Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Kamu mau kemana membawa koper besar?


__ADS_3

Yang mengetahui status Karina sebagai Nyonya Grahatama sekarang bertambah. Selain ketiga sahabatnya, Robert pun kini mengetahui status yang selama ini Karina tutup-tutupi. Untungnya keadaan kantor tengah sepi sehingga hanya Robert lah yang terkejut mengetahui fakta yang Fin ungkapkan sendiri.


Saat ini, Karina tengah berada di ruangan suaminya, setelah tadi puas berkeliling untuk melepas rindu nya pada perusahaan yang pernah menampungnya selama tiga bulan ke belakang itu.


Saat tengah berkeliling, tidak sedikit Karina mendengar suara sumbang yang tengah membicarakannya. Dia berjalan melewati sekumpulan karyawan yang akan naik menuju lantai atas. Mereka secara terang-terangan menuduh Karina sebagai simpanan orang kaya.


Karina hanya pura-pura tidak mendengar apa yang mereka ucapkan. Karina menyumpal telinganya dengan earphone dan memutar musik dengan sangat kencang.


Saat masuk ke dalam ruangan suaminya, Karina menjatuhkan tubuh lelahnya di atas sofa. Dia mulai mempertimbangkan untuk mengekspos hubungannya dengan Fin, untuk membungkam mulut-mulut jahat para karyawan yang bekerja di perusahaan milik suaminya.


Karina tersenyum geli membayangkan bagaimana ekspresi orang-orang kantor saat tau kalau Nyonya Grahatama itu adalah dia, Karina Grahatama.


Jarinya terangkat ke atas menunjuk sesuatu di udara.


"Kamu... kamu dan kamu, mulai hari ini kalian saya pecat!" bentaknya.


"Sebenarnya, hanya dengan memecat kalian, tidak akan cukup untuk mengobati sakit hati saya!" lanjut Karina, berdialog seorang diri.


Dia membayangkan tengah menunjuk orang-orang yang menghinanya, kemudian memecatnya dengan tidak hormat.


"God! Ternyata kamu sejahat itu, Karina!" Karina mengembalikan lagi kewarasannya. Dia tidak ingin menjadi orang jahat. Cukup Tuhan saja yang membalas setiap sakit hatinya.


Karina bangkit, kemudian berjalan untuk melihat isi dari ruangan mewah tempat sehari-hari suaminya bekerja. Jari-jari lentiknya menyentuh setiap perabot yang ada di ruangan itu.


Tidak ada foto terpajang di atas dinding ruangan bernuansa abu krem tersebut. Hanya ada barisan piagam penghargaan dengan nama sang suami yang terukir di dalamnya.


Setelah puas berkeliling selanjutnya Karina berjalan menuju meja kerja suaminya. Di atas meja kerja itu, tampak sebuah pigura dengan foto Devin di dalamnya.


Karina tersenyum haru melihat ketulusan hati Fin yang mau menerima Devin sebagai anak sambungnya.


Fokus Karina teralihkan saat matanya menangkap sesuatu di atas meja dekat dengan foto sang anak. Sebuah benda kotak dengan pita di atasnya. Dengan ragu Karina ambil benda tersebut.


Karina kembali mengembangkan senyumnya saat dia memikirkan isi yang ada di dalamnya. Sebuah benda mungil yang mungkin akan suaminya sematkan di jari tangannya, pikir Karina.


Dengan hati-hati dia mulai membukanya.


"Daddy, Mommy ijin lihat isinya ya...." teriak Karina pada dirinya sendiri.


"Oh, oke! Itu memang buat Mommy, kok!" jawab Karina sendiri saat dia berpura-pura menjadi Fin, suaminya.


"Ayo kita lihat isinya. Mommy sudah minta ijin kan," ucapnya sambil perlahan-lahan, membuka box yang Karina yakini berisikan sebuah cincin itu.


Dan benar saja, saat box itu terbuka sempurna terdapat sebuah cincin cantik bertahtakan berlian di sekelilingnya dengan bentuk simpel namun elegan. Sangat pas dengan kepribadian Karina yang sederhana namun elegan.


Karina tersenyum cerah saat melihatnya.


"Ternyata suami ku benar-benar tahu tipe kesukaan ku" Ucap Karina.


Karina pikir, suaminya tidak pernah peduli dengan pernikahan mereka. Namun ternyata, suaminya ingin memberikan surprise dengan menyembunyikan cincin itu di dalam kantornya.


"Oke, Daddy, Mommy hanya perlu berpura-pura tidak tahu saja kan?" tanya Karina pada dirinya sendiri.


Karina tersenyum cerah sambil menutup kotak cincin itu. Karina berniat menyimpan kembali benda yang Karina yakini sebagai surprise untuknya itu, pada tempatnya semula.


Namun, saat akan meletakkan box cantik itu, selain cincin di atas meja itupun ternyata terdapat sepucuk surat berwarna merah muda dengan lambang hati di bagian amplop luarnya.


Karina mengerutkan keningnya. Dia tidak menyangka ternyata suaminya tidak sekaku yang dia bayangkan. Dia bisa romantis dengan caranya sendiri.


Karina tersipu memikirkan bagaimana sang suami akan memberikan cincin dan membacakan surat yang sudah dipersiapkannya itu?


Apakah akan menyewa restoran mewah dan romantis? Atau ... sambil berlayar di atas kapal pesiar? Tapi, kalaupun Fin memberikannya dengan cara menyerahkannya begitu saja, tanpa ada adegan romantis, Karina akan tetap menerimanya dengan senang hati. Karena seperti itulah suaminya. Dingin diluar namun hangat di dalam.

__ADS_1


"Daddy... apa boleh, suratnya Mommy baca?" tanya Karina. Seperti biasa, Karina berbicara pada dirinya sendiri.


Karina mulai membuka amplop berwarna merah muda itu untuk mengeluarkan lembar surat yang suaminya tulis sebagai ungkapan isi hatinya.


Karina mengangkat selembar surat itu ke udara, kemudian mendudukkan tubuhnya di atas kursi kerja suaminya. Karina menerawang sekilas tulisan tangan suaminya sebelum membaca isinya dengan seksama.


Saat membaca baris pertama surat yang ditulis suaminya itu, Karina melengkungkan sebuah senyuman.


"Dear, cintaku! Bertemu denganmu adalah anugerah terbesar disepanjang perjalanan hidupku," isi dari bagian atas surat yang Fin tulis.


Karina membawa surat yang baru dibaca seperempatnya itu ke depan dada, kemudian memeluknya.


"Dari mana Daddy belajar menggombal seperti ini, heh?" tanya Karina sambil tersenyum malu-malu.


Karina mengangkat kembali surat tersebut, kemudian mulai melanjutkan membaca bagian yang tersisa.


Namun, saat akan melanjutkan untuk membaca bagian tengah dan akhir dari surat yang Fin tulis, dia dikejutkan dengan suara ketukan dari arah luar pintu.


Karina bergegas merapikan kembali surat yang belum selesai dibacanya itu, kemudian meletakkannya kembali di tempat semula.


"Hampir saja!" ucap Karina sambil mengusap dadanya yang berdetak cepat karena terkejut. Dia takut, seseorang yang mengetuk pintu itu adalah suaminya.


Karina tidak mau di cap tidak sopan karena dengan berani sudah membuka barang milik suaminya tanpa seijin yang punyanya terlebih dahulu. Sebenarnya Karina sadar apa yang di lakukan nya itu salah. Tapi, mau bagaimana lagi memang dasarnya jiwa kepo Karina yang tidak bisa dibendung lagi.


Karina bergegas untuk membuka pintu. Karena tidak memungkinkan bagi Karina untuk berteriak, mempersilahkan seseorang dibalik pintu itu untuk masuk. Mau Karina berteriak sekencang-kencangnya pun, seseorang yang tengah berdiri di luar pintu tersebut, tidak akan mendengar apa yang Karina teriakkan dari dalam. Ruangan Fin merupakan ruangan kedap udara.


"Mba Ve, kenapa?" tanya Karina saat melihat seseorang dibalik pintu itu adalah Vera.


"Di suruh Bapak mengantarkan ini, Bu!" jawab Vera sambil mengangkat sepiring buah potong beserta bumbu rujaknya.


Mata Karina berbinar melihat rujak yang sudah sangat di inginkannya itu.


"Wah.... terima kasih Mba Ve. Rapatnya sudah selesai?" tanya Karina yang melihat asisten suaminya itu datang membawakannya rujak.


"Padahal saya mintanya pas pulang kerja loh, gak harus sekarang." jelas Karina sambil menerima rujak yang di buat oleh seorang koki restoran, tidak jauh dari kantor Grahatama Group.


Rujak tersebut pesanan khusus dari Fin yang tentu saja tidak ada dalam menu restoran. Fin membayar sepuluh juta demi sepiring rujak yang terjamin kebersihannya.


"Terima kasih ya," ucap Karina kembali.


Vera mengangguk sambil tersenyum.


"Kalau begitu, saya permisi, Bu," pamit Vera untuk kembali menuju ruang rapat.


Karina kembali masuk ke dalam ruangan suaminya. Dia simpan rujak buah kiriman suaminya itu di atas meja ruang tengah.


Karina bergegas mengambil telepon genggamnya, kemudian membuka aplikasi pesan singkat. Karina mengirimkan sebuah gambar, potret dirinya yang tengah memanyunkan bibir, seolah-olah sedang mencium Fin. Di bawahnya tertulis, ucapan terima kasih, serta rayuan nakal yang pastinya akan membuat Fin kehilangan fokus saat rapat berlangsung.


Telepon genggam milik Fin berdenting, menandakan ada sebuah pesan yang masuk ke dalam handphone miliknya. Fin tidak menghiraukannya, dia tengah serius mendengarkan presentasi anak buahnya.


Namun, dentingan itu tidak hanya sekali terdengar masuk. Terdengar kurang lebih lima pesan yang masuk ke dalam telepon genggamnya, membuat Fin mengalihkan perhatiannya. Dia menatap layar handphone yang tergeletak di atas meja, tepat di hadapannya.


Fin melengkungkan senyum tipis, sangat tipis dan nyaris tidak terlihat sama sekali, saat melihat nama sang istri terpampang pada telepon genggamnya.


Fin mengambil telepon genggam miliknya, kemudian membuka pesan yang istrinya kirimkan. Sekarang, bukan hanya senyum tipis yang dia tampilkan. Namun senyuman yang cukup lebar, membuat karyawan wanita yang hadir di sana, melupakan kehadiran pembicara yang tengah menyampaikan materinya.


"Makasih Daddy.." pesan Karina dengan sebuah foto imut sambil mengangkat jari dan membentuknya menjadi hati.


"Untuk bayaran rujaknya, nanti malam Mommy kasih double ya! Kalau biasanya tiga kali, nanti malam Mommy tambah dua kali lagi, asal Daddy kuat saja!" pesan kedua merupakan pesan nakal yang membuat Fin benar-benar kehilangan fokusnya.


Gambar yang Karina kirimkan adalah potret dirinya yang tengah menurunkan kerah bajunya, hingga menampakkan setengah bagian dari dua gunung kembarnya. Wajahnya di buat terlihat sensual, sambil menggigit bibir bagian bawahnya.

__ADS_1


Fin melonggarkan dasinya sambil membuka dua kancing teratasnya. Dia tidak sadar kalau saat ini berada ditengah-tengah rapat yang masih berlangsung.


Para karyawan wanita menutup mulut menahan teriakan histeris mereka. Sementara karyawan pria, menatap Fin dengan tatapan aneh yang mencurigakan. Ya, para karyawan pria curiga kalau bos mereka tengah menonton video tidak senonoh di saat rapat berlangsung.


Bisikan para karyawan membuat Renal yang awalnya fokus pada catatannya, mengalihkan perhatiannya untuk melihat apa yang terjadi.


"Fin!" panggil Renal, saat melihat apa yang sahabatnya lakukan.


Panggilan Renal, mengembalikan kewarasan Fin.


Fin yang menyadari situasi di ruangan rapat tidak kondusif karena ulahnya berusaha bersikap biasa saja. Dia melepas seluruh dasi yang awalnya hanya dia longgarkan kemudian menyimpannya di atas meja dengan elegan. Dia juga melepas jas, demi menunjang penampilan dadakannya itu.


Tangan kemejanya dia gulung sebatas sikut, dengan dua kancing teratasnya yang dia biarkan tetap terbuka. Penampilan baru Fin semakin membuat karyawan wanita histeris, karena kemeja yang di pakai Fin membuat bentuk tubuhnya tercetak memperlihatkan bentuk sixpack nya.


Fin kembali melanjutkan rapatnya, dengan fokus yang sudah terpecah gara-gara ulah istrinya. Fin juga memangkas waktu rapat, satu jam lebih cepat daripada waktu yang di agendakan.


Renal hanya menggeleng pelan, menyaksikan kelakuan sahabatnya.


Sementara Fin, bergegas pergi menuju lantai atas kantornya agar bisa secepatnya memberikan hukuman untuk istri nakalnya.


Begitu sampai di lantai atas, Fin masuk begitu saja ke dalam ruangannya. Dia mulai melepas empat kancingnya yang tersisa. Wajahnya memerah menahan hasrat. Sementara itu, 'milik Catra', di dalam celana sudah berontak meminta untuk di lepaskan.


"Mommy!" panggil Fin sedikit kencang.


Tidak ada jawaban dari istrinya.


"Mom," panggil Fin kembali, sambil matanya melihat setiap sudut ruangan mencari keberadaan istrinya.


Di atas sebuah sofa ruang tengah, tampak sesosok tubuh tengah meringkuk terlelap seperti seorang bayi.


Fin tersenyum hangat sambil berjalan mendekat dan duduk di bawah lantai di hadapan istrinya. Dia usap kepala istri nakalnya itu, kemudian melabuhkan beberapa kecupan pada dahinya.


Fin memindahkan Karina ke dalam gendongannya untuk dia bawa pulang. Dengan santainya, Fin menggendong Karina yang tengah terlelap melewati para karyawan yang baru saja keluar untuk pulang.


Dalam seketika, suasana menjadi riuh. Namun, Fin tidak menghiraukannya dan terus berjalan menuju mobil yang Pak Deni bawa itu terparkir.


"Jalan, Pak. Langsung pulang!" perintahnya. Karina masih di atas pangkuan Fin. Dia tidak terganggu sama sekali.


Setelah tiga puluh lima menit perjalanan, akhirnya Fin sampai di rumah mewahnya. Dia membawa istrinya itu turun dan menggendongnya kembali untuk di bawa masuk.


Karina yang ternyata sudah bangun saat di jalan tadi, tidak bisa menyembunyikan senyumnya saat dengan mudah membohongi suaminya.


Tangan yang melilit di atas leher Fin, mengerat. Selanjutnya Fin merasakan sebuah benda lembut menyentuh lehernya.


"Mom..." desah Fin yang terus membawa Karina masuk ke dalam rumahnya.


Fin merubah posisi Karina. Dia hadapkan tubuh istrinya itu agar menempel pada tubuhnya. Karina seperti bayi koala yang tengah menempel pada batang pohon.


Suara decapan menggema di ruang tamu rumahnya. Mereka tengah bercumbu, berbagi saliva satu sama lain.


"Mmmmppht..." desah Fin di tengah cumbuannya.


"A... abang..." panggil Queen yang ternyata ada di rumah Fin.


Queen mematung menyaksikan kegiatan intim suami istri itu.


Sementara Karina membulatkan matanya, terkejut dengan kehadiran Queen di rumahnya.


"Kak, Queen!" panggil Karina. Kedua tangan Karina masih melilit di atas leher, Fin.


"Kamu mau kemana membawa koper besar?" tanya Fin saat melihat sebuah koper besar, tersimpan di samping Queen.

__ADS_1


"Mmmm... itu, Bang. Aku tinggal di rumah Abang boleh?" tanya Queen membuat Karina yang mendengarnya melebarkan mata dengan rahang yang mengeras.


__ADS_2