
Lemon tea hangat milik Karina, dia bawa ke ruang tengah dan di simpannya di atas meja. Dia duduk dengan kedua kaki bertumpu pada meja di hadapannya.
Karina mulai mengoles conceller yang di bawanya tadi, di atas tanda merah mahakarya dari suaminya yang tersebar hampir di seluruh leher dan dadanya.
Karina cek kembali dengan menggerakan cermin yang tengah di pegang nya memutar mencari tanda yang belum teroles conceller.
"Huh..." Karina menghembuskan nafasnya kasar.
"Sebulan bisa habis empat conceller kalau tiap malam dia membuat tanda sebanyak ini!" gerutu Karina setelah selesai menutup tanda tersebut.
Karina mulai menyalakan televisi yang ada di ruangan tengah untuk dia menonton drama favoritnya.
Karina terhanyut dalam drama Korea on going yang setiap minggunya tidak pernah absen untuk dia tonton.
Karina melupakan anak dan suaminya yang masih di dalam kamar dan mungkin saja masih anteng dengan mimpinya masing-masing.
"Oh, God" pekiknya. Karina bergegas menghabiskan lemon tea dan stroberi sweet cake yang dia temukan saat menggeledah isi lemari pendingin
Setelah menyimpan piring dan gelas bekas pakai nya ke dalam wastafel, Karina bergegas masuk ke dalam kamarnya.
Namun baru tiga langkah meninggalkan sofa ruang tengah, dari dalam kamar keluar anak dan suaminya sudah dengan penampilan rapi nya.
Mereka berpenampilan kembar. Mulai dari pakaian yang di pakai, sepatu, sampai model rambut yang di buat sama persis
Mata Karina membulat dengan mulut yang menganga lebar.
"Baby, sudah mandi?" tanyanya dengan mata yang menatap dua pria di hadapannya bergantian.
Devin mengangguk sambil tersenyum manis ke arah sang Mommy.
"Aku mandi cama, Daddy!" jawab Devin.
__ADS_1
"Mommy, tolong mimi!" Devin meminta susu pada Karina.
Karina mengambil susu yang sudah di hangatkan nya itu, kemudian memberikannya pada sang anak.
"Telima kacih!" ucapnya pada sang Mommy. Karina usap kepala sang anak sambil tersenyum ke arahnya.
Fin sendiri hanya berdiri di samping anaknya dengan kedua tangannya yang dia masukan ke dalam saku celananya.
"Pasti repot ya?" tanya Karina pada suaminya.
"Maaf, Mommy keasikan nonton," cicitnya.
Fin membawa Devin ke dalam gendongannya.
"Nggak, kok! Kita bersenang-senang di kamar mandi, ya?" tanya Fin pada Devin yang tengah di gendongnya.
Devin mengangguk dengan dot yang tetap menempel pada mulutnya.
Karina mengangguk kemudian berjalan di depan Fin dan Devin.
"Mommy, stop!" pinta Fin tiba-tiba dan berhasil menghentikan langkah Karina.
Karina menengok. Kemudian menatap suaminya heran.
"Kenapa?" tanya Karina dengan alis yang saling bertautan bingung.
"Pakai jaket, Mommy!" perintah Fin kembali.
"Dad, ini nggak terlalu terbuka, kok!" nego sang istri.
"Pakai jaket atau kita tetap di dalam kamar!" final Fin yang pastinya perintah yang dia keluarkan mutlak hukumnya.
__ADS_1
"Oke, Mommy bawa jaket dulu!" lirihnya sambil masuk ke dalam kamar dan membawa jaket jeans pendek untuk dia pakai.
#########
Karina, Fin dan Devin sudah sampai di lantai bawah. Seperti biasa mereka selalu menjadi pusat perhatian. Fin berjalan menuju kursi yang sudah Renal siapkan dengan menggendong Devin dan tangannya merangkul pundak Karina.
Tampak Renal melambai ke arah mereka. Fin dan Devin memasang wajah datar dengan mata mereka yang segera membuang pandangannya ke arah lain. Berbeda dengan sang anak dan sang suami, Karina justru menyambut lambaian tangan Renal dengan senyuman yang tersungging dari bibir tipisnya.
Fin mendudukan tubuh sang anak pada kursi khusus yang sudah tersedia di sana.
"Whoo... kalian benar-benar mirip!" pekik Renal mengomentari tampilan anak dan Ayah tersebut. Seperti biasa mereka berdua tidak memberi respon dan tetap dengan wajah datarnya.
"Ckk," decak Renal kesal.
Eca yang duduk di sebrang Renal menyungging kan senyum sinisnya.
"Tuan, terima kasih sudah mengantarkan Devin ke sini!" ucap tulus Karina pada Tuan Alexander.
"Tidak masalah, Nyonya! Kebetulan nanti siang saya akan kembali ke kampung halaman saya, sekalian saja mengantarkan Tuan muda untuk bertemu Daddy dan Mommy nya!" jelas Tuan Alexander.
Devin menyimpan dot yang sudah tandas isinya di atas meja miliknya. Renal menatap Devin sambil tersenyum dengan alis yang sedikit terangkat.
"Boy, kenapa masih mimi dot?" tanya Renal usil.
"Huuaaa..."
Di luar prediksi Renal, Devin malah menangis. Renal kira dia akan membuang mukanya atau pura-pura tidak mendengar Renal. Ternyata pernyataan Renal melukai harga dirinya.
"Renal!" ucap Fin sambil menatap tajam sahabatnya itu.
Selain Fin, Eca dan Tuan Alexander pun menatap Renal dengan tatapan yang sama tajamnya.
__ADS_1
"God! aku salah gaul! aku memang tidak cocok bergaul dengan orang-orang kaku seperti mereka!" lirih Renal dalam hati.