Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Kita membutuhkan banyak tenaga!


__ADS_3

Fin sudah keluar dari dalam mobil mewahnya, dia mengitari setengah dari bagian mobilnya dan membukakan pintu untuk Karina keluar dari dalam sana, Karina tidak merespon dia masih mematung di atas kursi penumpangnya.


Fin yang penasaran mencondongkan tubuhnya untuk melihat apa yang sedang istrinya lakukan di dalam mobil, secara tidak sadar Fin tersenyum melihat Karina yang tengah bengong sambil menatap hotel bintang lima yang ada di hadapannya


"Ayo kamar kita sudah siap" bisik Fin tepat di telinga Karina dengan refleks Karina memiringkan kepalanya menghadap suaminya, Fin yang masih berada pada posisinya menyebabkan bibir mereka menempel satu sama lain.


Fin memanfaatkan momen tersebut untuk mencium sekilas bibir candu istrinya.


"Pak" pekik Karina sedikit mendorong tubuh kekar suaminya.


Fin tergelak sambil membangkitkan kembali tubuhnya dan berdiri menyandar pada body mobil menunggu istrinya keluar.


Entahlah akhir-akhir ini Fin sangat mudah untuk tertawa lepas bahkan hanya dengan melihat wajah memberenggut istrinya pun sudut bibir Fin langsung melengkungkan sebuah senyuman seperti saat ini.


Karina keluar dari dalam mobil dengan wajah sedikit ditekuk, dia masuk begitu saja ke dalam hotel tanpa mempedulikan Fin yang tengah menunggunya.


Fin menyerahkan kunci mobil miliknya kepada petugas valet, kemudian masuk ke dalam menyusul istrinya yang tengah memberenggut kesal.


Setelah sampai di depan meja resepsionis, Karina bingung sendiri kemana tujuan Fin sebenarnya, Karina celingak-celinguk mencari keberadaan Fin.


Resepsionis yang melihat kebingungan Karina langsung menghampirinya dan menanyakan tujuan Karina.


"Maaf Ibu ada yang bisa saya bantu?" tanyanya pada Karina, Karina masih membisu, dia bingung harus menjawab apa karena Karina sendiri tidak tahu ke mana dia akan dibawa oleh Fin, benar-benar ke dalam kamar hotel atau Fin mengajaknya ke hotel hanya untuk makan siang saja, Karina pun tidak mengetahuinya.


Saat Karina tengah kebingungan tiba-tiba seseorang muncul dari belakang.

__ADS_1


"Tempat biasa" ucap Fin tiba-tiba muncul dari belakang sambil melangkah menghampiri istrinya dililitkannya tangan Fin pada pinggang ramping istrinya secara posesif.


Petugas resepsionis tersebut mengangguk paham kemudian berlalu menuju tempatnya dan menyerahkan kartu kamar yang biasa Fin pakai.


"Ini Pak" ucapnya dengan ramah.


Karina memicingkan matanya otaknya tengah berpikir keras saat ini sehingga saat tangan Fin merangkul pinggangnya pun Karina tidak menolaknya sama sekali.


"Jadi dia sudah biasa main ke sini? seberapa sering dia bermain dengan wanita-wanitanya sampai si resepsionis sudah hafal betul walaupun hanya dengan sebuah kode?" tanya Karina dalam hati.


Setelahnya Karina bingung sendiri dengan apa yang dipikirkannya.


"Jangan bilang kalau kamu cemburu Karina" hardiknya dalam hati.


"Sepertinya kamu hanya merasa terlalu cepat saja dia menerima pernikahan yang bahkan terkesan mendadak tersebut, ya sepertinya begitu tidak mungkin kalau aku cemburu" lanjutnya kembali.


Sesampainya di lantai atas tempat kamar yang sudah Fin booking berada, dia membuka pintu tersebut dengan menggunakan kartu yang dia bawa.


Ruangan yang Fin booking bertipe Presidential Suite yang biaya per malamnya bahkan mencapai seratus lima puluh juta, Karina disuguhi dengan kemewaan ruangan tersebut. Tipe Presidential Suite dengan luas tiga ratus sembilan puluh persegi ini pun dilengkapi kamar yang luas dengan ruang-ruang penunjang lainnya termasuk kamar mandi mewah yang dilengkapi jacuzzy yang menghadap langsung pada pemandangan indah ibu kota.


Saat ini Karina tengah berdiri dengan tangan dia lipat di atas dada, di samping kaca lebar yang menghadap keramaian kota, dari luar Karina terlihat biasa saja namun sebenarnya keadaan jantung Karina saat ini tengah berpesta, otaknya terus berpikir keras dengan apa yang akan suaminya lakukan pada Karina siang ini.


Karina terperanjat kaget saat tiba-tiba Fin memeluknya dari belakang, Fin menyingkirkan helaian rambut yang tergerai menutupi leher jenjang Karina, leher Karina merupakan bagian favorit Fin, mengendus wangi tubuh istrinya adalah kegiatan favorit Fin akhir-akhir ini.


Wangi tubuh Karina masih sama dengan wangi Karina yang Fin temui tiga tahun yang lalu, adakalanya Fin lupa kalau Karina nya yang dulu bukanlah Karina nya hari ini.

__ADS_1


Karina menutupi tato yang ada di bagian belakang lehernya menggunakan tangan, dia takut Fin berpikir negatif tentang Karina yang memakai tato pada kenyataannya Karina saja lupa sejak kapan dia memasang tato di bagian belakang lehernya.


Fin menyingkirkan tangan Karina dari atas lehernya dan menggantinya dengan sebuah ciuman lembut yang menggairahkan.


Bulu-bulu halus yang ada di tangan Karina seketika berdiri, tangan Karina memegang lengan berotot Fin yang tengah memeluknya erat.


Karina memiringkan kepalanya seiring dengan bertambahnya frekuensi Fin dalam menciumi lehernya, Fin yang seperti diberi akses oleh Karina semakin menaikkan temponya.


Tangan Fin mulai menelusup masuk ke dalam kemeja kerja Karina untuk mencari kelembutan di dalam sana. Hingga akhirnya sebuah ******* lolos dari mulut Karina, Fin semakin terpancing untuk melakukannya lebih.


"Daddy sshh..." desahnya kembali saat tangan Fin tengah mengelus lembut perut rata istrinya.


Fin membalikkan Karina untuk menghadap padanya wajah Karina memerah dengan peluh di sekitar keningnya.


Fin meraih kembali dagu Karina kemudian melabuhkan sebuah ciuman di atas bibirnya.


"Ayo makan" ajaknya pada Karina sambil mengelus pipi yang memerah itu, Karina mengangguk pelan. Ada sedikit kecewa di hati karena Fin menghentikan aksinya namun seperti biasa Karina selalu merutuki pikiran kotornya, Karina kemudian mengikuti Fin menuju ruang makan.


Di ruang makan sudah tersedia beberapa menu mewah yang dimasak langsung oleh koki terkenal, mata Karina seketika berbinar, dia sudah benar-benar lapar saat tadi hanya sarapan dengan banana pancake yang sama dengan anaknya.


Karina dan Fin mulai menyantap makan siangnya, Karina makan dengan lahap karena pada dasarnya dia tidak pemilih soal makanan, Fin tersenyum sambil menatap Karina yang tengah makan.


"Makan yang banyak" Karina mengangguk pelan sambil tersenyum ke arah Fin.


"Kita membutuhkan banyak tenaga untuk memberi Devin adik" lanjut Fin dengan smirk di wajah tampannya.

__ADS_1


"Uhuk... Uhuk..." Karina tersedak makanannya, saat mendengar apa yang Fin ucapkan.


__ADS_2