
Fin membawa tubuh mungil sang anak masuk ke dalam kamar yang di tempatinya bersama sang istri. Kamar, di sebuah hotel bintang lima yang akan di tempatinya dalam beberapa hari ke depan.
Karina yang baru keluar dari dalam kamar mandi langsung menoleh ke arah pintu yang berbunyi yang menandakan adanya seseorang yang memasuki kamarnya.
Kamar di hotel yang Karina dan Fin tempati sendiri memiliki pemisah di setiap ruangannya. Jadi untuk sampai di kamar utama seseorang harus melewati ruang tengah dan ruang rapat terlebih dahulu.
Karina memegang bathrobe yang sedang di pakainya dan menurunkan handuk kecil yang dia gunakan untuk mengeringkan rambutnya. Dia menunggu dengan cemas dengan mata yang tidak dia alihkan dari arah pintu masuk kamarnya.
Mata Karina melebar saat melihat siapa yang memasuki kamarnya. Sang suami masuk dengan menggendong tubuh mungil sang anak.
Pamitnya, Fin akan bertemu dengan teman lamanya di restoran lantai bawah. Karina tidak menyangka kalau sang suami ternyata menyiapkan kejutan yang membuatnya benar-benar terkejut.
Kedua tangan Karina dia gunakan untuk membekap mulutnya sendiri agar dia tidak memekik kencang sehingga dapat membangunkan tidur nyenyak sang anak.
Mata Karina sudah berembun. Dia berharap apa yang di lihatnya saat ini bukanlah mimpi. Dia sudah benar-benar merindukan sang anak.
Perbedaan waktu yang cukup jauh antara Indonesia yang berada di benua Asia dan Prancis yang ada di Benua Eropa, membuat komunikasi Karina dengan sang anak terbentur jam-jam tidur sang anak.
Karina berjalan secara perlahan mendekat ke arah kasur tempat anaknya berbaring. Dia menatap wajah damai sang anak yang tengah di selimuti oleh Fin. Dia berjongkok kemudian mengusap kepala dan mencium kening sang anak secara lembut demi menyalurkan kerinduan nya.
Selanjutnya Karina mendongak mengalihkan pandangannya pada wajah sang suami. Fin membalas tatapan penuh haru sang istri sambil tangannya mengelus lembut dagu istrinya tersebut. Fin bawa tubuh istrinya untuk berdiri dihadapannya.
"Apa Mommy bahagia?" tanya Fin pada sang istri.
Karina mengangguk dengan antusias sambil menghapus air mata yang akhirnya luruh membasahi pipinya. Bagaimana Karina tidak terharu di balik sifat dingin dan arrogant nya sang suami ternyata dia memiliki kepekaan yang tinggi terhadap perasaannya.
Karina memeluk tubuh suaminya dengan kedua tangan yang dia lilitkan pada lehernya. Karina berjinjit kemudian.
"Terima kasih Daddy!" bisiknya tepat di telinga Fin.
Fin yang merasakan hembusan nafas sang istri di telinganya meremang dengan tangan yang langsung menyambar gunung kembar milik sang istri yang hanya terhalang oleh bathrobe.
Karina membulatkan matanya kaget dengan respon dari sang suami. Dia gigit bibir bagian bawahnya agar tidak mengeluarkan ******* di kamar yang tengah anaknya tempati.
Tangan Fin terus melakukan hal yang sama dengan sesekali memelintir bagian menonjol dari gunung kembar milik istrinya.
Wajah Karina sudah memerah menahan setiap ******* yang bisa saja keluar saat itu juga. Karina menggelengkan kepalanya dengan mata menatap sang suami penuh permohonan meminta agar sang suami tidak mengeksekusinya di kamar yang Devin tempati.
Fin mengerti akan kode yang istrinya berikan. Dia menghentikan aksinya. Karina menghembuskan nafasnya penuh kelegaan.
__ADS_1
"Jangan disini, Daddy!" pintanya pada Fin.
Fin tersenyum. Dia bawa tubuh sang istri ke dalam gendongannya. Karina melilitkan kakinya pada pinggang sang suami dengan kedua tangan yang melilit pada lehernya. Mulut mereka saling beradu bertukar saliva dengan lidah yang saling membelit mengecap satu sama lain.
Tangan Fin terus memegang bokong sang istri sambil berjalan keluar dari dalam kamar dan masuk ke ruang tengah. Dia dudukan tubuhnya pada sofa di ruang tengah tersebut.
Kalian bisa membayangkan posisi mereka saat ini? Karina duduk di atas paha sang suami dengan tubuh yang saling berhadapan. Tangan Karina berada di belakang kepala sang suami sambil sesekali memegang rambutnya.
"Ssshh... " desah Fin dengan kedua mata yang terpejam menikmati setiap gerakan kegelisahan dari sang istri yang terus menggesek miliknya yang sudah menegang ketat di balik celana jeans yang masih dipakainya.
Fin mengecup setiap jengkal dari leher dan tulang selangka istrinya. Seperti biasa Fin selalu meninggalkan mahakarya bibirnya pada tubuh istrinya.
Bathrobe yang Karina pakai sudah terkoyak dan tidak menutupi bagian inti dari tubuhnya, Fin turunkan kepalanya pada dia benda kenyal milik Karina. Dia sudah seperti bayi rakus yang kelaparan dengan setiap hisapannya yang begitu kuat.
"Ssshhh... Da-Daddy..." desahnya sambil tangannya menekan kepala Fin agar semakin tenggelam di dalam dua benda kenyal miliknya.
Fin gunakan kesempatan untuk tangannya merayu bagian inti istrinya. Dia arahkan jarinya untuk masuk ke dalam lubang sempit istrinya. Jari itu begitu lihai menggesek sambil sesekali memaju mundurkan nya dengan gerakan erotis menyentuh setiap titik sensitif pemiliknya.
Karina terus mengeluarkan suaranya tanpa bisa dicegahnya
"Kamu sudah benar-benar basah, Sayang! ucap Fin untuk pertama kalinya menyebut Karina dengan sebutan sayang.
"Lihatlah," Fin mengeluarkan jari miliknya dari dalam lubang sempit Karina dan mengangkatnya untuk dia tunjukan pada istrinya.
"Dia sudah lebih dari siap untuk di masuki milik Daddy, yang sudah kehabisan nafas di dalam sini!"
Karina membulatkan matanya kaget, saat melihat jari tangan suaminya.
"Da... Daddy, gagap sang istri.
"I... itu!" lanjutnya sambil menunjuk jari tangan Fin.
"Apa hem?" tanyanya pada Karina.
"Itu..." jawabnya sambil turun dari pangkuan, Karina meraih tisu basah yang ada di atas meja.
Fin mengkerutkan dahinya bingung. Di ikutinya arah telunjuk Karina yang tengah menunjuk jari tangannya.
"Oh, God!" Fin menggeram frustasi sambil memejamkan matanya menahan ledakan emosi yang tidak mungkin dia ledakan pada istrinya.
__ADS_1
"Mommy" ucapnya terjeda.
"Ma... maaf, Mommy tidak tahu!" ucap Karina takut suaminya marah. Karina raih jari tangan suaminya kemudian dia bersihkan jari yang berdarah itu menggunakan tisu basah.
Ya, ternyata istrinya sedang datang bulan. Fin mengira kalau sang istri basah karena terangsang oleh setiap sentuhannya tetapi kenyataannya milik Karina basah karena sedang datang bulan.
Wajah Karina memerah menahan malu. Dia berdiri.
"Sebentar Daddy, Mommy ke kamar mandi dulu!" ucapnya dengan cepat sambil berlari menuju kamar mandi kamarnya untuk membersihkan bercak darah pada bagian intinya.
"Aarghh!" Fin mengacak rambutnya frustasi sambil menjatuhkan badannya berbaring di atas sofa.
"Tanggung jawab, Mommy!" ucapnya kesal.
"Iya, nanti kalau sudah selesai Mommy tanggung jawab" sahutnya setelah kembali dari dalam kamar mandi. Jawaban yang Karina berikan membuat Fin menggeram kesal.
"Daddy maunya, sekarang!"
"Hah?" ucap Karina refleks.
"Ya, sekarang!" jelasnya kembali. Celana jeans yang tengah Fin pakai sudah terbuka sampai lutut, dengan tubuh yang kembali pada posisi awal menyandar pada sofa.
Karina mengerutkan keningnya bingung.
"Tapi nggak mungkin, Dad!" jawab Karina.
Fin menarik tangan istrinya agar berlutut di hadapannya, mata mereka bertemu.
"Hisap!" perintahnya pada Karina sambil menunjuk miliknya yang sudah berdiri tegak siap untuk di puaskan.
Mata Karina melebar saat mendengar perintah aneh suaminya. Ya, bagi Karina yang tidak tau apa-apa tentang hal celup-mencelup menganggap hal itu sebagai hal aneh.
"Ba... bagaimana bisa dia masuk kesini? Itu terlalu besar!" ucapnya yang membuat Fin tersenyum lebar saat mendengar pujian yang istrinya lontarkan.
Karina menarik nafasnya dalam sebelum melakuakan hal yang baru pertama kali di lakukannya itu
"Bisa kok, dia fleksibel dan akan cukup untuk masuk ke dalam mulut Mommy!" jelasnya sambil meraih kepala Karina untuk mulai melakukan apa yang di mintanya.
Karina menarik nafasnya dalam sebelum melakukan hal yang baru pertama kali dilakukannya itu.
__ADS_1