
"Sakit?" tanyanya memastikan.
Kiara hanya mengangguk pelan. Sementara Bram, dia langsung pergi menemui sopir dan memintanya menyiapkan mobil. Sayangnya, keluarga Raiden tidak se kaya keluarga Grahatama. Mereka tidak memiliki helikopter di rumahnya.
Fin memperlebar langkahnya. Dia panik namun dia tutupi dengan berusaha bersikap biasa saja. Tanpa banyak bicara, Fin langsung memposisikan tubuh Karina kemudian menggendongnya. Namun, Karina menolak.
"Tidak perlu ke rumah sakit," tolak Karina.
"Apa maksud, Mommy?" tanya Fin tidak habis pikir dengan istrinya.
"Kenapa tidak mau ke rumah sakit?" tanyanya kembali.
"Ini gak apa-apa, Dad. Saat hamil Devin pun, Mommy sering seperti ini," Karina menjelaskan.
"Ini tidak normal Kakak..., Usia kehamilan Kakak masih sangat rawan," Kiara menambahkan.
"Ayo kita ke rumah sakit saja, biar Abang tenang. Apa Kakak tidak lihat wajah garang nya?" bisik Kiara.
"Gak usah, Kiara... Dokter nya di suruh ke sini saja," lanjut Karina keras kepala.
"Kiara, bisa tinggalkan kami berdua?" perintah Fin dengan suara dinginnya. Kiara yang takut melihat Kakaknya tanpa banyak bicara langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
Perasaan Karina sudah tidak enak. Dia melihat ada yang berbeda dari suaminya.
"Kenapa tidak mau ke rumah sakit?" tanyanya dingin. Wajah Fin datar tanpa ada sedikitpun ekspresi.
"Apa masih mempunyai niat untuk kabur malam nanti?" tanya Fin kembali membuat Karina melebarkan matanya.
"Da... Daddy..." Karina tidak menyangka kalau Fin akan mengetahui niat untuk kaburnya tersebut.
"Kenapa?" tanya Fin masih dengan nada datarnya.
"Dad,"
"Apa maksud dari semua ini, heh? Kenapa ingin membawa Devin pergi?" nada bicara Fin sudah naik satu oktaf.
"I... itu... " gagap Karina. Karina tidak bisa mengelak lagi. Dari mana Fin mengetahui rencananya? Pikir Karina.
"Apa yang salah selama ini? Apa yang kurang dari Daddy?" tanya Fin tanpa membiarkan Karina menjelaskannya.
"Apa sejak awal, kamu sudah merencanakan ini semua?" tanya Fin dengan rahangnya yang mengeras.
Degh...
__ADS_1
Dalam sesaat, Karina merasakan sakit di bagian dadanya, saat sang suami merubah nama panggilannya.
'Kamu? Dia bilang kamu?' tanya Karina dalam hatinya. Sakit yang Karina rasakan saat ini, bertambah beberapa kali lipat. Bukan hanya perut bagian bawahnya tapi juga hatinya.
Dalam seketika Karina tertawa di tengah tangisnya. Dia menarik nafasnya panjang sambil mengusap kedua sudut matanya.
"Apa pertanyaan yang Daddy tanyakan tidak terbalik?" tanya Karina dengan nada tenangnya yang dingin.
"Yang sejak awal memiliki niat lain siapa?" tanyanya. Nadanya masih tenang.
"Bukannya... niat awal Daddy menikah pun demi darah langka Mommy?" Karina tersenyum di tengah pertanyaannya.
Fin melebarkan matanya.
"Apa seburuk itu Daddy di mata Mommy? Apa yang Daddy lakukan selama ini, tidak ada artinya sama sekali untuk Mommy?" tanya Fin dengan nafasnya yang memburu. Dia kembali dengan sebutan awalnya, Mommy dan Daddy.
"Jadi, Mommy menganggap, selama ini Daddy hanya memanfaatkan Mommy, begitu? Wah..." Fin tidak dapat berkata apa-apa lagi.
"Terus apa maksud Daddy dengan bilang kalau Mommy sudah merencanakan segalanya sejak awal, hah??!" Karina berteriak. Kesabarannya sudah habis. Amarahnya pecah dengan tangis yang pecah juga.
Bram yang baru datang dari luar rumah di tahan oleh Kiara agar tidak ikut campur dan membiarkan keduanya menyelesaikan permasalahan mereka sendiri.
"Daddy tau apa yang Mommy rencanakan! Mommy berniat pergi dengan membawa Devin nanti malam!! Kenapa??? Apa salah Daddy?" bentak Fin tidak terkontrol. Emosinya ikut meledak.
"Mommy punya alasan untuk melakukan itu!!!" bentak Karina dengan emosi yang sama.
"Alasan? Alasan apa yang membuat Mommy ingin kabur dengan membawa kedua anak kita, hah??" tanya Fin kembali.
Kiara dan Bram masih mematung di tempatnya. Mereka tidak menyangka kalau masalahnya akan serumit sekarang. Mereka berjaga-jaga, andai saja Fin kelepasan dan melakukan kekerasan pada istrinya yang tengah hamil. Baik Kiara maupun Bram mengetahui bagaimana tempramennya seorang Fin Grahatama.
Karina menarik nafasnya. Dia mengumpulkan kekuatannya terlebih dahulu.
"Jadi, Daddy benar-benar ingin tahu alasannya? Yakin?" tanya Karina pada suaminya. Nada bicaranya sudah mulai tenang kembali.
"Apa alasannya sampai Mommy datang ke sini, tanpa ijin dari Daddy?" tanya Fin masih penasaran dengan alasan istrinya.
"Surat! Alasannya sebuah surat!!" jawab Karina singkat.
"Surat?" bingung Fin dengan wajahnya yang berkerut.
"Surat dan sebuah cincin! Apa perlu Mommy bacakan isinya?" tanya Karina sambil tersenyum sinis.
Degh...
__ADS_1
Fin terdiam. Dia mematung tidak dapat berkata apa-apa lagi.
"Perempuan dari tiga tahun lalu! Kalau sudah tau akhirnya... apa masih perlu Mommy tetap stay di sini seperti orang bodoh?" tanya Karina.
Fin bingung harus menjawab apa. Perempuan dari tiga tahun itu, kamu mommy!!!! ingin rasanya Fin berteriak seperti itu kepada istrinya. Namun, lagi-lagi pesan dari Dokter yang menangani Karina membuat Fin menahan diri untuk tetap diam sampai akhir.
"Ya, aku terlalu bodoh! Lagi-lagi kebodohan ku, mengahasilkan anak yang tidak berdosa! Apa dia harus menderita seperti yang di alami Devin dulu??!!" teriak Karina mulai meluapkan emosinya. Fin terkejut dengan sisi lain dari istrinya, saat dia tengah depresi.
"Malang sekali anak-anakku, lahir dari seorang ibu yang gampang di perdaya cinta," lirih Karina dengan tangis yang belum reda.
"Mommy!!" bentak Fin, tidak suka mendengar apa yang istrinya katakan.
"Jangan sekali-kali menyesali kehadiran mereka! Mereka anakku, darah daging ku" bentak Fin, berharap Karina mengerti apa yang Fin katakan.
"Heh," Karina tersenyum sinis.
"Ya, dia darah daging Daddy!" tunjuk Karina pada perut ratanya.
"Tapi Devin, dia bukan. Ahhh" teriak Karina di tengah perdebatannya. Perut Karina kembali kesakitan.
Tanpa basa-basi, Fin langsung membopong, membawa istrinya itu ke luar, menuju mobil yang sudah terparkir di halaman rumah. Fin akan membawa Karina menuju rumah sakit terdekat.
Setelah kurang lebih lima belas menit di perjalanan, akhirnya meraka sampai di rumah sakit yang di tuju. Selain Fin, tampak juga Bram dan Kiara yang mengikuti Fin dari belakang.
Setelah sampai di IGD, Karina langsung di bawa menuju ruang ginekologi untuk dilakukan pemeriksaan. Dia di tangani langsung oleh Dokter kandungan yang bertugas di sana.
Setelah pemeriksaan selesai, Karina langsung di pindahkan menuju ruang perawatan. Tampak Kiara berjalan di samping bed yang di dorong petugas medis. Tangannya menggenggam tangan Karina untuk menggantikan sang kakak yang saat ini masih berada di ruangan Dokter bersama Kakek Bram.
"Bagaimana keadaan istri dan anak saya Dok?" tanya Fin pada Dokter yang menangani Karina.
"Kondisi bayinya sendiri sangat kuat. Namun kondisi ibunya sangat rawan. Jangan memberikan beban pikiran yang berat untuknya. Saat ini Nyonya Grahatama tengah stress yang mengakibatkan terjadi kontraksi pada perutnya," jelas Dokter pada Fin.
"Pastikan, moodnya selalu dalam keadaan baik." tekan Dokter tersebut, seolah tau apa yang Karina alami saat ini.
Setelah selesai, Fin dan Kakek Bram keluar dari ruangan Dokter dan pergi menuju kantin rumah sakit untuk mengobrol. Sebelumnya Kiara memberi kabar, kalau Karina tertidur setelah di beri obat.
"Kamu terlalu gegabah," ucap Bram membuka obrolannya.
"Abang lupa menyimpan surat dan cincin itu ke dalam brangkas. Cincin dan surat itu, rencananya akan Abang berikan, saat ingatan Karina sudah kembali," jelas Fin lemas.
"Terus, bagaimana kalau sudah seperti ini, hem?" tanya Bram kembali sambil menyesap lemon tea nya.
"Nanti Abang pikirkan lagi. Untuk memberitahukan faktanya pun, rasanya gak mungkin. Apa Kakek dengar pesan Dokter tadi? Jangan memberinya beban pikiran! Terpaksa Abang tahan sampai Karina lahiran nanti,"
__ADS_1
Bram mengangguk setuju. Untuk saat ini, segalanya memang serba salah. Semoga saja Fin dapat memberikan alasan yang mudah di terima Karina, harap Bram.