
Karina mengerutkan keningnya bingung.
"Siapa?" tanya Karina pada dirinya sendiri.
"Apa itu Vera?" tebak Karina, menyebutkan nama sekertaris pribadi, Fin. Karina berjalan meninggalkan ruang kerja suaminya, untuk masuk ke dalam kamarnya.
Namun, baru dua langkah Karina berjalan, terdengar sesuatu yang menarik perhatiannya untuk kembali berdiri di samping pintu yang sedikit terbuka itu.
Karina kembali dan menghentikan niatnya untuk kembali ke dalam kamar. Karina tau menguping merupakan sebuah ketidak sopanan, namun jika yang di bicarakan nya adalah kita sebagai objeknya, bukannya tidak apa-apa kalau kita sedikit mencari tahu arah pembicaraan orang yang sedang membicarakan kita? Begitulah kira-kira yang Karina pikirkan.
"Kamu bertugas menjaga istri saya di manapun dia berada. Ingat, jaga dia. Setiap tetes darah yang keluar dari tubuh istri saya, lebih berharga di bandingkan nyawa kamu sekalipun" ucap Fin dingin dan tidak berperasaan.
"Baik, Pak" ucap tegas seorang perempuan yang berada di dalam ruangan yang sama dengan Fin.
Jika orang lain yang mendengarnya, mungkin mereka akan sangat bahagia dan merasa sangat di perhatikan pasangannya dan di perlakukan seperti itu oleh pasangannya.
Namun, tidak dengan Karina! Dia merasa, segala bentuk perhatian Fin, hanya karena Fin menginginkan sesuatu darinya. Seperti saat ini, Karina artikan ancaman Fin pada bodyguard perempuan yang sedang berada di dalam ruang kerja suaminya tersebut adalah karena Fin tengah melindungi nyawa adiknya, bukan nyawa Karina. Karena, jika Karina terluka, otomatis nyawa Kiara pun terancam.
Sesempit itulah pemikiran Karina terhadap Fin saat ini. Jangan salahkan Karina karena memiliki pemikiran seperti itu. Bagaimana dia akan merasa di inginkan suaminya jika Fin, sang pemegang kuasa tertinggi di perusahaan sekaligus suami sah dari Karina, justru malah mengirimkan Karina ke tempat terpencil dengan waktu yang bisa di bilang lumayan lama. Bahkan Fin lebih dari tau, bagaimana tersiksanya Karina, saat dia tidak bisa bertemu dengan, anaknya, Sudahlah!
Memangnya siapa Karina? Pikirnya.
Karina berjalan gontai masuk ke dalam kamar pribadinya, meninggalkan Fin yang masih di dalam ruang kerjanya. Dia melucuti semua pakaiannya di dalam kamar tanpa peduli jika Fin akan masuk secara tiba-tiba. Dia sudah terlalu lelah dengan segala kabar mengejutkan yang dia terima hari ini. Dan semua keputusan yang Fin ambil, tanpa melibatkan Karina sebagai objeknya. Karina berjalan kesana kemari dengan tubuh polosnya. Dia mengambil ikat rambut yang ada di dalam laci nakes nya, kemudian memasukan baju kotornya ke dalam keranjang tempat cucian.
Dia beberapa kali menarik nafasnya kesal, setelah mengingat kembali tentang kepergian nya ke sebuah tempat yang jauh dari hiruk pikuk sebuah kota. Seumur-umur Karina belum pernah tinggal di tempat yang akan Karina datangi minggu depan. Dia tumbuh di lingkungan orang kaya, sebelum tiga tahun terakhir harus hidup pas-pasan bersama Bibinya.
Karina masuk ke dalam kamar mandi untuk berendam dan merilekskan kembali otot-ototnya yang tegang. Dia perlu menetralkan kembali segala pikiran negatifnya, sebelum bercengkrama dengan sang anak. Dia nyalakan lilin aroma terapi yang sudah tersedia di dalam kamar mandi mewahnya.
__ADS_1
Bathtub berbahan marmer tempatnya berendam Karina di penuhi dengan busa yang menutupi hampir seluruh tubuhnya, kecuali bagian wajahnya. Di kamar mandi tersebut, di penuhi dengan aroma strawberry, yang merupakan aroma dari buah favorit Karina.
Karina mengangkat tangan sebelah kanan miliknya. Dia pandangi jari-jari tangannya yang polos.
"Benar juga, siapa yang akan percaya kalau kamu sudah menikah, jika cincin saja tidak tersemat di sana?" lirih Karina sambil memandangi jari tangan nya yang polos. Dia memejamkan matanya sesaat sebelum akhirnya bangkit dari dalam bathtub, kemudian masuk ke dalam tempat shower untuk membilas tubuhnya.
Karina simpan kedua tangan nya di atas pinggang, kemudian dia pandangi seluruh tubuhnya pada sebuah kaca full body, yang menempel di ruang bilas. Tersebar beberapa kiss mark di sekitar dada, leher dan beberapa di bagian perut. Karina bergidik sendiri membayangkan betapa buas nya saat suaminya tengah menjamah tubuhnya.
Dia segera menyelesaikan ritual mandinya untuk selanjutnya pergi ke dapur dan menyiapkan makan malam untuk anak dan suaminya.
Tuk... tuk... tuk...
Suara sepatu terdengar bersahutan dan semakin terdengar jelas di telinga Karina yang saat ini tengah menyiapkan makan malam di dapur. Karina menoleh ke belakang. Di lihatnya sang suami yang masih dengan jas kerjanya, tengah berjalan mendekat bersama seorang perempuan tinggi dengan rambut sebahu yang mengekor di belakang Fin, Karina mengambil gelas kosong, kemudian mengisinya dengan air putih.
Fin berhenti tepat di hadapan Karina. Karina menjulurkan tangannya kemudian meraih dan mencium punggung tangan suaminya. Selanjutnya dia menyerahkan gelas berisi air putih yang tengah dia pegang.
Karina tersenyum lembut sambil menjulurkan tangannya.
"Hay, semoga betah, ya!" ucap Karina ramah.
Perempuan tersebut menyambut tangan majikannya yang terulur dengan tubuh tegapnya sedikit membungkuk hormat.
"Terimakasih, Bu. Saya Eca Ludwig, Ibu bisa memanggil saya, Eca." Dengan suara dingin, dia memperkenalkan identitas nya.
Wajahnya datar tanpa ekspresi. Mungkin tuntutan pekerjaannya yang mengharuskan dia membatasi ekspresi ataupun interaksinya. Entahlah, Karina sendiri tidak paham dengan dunia ke mafiaan.
"Oke, kamu boleh pergi!" ucap Fin dingin.
__ADS_1
Eca pergi meninggalkan suami istri tersebut, kemudian masuk kedalam kamarnya yang ada di lantai satu.
Fin berdiri dibelakang Karina.
"Mommy, kapan pulang?" tanya Fin sambil meraih rambut Karina kemudian memainkannya.
"Satu jam yang lalu," jawab Karina singkat, Karina melanjutkan aktivitas masak memasaknya dan tidak terpengaruh dengan apa yang suaminya lakukan dengan rambutnya.
"Selesai." ucap Fin sambil melepaskan tangannya dari rambut Karina. Karina menoleh ke samping tempat suaminya berdiri. Kemudian tangannya menyentuh rambut miliknya. Fin ternyata mengepang rambut Karina. Lihatlah, bagaimana seorang CEO dengan lihainya mengepang rambut seorang wanita? Pasti saking seringnya dia melakukan hal-hal tersebut pada mantan-mantan nya dulu! Gerutu Karina dalam hati.
Karina melemparkan sebuah senyuman pada suaminya.
"Daddy, mandi dulu! Sebentar lagi, makan malamnya siap!" perintah Karina pada suaminya.
"Oke," ucap Fin sambil mengacak puncak kepala istrinya. Karina memekik, karena rambutnya kembali berantakan.
"Daddy,..." Teriak Karina sambil merapikan rambut nya.
Fin tergelak, tangannya tengah membuka jas yang masih membalut tubuh seksinya. Fin melangkah pergi menjauh dari tempat perang istrinya saat pagi dan sore hari.
Setelah selesai memasak, Karina masuk ke dalam kamar untuk menyiapkan pakaian ganti suaminya. Walaupun Fin tidak meminta Karina untuk menyiapkan nya, namun Karina seperti memiliki kewajiban setelah dia menjadi istri dari seseorang.
Fin sendiri masih berada di dalam kamar mandi saat Karina masuk. Karina simpan pakaian yang sudah di siapkannya di atas tempat tidur. Saat Karina melangkah, untuk kembali ke lantai bawah, iPhone milik Fin yang tergeletak di atas nakes berbunyi menampilkan sebuah pesan masuk dari seorang perempuan jika dilihat dari nama pengirimnya.
Karina bukan sengaja melihat, namun secara kebetulan sudut matanya menangkap sebuah pesan masuk yang isinya cukup membuat Karina berpikir.
"Oh jadi ini alasan kamu mengirim aku ke desa terpencil?" ucap Karina lirih.
__ADS_1