
Bram tersenyum bangga melihat kecerdasan dari cicitnya. Seorang Grahatama tidak pernah gagal. Sekarang Bram bisa menyusul istrinya dengan tenang saat masa depan perusahaannya sudah berada di tangan yang tepat.
"Apa Devin tidak rindu, Mommy?" tanya Fin kembali.
"Lindu. Napa tidak Mommy yang ke sini? Mommy tidak kelja." tanya Devin membuat Fin kehilangan kata-katanya.
"Ha... ha..." Kiara tertawa terbahak- bahak.
"Ya Tuhan... Abang sudah mendapatkan partner debat yang cocok!" teriak Kiara kembali.
"Baru kali ini, Abang yang keras kepala kehilangan kata katanya. God…….." ucap Kiara membuat Fin kesal mendengar olokan adiknya itu.
Kiara mengusap air matanya yang keluar dari kedua sudut matanya. Sementara itu, Ara menangis mendengar suara ibu nya yang tiba-tiba tertawa kencang.
"Oke. Kita kesana saat Daddy libur kerja, oke?" final Fin.
Karina tersenyum lebar saat mendengar apa yang suaminya janjikan. Kalau saat Fin libur berarti Fin sendiri ikut ke Singapura, kan? batin Karina. Jadi, dia tidak perlu khawatir dengan keberadaan Queen di rumahnya.
############
Karina dan Fin saat ini tengah berada di dalam sebuah Mall. Karina meminta suaminya untuk mampir ke Mall terlebih dahulu sebelum berangkat ke apartemen Renal untuk menjenguk Eca yang beberapa waktu lalu cuti guna mempercepat proses penyembuhan kakinya yang terkilir.
Mereka berdua sedang berada di lantai satu Mall tempat market berada. Karina dan Fin tengah menelusuri rak berisikan puluhan merk susu ibu hamil.
Karina mengerutkan keningnya tidak suka saat melihat barisan susu ibu hamil dengan berbagai rasa yang tersaji. Dengan membayangkan rasanya saja sudah membuat Karina mual.
"Mommy tidak suka," rengek Karina dengan kedua tangan bergelayut manja pada lengan kokoh suaminya.
Beberapa orang mulai memotret dan menguploadnya di media sosial dengan judul yang mengada-ada.
"Pewaris Grahatama menemani simpanannya berbelanja susu ibu hamil," begitulah kebanyakan judul yang mereka buat.
Wajah ibu-ibu yang melewati Karina dan Fin kecut, tertekuk tidak suka melihat kebersamaan keduanya. Bahkan ada yang secara terang-terangan mendelik dan dan bersedih seolah-olah tengah meludah saat Karina melewati mereka.
"Hehhhh... padahal istrinya yang berprofesi sebagai model itu sudah sangat sempurna, ya. Bisa-bisanya secara terang-terangan membawa selingkuhannya ke depan umum.
"Namanya juga laki-laki Bu. Yang harusnya di salahkan itu, ya pelakor nya! Sudah tau punya istri dan anak masih saja kegatelan sama suami orang,"
"Yang penting duit. Wajahnya saja yang lugu, kelakuannya amit-amit. Sudah kebiasaan gonta-ganti pria, ya gitu. Muka tembok!!"
Masih banyak lagi omongan-omongan yang sangat menyakiti hati Karina. Andai saja dulu dia tidak meminta Fin untuk menyembunyikan identitasnya mungkin dia tidak akan di pandang rendah oleh orang lain. Nasi sudah menjadi bubur. Menyesal pun, tidak ada gunanya.
"Eh, Kak Karina!" sapa seorang teman lama.
"Lisa" Karina tidak percaya akan bertemu musuh bebuyutannya di Mall.
__ADS_1
"Wah... ternyata... selain jadi baby sitter anaknya, Kak Karina jadi baby sitter Ayahnya juga ya?" tanya Lisa dengan berani. Dia merasa akan ada banyak orang yang membelanya kalaupun dengan berani, Fin akan menyerangnya.
"Wah... ternyata perempuan itu pengasuh anaknya. Babu tidak tau diri!" ucap beberapa orang membuat Lisa tersenyum puas.
Fin hanya diam. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana dengan wajah dingin nya yang menakutkan.
"Mommy baik-baik saja?" tanya Fin lembut, membuat Lisa dan orang-orang yang ada di sana semakin murka dengan Karina.
Karina tersenyum cerah. Dia berusaha baik-baik saja di hadapan suaminya.
"Tentu saja Mommy baik-baik saja," jawab Karina ceria. Namun, di balik senyum cerianya itu tersembunyi sebuah kesedihan yang mendalam.
"Cih!! Panggilannya Mommy, Papi?" seseorang tertawa sumbang.
Dengan lebih berani, Fin merangkul Karina sambil sesekali menciumi puncak kepala istrinya itu.
"Mommy tidak mau memperkenalkan dia sama Daddy?" tanya Fin pada istrinya.
"Sepertinya... kalian berteman dekat," lanjut Fin.
"Dia..."
"Ahhh... Daddy ingat. Bukannya... dia perempuan yang pernah tidur dengan mantan, Mommy?" ucap Fin kencang membuat Lisa murka.
"Kamu ..." tunjuk Lisa pada Karina.
"Apa?" pekik Lisa tidak percaya.
"Apa kalian tengah bercanda?" tanyanya kembali.
"Kamu butuh bukti? Siapa kamu berani memerintah saya?" tanyanya dingin.
Semua orang yang ada di sana melebarkan matanya persis seperti orang-orang di kantor Fin, tadi siang.
Fin menyunggingkan senyum tipisnya melihat perempuan perempuan yang tadi menggunjing istri kesayangannya, panik. Wajah mereka pucat pasi dengan tangan yang saling bersenggolan satu sama lain.
Fin menjentikkan jarinya ke udara. untuk memanggil salah satu bodyguardnya.
"Cari tau tentang mereka semua! Jangan biarkan mereka hidup tenang" perintah Fin sambil pergi membawa Karina keluar dari dalam Mall.
Beberapa orang yang tadi menghina Karina berlari ingin menyusul Fin dan meminta pengampunannya, tapi di tahan bodyguard yang berjaga di sana. Sementara itu, Lisa hanya bisa diam, meratapi nasibnya yang malang.
"Karinaaa. Kamu lagi, kamu lagi... aku benci sama kamu" teriak Lisa kemudian.
Sementara itu, Karina dan Fin saat ini menjadi pusat perhatian dari orang-orang yang ada di Mall. Artikel-artikel tentang keduanya mulai terbit dan semua orang mulai mencari informasi tentang Karina.
__ADS_1
Fin meminta seorang informan untuk menjaga privasi istrinya kalau-kalau masa lalu Karina terbongkar tentang melahirkan anak tanpa seorang suami. Karena itu yang Karina yakini saat ini.
Masalahnya, kalau masalah tentang itu ke up ke hadapan publik, Fin tidak dapat melindungi Karina karena ingatan Karina yang belum kembali.
Karina menolak segala pengobatan terbaik yang Fin tawarkan dan Fin tidak dapat mengungkapkan kebenaran demi keselamatan Karina sendiri. Fin benar-benar berada di ujung di lema.
Malam hari, keduanya baru sampai di kediaman mereka. Setelah dari Mall, Karina dan Fin mampir ke apartemen Renal.
Karina menjenguk Eca, sementara Fin mengurus beberapa pekerjaan bersama Renal.
Saat sampai di kediamannya, Karina tertidur pulas. Fin membopong tubuh istrinya dan membawanya ke lantai dua tempat kamarnya berada.
Setelah menyeka dan mengganti pakaian Karina, Fin kemudian membersihkan tubuhnya sendiri dan pergi ke perpustakaan rumahnya untuk membawa beberapa buku baru yang akan dia baca di dalam kamarnya.
Saat Fin tengah memilih buku, tiba-tiba ruangan itu di buka oleh seseorang. Dia masuk begitu saja.
"Eh, maaf. Aku tidak tau kalau Abang juga ada di sini." cicit Queen sambil berjalan mendekati Fin.
Fin tidak merespon. Dia hanya menoleh sesaat, kemudian membawa beberapa buku di tangannya.
Fin berjalan pergi meninggalkan Queen sendirian. Saat beberapa langkah lagi sampai di depan pintu keluar, tiba-tiba Queen memeluk punggung polos Fin yang saat ini hanya memakai celana tidur. Bagian atas Fin terbuka, tidak memakai pakaian.
Queen sendiri memakai pakaian yang sangat minim, dengan belahan dada yang begitu rendah. Bahkan Fin dapat merasakan benda kenyal Queen yang menempel pada punggung polosnya itu. Fin masih mematung di tempatnya.
"Abang, aku takut tadi ada kecoa," jeritnya manja dengan tangan yang masih memeluk erat tubuh Fin.
Fin menjatuhkan buku yang tengah di bawanya, kemudian memegang tangan Queen yang tengah melilit erat pada perutnya.
Queen tersenyum penuh kemenangan dengan respon yang Fin berikan. Dia merasa kalau malam ini adalah malam kemenangannya.
Fin membalikkan tubuhnya, sehingga posisi keduanya saat ini saling berhadapan. Wajah Queen merona di tatap mata hijau Fin. Wajah tampan Fin, menghipnotis Queen dan dengan refleks dia memainkan rambutnya sambil tersenyum menggoda.
Kedua tangan Fin memegang tangan mulus Queen dan sedikit mengelusnya. Mata Queen terpejam menikmati setiap sentuhan dari Fin.
"Bang..." lirih Queen.
Fin mencondongkan tubuhnya kemudian menyentuhkan hidung mancungnya pada leher Queen. Queen semakin merintih. Digigitnya bibir bagian bawahnya.
"Queen," panggil Fin.
"I... iya banggg..." lirih Queen sedikit mendesah.
"Jangan kamu pikir, saya tidak tau apa yang ada di dalam pikiran kamu!! Menjijikan!! Saya harap, besok pagi kamu sudah pergi dari rumah saya!!!" bisik Fin tepat di telinga Queen.
Fin membanting tubuh Queen hingga dia terjerembab ke belakang. Sementara itu, Fin pergi dengan membawa buku yang tadi dia jatuhkan. Fin pergi untuk membilas tubuhnya kembali dan menghilangkan bau parfum Queen yang menempel di tubuhnya.
__ADS_1
Queen masih syok. Dia tidak percaya kalau Fin akan memperlakukannya seperti itu.
"Menjijikan? Dia bilang, aku menjijikan? Bukannya istri Abang yang jauh lebih menjijikan? Dia bahkan tidak tau pria mana yang sudah menanam benih di rahimnya!!!" ucap Queen yang tentunya hanya di dengar oleh dirinya sendiri.