Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Malam pertama.


__ADS_3

"Apa yang sedang kamu lamunkan?"


Suara bariton Devin yang tiba-tiba terdengar berhasil menyadarkan Renika dari lamunannya. Dengan raut wajahnya yang berubah cemberut, Renika melirik sinis ke arah Devin.


"Menurutmu?" balasnya ketus.


"Saya nggak punya kemampuan untuk membaca pikiran mu, Renika," jawab Devin, tanpa melepas sedikit pun 'topeng' senyumannya yang ramah itu dari wajah tampannya.


Di sisi lain, Renika tampak semakin mendengus kesal.


"Kamu emang nggak kepikiran dengan syarat yang di kasih orang tua kita?!" tukasnya jengkel.


Devin tidak menjawab. Pria itu hanya melirik sesaat sebelum akhirnya kembali menyapa para tamu yang mulai menghampiri mereka lagi. Dengan sedikit memiringkan tubuhnya dan mendekati daun telinga Renika, Devin berbisik sepelan mungkin.


"Senyum," bisiknya.


"Masalah lain, pikirkan nanti."


Mendengar ucapan Devin yang terdengar seperti sebuah perintah, diam-diam Renika menghembuskan napasnya kasar sebelum akhirnya menunjukkan sikap profesionalnya dengan mengulas senyuman manis di kedua sudut bibirnya. Lihatlah, dengan kemampuan aktingnya, Renika terlihat seperti pengantin wanita paling bahagia malam ini.


########


"Nggak bisa," desis Renika kepada Devin saat mereka sedang melakukan sesi foto berdua.


Suara sang fotografer terdengar lantang. Dia mengarahkan Devin untuk memeluk Renika dari belakang dan pria itu tanpa ragu melingkarkan kedua tangannya di pinggang gadis tersebut dari belakang membuat tubuh Renika sedikit menegang. Dagu Devin yang diletakkan di pundak Renika diikuti dengan embusan napas pria itu yang terasa panas di telinga Renika membuat wajahnya merona.


"Kenapa kamu terlihat biasa saja selagi aku pusing masalah persyaratan orang tua kita?" tanya Renika dengan wajah yang menampakkan seulas senyum indah sebuah kepalsuan karena kedua orang tuanya dan Devin tengah menyaksikan kegiatan sesi foto tersebut dengan senyum mengembang di wajah mereka.


"Karena aku tidak memikirkannya," sahut Devin dengan nada datarnya. Pria itu mengangkat dagu Renika agar wanita itu menatap ke arahnya tentunya sebuah gerakan yang mengikuti arahan fotografer.


"Bukankah sudah ku bilang untuk jangan memikirkannya sekarang?"


Senyuman Renika bergetar merasa terpancing dengan ketenangan Devin.


"Akan lebih baik kalau kamu mulai pikirkan cara kasih cucu untuk orang tua kita dalam satu tahun! Demikian, aku bisa berhenti memikirkan masalah itu, oke?" balasnya ketus.


"Cium pengantinnya!"


Perintah itu terdengar membuat Renika tersentak. Sesi foto pra pernikahan saja tidak se ekstrim ini!


Di sisi lain, pandangan Devin mendarat di bibir Renika. Kemudian pria itu mengangkat dagu gadis itu dan mendekatkan wajahnya. Hal itu membuat Renika terkejut dan membeku.


Namun, sebelumn bibir mereka bersentuhan, Devin berhenti.


"Oke, sempurna!" Suara lantang sang fotografer kembali terdengar sepertinya foto yang di ambil memperlihatkan seakan kedua pengantin sungguh berciuman. Masih dalam posisi yang sama, Devin berkata.


"Kalau terpojok, maka buat saja satu." Matanya menatap Renika lurus sebelum akhirnya dia menarik diri dan berjalan kembali ke tempat duduknya meninggalkan Renika yang mematung di tempatnya.


Saat rohnya kembali, Renika langsung melotot.


'Dia bilang apa?!' Gadis itu melangkah cepat untuk mengejar Devin.


"Hei! Apa maksud..."


Belum sempat Renika menyelesaikan kalimatnya, seorang tamu datang dan membuat Devin menyunggingkan senyum sopannya. Renika pun hanya bisa bungkam selagi ikut menyapa tamu tersebut.


Selagi Devin sibuk berbincang dengan sang tamu, pandangan Renika menyapu pemandangan pesta berusaha memastikan berapa banyak lagi tamu yang akan datang menyapa. Namun, selagi melakukan itu pandangan Renika justru terpaku pada sosok pria muda tampan yang secara terang-terangan sedang memperhatikannya.


Renika terdiam beberapa detik. Dalam hati, dia bertanya-tanya apakah kedua orang tuanya memiliki seorang kenalan pria muda seperti dia? Wajahnya tampak asing.


'Apa mungkin kenalan, Devin?' pikir Renika.


Dengan penasaran Renika menoleh pada Devin yang sudah kembali duduk tenang dan bertanya dengan suara setengah berbisik.


"Devin, siapa pria muda di sana?" Renika samar-samar memberikan isyarat dengan dagunya ke arah sosok pria yang mencuri perhatiannya itu.


Devin lantas melirik sekilas pada sosok pria tersebut, tapi dia tidak menjawab pertanyaan Renika karena di saat yang sama para tamu undangan mulai berdatangan lagi untuk menyalami mereka. Dengan senyum tipis di wajah tampannya, Devin menyambut para tamu yang tidak ada hentinya menghampiri mereka.


Setelah tidak ada tamu yang menyalami mereka ekspresi Devin langsung berubah dingin.


"Dia, seseorang yang harus kamu jauhi." Suara pria itu terdengar sangat tidak bersahabat.


Renika sontak mengangkat salah satu alisnya terlihat bingung dan sedikit terkejut. Devin memang memiliki wajah dan sikap yang angkuh tapi dia tidak pernah secara gamblang menunjukkan ketidaksukaannya terhadap seseorang. Akan tetapi sekarang ini, Renika bisa merasakan kebencian mendalam pria itu kepada sosok pria muda asing tersebut.


Sedikit khawatir memancing amarah Devin, Renika pun hanya diam seraya membatin.


'Siapa ... pria itu?'


#########

__ADS_1


'Akhirnya...,' batin Renika setelah memisahkan diri dari Devin dan salah seorang rekan bisnisnya. Dia duduk di salah satu meja yang terletak sedikit jauh dari kerumunan para tamu berniat menikmati waktu sendirian tanpa ada gangguan siapa pun.


Namun, baru saja Renika ingin memasukkan suapan pertama ke dalam mulutnya, tiba-tiba terdengar suara dari belakang punggungnya.


"Kenapa pengantin wanita malah duduk sendirian di sini?"


Renika refleks menoleh dan mendapati sosok pria muda yang sempat mencuri perhatiannya tadi berdiri di hadapan. Sesaat, gadis itu pun terdiam sambil mengamati pria tersebut dan peringatan Devin yang menyuruhnya untuk menjauhi pria itu pun kembali terngiang dalam benaknya.


"Nggak ada peraturan yang melarang pengantin wanita untuk makan sendiri kan?" tukas Renika kemudian.


Pria muda itu pun tersenyum.


"Ya, memang tidak ada, tapi rasanya sangat di sayangkan saja kalau pengantin wanita secantik dirimu harus duduk sendirian tanpa ditemani siapapun."


Renika pun sontak menatap sang pria yang secara terang-terangan sedang menggodanya itu.


Di sisi lain, pria muda itu sepertinya menyadari tatapan penuh selidik yang di layangkan Renika ke arahnya.


"Oh, sepertinya saya belum memperkenalkan diri," ucapnya dengan seulas senyuman simpul di sudut bibirnya.


"Saya Mark, sepupunya Devin."


'Sepupu?' Dahi Renika berkerut kala mengetahui identitas pria itu. Kalau pria bernama Mark ini sepupu Devin, lalu kenapa Devin...


"Renika." Suara bariton yang berkumandang membuat Renika tersentak dan menoleh ke sumber suara. Sosok pria dengan kemeja berwarna putih yang membalut tubuh tinggi dan kuatnya terlihat berjalan menghampirinya.


"Devin... " balas Renika dengan sedikit mencicit, entah kenapa merasa aura dingin menguar dari tubuh pria yang tengah menatap dirinya dan Mark secara bergantian.


'Lah, kok jadi kayak ketahuan selingkuh sih rasanya?!'


Selagi Renika sibuk dengan pikirannya sendiri, secara tidak terduga dia merasakan tangan Devin melingkar di pinggulnya dengan mesra. Pria itu menegapkan tubuh dan menatap dingin sepupunya itu.


"Kita harus pergi," ucap Devin membuat Renika mengerjapkan mata, apa pria itu sedang memerintah dirinya?


"Kami baru mulai berbicara," balas Mark santai dengan senyuman. Akan tetapi, senyuman di bibirnya itu terlihat palsu lantaran dia tidak senang Devin menyela pembicaraannya dengan Renika.


"Sayangnya, kita tidak ada pilihan," balas Devin dingin. Dia mengeratkan pelukannya pada pinggang Renika sehingga tubuh gadis itu menempel lekat dengannya.


"Lagi pula, kamu tidak mau di cap jadi perusak malam pertama pengantin baru bukan?"


#################


"Ini semua gara-gara kamu!" imbuh gadis bertubuh molek sembari menuding pria yang belum lama baru saja secara sah menyandang gelar sebagai suaminya.


Sekarang, Renika dan Devin berada di dalam ruang tidur dengan wajah kesulitan. Yang lebih parah, ruang tidur itu adalah ruang tidur yang berada di kediaman orang tua Devin!


"Lain kali kalau ngomong tuh di pikir dulu!" bentak Renika lagi membuat pelipis Devin berkedut.


"Kalau bukan karena kamu seenaknya ngomong sama Mark tentang malam pertama, kamu kira kita akan terjebak di sini?!"


Satu jam sebelumnya...


"Berhubung ini malam pertama nggak baik juga kalau kalian langsung pergi, malam ini kalian nginep di sini saja, ya..."


Dengan senyuman cerahnya, Ibunda Devin melayangkan tatapan penuh harap pada putra dan menantunya itu. Mendengar omongan Devin kepada Mark tadi, dia menjadi semakin semangat memastikan semuanya berjalan lancar untuk kedua pengantin baru itu.


Renika dan Devin yang sudah berencana untuk segera pergi ke rumah pribadi Devin seusai acara selesai pun sontak terkejut mendengar itu. Dengan panik Renika melirik Devin menyuruh sang pria yang notabene telah menjadi suaminya itu untuk mengatakan sesuatu melalui isyarat gerakan bola matanya.


Devin menghela napas singkat sebelum akhirnya bersuara.


"Nggak bisa, Mom. Besok pagi aku masih harus ke kantor. Renika juga harus pergi ke suatu tempat untuk pekerjaannya dan lokasinya lumayan jauh," kilah Devin berbohong.


Sebelumnya, mereka memang sudah menyiapkan jawaban tersebut karena khawatir kedua orang tua mereka menyuruhnya untuk menginap di rumah kedua orang tua Devin. Namun, siapa yang menyangka kalau kekhawatiran mereka menjadi nyata?


"Ya ampun! Kalian ini baru saja menikah! Masa besok udah kerja lagi?" Ibunda Renika pun ikut bersuara dan menegur keduanya.


"Besok kalian berdua cuti dulu, Mami nggak mau tahu. Kalian sebagai pengantin baru harus habisin waktu berdua," lanjutnya tegas.


"Mami!" Renika spontan melirik Ibunya dengan kesal.


"Iya, kerjaan bisa di tunda barang sehari atau dua hari saja, kan? Kalian juga pasti capek," tukas Ibunda Devin.


"Benar. Untuk malam ini kalian tidur di sini. Besok baru ke rumah suami kamu," timpal Ibunda Renika.


"Tapi..."


"Nggak perlu khawatir, sayang!" Ibunda Devin terlihat mengibaskan tangannya di depan wajah putranya itu.


"Nggak akan ada yang gangguin kalian." Dia mengedipkan mata pada Renika dan Devin yang hanya bisa berakhir menarik napas dalam.

__ADS_1


############


Mengingat hal tersebut Renika menggigit bibirnya gemas. Dia melemparkan pandangan mematikan kepada Devin yang terlihat duduk di atas tempat tidur sembari menyilangkan kakinya dan bermain dengan ponselnya.


Merasakan tatapan Renika, Devin melirik gadis itu sesaat. Kemudian, dia berkata.


"Jangan berlebihan. Kita hanya perlu menginap semalam."


Ketenangan yang Devin tampakkan membuat Renika merasa konyol. Apa pria itu sebiasa itu berhadapan dengan wanita sehingga dia sama sekali tidak merasakan kecanggungan sedikit pun?


Memperhatikan wajah Devin patut Renika akui suaminya itu sangat tampan. Dengan alis hitam tebal, mata tajam yang memancarkan wibawa, bibir tipis dan rahang tegas menggoda, jelas tidak aneh kalau pria itu sering bercengkerama dengan para wanita.


Pandangan Renika pun merayap ke bawah, pada tubuh Devin yang terbalut piyama hitam berbahan satin. Dada bidang pria itu tidak mampu disembunyikan, terlebih otot perut liat yang tercetak jelas dari balik kain pakaiannya. Pemandangan itu membuat wajah Renika merona dan dia pun membuang wajah kesal.


"Dasar playboy!" sungut Renika sambil mendelik tajam ke arah Devin, berimajinasi liar bahwa pria itu pasti tidak asing bermesraan dengan wanita.


"Sebaiknya kamu jaga sikap sama aku!" ancamnya sembari menguatkan tekad dan membanting bokongnya ke tempat tidur. Tangannya langsung menyabet selimut untuk menutupi tubuhnya yang mengenakan pakaian tidur tipis, jelas sesuatu yang disiapkan oleh bundanya sendiri.


Devin melirik Renika sekilas dengan ekspresi wajahnya yang tampak datar, lalu dia kembali mengalihkan pandangannya sambil membenarkan kacamata baca pada hidung mancungnya.


"Kamu tenang saja, saya tidak ada niatan sedikitpun untuk menyentuh mu."


Harusnya, Renika merasa tenang setelah mendengar ucapan Devin tapi anehnya dia malah tersinggung. Apa tubuhnya tidak menarik sampai-sampai Devin tidak punya niatan untuk menyentuhnya?


Renika menggelengkan kepalanya mengusir pikirannya sendiri. Gadis itu kembali membuka mulutnya, siap membalas ucapan Devin tapi tiba-tiba saja terdengar sebuah ketukan dari luar pintu kamar yang di susul suara Ibunda Devin.


"Permisi pengantin baru... Mommy boleh masuk sebentar?"


Mendengar suara Ibu mertuanya, Renika pun segera berdiri dan buru-buru membukakan pintu kamarnya membiarkan wanita itu melenggang masuk sambil membawa nampan berisikan beberapa minuman dan makanan.


"Mommy siapin ini untuk kalian berdua," ucap wanita paruh baya itu sambil meletakkan nampan yang dibawanya ke atas meja panjang yang ada di tengah- tengah kamar Devin.


Kemudian, dengan ekspresinya yang tampak antusias itu, Ibunda Devin berbalik menghadap Renika dan berkali-kali memeluk gadis itu.


"Kamu tahu nggak sih, Mommy tuh udah lama banget nunggu hari ini." Ibunda Devin menggenggam kedua tangan Renika.


"Dari dulu, Mommy selalu pengen punya anak perempuan yang cantik yang bisa nemenin belanja, nyalon, ngobrol-ngobrol santai. Mommy bosan sama cowok-cowok kaku di rumah ini." oceh wanita paruh baya itu dengan senyuman cerahnya.


"Mommy jadi orang yang paling bahagia di pernikahan kalian berdua!" seloroh wanita itu sambil menatap Devin dan Renika bergantian. Senyumannya yang tampak tulus dan hangat itu pun sempat membuat Renika sedikitnya merasa bersalah.


Namun, gadis itu segera menutupi perasaannya dengan balas tersenyum dan menggenggam erat tangan ibu mertuanya itu.


"Aku juga seneng bisa punya ibu mertua kayak Mommy."


"Ah, sayang!" Ibunda Devin lantas kembali memeluk Renika lagi.


"Kalau Devin ngapa-ngapain kamu, kamu ngadu sama Mommy, Mommy habisi dia!" tegas Ibunda Devin.


Mendengar hal itu, Devin berdeham keras, sengaja. Dia menutup bukunya dan menatap sang bunda.


"Mom, sudah malam. Sebaiknya Mommy kembali ke kamar."


Ucapan Devin membuat sang ibunda menutup mulutnya. Senyuman penuh arti terpatri di bibirnya.


"Oh, kayaknya Mommy kelamaan deh di sini!" ucapnya sembari terkekeh.


"Maaf ganggu waktu pengantin baru ya."


Renika langsung merona merah, paham maksud ibu mertuanya itu.


"M... Mom jangan sungkan, lamaan juga nggak apa- apa."


"Mommy nggak berani lawan suami muda yang lagi cemburu waktu sama istrinya di ganggu," balas ibunda Devin membuat Renika semakin kelabakan. Kemudian, wanita itu meraih segelas minuman dan memberikannya pada Renika.


"Sebelum Mommy pergi, kamu minum ini dulu. Habiskan ya"


Gadis itu ingin menolak, tapi tidak tega ketika melihat ekspresi antusias di wajah ibu mertuanya. Renika lantas meneguk minuman tersebut, tapi sesaat kemudian dia terlihat mengernyitkan kedua alisnya saat merasakan pahit yang menyapu lidahnya.


"Ehm... Mom, ini minuman apa?" tanya Renika yang nyaris saja memuntahkan minuman itu, tapi pada akhirnya dia berhasil menelannya.


"Di minum aja. Ini bagus buat kamu," ujar Ibunda Devin sambil memaksa Renika untuk meneguk sisa minuman di gelas tersebut. Hanya setelah Renika menghabiskan isinya, barulah wanita itu melontarkan kalimat penjelas yang membuat gadis itu melotot.


"Semoga jamunya benar-benar berkhasiat, ya. Mommy mau cepat dapat cucu."


Dan pada akhirnya apa yang diinginkan ibunda Devin benar-benar terjadi. Malam pertama yang begitu panas.


Tamat.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca, love sekebon🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2