
Karina dan Devin sudah siap di depan meja makan masing-masing, Karina duduk di kursi sebelah tempat Fin nanti akan duduk sementara Devin duduk di high chair baru miliknya yang sudah Fin persiapkan sebelum Devin tinggal di rumahnya.
Karina juga sudah rapi dengan setelan kerjanya, hari ini Karina memakai kemeja kuning yang dikombinasikan dengan flared shirt dengan panjang sebetis warna putih dan stiletto yang senada dengan warna pakaiannya, rambut Karina selalu dia gerai guna menutupi tato yang ada di belakang lehernya.
Mereka belum memulai sarapan karena masih menunggu Fin yang masih sibuk di dalam ruang kerja miliknya yang ada di lantai dua.
Saat Karina akan bangkit untuk memanggil suaminya, Fin keluar dari dalam lift dengan menenteng tas kerja beserta sehelai dasi yang masih berada di dalam genggaman nya, Fin letakkan tas dan dasi tersebut di atas kursi kosong di sebelahnya.
Karina menyajikan makanan yang sudah dia buat tadi pagi, kemudian diletakkannya di depan meja Devin dan Fin. Fin mengerutkan keningnya menatap makanan yang tersaji di hadapannya.
"Kenapa?" tanya Karina bingung sekaligus was-was kalau Fin marah karena tidak menyukai sarapannya.
"Maaf kami biasanya sarapan simpel seperti ini" ucap Karina sambil menunduk.
Fin memindahkan potongan-potongan wortel yang ada di dalam scrambled egg miliknya dan meletakkannya di atas piring Karina.
"Daddy tidak suka wortel" ucap Fin lembut sambil memasukkan potongan jamur ke dalam mulutnya.
Devin tertawa sambil menutup mulutnya.
"Cama, aku tidak cuka woltel juga" ucap Devin mengikuti Ayahnya.
"Hem?" tanya Fin mengangkat alisnya sambil menatap Karina.
Karina membuang nafasnya kasar.
"Kalian sama-sama membenci wortel bagaimana bisa kalian memiliki begitu banyak kesamaan?" tanya Karina dengan wajah jengkel yang dibuat-buat.
Fin mematung. Lihatlah bagaimana anaknya mewarisi segala gen yang ada dalam diri Fin.
"Ayo mam nya dihabiskan, Mommy sudah telat baby" ucap Karina pada Devin sambil menghapus madu yang tercecer di mulut kecil Devin menggunakan tisu.
Devin mengangguk dengan antusias dan melanjutkan sarapannya, Fin sendiri sarapan dengan penuh keharuan melihat pemandangan yang pada awalnya tidak pernah Fin impikan.
Bahkan saat Fin kehilangan kontak dengan Karina, Fin sudah berniat untuk tidak menikah jika itu bukan Karina, sarapan Fin pagi ini lengkap dengan kehadiran anak dan istrinya di meja makan.
__ADS_1
##########
"Mommy sama Daddy berangkat kerja dulu ya, Devin harus nurut sama Nenek Linda oke?" pesan Karina pada anaknya yang sedang digendong Bu Linda di tempat parkir.
Devin mengangguk kemudian mencondongan tubuhnya untuk mencium pipi Karina dan Fin, setelahnya Bu Linda mengajak Devin untuk masuk kembali ke dalam rumah.
"Daddy berangkat sekarang, Mommy tidak mau cium pipi Daddy juga?" tanya Fin dari dalam mobil dan jendelanya sengaja Fin buka.
Karina memicingkan matanya ke arah Fin.
"Apa sifatnya memang seperti ini? kemana perginya Fin yang terkenal dingin itu?" tanya Karina di dalam hati.
Karina mendekat ke arah Fin, dia masukkan kepalanya ke dalam mobil melewati jendela yang terbuka, Fin memejamkan matanya siap menerima ciuman selama jalan dari istrinya beberapa saat Fin memejamkan mata namun ciuman dari Karina belum juga mendarat di pipinya.
"Akhh..." teriak Fin saat dirasa ada sesuatu yang mencekik lehernya.
Fin membuka matanya ternyata Karina memasangkan dasi yang lupa Fin pakai dan menariknya sedikit kencang, Karins tertawa sambil masuk ke dalam mobil yang akan membawanya menuju perusahaan.
Fin menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kaku, Fin merasa apa yang dilakukannya cukup konyol untuk seorang Fin Grahatama. Mobil yang Fin tumpangi pun bergerak pergi menuju perusahaan tempatnya memimpin.
##########
Saat di jalan menuju perusahaan, Karina mendapat pesan dari atasan yang membimbing manggang Karina di kantor, dia memberitahu Karina kalau pagi ini akan diadakan rapat untuk beberapa divisi termasuk divisi tempat Karina magang guna membahas tentang ulang tahun perusahaan.
Saat Karina sampai di depan Aula tempat diadakannya rapat, dia merapikan penampilannya terlebih dahulu kemudian menarik nafas dan mulai mengetuk pintu sebelum masuk.
Saat masuk ke dalam ruangan tersebut, semua orang mengarahkan pandangannya pada Karina termasuk Fin sang CEO yang pagi ini memimpin langsung rapat tersebut.
Karina menggigit bibir bagian bawahnya, Karina gugup dia melihat mata Fin yang dingin dan jauh berbeda dengan tadi saat masih di rumah, Karina menundukkan pandangannya.
"Maaf saya terlambat" ucap Karina pelan, Karina benar-benar tidak kuasa untuk melihat mata Fin saat ini.
Orang-orang mulai berbisik membicarakan Karina, mereka menyebut tentang kekejaman sang CEO pada orang yang telat dengan menandai mereka yang membuat masalah dan terus direpotkan oleh hal-hal sepele, seperti disuruh membuat kopi padahal itu tugas OB atau disuruh membereskan data dari beberapa tahun lalu padahal data tersebut tidak penting, begitulah isu-isu yang bergulir di seputar karyawan perusahaan tersebut.
Karina semakin mengeratkan kepalan tangannya saat mendengar hal-hal tersebut ditambah saat ini wajah Fin datar tanpa ekspresi, jantung Karina berdebar tidak karuan dengan keringat dingin yang mengumpul di wajah pucat pasi nya.
__ADS_1
"Anda terlambat berapa menit?" tanya Fin dingin.
"Se... sepuluh menit Pak" gugup Karina dengan wajah yang masih tertunduk.
"Anda bisa keluar dari ruangan ini" perintah Fin dingin.
Karina mengangkat wajahnya dengan mata yang sedikit melotot, dia tidak menyangka kalau Fin tidak dapat mentolerir keterlambatan Karina meski itu baru pertama kali.
"Tapi Pak..."
"Anda tahu jalan keluar ruangan ini, ya sama seperti saat Anda masuk ke sini" ucap Fin dengan tidak berperasaan.
Mata Karina sudah berembun, Karina menundukkan badannya pada Fin kemudian dia keluar dari Aula tempat rapat diadakan.
Orang-orang mulai berbisik kembali membicarakan kekejaman seorang Fin.
"Kalian ingin keluar dari ruangan ini juga?" tanya Fin saat ruangan mulai riuh dengan bisikan seketika mereka langsung terdiam dan memfokuskan kembali perhatiannya pada Fin.
##########
Saat ini Karina tengah berada di dalam toilet menumpahkan tangis yang sudah dia tahan sejak di Aula tadi.
"Bagaimana seseorang bisa memiliki dua kepribadian dalam satu waktu?" tanya Karina pada dirinya sendiri.
"Lagi pula telat juga kan karena Kiara meminta bantuan untuk menidurkan Ara" gerutu Karina menyebut nama anak dari Kiara.
"Hey Karina! sudahlah jangan menangis seperti ini, kamu bahkan pernah diperlakukan lebih tidak manusiawi oleh orang lain, kenapa hanya dengan bentakan saja kamu bisa secengeng ini?" tanya Karina pada dirinya sendiri.
Setelah puas menumpahkan kekesalannya Karina menunduk mengaduk-aduk tas miliknya untuk mencari tisu dan mengeluarkan alat make up untuk men touch up kembali riasan yang rusak akibat air mata.
Saat tengah fokus dengan isi tas nya tersebut, sebuah tangan kekar melingkar di depan perut Karina.
"Maaf" bisik pemilik suara serak itu. Karina mematung sesaat, kemudian dia berbalik menghadap seorang pria yang tengah memeluknya dari belakang.
"Aaa... Anda..." kalimatnya terpotong karena bibirnya langsung di bungkam oleh bibir lembut pria yang aroma parfumnya sangat Karina kenal itu.
__ADS_1