Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Sarapan buatan Fin!


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Fin sudah sibuk di dapur dengan alat masaknya. Pagi ini, Fin berniat membuat sarapan sehat untuk istri dan calon buah hati keduanya.


Karina masih terlelap di lantai dua kamarnya. Queen sendiri sudah tidak terlihat di sana. Sepertinya, malam setelah Fin memintanya untuk pergi, Queen langsung pergi meninggalkan kediaman Fin. Fin tidak ingin tau lebih banyak lagi. Dia terlanjur kesal dengan sikap Queen yang tidak tau malu.


"Den, mau Bibi bantu?" tanya wanita paruh baya yang sudah bekerja di kediaman Grahatama sejak Fin masih duduk di sekolah dasar itu.


Fin menengok sekilas,l kemudian kembali fokus pada masakannya.


"Tidak perlu, Bi. Abang bisa sendiri," jawab Fin.


Bukan hal yang aneh bagi Bi Surti melihat sang Tuan memasak sendiri. Pasalnya, sejak di kediaman utama pun Fin lebih senang memasak makanannya sendiri dari pada dilayani oleh para maid yang bekerja di sana.


Selera Fin kadang berbeda dengan yang lain. Maka dari itu, Bi Surti merasa bingung saat melihat sang Tuan bisa makan apa saja yang istrinya sajikan. Begitulah mungkin kekuatan dari sebuah cinta.


Setelah apa yang dimasaknya siap, Fin simpan semuanya di atas sebuah tray mewah dan siap untuk dia sajikan kepada istri kesayangannya.


Dia ingat kalau sekarang, Karina tidak bisa meminum susunya. Jadi, sebagai gantinya, Fin membuatkan sebuah lemon tea hangat dan menambahkan sedikit daun mint ke dalamnya.


Fin pergi menuju lantai dua kamarnya. Di atas tempat tidur masih terlelap sosok istri cantiknya dengan tubuh yang tertutup selimut tebal yang Fin pakaikan sebelum dia turun ke dapur.


Fin meletakan sarapan untuk istrinya itu di atas sebuah meja yang menghadap langsung ke arah belakang rumah tempat danau berada. Fin juga membuka gorden yang masih tertutup agar cahaya matahari masuk ke dalam kamarnya.


Karina sama sekali tidak terusik. Dia masih terlelap. Fin mendekat dan duduk di samping istrinya. Fin labuhkan beberapa kecupan di atas kening, hidung, serta bibir istrinya. Namun, Karina terlalu mengantuk. Dia sama sekali tidak terbangun dengan apa yang suaminya lakukan.


Fin yang tidak tega untuk membangunkannya pada akhirnya membiarkan istrinya itu untuk tidur sepuasnya. Sementara itu, Fin pergi ke kamar mandi dan mulai membersihkan diri untuk selanjutnya berangkat ke kantor.

__ADS_1


############


Karina terbangun saat jam menunjukan pukul setengah delapan pagi.


"Oh God! kesiangan" keluhnya.


"Daddy pasti sudah berangkat," tebak Karina sambil mengusap wajahnya menggunakan tangan.


Karina menyingkirkan selimut yang tadi membalut tubuhnya.


"Pasti gara-gara selimut ini! Jadi kan tidurnya kebablasan!!" gerutu Karina mengkambing hitamkan selimutnya.


Karina menurunkan kakinya kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Namun, sebelum sampai di kamar mandi perhatian Karina teralihkan oleh semangkuk sup ayam dan lemon tea yang masih terlihat panas.


Karina berjalan menuju meja.


"Wangi..." ucapnya sambil mengendus aroma ayam yang menyeruak masuk ke dalam indera penciumannya.


Fokus Karina teralihkan kembali saat melihat selembar kertas di atas tray. Karina mengerutkan kening melihatnya. Dia bawa kertas itu dan membaca isinya.


"Daddy harus ke luar kota. Mommy habiskan sarapannya. Daddy buat itu dengan susah payah. Love you," wajah Karina merona saat membacanya. Dia simpan kertas yang berisi tulisan tangan suaminya itu ke dalam buku pribadinya.


Karina yang sadar belum menggosok giginya akhirnya memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Karina berdiri di depan cermin besar yang ada di dalam kamar mandi sambil memperhatikan baju yang di pakainya.


"Apa Daddy yang melakukannya semalam?" tanya Karina saat melihat bajunya sudah berganti menjadi gaun tidur.

__ADS_1


"Ckk... ckk... tetap ya, seleranya tidak jauh dari baju transparan," gerutu Karina.


Gaun tidur yang Karina pakai sebuah kemeja transparan putih yang sangat pendek. Bahkan di balik gaun tidurnya itu, Fin tidak memakaikannya apa-apa lagi.


"Apa saat Mommy tidur... Daddy memperkosa, Mommy?" tebak Karina ngasal.


"Gak mungkin! Masa iya Mommy gak ingat sama sekali," jawabnya pada pertanyaan yang dia lontarkan sendiri.


Karina mulai melucuti pakaian dan menggulung rambut panjangnya. Dia masih berdiri di depan cermin dan masih mengamati tubuh polosnya.


"Tidak ada tanda baru di sini. Ini semua sisa-sisa percintaan beberapa hari yang lalu," gumam Karina melihat beberapa tanda yang sudah mulai berubah warna bekas sedotan suaminya tempo hari.


Saat matanya tengah menelusuri tanda-tanda yang tersebar di tubuhnya, tiba- tiba Karina mengingat sesuatu. Di arahkan nya mata itu ke atas perutnya.


"Oh baby. Mommy lupa kalau sekarang ada adik di sini," ucapnya sambil mengelus lembut bagian bawah perutnya.


Karina menutup mulutnya.


"Jangan dengarkan apa yang tadi Mommy bicarakan tentang Daddy kamu, ya!" cicit Karina saat sadar kalau dia baru saja berbicara kotor tentang suaminya.


Karina bergegas membersihkan tubuhnya. Perutnya sudah benar-benar lapar saat ini.


Hari ini, Karina tidak memiliki rencana untuk keluar. Dia hanya akan tinggal di dalam rumah merangkai bunga dan membuat cookies yang akan Karina kirimkan ke rumah sang Bibi dan Eca sang pengawal pribadinya yang tengah terluka.


Setelah selesai berpakaian, Karina kembali menghampiri meja. Dia buka kaca besar yang menghadap langsung pada pemandangan pagi hari, danau buatan di belakang rumahnya.

__ADS_1


Karina sarapan sambil menikmati kicau burung. Situasi seperti itu benar-benar membuat mood Karina naik.


__ADS_2