuk bound.
"Dad," panggil Karina dari balik pintu kamar mandi.
"Hem," jawab Fin seperti biasa.
"No problem, Mom!" jawab Fin singkat.
Karina pergi menuju lantai bawah setelah mendengar jawaban dari suami nya. Dia harus mulai menyiapkan sarapan pagi untuk anggota keluarga nya.
Selain itu, seperti biasanya setiap akhir pekan Karina akan mengirimi Kiara makanan dan dessert yang di buatnya sendiri.
Karina memasukan makanan tersebut ke dalam box untuk selanjutnya Pak Deni kirimkan menuju kediaman adik Iparnya.
Saat kembali dari tempat parkir mobil yang di kendarai Pak Deni, Karina bertemu dengan Renal yang pagi-pagi sudah tiba di kediamannya.
"Loh, Kak Renal weekend begini tumben sudah ada disini?" tanya Karina bingung.
"Tanya suami kamu! Jadwal libur tapi masih di suruh kerja!" Renal menggerutu seperti anak kecil yang di paksa mengerjakan tugas nya oleh Ibunya.
Karina cekikikan.
"Ya sudah, mending Kak Renal sarapan dulu, yuk!" ajak Karina sambil mengajak Renal masuk menuju ruang makan.
Setelah sampai di ruang makan, di sana sudah ada Fin yang tengah duduk sambil membaca koran. Setelah di rasa ada yang duduk di sebelahnya, Fin melipat koran tersebut kemudian menyimpan nya di atas meja makan. Fin lepas kacamata baca nya kemudian dia lipat kedua tangan nya di atas meja.
"Sedang apa kamu disini?" tanya Fin dengan wajah datar nya.
__ADS_1
"Ckk," decak Renal.
"Kurang ajar! kamu yang panggil aku kesini, kamu juga yang pura-pura nggak butuh aku!" gerutu Renal sambil memutar bola matanya kesal.
"Language please!" Fin memperingatkan Renal tentang bahasanya. Pasalnya ini dirumah dan masih ada sang anak di rumahnya tersebut. Takutnya Devin mengikuti apa yang di dengarnya.
"Iya, iya..." jawabnya kesal.
Karina datang dari arah dapur membawa menu sarapan pagi di bantu asisten rumah yang lain.
"Sebentar, Mommy panggil Devin dulu untuk turun." izin Karina pada suaminya.
"Sekalian panggil Eca untuk sarapan bersama." perintah Fin pada istri nya.
Karina hanya mengangguk sambil tersenyum dan masuk ke dalam lift untuk pergi menuju kamar sang anak.
"Tumben kamu perhatian sama bawahan mu?" tanya Renal dengan sedikit kesal.
"Dia akan pergi ke kebun binatang bareng kamu!" jelas Fin.
"Kebun binatang? Siapa yang ke kebun binatang?" bingung Renal.
"Kamu sama si Eca pergi ke kebun binatang, jagain Devin sementara waktu. Setelah dari rumah sakit aku langsung kesana!" jelas Fin pada Renal.
"Wah, parah kamu! nggak ada info apa-apa langsung kirim ke kebun binatang aja!" Renal masih menggerutu.
"Fin, lagian aku canggung harus pergi sama si Cece!" lanjut Renal bernegosiasi.
"Kenapa harus canggung?" tanya Fin.
"Jangan bilang malam itu..." potong nya.
Renal melemparkan koran ke arah Fin.
"Kurang ajar kamu! Nggak lah! Gila aja. Kaya nggak tau selera ku aja kamu!" ucap Renal dengan gengsi nya yang tinggi.
Saat Renal mengatakan itu semua ada hati yang terluka mendengar apa yang di katakan Renal. Dia mematung di tempatnya. Hatinya terluka dan mungkin akan sulit untuk sembuh.
"Eca, kenapa malah bengong di situ?" tanya Karina saat di lihatnya Eca tidak mengikuti nya untuk duduk di meja makan.
Degh...
Dalam seketika jantung Renal berhenti berdetak, saat sadar kalau Eca mendengarkan apa yang di katakannya barusan.
'The end!' pekik Renal dalam hati.
__ADS_1