Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Tapi...


__ADS_3

Tubuh tegap tersebut masih memeluk tubuh rapuh Karina.


"Maaf selama tiga tahun ini aku tidak bisa melindungi kamu dan anak kita, terima kasih sudah bertahan di tengah hujatan dan cacian yang kamu dapatkan dari orang-orang" ucap Fin dalam hati.


Ya laki-laki yang menjadi penyelamat Karina hari ini adalah Fin, laki-laki yang bahkan lamaran dadakannya Karina tolak, awalnya Karina pikir Fin akan ikut menghujatnya atau bahkan tertawa puas dengan apa yang Karina alami saat ini.


Mungkin Fin akan berpikir Karina sedang menerima karma atas penolakannya semalam pikir Karina, namun Fin justru memeluknya, merangkulnya seolah-olah dia berkata semua akan baik-baik saja, entahlah pelukan tersebut begitu menenangkan seperti pelukan seseorang yang Karina rindukan, namun entah siapa Karina pun tidak mengerti.


Dia bawa tubuh rapuh itu ke dalam gendongannya, orang-orang di dalam restoran saling melempar pandang dengan seribu tanya di benak mereka, bagaimana seorang Fin Grahatama yang terkenal anti dengan perempuan sekarang justru menggendong perempuan yang bahkan memiliki seorang anak haram.


Karina menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Fin yang terasa padat saat pipinya menempel di sana, ada gelenyar aneh yang menyelusup masuk ke dalam relung hati Karina. Karina mencoba meraih kawarasannya kembali.


"Sadar Karina, dia bos kamu di kantor" rutuk Karina dalam hati.


Fin terus berjalan melewati orang-orang yang terus menatapnya heran, Fin juga tidak menghiraukan Agam dan Eliz yang terus memanggilnya, Fin hanya lurus berjalan untuk keluar dari restoran tersebut.


Karina menepuk dada Fin pelan.


"Pak sekarang Bapak bisa menurunkan saya" bisik Karina pada Fin.


Fin hanya menatap Karina tajam tanpa menghiraukan permintaan Karina, terus berjalan sambil menggendong tubuh ramping Karina.


"Pak" panggil Karina kembali sambil menepuk dada Fin dua kali berharap Fin mendengar panggilannya.


"Ckk..." decak Fin kesal. Dia langsung menurunkan Karina dari gendongan nya sambil melihat apa yang akan Karina lakukan.


"Aw... aw..." pekik Karina saat kakinya menyentuh lantai, Karina refleks memegang lengan berotot Fin.

__ADS_1


"Ckk..." Fin berdecak kembali.


"Masih mau jalan kaki?" tanya Fin sedikit menyindir sambil menampilkan senyum sinisnya, Karina menunduk sambil menggelengkan kepalanya pelan.


Apa yang dilakukan Karina benar-benar membuat Fin gemas, ingin sekali Fin menjewer hidung mungil Karina namun Fin harus bisa menahan egonya.


Fin membawa kembali tubuh ramping Karina ke dalam gendongannya, sesaat kemudian pegawai valet datang membawa mobil mewah Fin.


Fin memasukkan Karina ke dalam mobil setelah sabuk pengaman Karina terpasang, Fin berjalan mengelilingi mobilnya untuk duduk di bagian pengemudi, setelah semuanya siap, Fin mengemudikan mobil itu menjauh dari arah kantor Grahatama Group yang memang dekat dengan restoran tempat Karina tadi, tempat Fin membuat janji temu dengan Agam yang ternyata Ayah dari Karina.


Karina menatap heran Fin yang membawanya menjauh dari perusahaan.


"Kit..." ucap Karina terpotong saat dilihatnya Fin sedang berbicara dengan seseorang melalui saluran telepon miliknya.


"Siapkan ruang perawatan di RS Medistra sekarang juga" perintahnya pada seseorang.


"Dua puluh lima menit lagi kami sampai di sana, siapkan juga spesialis ortopedi terbaik" perintahnya.


Setelah mengakhiri panggilan telepon Fin kembali fokus pada jalanan, ketampanannya bertambah 100% saat tengah fokus seperti itu, wajah Karina merona saat memikirkan apa yang Fin lakukan untuknya.


Dia menyembunyikan rona di wajahnya dengan memalingkan wajahnya melihat ke arah luar jendela, Karina tidak ingin dicap sebagai wanita gampangan, cukup mantannya saja yang memanfaatkan kebaikan Karina.


Karina fokus kembali ke depan saat dirasa wajahnya sudah kembali normal.


"Terima kasih" ucap Karina tulus.


"Hanya itu saja?" tanya Fin pada Karina, Karina mengerutkan kening nya.

__ADS_1


"Maksudnya?" tanya Karina bingung.


"Cck" Fin berdecak untuk kesekian kalinya.


"Aku tidak butuh terima kasih kamu, untuk sekarang yang aku butuhkan hanya seorang istri" jawab Fin to the point.


Karina melongo dengan mulut sedikit terbuka Karina mengira kalau Fin akan menyerah memintanya menikah saat tau status Karina yang sudah mempunyai seorang putra, namun dugaan Karina salah, Fin masih tetap memaksa Karina untuk menikah dengannya.


"Saya tahu kamu membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk mengobati bibi mu" ucap Fin sambil matanya tetap fokus pada jalanan.


"Kenapa kamu tidak mengambil kesempatan ini?" tawar Fin pada Karina.


Karina terpekur, tidak bisa dipungkiri kalau Karina memang sedang membutuhkan biaya yang tidak sedikit, dia sudah tidak memiliki jalan keluar lain setelah mendapatkan tindakan kasar dari Ayah dan Ibu tirinya.


Bahkan sangat mustahil untuk Karina meminta biaya operasi bibinya setelah dengan terang-terangan Fin membatalkan kesepakatan kerjanya dengan Agam sang ayah, pasti Ayah dan Ibu tirinya akan menuduh Karina sebagai tersangka utama di balik dibatalkannya kesepakatan tersebut.


Karina menggigit bibir bagian bawah miliknya, kebiasaan Karina dari dulu, saat dia sedang gelisah Karina selalu melakukan hal tersebut, Fin menjadi gemas sendiri saat melihatnya.


"Khem" dehem Fin saat pikiran kotor mulai merasuki otaknya, cepat-cepat Fin mengalihkan perhatiannya. Fin mengumpat dalam hati karena pikirannya sendiri.


Karina masih tidak sadar apa yang dilakukannya berpengaruh besar terhadap Fin, Karina masih terus menggigit bibir bagian bawah miliknya, Karina menghentikan kebiasaan nya tersebut saat dia menemukan solusi dari kegelisahan nya.


Karina menyerongkan tubuhnya menghadap Fin yang sedang mengemudi.


"Pak saya menerima permintaan Bapak untuk menikah" ucap Karina membuat Fin bersorak dalam hati.


Kemudian Karina melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


"Tapi..." ucapnya terjeda.


__ADS_2