
Rina mencubit paha Mila karena kesal dengan ejekannya. Namun dia juga merasakan sebuah kelegaan dalam dadanya saat ternyata semua itu hanya sebuah kesalahpahaman saja.
"Oh..." jawab Karina. Karina pun merasakan hal yang sama dengan Rina. Dia merasa tenang saat menyadari apa yang suaminya maksud.
"Oh???" tanya Fin.
"Maksudnya... mmm... tadinya Mommy mau membuat kejutan untuk Daddy," cicit Karina pelan.
Fin terdiam. Pada akhirnya Fin luluh hanya dengan melihat mata istrinya yang meneduhkan. Dia maju kemudian berjongkok di hadapan Karina. Dia bawa kedua tangan Karina dan mengecupnya penuh sayang.
"Jangan menyembunyikan apapun lagi dari Daddy!" Fin memperingatkan istrinya dengan lembut.
Fin labuhkan kembali sebuah kecupan di atas perut Karina yang masih rata.
"Baby, terima kasih sudah hadir. Jangan membuat Mommy kesusahan, ya." bisik Fin pada janin yang ada di dalam perut istrinya.
"Nanti Daddy kenalkan kamu pada Kakak Devin, ya," lanjutnya.
Karina dapat mendengar semua yang suaminya ucapkan. Dia mengelus kepala Fin dengan air mata yang mulai mengalir dari kedua sudut matanya. Karina tengah sensitif dengan segala hal. Hormon kehamilan benar-benar mempengaruhi segalanya.
"Terima kasih..." lirih Karina.
"Terima kasih sudah melibatkan Devin di setiap momen kita," ucap Karina dengan tangis yang mulai pecah.
Fin menengadahkan kepalanya. Dia usap air mata di pipi istrinya. Fin yang tidak tega melihat istrinya itu menangis lantas berdiri dan membawa Karina masuk ke dalam pelukannya.
'Bagaimana mungkin Daddy mengabaikan Devin. Dia jantung pertama, Daddy' ucap Fin dalam hati.
Ketiga sahabat Karina ikut terharu menyaksikan bagaimana Fin memperlakukan Karina dengan begitu manis. Sangat berbanding terbalik dengan sikap dinginnya saat di kantor.
Beberapa pelayan datang membawa menu makan siang yang sudah di pesan ketiga sahabat Karina. Para pelayan menyajikan menu pembuka terlebih dahulu.
Fin duduk di samping istrinya.
"Daddy sudah pesan?" tanya Karina sambil menghapus sisa-sisa air matanya.
Fin menggeleng sambil tersenyum hangat, tangannya mengusap pipi istrinya. Sementara itu, ketiga sahabat Karina pura-pura tidak melihat keromantisan yang ada di hadapan mereka. Ketiganya sibuk berbincang demi menghilangkan kecanggungan.
"Mommy saja. Daddy sudah makan saat meeting tadi." jawab Fin.
Karina menggeleng saat di suruh memesan makan siang oleh suaminya. Menu yang dia mau tidak ada di sana.
"Kenapa?" bingung Fin.
"Mommy mau nasi padang," cicit Karina.
__ADS_1
"Nasi padang?" bingung Fin kembali.
Karina mengangguk. Dia sudah membayangkan bagaimana kentalnya kuah cincang dan gulai, di tambah rendang, lalapan dan sambal ijo nya yang khas. Membayangkannya saja sudah membuat nafsu makan Karina meningkat beberapa kali.
"Yahh... baru juga nyobain makan di tempat mewah seperti ini. Masa kita harus pindah makan di tempat rakyat jelata lagi," celetuk Rina yang berhasil mendapat senggolan dari Mila.
"Kamu bilang makan nasi padang makanan rakyat jelata? Bukannya kamu juga yang bilang kalau makanan di rumah padang itu mahal?" sindir Mila. Sementara itu Nisa hanya bisa menutupi wajahnya karena malu dengan kelakuan kedua sahabatnya.
"Maaf, Pak," cicit Nisa.
"Tidak masalah." jawab Fin singkat. Pasalnya sifat kedua sahabat istrinya itu, tidak jauh berbeda dengan sifat Renal. Fin sudah terbiasa menghadapi hal-hal seperti itu.
Sementara itu, Karina hanya tersenyum penuh syukur melihat kebahagiaan sahabat-sahabatnya.
"Terima kasih sudah membawa mereka ke sini," ucap Karina pada suaminya.
"Tidak masalah. Apapun untuk kebahagiaan Mommy," jawab Fin membuat pipi Karina merona.
Fin mengeluarkan telepon genggamnya, kemudian menghubungi Renal.
"Hubungi manager Odette, dan minta mereka menyiapkan menu masakan padang ke ruangan Karina, sekarang!" perintahnya. Fin langsung mematikan telepon genggamnya begitu saja, tanpa menunggu jawaban dari Renal.
Seperti biasa, Renal akan marah-marah dengan mengeluarkan segala macam bahasa untuk mengutuk sahabatnya yang semena-mena itu. Namun, tak urung dia mengerjakan permintaan Fin walau mustahil sekalipun. Maka dari itu, Fin tidak pernah perhitungan soal memberi bonus untuk Renal. Mobil, rumah, bahkan saham pernah dia beri untuk Renal.
Nisa, Mila dan Rina melebarkan matanya, menyaksikan kegilaan seorang sultan yang tengah memberi tahu mereka tentang apa fungsi uang dan kekuasaan yang sesungguhnya.
Fin mengerutkan keningnya saat melihat menu makan siang Karina.
"Mommy yakin mau makan ini?" tanya Fin sambil mengerenyitkan dahinya.
"Iya," jawab Karina singkat. Karina tidak fokus memperhatikan suaminya. Mata Karina berbinar melihat menu nasi padang di hadapannya.
"Mommy kenapa tidak pesan menu yang ada di restoran ini saja?" tanya Fin hati-hati.
Perhatian Karina yang awalnya tercurah pada makanan yang tersaji di hadapannya, kini beralih menatap suaminya dengan nyalang.
"Kenapa?" tanya Karina sedikit kencang, membuat ketiga sahabatnya meringis mendengar bentakan Karina pada bos mereka.
"Mood ibu hamil di lawan," cicit Mila pelan.
"Apa Mommy tidak lihat, begitu banyak minyak di setiap masakannya. Itu tidak seh..."
"Ya sudah, Mommy tidak makan!" putus Karina dengan wajahnya yang murung.
"Ikuti saja kemauannya, Pak. Apa Bapak mau anak Bapak nanti ngeces terus?" ucap Nisa memberanikan diri.
__ADS_1
"Kamu... berani-beraninya menyumpahi anak saya!" kesal Fin.
"Ckk.. bukan menyumpahi, Pak. Tanya saja pada orang tua zaman dulu. Mereka yang bilang, kok!" jawab Rina sambil terus memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Dia tidak peduli dengan status Fin, Yang jelas, saat di luar, bagi dia Fin hanyalah suami dari sahabatnya, bukan bos di perusahaannya.
"Mommy benar-benar menginginkan ini?" tanya Fin kembali.
Karina diam. Dia terlanjur kesal dengan Fin. Selain itu, selera makannya pun sudah hilang, saat dia harus berdebat terlebih dahulu dengan sang suami.
Fin yang tidak mendapatkan respon dari istrinya, lantas mengambil inisiatif untuk menghubungi seseorang.
"Daddy tanya Dokter kandungan Mommy dulu ya," izin Fin, yang kemudian membuka informasi Dokter kandungan istrinya yang tertera pada buku silver yang Karina bawa dari rumah sakit tadi.
Ketiga sahabat Karina termasuk Karina sendiri melebarkan matanya, tidak habis pikir dengan apa yang Fin lakukan.
"Duh... sultan mau makan saja ribet ya," celetuk Mila yang mendapat anggukan dari Rina.
"Masih mau nikah sama sultan?" tanya Nisa pada Rina.
"Mikir lagi deh. Aku masih suka jajan sembarangan. Seblak, cilok, gorengan, duh gak tau saja mereka gimana enaknya makanan kaya gitu," jawab Rina sambil meringis.
"Daddy, stop!" ucap Karina sedikit membentak suaminya, Matanya sudah mengkristal.
Fin diam. Dia tau kalau istrinya saat ini tengah marah. Dia mengangkat telepon genggam setelah membatalkan panggilannya. Dia simpan kembali telepon genggam itu di atas meja.
"Kenapa Daddy berlebihan seperti ini? Apa Daddy lupa, kalau ini bukan kehamilan pertama Mommy?"
Ketiga sahabat Karina melebarkan matanya, saat mendengar fakta yang baru mereka ketahui.
"Bukan kehamilan pertama?" tanya Mila refleks.
Karina menatap ketiga sahabatnya.
"Ya, ini merupakan kehamilan keduaku. Yang pertama, adalah hamil, Devin," jawab Karina.
"Jadi. Devin anak..." Mila menutup mulutnya tidak percaya. Selama ini, yang dia tau kalau Devin adalah anak dari Fin.
"Ya. Dia anakku," jawab Karina.
"Dan dia, darah daging ku!" jawab Fin penuh penegasan.
Ketiga sahabat Karina semakin bingung dengan jawaban dari keduanya.
Sementara itu, Karina menatap Fin dengan tatapan heran mendengar jawaban dari Fin.
__ADS_1
"Barusan Daddy bilang apa?"