
Fin dan Karina, pagi ini tengah berada di Bandara untuk mengantar kepergian sang anak yang akan ke Singapura. Pesawat yang di tumpangi Devin, Kakek Bram dan Kiara sudah lepas landas tiga puluh menit yang lalu.
Karina tidak jadi ikut bersama sang anak ke Singapura karena harus terbang ke Solo bersama suaminya untuk melayat. Karina ingin berterima kasih secara langsung di depan pusara sang bodyguard yang telah menyelamatkan nyawa suaminya.
Mereka akan terbang sebentar lagi. Keduanya, saat ini tengah menunggu kedatangan Renal yang rencananya akan ikut ke Solo.
Fin duduk menyandar pada bahu sofa ruang tunggu VVIP dengan kepala sang istri yang menyandar pada bahu miliknya.
Kedua tangan sang istri memeluk perut Fin sambil sesekali jari-jari istrinya itu menyentuh dan mengelus perut sixpack miliknya.
"Dad, apa boleh setelah pulang nanti, Mommy terbang ke Singapura?" tanya Karina pada suaminya.
"Mommy tega meninggalkan Daddy sendirian di sini?" tanya Fin berharap sang istri paham dengan keinginannya.
"Indonesia - Singapura kan dekat, Dad!" jawabnya tidak mau kalah.
"Ya sudahlah, kalau Mommy kekeh mau kesana. Tapi besok!" putus Fin.
Karina tersenyum cerah. Fin lelah mendengar rengekan istrinya yang ingin ikut ke Singapura. Semalaman Karina merayu Fin agar mengijinkannya untuk ikut ke sana dan bertemu dengan keponakan kecilnya yang sudah sangat dia rindukan. Selain merindukan Ara, Karina sebenarnya tidak terbiasa jauh dari sang anak.
Fin mengusek rambut istrinya, gemas. Karina menengadahkan wajahnya untuk menatap suaminya.
"Daddy! Rambut Mommy berantakan!" kesal Karina sambil meraih tangan Fin dari atas kepalanya.
Fin melabuhkan beberapa kecupan di atas bibir istrinya yang tengah berkerut kesal. Wajah Karina memerah saat mendapat kecupan tiba-tiba dari suaminya. Karina tersipu malu.
"Oh, God!! Kalian bukan pengantin baru lagi. Ingat tempat woy!!" pekik Renal yang baru saja masuk ke dalam ruang tunggu Bandara.
Fin memutar bola matanya jengah.
"Ckk... terus kamu yang pengantin baru, apa kabar?" tanya Fin usil. Saat bertanya seperti itu, wajahnya datar tanpa ekspresi.
Karina terkikik. Ternyata suaminya bisa jail juga.
"Kenapa jadi aku?" tanya Renal kesal.
"Eca gak ikut?" tanya Karina saat tidak mendapati Eca di sana. Mata Karina menerawang mencari keberadaan bodyguardnya.
"Kakinya terkilir. Untuk satu Minggu ke depan dia ijin gak kerja dulu, ya!" ucap Renal meminta ijin.
"Terkilir? Sudah ke rumah sakit? Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Karina khawatir.
"Hanya terkilir, Karina... bukan kena tembak!" ucap Renal menanggapi kepanikan Karina.
"Terkilir juga kan sakit, Kak Renal!! Coba saja sendiri kalau tidak percaya!!" sewot Karina tidak terima dengan jawaban Renal.
Renal meringis mendengar sindiran Karina.
"Kalau aku yang sakit, siapa yang bantuin laki kamu kerja, hem?? Yakin dia bisa kerja sendiri?" ucap Renal sambil tersenyum ke arah Fin.
Fin tidak menjawab. Dia hanya menatap Renal dengan tatapan tajamnya yang mengintimidasi. Kedua tangannya terlipat di atas dada dengan punggung yang menyandar pada sofa.
"Mampus!" ucap Renal refleks, saat melihat mata tajam Fin.
"Ha... ha.... ha..." Renal tertawa garing.
"Ayo, pesawat sudah siap!" ajak Renal pada keduanya dan mengakhiri perdebatan mereka.
"Ingat, kita hanya mempunyai waktu sampai jam makan siang." Renal mengingatkan kembali.
Fin bangkit dari duduknya kemudian membawa tangan istrinya untuk dia genggam.
"Kamu kan ikut, Renal. Kamu atur saja waktunya!" jawab Fin sambil pergi meninggalkan Renal begitu saja.
Karina meringis sambil memalingkan wajahnya untuk menatap Renal. Secara tidak langsung, Karina meminta maaf atas perlakuan suaminya yang pergi begitu saja di tengah percakapan yang sedang berlangsung.
__ADS_1
#########
Sesuai rencana awal, saat jam makan siang mereka sudah kembali ke perusahaan. Ada dua mobil yang menjemput mereka di Bandara.
"Kenapa Daddy gak bareng Kak Renal?" tanya Karina saat Fin lebih memilih naik mobil bersamanya.
"Mommy gak mau satu mobil sama Daddy?" tanya Fin dengan mata yang tetap fokus pada iPad miliknya. Dia tengah mempersiapkan materi untuk rapat. Selesai jam makan siang, semua divisi di minta untuk hadir di aula lantai atas. Rapat itu sendiri akan di pimpin secara langsung oleh Fin.
"Bukan gituuu ... kalau harus ke rumah dulu untuk mengantar Mommy, waktu Daddy akan tersita lagi. Padahal Mommy bisa saja langsung pulang sama Pak Deni, " jelas Karina. Dia tengah mengutak-atik telepon genggamnya menghubungi Kiara untuk menanyakan keadaan, Devin.
"Siapa yang bilang Mommy akan pulang?" tanya Fin.
Karina menghentikan aktivitasnya. Dia menatap suaminya yang masih fokus mengerjakan sesuatu pada Ipad nya.
"Kalau tidak pulang, terus Mommy kemana? Langsung ke Singapura?" tanya Karina. Setelahnya Karina menggeleng.
"Gak mungkin! Kalau ke Singapura, gak harus ikut pulang dong! Bego... bego..." ucap Karina meratapi kebodohannya sendiri.
Fin tersenyum kecil mendengar celotehan istrinya.
"Mommy ikut ke kantor!" terangnya.
"Heh? Apa Daddy bilang?" tanya Karina memastikan.
"Mommy ikut Daddy ke kantor!" jelas Fin kembali.
"Tapi Dad," ragu Karina.
Fin menutup Ipad, kemudian dia letakkan di samping tubuhnya.
"Kenapa?" tanya Fin.
"Bagaimana kalau orang kantor...."
Karina tidak menyelesaikan kalimatnya, karena Fin segera menimpali ucapan Karina.
"Dad..." ucap Karina sedikit merintih. Karina menjauhkan wajah Fin dari lehernya. Jangan sampai Pak Deni mendengar desahannya.
"Ayo turun! Kita sudah sampai." ajak Fin pada istrinya.
"Daddy duluan saja. Kak Renal sudah menunggu di luar," sambil menunjuk Renal yang tengah berdiri di luar mobil yang Fin tumpangi. Tampak juga Vera di samping Renal, tengah menenteng sebuah buku kecil yang selalu dia bawa saat bekerja.
"Ya sudah, kalau gitu. Nanti Mommy tunggu di ruangan Daddy saja. Sepertinya, ada hal penting lain selain rapat yang akan Vera sampaikan pada, Daddy." Fin meraih tubuh Karina untuk dia peluk. Selanjutnya, Fin melabuhkan sebuah kecupan pada kening istrinya itu.
Karina mengangguk kemudian melambaikan tangannya saat Fin berlalu pergi dan bergabung bersama Renal dan Vera.
Karina masih berada di dalam mobil. Dia menatap bangunan megah dari Grahatama Group. Perusahaan itu yang mempertemukan dia dengan suaminya.
"Pak, saya turun dulu." pamit Karina pada Pak Deni.
"Baik Bu. Ibu bisa menghubungi saya kalau membutuhkan sesuatu," ucap Pak Deni.
Karina hanya mengangguk sambil memberikan sebuah senyuman tulus pada pria paruh baya yang menjadi sopirnya sejak beberapa bulan terakhir itu.
Selanjutnya, Karina masuk ke dalam perusahaan yang dulu menjadi tempatnya mencari nafkah untuk menghidupi anak dan bibinya.
Ada beberapa karyawan yang baru kembali dari makan siang. Mereka menatap Karina dengan tatapan heran. Mereka heran dengan kedatangan Karina yang sekarang bukan bagian dari Grahatama Group.
Selain itu, penampilan Karina yang berubah drastis membuat beberapa karyawan yang dulu membenci Karina semakin semangat untuk menjadikan perubahan Karina tersebut sebagai bahan untuk bergosip.
Mereka tidak segan-segan menyebut Karina sebagai simpanan pengusaha kaya. Apalagi saat Karina memutuskan untuk berhenti bekerja dimana saat itu dia akan di angkat menjadi karyawan tetap.
Bekerja di perusahaan Grahatama Group, merupakan impian bagi orang-orang di luaran sana. Maka dari itu, saat Karina memutuskan untuk berhenti gosip tentang Karina yang menjadi simpanan om-om semakin kencang terdengar di antara para karyawan di sana.
"Lihat-lihat... apa itu masuk akal? Kita saja yang bekerja sudah lama sebagai karyawan di perusahaan yang terkenal dengan gaji dan bonusnya yang tinggi hanya dapat membeli satu brand mewah dalam satu tahun. Kalau tidak tas, ya sepatu." ucap sinis karyawan yang baru kembali dari makan siang.
__ADS_1
"Wah ... kita kalah! Dia yang bahkan tidak bekerja saja, dapat memakai brand mewah dari atas rambut sampai bawah kaki. Semalam, dia kuat melayani berapa pria tua? Ha... ha... ha..." sahut karyawan lain sambil berlalu pergi melewati Karina dengan senyum sinis nya yang meremehkan.
Karina menghembuskan nafasnya kasar. Tangannya terkepal erat mendengar setiap ucapan keji yang di alamatkan padanya
"Sabar Karinaaa... bermain dengan cantik. Cukup ingat wajahnya dan balas perbuatan mereka dengan fakta yang akan membuat mereka bersujud untuk meminta maaf," ucap Karina pelan, sambil tangannya terangkat untuk mengusap dadanya.
"Hey!" panggil seorang pria, sambil menepuk pundak Karina.
Karina tersentak kaget dari lamunannya. Dia berbalik dan menatap pria yang mengejutkannya itu.
"Pak Robert!" panggil Karina.
"Kenapa melamun di sini?" tanya Robert pada Karina.
Robert celingukan seperti tengah mencari sesuatu.
"Kamu sendirian di sini" tanya Robert.
Karina tersenyum canggung.
"I... iya, Pak."
"Jangan panggil, Bapak. Saya sudah bukan atasan kamu lagi." Masih terlihat jelas dari mata Robert, kalau dia masih sangat mengharapkan Karina.
Karina hanya tersenyum menanggapi permintaan Robert.
"Bapak tidak ikut rapat?" tanya Karina spontan.
"Bagaimana kamu tahu?" heran Robert.
"Apa teman-teman kamu bilang, kalau hari ini ada rapat?" tanya Robert kembali.
"He... he... he..." Karina hanya tersenyum canggung.
"Ya sudah, kamu tunggu di ruangan mereka saja. Ayo saya antar," tawar Robert.
"Eeehh... bukan, Pak. Saya tidak datang untuk bertemu teman-teman saya," jelas Karina.
"Hem? Kamu ada perlu lain?" tanya Robert kembali.
Karina menggeleng.
"Saya sedang menunggu suami saya, Pak," cicit Karina.
"Suami??" pekik Robert.
"Suami kamu bekerja di kantor ini?" tanyanya meyakinkan
Karina mengangguk.
"Ya," jawab Karina.
"Mommy!" panggil Fin yang datang secara tiba-tiba.
Karina dan Robert berbalik menatap sumber suara. Robert melebarkan matanya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Daddy lupa memberikan ini," Fin mengangkat sebuah kunci sambil menggoyangkannya di udara.
"Mommy tunggu di atas saja!" lanjutnya.
Setelah memberikan kunci pada istrinya, Fin kembali untuk pergi menuju ruang rapat. Namun sebelum beranjak, dia menatap Robert yang saat ini masih terkejut, untuk menyampaikan sesuatu.
"Kenapa masih di sini? Bukannya kamu harus rapat? Apa masih ada hal lain yang harus kamu sampaikan pada istri saya?" tanya Fin dengan suara dinginnya yang serak.
"I... istri?" tanya Robert sedikit memekik.
__ADS_1
Sementara itu, Karina hanya mengangguk sambil meringis, merespon pertanyaan dari Robert.