
"Pak, mau berangkat sekarang?" tanya Pak Deni pada Renal.
Renal membalikan tubuhnya.
"Bapak!" pekik Renal.
"Saya kira, si pemilik Singa lapar," lanjutnya lega, setelah tau kalau yang berdehem adalah Pak Deni bukan Tuan Alexander. Eca dan Devin sendiri sudah naik menuju lantai dua untuk bertemu Kiara dan pamit padanya.
"Maksud Bapak?" tanya Pak Deni bingung.
Renal mengibaskan tangannya ke udara.
"Bukan apa-apa Pak Deni! Sudahlah saya berangkat dulu!" pamit Renal pada sopir pribadi Karina itu. Renal berjalan ke luar menuju mobil Range Rover yang Fin siapkan khusus untuk sang anak.
"Pak Deni mau kemana?" tanya Renal heran melihat Pak Deni ke luar mengikutinya.
"Bukannya Bapak mau berangkat sekarang?" jawabnya.
"Pak, saya nyetir sendiri! Jadi, Bapak tidak perlu ikut!" gemas Renal menekankan setiap kalimatnya.
"Kata Pak Fin selama Ibu belum pulang secara otomatis saya menjadi sopirnya, Aden!" jawabnya kembali.
"Tapi kan sekarang perginya sama saya, Bapakkk...! Mending Bapak antar Bu Linda saja ke rumah sakit!" perintah Renal yang kemudian di setujui oleh Pak Deni.
Renal menarik nafasnya dalam. Belum apa-apa mood nya sudah hancur. Renal menyandarkan tubuhnya pada body mobil menunggu sang Tuan Muda datang.
Dari arah dalam rumah tampak sang little Fin ke luar, bersama Kiara dan Eca di sebelahnya.
"Kak Renal maaf ya sudah merepotkan, Kakak," ucap Kiara sambil membawa Devin mendekat.
"Tidak masalah, Kiara! Mobil baru siap masuk garasi minggu ini! Kapan lagi memanfaatkan Bapaknya si sultan ini?" jawab Renal sambil memastikan Devin ke dalam mobil dan mendudukkan nya di atas car seat milik Devin yang sudah terpasang di dalam mobil.
Eca yang berdiri di samping Kiara memberikan tatapan mengejek kepada Renal dengan bibir sebelah kanannya yang terangkat sinis.
Devin menatap tajam Renal, kemudian tersenyum cerah sambil melambai ke arah sang Bibi. Kiara menghampiri Devin sambil mencium kedua pipinya.
"Kakak senang mau ke luar?" tanyanya pada sang keponakan, dan di jawab dengan anggukan yang antusias oleh Devin.
"Selama di luar Kakak nurut sama Uncle dan Aunty, ya!" pesannya pada Devin.
"Iya" jawab Devin sambil menganggukkan kepalanya dan memberikan senyuman hangat pada Kiara.
Kiara mengacak rambut Devin gemas. Sementara Devin hanya tersenyum manis sambil merapikan kembali rambutnya menggunakan jari tangannya yang mungil.
Renal yang melihat perbedaan perlakuan yang di dapatkan nya dari Devin saat melakukan hal yang sama persis seperti yang Kiara lakukan hanya menggelengkan kepalanya pelan sambil berdecak seolah-olah kesal. Devin hanya pura-pura tidak melihat Renal sambil membalikan kepalanya dan melihat ke arah jendela mobil.
Eca masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Devin.
"Ckk... Di depan Eca! kamu kira aku sopir pribadi mu?!" ucapnya sinis.
"Ckk," Eca berdecak kesal, namun tak urung dia tetap pindah ke depan dan duduk di sebelah Renal. Kiara yang menyaksikan kelakuan Renal hanya menggelengkan kepalanya sambil memberikan sebuah senyuman ke arahnya.
"Kami berangkat. Bu!" pamit Eca pada Kiara.
__ADS_1
Renal mencondongkan tubuhnya mendekat pada tubuh Eca. Dengan refleks Eca meraih tangan Renal dan memelintirnya ke belakang, sementara lengan Eca, menahan dagu Renal sambil menekannya ke atas.
"Aaa... aaa..." teriak Renal kesakitan.
Devin hanya tersenyum kecil melihat Renal yang kesakitan.
"Bapak, mau ngapain?!" tanya Eca masih belum melepas tangannya.
"Lepas ECA! aku mau pasang sabuk pengaman mu!" teriak Renal pada Eca.
Eca melepaskan tangannya dari tubuh Renal, kemudian memasang sabuk pengamannya.
"Jangan membuat gerakan yang mencurigakan! Lebih baik langsung bicara, dari pada sok-sokan memasangkan nya." ucapnya dengan wajah datar.
Renal membelalakan matanya. Dia tidak percaya ada perempuan seperti Eca yang bukannya berterima kasih tapi malah menyalahkan dirinya.
"Aneh! Bar-bar! Kasihan sekali yang akan jadi suami Kamu!" sindir Renal sambil melajukan mobilnya menuju Mall.
Eca pura-pura tidak mendengar. Dia lipat kedua tangannya di atas dada dengan mata yang terpejam.
"Ini mobil yang di siapkan Pak Fin, kan?" tanya Eca masih dengan mata terpejam nya.
"Iya" jawab Renal singkat. Dia masih memutar-mutar tangannya yang sakit akibat ulah Eca.
"Syukurlah!" jawab Eca lega, kemudian melirik ke arah Devin duduk. Di lihatnya Devin sedang fokus memainkan rubrik miliknya.
"Memangnya kenapa? Tadi, saat ijin pun Fin meminta memakai mobil yang ini!" tanya Renal penasaran dengan mata yang tetap fokus pada jalanan.
Renal melirik sekilas ke arah Devin.
"Wih, keren amat anak sultan satu ini! Keamanannya sudah melebihi Presiden. Sekalian aja sewa Paspampres, Boy!" ucap Renal dengan kelakarnya.
"Publik sudah terlanjur mengetahui wajah dan status Aden, sebagai anak dan pewaris dari Grahatama Group. Secara otomatis keselamatan nya terancam dan bisa saja menjadi incaran dari lawan bisnis nya Bapak!" jelas Eca pada Renal.
Renal hanya mengangguk paham dengan apa yang di jelaskan Eca.
"Cukup masuk akal," pikir Renal.
"Bapak lihat mobil hitam yang beberapa meter ada di belakang kita?" tanya Eca pada Renal
"Iya, memang kenapa?" tanya Renal.
"Itu penjahat nya?" pekik Renal kencang membuat Devin menutup kedua telinganya.
"Astaga!" keluh Eca sambil membersihkan telinganya yang bindeng akibat teriakan Renal.
"Bukan! Dia bodyguard lain yang di tugaskan Pak Fin untuk mengikuti mobil ini." jelas Eca.
"Setiap Bapak, Ibu, ataupun Aden keluar dari rumah, akan ada dua bodyguard yang mengikuti mereka dan bersembunyi di tempat yang kadang Bapak saja tidak tau mereka dimana! Disaat ada ancaman, baru mereka ke luar untuk mengamankan. "lanjut Eca menjelaskan pada Renal.
Renal mengangguk paham dan kagum dengan apa yang sahabatnya lakukan demi menjaga keselamatan anak dan istrinya.
###########
__ADS_1
Eca, Renal dan Devin, saat ini telah sampai di dalam Mall. Renal mengajak Devin langsung menuju tempat bermain anak dengan di ikuti Eca dari belakang mereka yang tetap waspada, memperhatikan sekeliling.
Renal yang gemas dengan cara berjalan Devin yang lambat akhirnya membawa Devin ke dalam gendongan nya.
"Boy, bisa- bisa kita sampai di sana tengah malam kalau kamu jalan seperti, Pinguin!" ujar Renal sambil menunjuk area tempat bermain anak.
Devin menekuk wajahnya kesal dengan sang paman yang mengejeknya lambat.
"Aku nggak mau cana!" rengeknya pada Renal.
Renal menghentikan langkahnya sambil menatap Devin penuh tanya.
"Kenapa?" tanya Renal sambil menatap wajah memberenggut Devin yang menggemaskan.
"Aunty, mau cana" rengek Devin sambil menatap Eca dengan matanya yang sendu. Eca dan Renal mengarahkan pandangannya pada lantai dua tempat yang Devin tunjuk.
"Ya ampun, Boy! Jangan jadi membosankan seperti Daddy, kamu!" ucap Renal namun tetap membawa Devin menuju tempat yang Devin mau yaitu toko buku. Eca memutar bola matanya jengah mendengar apa yang Renal ucapkan.
Mereka telah sampai di lantai atas. Mata Devin berbinar begitu masuk ke dalam toko buku yang di tunjuknya. Dia memerosotkan tubuhnya dari gendongan Renal dan berlari menuju tempat buku-buku anak dipajang.
Dia mengambil buku-buku Dinosaurus, buku tentang Tata Surya, dan buku-buku anak lainnya yang Devin masukan ke dalam keranjang belanjaannya. Renal tersenyum menatap keponakannya itu. Dia benar-benar duplikat dari sang Ayah yang selalu mencari toko buku ataupun perpustakaan kemanapun dia pergi.
"Sudah cukup, Boy?" tanya Renal pada Devin.
Devin mengangguk sambil tersenyum cerah pada, Renal.
"Oke, Uncle bayar dulu." Renal pergi menuju kasir untuk membayar setumpuk buku yang keponakan nya pilih.
Setelah selesai membayar Renal menghampiri Devin dan Eca untuk mengajak mereka makan terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanannya mengelilingi Mall.
"Pak, sebaiknya kita pulang sekarang!" ajak Eca sambil berbisik pada Renal. Eca menyerahkan Devin untuk Renal gendong sementara Eca mengambil alih tas berisi buku yang baru saja Renal bayar.
"Kenapa?" tanya Renal bingung. Namun tetap mengikuti Eca untuk keluar dari Mall dan pergi menuju basemen tempat mobilnya terparkir.
"Pokoknya cepat!" tukas Eca kemudian masuk ke dalam mobil dan memposisikan Devin pada posisi yang aman.
"Eca, kenapa?" tanya Renal panik. Renal melajukan mobilnya dan segera meninggalkan Mall tersebut.
"Gas, Renal! Mobil belakang semakin mendekat!" teriak Eca pada Renal.
"Si... siapa?" gagap Renal yang semakin panik.
"Seseorang yang mengincar Tuan Muda!" Jawab Eca kemudian membuka safety belt dan berdiri dari tempatnya.
"Eca kamu mau kemana?" tanya Renal bingung.
Eca naik ke atas pangkuan Renal.
"Apa yang kamu lakukan?" teriak Renal pada Eca.
"Saya yang mengemudi! Bapak pindah ke tempat saya sebelumnya!" ucapnya sambil membuka safety belt milik Renal.
"Apa? kamu gila!" pekik Renal untuk kesekian kalinya.
__ADS_1