Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Sudah pulih!


__ADS_3

Hari ini merupakan hari ke empat Karina koma. Dia sudah dipindahkan dari rumah sakit umum ke rumah sakit Medistra yang fasilitasnya jauh lebih lengkap dan lebih canggih.


Alat-alat masih terpasang pada tubuh Karina. Kondisi dari bayinya sendiri terus di pantau oleh Dokter Sinta, Dokter kandungan yang menangani Karina selama beberapa bulan terakhir ini.


Seperti biasa setiap sore giliran Kiara yang menjaga Karina. Walaupun kondisi Karina masih koma keluarga tidak meninggalkannya. Mereka tetap setia menjaga Karina secara bergantian setiap harinya.


Sore ini, Kiara tidak sendiri. Dia mengajak serta Devin untuk menjenguk sang Mommy.


"Aunty, Mommy masih bobo?" tanya Devin pada aunty nya. Pasalnya, tiap Devin berkunjung Karina selalu dengan kondisi yang sama.


"Ya, Mommy bobo. Mommy Kakak Devin sedang istirahat sebentar. Nanti kalau istirahatnya sudah cukup, Mommy bangun lagi,"


"Kenapa banyak kabel di tubuh Mommy?" tanya Devin penasaran.


"Duh..." celetuk Kiara refleks saat mendengar pertanyaan dari keponakannya tersebut.


'Ya ampun ... anak tiga tahun sudah tau kabel? Otak dia sudah kaya otak Bapaknya! gerutu Kiara dalam hati.


Kiara berpikir sejenak.


"Kakak pernah lihat Mommy charger handphone?" tanya Kiara. Devin mengangguk.


"Handphone harus di charge biar energinya penuh dan bisa di pakai kembali. Begitu juga dengan Mommy. Mommy sekarang sedang di charge biar energi Mommy penuh dan bisa bermain lagi sama Kakak Devin," jelas Kiara alakadarnya.


'Duh, jawaban aku kelihatan bloon nya gak sih?' batin Kiara bertanya pada dirinya sendiri. Walaupun terlihat bingung dengan jawaban sang aunty namun Devin tetap menganggukkan kepalanya.


"Ckk... ckk... ckk..." decak Renal yang datang tiba-tiba sambil mendorong kursi roda yang di naiki Eca untuk mendekat. Renal tersenyum miring mentertawakan jawaban Kiara. Eca tersenyum untuk menyapa Devin dan Kiara.


Kiara mendelik tajam kesal dengan Renal.


"Eca bagaimana kondisi kamu sekarang?" tanya Kiara ramah sangat berbeda dengan yang di lakukannya pada Renal.


"Sudah jauh lebih baik, Kak. Bagaimana kondisi Kak Karina?" tanya Eca sambil menatap Karina yang masih memejamkan matanya.


"Seperti yang kita semua lihat. Dia tidur dengan nyenyak," jawab Kiara.


"Bagaimana dengan kandungannya?" tanyanya kembali.


"Di luar prediksi Dokter sebelumnya. Kandungannya sangat sehat. Gerakan bayinya pun sudah mulai aktif kembali" jawab Kiara.


"Syukurlah. Setidaknya masih ada salah satu dari kita yang terselamatkan," ucapnya sambil tersenyum getir.


"Turut berduka cita," tulus Kiara sambil mengusap punggung tangan Eca.


Eca tersenyum.


"Terima kasih, Kak," ucapnya.

__ADS_1


Saat Kiara dan Eca tengah fokus berbincang, tiba-tiba Devin menghampiri Eca dan langsung memeluknya. Eca melebarkan matanya terkejut. Begitu juga dengan Renal dan Kiara. Keduanya saling pandang satu sama lain.


"Aunty, telima kasih sudah tolong aku." tulusnya. Setelah berkata demikian, Devin mencium pipi Eca.


"Oh, ya ampun baby..." Eca tidak dapat berkata-kata lagi. Dia langsung membawa Devin masuk ke dalam pelukannya.


Melihat Devin membuat Eca ingat dengan janinnya yang tidak terselamatkan. Eca sendiri tidak tahu kalau dia tengah mengandung.


Tetapi, kalau pun waktu memintanya untuk kembali, Eca akan tetap menyelamatkan Devin walaupun dengan resiko kehilangan bayinya. Dia tidak mungkin membiarkan nyawa seorang anak kecil lenyap begitu saja di depan matanya tanpa Eca berbuat apa-apa.


"Aunty minta maaf hanya bisa menyelamatkan Devin. Sementara Mommy Karina..." ucapnya sedih. Dia tidak kuasa melanjutkannya.


"Yank" Renal mengusap kepala Eca.


"Ini sudah takdir. Jangan menyalahkan diri sendiri. Kalau harus mencari orang yang patut di salahkan dari kecelakaan ini orang itu aku. Andai saja waktu itu langsung mengantar mereka pulang kejadian ini tidak akan terjadi," ingatan Renal menerawang saat dia pulang dari pengadilan.


"Kalian jangan saling menyalahkan satu sama lain. Yang paling bersalah dari kejadian ini sudah jelas Eliz. Ibu tiri dari Kak Karina. Kakek sedang memberinya pelajaran sebelum di serahkan kepada petugas yang berwenang," jelas Kiara yang di angguki oleh Renal dan Eca.


Pelaku yang menabrak Karina dan Devin adalah orang suruhan dari Eliz. Kurang dari dua puluh empat jam, Kakek Bram di bantu Tuan Alexander, Ayah dari Eca berhasil menangkap pelaku tabrak lari tersebut. Setelah di interogasi ternyata dia di suruh Eliz untuk melenyapkan nyawa Karina dan Devin.


Penyebab dari tindakan tersebut karena Eliz menemukan surat wasiat yang Agam, ayah dari Karina tulis. Isi dari surat wasiat tersebut menyatakan kalau seluruh harta dan perusahaan dari Agam akan jatuh ke tangan Karina dan Devin sang cucu.


Dengan dalih menguasai harta, Eliz berniat melenyapkan keduanya agar seluruh harta dari Agam jatuh kepadanya.


"Eca, bisa tolong jaga Devin sebentar? Ada yang harus aku diskusikan dengan Kak Renal,"


"Yuk," Kiara langsung mendorong kursi roda Eca dan berhenti tepat di samping ranjang Karina di ikuti oleh Devin.


Sementara itu, Kiara dan Renal berjalan sedikit menjauh dari Devin.


"Kenapa?" tanya Renal penasaran.


"Apa Abang masih belum di temukan?" tanya Kiara.


"Belum. Padahal anak buah papi Alexander sudah di sebar untuk mencari si Fin," jawab Renal.


"Ke Australia sudah? Siapa tau Abang kembali ke tempat saat dulu dia dan Kak Karina bertemu," tanya Kiara kembali.


"Sudah Kiara... tapi nihil. Dia tidak ada di sana. Kalau saja dia pulang, aku hajar habis-habisan tuh anak!!" marah Renal.


"Bagaimana dengan si Queen?" tanya Kiara penasaran.


"Karirnya hancur. Kakek menciptakan skandal untuk menghancurkannya. Tau sendiri kan, kalau Kakek Bram sudah bertindak!" jawab Renal.


"Salah sendiri. Kegatelan sih!" Kiara tersenyum puas.


"Rasanya apa yang dia dapat sekarang pun tidak sebanding dengan penderitaan yang di alami Kak Karina dan Devin" lanjutnya murung. Mata Kiara menatap ke arah di mana Karina terbaring dan Devin tengah menggenggam tangan Mommy nya seolah takut kehilangan sang Mommy.

__ADS_1


"Anak sekecil Devin harus melewati begitu banyak cobaan dalam hidupnya. Penolakan dari Kakeknya, perceraian orang tuanya, sekarang dia harus menghadapi dunia sendirian. Mommy nya koma, Daddy-nya entah kemana," Kiara terisak. Saat mengingat Devin, dadanya sesak. Dia tau bagaimana sakitnya hidup tanpa orang tua. Kiara di tinggalkan kedua orang tuanya saat dia sudah sangat mengerti arti dari sebuah keluarga.


"Aunty Eca, Mommy bangun?" tanya Devin tiba-tiba.


Kiara yang tengah berbicara dengan Renal mengalihkan perhatiannya pada Devin. Dia masih mematung tanpa merespon apa yang Devin katakan.


"Mommy masih bobo," jawab Eca sambil menunjuk Karina yang masih memejamkan matanya.


"Tangan Mommy gelak-gelak tuh!" tunjuknya sambil mengangkat tangan nya yang tengah di genggam oleh Karina.


"Mommy genggam tangan aku," ucapnya lagi.


Kiara dan Renal langsung pergi menghampiri Devin. Sementara Eca melebarkan matanya melihat Karina menggenggam tangan Devin dengan erat.


"Kak Renal, Kak Kiara..." panggil Eca kencang.


Kiara langsung mengamati tangan Devin. Dan benar saja tangan Karina mulai bergerak.


"Kak, panggil Dokter!" perintah Kiara.


"Pencet bel, Kiara!! Gak usah lari panggil Dokter!" ucap Renal sambil memencet tombol untuk memanggil Dokter ke ruangan.


"Energi mommy sudah penuh, ya?" tanya Devin dengan polosnya.


"Asik, Mommy bangun..." Devin terlihat bahagia saat tau sang Mommy akan bangun.


Kiara mengusap kedua sudut matanya yang berair. Dia segera mengeluarkan telepon genggam untuk memberitahu Kakek tentang kabar baik ini.


"De... Devin..." lirih Karina yang mulai pelan-pelan membuka matanya. Mata Karina berputar seolah tengah mencari seseorang.


"D... Daddy..." bisik Karina dengan lirih.


"A... abang a... ada meeting di luar kota," gugup Kiara. Dia terpaksa berbohong.


"D... Daddy m... mmaaaf," ucapnya dengan lemah. Air matanya mengalir begitu saja.


"Maaf untuk apa, Kak? Abang yang salah," jawab Kiara.


"Kakak jangan banyak bicara dulu. Dokter sebentar lagi ke sini,"


"A... ak... aku i... ingat se... segalanya, m... maaf. " ungkapnya, membuat semua yang ada di sana melebarkan matanya.


"Apa Kakak bilang??!!" pekik Kiara kencang.


"D... Daddy... A... Ayah kandung D... Devin..." lirih Karina terbata sambil memejamkan matanya. Air matanya terus mengalir tanpa bisa Karina tahan.


Ya, ingatan Karina sudah pulih dengan sempurna. Saat koma empat hari tersebut semua ingatan dari tiga tahun lalu muncul begitu saja dalam otaknya. Semua yang Karina lakukan dari tiga tahun lalu sampai hari perceraiannya semua di putar kembali dalam memorinya, seperti sebuah film.

__ADS_1


__ADS_2