Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Shock.


__ADS_3

Karina, Renal dan Eca saat ini tengah berada di dalam kereta yang akan mengantar mereka menuju tempat yang Karina yakini sebagai tempat persembunyian dari mantan suaminya.


Ini merupakan hari kedua mereka di Swiss. Saat tiba kemarin siang, Renal, Eca dan Karina beristirahat terlebih dahulu di hotel sebelum melanjutkan perjalanan mereka.


Karina dan Eca begitu antusias melihat pemandangan yang di lewati oleh kereta tersebut. Tujuan mereka yaitu Lauterbrunnen. Mereka membutuhkan waktu dua jam dari Zurich untuk sampai ke sana.


Saat tiba di kota tujuan tanpa menunggu lama Karina mengajak Renal dan Eca ke tempat dimana Fin mungkin tinggal.


Karina ingat dia pernah bercanda dengan mengatakan ingin tinggal di Lauterbrunnen bersama Fin selama sebulan penuh tanpa gangguan telepon yang memberitahukan Fin tentang pekerjaan. Saat itu, Fin hanya menanggapi Karina dengan jawaban.


"Unbelievable!" Maka dari itu, Karina yakin tidak yakin dengan instingnya saat ini. Dia bahkan mulai ragu saat melihat begitu luasnya desa yang dia kunjungi. Mulai dari mana dia harus mencari mantan suaminya itu? Pikir Karina.


Suasana yang indah membuat rasa lelah Karina hilang dalam sesaat. Matanya di manjakan dengan pemandangan indah yang tersaji di hadapannya.


Lauterbrunnen sendiri berada di lembah pegunungan Alpen Swiss dan dikelilingi oleh tujuh puluh dua air terjun.


"Kita akan mencarinya kemana?" tanya Renal pada Karina.


"Aku pernah bilang ingin tinggal di pondok kayu. Apa kita mulai mencari dari sana saja?" tanya Karina pada Renal.


"Hampir semua rumah di sini terbuat dari kayu Karinaaa" kesal Renal.


Karina tersenyum sambil memamerkan deretan gigi putihnya.

__ADS_1


"Ingat-ingat lagi, apa ada petunjuk lain?" tanya Renal kembali.


"Sungai. Ya! Sepertinya dulu pernah membahas tentang sungai. Apa di sekitar sini ada sungai?" tanya Karina pada Renal.


"Mana aku tau. Ini pertama kalinya aku kesini. Si Fin benar-benar ya! Lihat saja kalau dia ketemu!" kesal Renal.


Pada akhirnya mereka mulai bertanya pada warga lokal tempat di mana sungai berada. Setelah ketemu mereka mulai mengetuk satu persatu pintu rumah yang halamannya berhadapan langsung dengan sungai. Karina berharap salah satunya ada mantan suaminya.


Lebih dari lima rumah sudah mereka datangi. Namun, tidak ada Fin di sana. Renal mengajak Karina untuk mendatangi kelompok rumah lain. Namun, mereka harus berjalan kembali melewati hamparan lembah dan air terjun.


Rumah di sana tidak berjejer seperti di kota. Tapi berkelompok dengan jarak yang lumayan jauh dari kelompok satu ke kelompok lainnya. Satu kelompoknya tidak lebih dari sepuluh rumah. Maka saat suaminya tidak di temukan di kelompok pertama, Karina harus mencari kembali di kelompok dua dan seterusnya.


Karina menyerah karena kelelahan. Keadaannya yang sedang hamil membuat ruang geraknya menjadi terbatas. Selain itu efek dari kecelakaan yang belum lama di alaminya itupun membuat kaki Karina sering terasa pegal.


"Kak Karina, kaki Kakak bengkak," ucap Eca khawatir sambil menunjuk kaki Karina yang membengkak.


Karina tersenyum.


"Jangan khawatir, kaki bengkak pada ibu hamil merupakan hal yang biasa terjadi. Nanti juga akan sembuh dengan sendirinya," jawab Karina melihat kekhawatiran di mata Eca.


"Ya sudah, Kakak istirahat dulu. Aku buatkan teh hangat dulu," tawar Eca.


Karina mengangguk kemudian pergi mencari sofa. Sebelum berbaring, Karina tumpuk beberapa bantal kemudian kakinya dia letakkan di atas tumpukan bantal tersebut. Posisi tersebut dapat mengurangi pembengkakan pada kaki.

__ADS_1


Saat matanya akan terlelap tiba-tiba seseorang memencet bel rumah yang Karina sewa. Kening Karina berkerut bingung.


"Siapa? Apa ibu pemilik rumah ini?" tanyanya pada diri sendiri.


Dengan terpogoh-pogoh, Karina bangkit dari tidurnya untuk membuka pintu depan. Perut Karina yang sudah membesar kadang membuatnya susah untuk bergerak. Eca sendiri saat ini tengah mengantar teh ke taman belakang tempat Renal beristirahat.


"Siapa?" tanya Karina saat membuka pintu. Karina bertanya menggunakan bahasa Indonesia. Dia lupa kalau saat ini tengah berada di luar negeri.


Saat pintu terbuka, Karina hanya bisa mematung dengan mata yang mulai mengkristal. Dadanya sakit saat melihat orang di balik pintu tersebut.


"Siapa yang memencet bel?" tanya Renal yang datang bersama Eca dari arah belakang rumah.


"K... ka... kak Fin," gagap Karina.


Renal melebarkan matanya tidak percaya. Kedua tangan Renal mengepal dengan wajah yang memerah. Dia berjalan dengan langkah lebar, kemudian.


BUGH... Sebuah tinjuan yang cukup keras mendarat di wajah tampan Fin.


"Kak Renal!!" teriak Karina dan Eca berbarengan. Keduanya mencoba melerai namun kekuatan Renal cukup besar untuk seorang Karina dan Eca.


Renal meraih Coat yang Fin kenakan dan menyeret tubuh Fin untuk masuk ke dalam rumah. Fin tidak melawan. Dia masih mematung dengan wajah shock nya. Fin tidak percaya kalau yang dia lihat sebelumnya benar-benar Karina. Istrinya.


Ya, Fin belum tau kalau statusnya sudah berubah. Sekarang mereka tidak terikat lagi. Karina dan Fin tidak memiliki hubungan spesial lagi selain orang tua dari Devin dan bayi yang Karina kandung.

__ADS_1


__ADS_2