
Setelah membongkar identitasnya di depan Eliz, Fin pergi begitu saja meninggalkan Eliz yang saat ini masih shock setelah mengetahui fakta tentang anak tirinya.
Dia duduk sambil terkulai lemas di atas lantai depan meja resepsionis. Orang-orang yang kebetulan lewat menatap Eliz dengan tatapan aneh. Pria muda yang datang bersamanya tadi pun pergi begitu saja meninggalkan Eliz seorang diri.
Pria muda itu lebih memilih menyelamatkan masa depan nya dan menghindari berurusan dengan orang-orang dari Grahatama Group yang memiliki pengaruh besar terhadap perekonomian orang-orang seperti dirinya.
"Agam, kenapa kita begitu bodoh?! Kenapa kita tidak menyadari sebelumnya, kalau pria yang menghamili anak sialan itu adalah pewaris Grahatama Group?" sesal Eliz masih dengan posisi bersimpuh nya.
"Bukankah anak haram itu juga sering wara-wiri di sosial media? Kenapa kita begitu bodoh dengan tidak mengenalinya!" ucapnya kembali sambil memukul-mukul kepala menggunakan tangannya.
"Lihat saja Karina, seberapa kuat kamu menjaga anak haram itu!" ancam nya.
"Perempuan sialan itu, sudah membuat Ayahnya yang tidak berguna itu jatuh miskin dalam semalam!" Eliz bangkit kemudian menepuk beberapa bagian dari dress yang di pakainya. Dia menatap tajam ke arah lift yang di masuki Fin.
'Silahkan nikmati kebersamaan kalian saat ini, sebelum orang yang kamu cintai lenyap dari muka bumi ini!' batin Eliz sambil tersenyum licik. Selanjutnya dia berjalan keluar hotel seolah-olah tidak ada yang terjadi sebelumnya.
#########
__ADS_1
Fin sampai di dalam kamar yang akan di tempati nya bersama sang istri malam ini. Karina langsung masuk ke dalam pelukan Fin dan menangis dengan cukup kencang.
Di dalam kamar tersebut mereka hanya berdua tanpa ada Devin. Devin sendiri tengah berada di kamar lain bersama Bu Linda.
Sebelum masuk ke dalam kamarnya dan mulai menangis, Karina meminta Bu Linda untuk menyuapi Devin dan memintanya untuk menjaga sementara waktu sampai Karina benar-benar merasa lebih baik.
Karina menangis bukan karena hinaan yang dia terimanya dari Eliz. Dia sudah cukup kenyang dan cukup kuat menerima caci maki Eliz dari beberapa tahun lalu.
Yang Karina tangisi saat ini adalah kondisi Ayah nya. Walaupun banyak luka yang Agam torehkan di hati Karina, namun bagi Karina, Agam tetap cinta pertamanya.
Karina sudah berusaha kuat dan berpura-pura tidak perduli, dengan mengabaikan keberadaan Agam beberapa bulan terakhir ini.
Saking percaya nya Agam pada Eliz, dia sampai tega meninggalkan Sita, yang merupakan Ibu kandung dari Karina.
Sita yang terlalu mencintai Agam bahkan lebih memilih mengakhiri hidupnya, saat tau kalau Agam telah menikahi wanita lain.
Vina, adik dari Sita merasa memiliki tanggung jawab pada keponakan nya setelah sang kakak dengan egois mengakhiri hidupnya tanpa memikirkan kelangsungan hidup Karina setelah dia tinggalkan.
__ADS_1
"Mommy, sebentar! Boleh Daddy izin sebentar?" Fin menepuk punggung Karina pelan.
Karina bangkit dari pelukan sang suami sambil mengusap air mata dengan punggung tangannya.
"Hem?" Karina menengadahkan kepalanya untuk menatap Fin.
Fin sedikit mendorong tubuh Karina, agar dia menjauh. Selanjutnya Fin berjalan dengan langkah lebarnya dan masuk ke dalam kamar mandi.
Dahi Karina tertekuk bingung.
"Hueekkkkkk... " Dari dalam kamar mandi terdengar suara Fin tengah muntah.
Karina berlari menuju kamar mandi untuk melihat keadaan sang suami.
"Daddy!" panggil Karina panik.
Kepala Karina muncul dari balik pintu dan menatap suaminya dengan tatapan khawatir.
__ADS_1
"Hueekkkkkk..." Fin kembali memuntahkan seluruh isi perutnya.
Karina segera mendekat, dan berdiri di samping Fin. Kepala Fin masih condong ke dalam wastafel dengan kedua tangan yang dia letakan di sisi kiri dan kanan dari wastafel.