
"Kakek?" tanya Fin memastikan pendengarannya tidak salah.
"Ya. Kakek Bram. Kakek yang dulu pernah meminta kita untuk menikah." ucap Queen sengaja.
Degh...
Karina terperangah mendengarnya. Rasa takut mulai menghampiri hatinya. Bayangan masa lalu mulai berkelebat silih berganti memenuhi otaknya.
Masa lalu yang penuh penolakan dari orang-orang terdekatnya, membuat luka di hati Karina tak kunjung sembuh dan berujung meninggalkan trauma yang mendalam.
Fin diam. Dia tidak menanggapi perkataan Queen. Menurut Fin permintaan Kakek di masa lalu merupakan permintaan yang konyol. Karena bagi Fin, Queen akan selalu menjadi adiknya. Sama seperti Kiara.
"Abang benar-benar nggak tau kalau Kakek pulang?" tanya Queen heran.
Fin tidak menjawab. Dia hanya mengangkat bahunya tidak peduli. Tangan Fin menyendok cake strawberry yang kemudian dia berikan kepada istrinya.
Karina mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
"Aaaa..." ucap Fin berharap sang istri menyambut suapannya dengan membuka mulutnya.
Namun Karina tidak bergeming. Dia menggelengkan kepalanya pelan.
"Kenapa?" tanya Fin bingung
"Bukannya strawberry buah kesukaan, Mommy?" tanya Fin lembut.
Queen yang melihat serta mendengar perhatian Fin kepada Karina berdecih kesal dalam hatinya.
'Bagaimana bisa pria yang selalu dingin terhadap perempuan itu dengan tiba-tiba berubah menjadi pria hangat yang begitu perhatian? Mantra apa yang sudah si janda itu berikan, sampai-sampai membuat Abang berubah dalam sesaat?' batin Queen bertanya-tanya.
Queen jengah berada di tengah-tengah Fin dan Karina. Hatinya panas melihat segala bentuk perhatian Fin yang tidak pernah dia berikan kepada Queen.
Selain itu, Queen kesal dengan semua orang. Mereka begitu menyukai Karina termasuk Kiara dan sang Mama.
Namun harapan Queen kembali tumbuh dengan kedatangan Kakek Bram ke Indonesia.
Bram begitu memanjakan Queen. Dia sudah menganggap Queen sebagai anak bungsu dari keluarga Grahatama.
'Nikmati kebersamaan kalian untuk terakhir kalinya, sebelum Kakek memisahkan kalian!' batin Queen sambil tertawa puas.
Ya, Queen berniat untuk menghasut Kakek Bram agar membenci Karina. Apalagi dengan latar belakang Karina sebagai janda beranak satu.
"Mommy kenapa?" tanya Fin pada Karina. Pertanyaan tersebut juga menyadarkan Queen dari lamunannya. Lamunan licik Queen yang tengah menyusun rencana untuk memisahkan Karina dan Fin.
"Mommy sekarang nggak suka strawberry!" jawab Karina membuat Fin mengerutkan kening.
__ADS_1
"Hem? Kok bisa?" tanya Fin pada istrinya.
"Nggak tau, Dad. Mommy mual mencium aromanya." jawab Karina kembali.
Fin menukar strawberry cake yang sedang di pegang nya, dengan carrot cake yang ada di atas meja.
"Mulai hari ini, Mommy juga tidak suka dengan carrot cake itu!" tunjuknya pada cake yang Fin pegang.
Fin semakin mengerutkan keningnya. Lantas Fin menyimpan kembali cake tersebut ke atas meja.
"Kenapa lagi, Mom?" tanya Fin bingung.
"Mual juga?" tanyanya pada Karina.
Karina menggelengkan kepalanya.
"Lantas kenapa?" tanya Fin.
"Gak suka saja, Dad. Ada sesuatu yang membuat Mommy membenci cake itu." jawabnya sambil mata Karina menatap Queen dengan tatapan tajam.
"Ya sudah. Mau pulang sekarang?" tanya Fin pada istrinya.
Karina mengangguk mengiyakan.
"Tapi Devin masih bobo" ucap Karina sambil matanya menatap Devin yang tengah terlelap di atas sofa.
"Ckk..." decak Queen kesal sambil pergi dari hadapan Fin dan Karina untuk mengambil air minum.
Queen melupakan dahaga nya yang kehausan saat melihat pemandangan yang menurutnya menjijikkan saat tadi pergi ke dapur.
Queen berdiri di belakang Fin dan Karina dengan gelas di tangannya.
"Abang, kalau Abang pulang aku sendirian di sini," ucap Queen manja.
Karina menutup mulut dan hidungnya menggunakan tangan. Karina juga menjauhkan tubuhnya dari posisi Queen.
"Kenapa?" tanya Fin pada istrinya.
"Mommy, mual." jawab Karina.
"Apa kamu bisa sedikit menjauh?" mata Karina menatap Queen yang masih berdiri di belakang Fin.
Queen melebarkan matanya mendengar permintaan yang menurutnya kurang ajar.
"What? Me?" pekik Queen sambil mengarahkan tangan untuk menunjuk dadanya.
__ADS_1
Karina mengangguk cepat dengan tangan yang masih menutup mulut dan hidungnya. Karina menatap suaminya dengan mata berair dan memelas. Karina meminta pengertian suaminya yang pernah berada di fase seperti yang di alaminya hari ini.
"Queen, bisa sedikit menjauh? Abang pernah merasakan mual saat mencium parfum seseorang dan itu sangat tidak enak." ucapnya membuat Queen melebarkan kembali matanya mendengar apa yang di katakan oleh Fin.
Sementara itu Karina tertawa puas melihat kekesalan Queen. Perihal mual saat mencium parfum Queen, Karina tidak mengada-ada. Dia memang mengalami hal tersebut.
Karina sendiri heran dengan apa yang di alaminya hari ini. Namun hanya parfum Queen saja yang membuatnya mual.
Sementara dari pagi, Karina sudah berinteraksi dengan banyak orang dan tidak mengalami hal yang Karina alami saat ini.
"Mommy tidak apa-apa?" tanya Fin cemas.
"Mau pulang sekarang?" tanya Fin kembali.
Sebelum mendapat jawaban dari Karina, Fin melontarkan kembali kalimatnya.
"Abang kan sudah menempatkan dua suster untuk menjaga Tante di sini." ucapnya membuat Queen gelagapan.
"I... iyaaa, tapi kan, bang..."
"Ayo, Dad. Mommy gak kuat." ucap Karina memotong ucapan Queen. Tangan Karina kembali menutup mulut dan hidungnya.
"Mommy tunggu di luar nggak apa-apa?" tanya Karina lembut.
Fin mengangguk sambil tersenyum hangat.
"Ya sudah. Mommy tunggu di luar Daddy bawa Devin dulu." Fin mengusap kepala Karina penuh sayang sebelum beranjak ke tempat Devin dan memindahkannya ke dalam stroller.
"Kak Queen, aku duluan ya," ucap Karina sedikit mengejek. Karina juga tersenyum tengil pada Queen.
"Maaf, gak bisa pamit dengan benar. Parfum yang Kakak pakai benar-benar membuat aku mual." lanjutnya membuat Queen benar-benar murka.
Setelah puas memberi pelajaran pada Queen, Karina keluar begitu saja dari ruangan Tante Nada, dengan menjinjing tas mahal serta tas Dinosaurus milik anaknya.
Queen mengepalkan tangannya dengan dada yang bergemuruh menahan amarahnya. Queen berjanji dalam hatinya untuk memberi Karina pelajaran yang tidak akan pernah Karina lupakan seumur hidupnya.
Fin pamit pada Queen untuk pulang. Tangannya mendorong stroller dengan Devin yang masih tertidur pulas di dalamnya.
"Abang pulang dulu. Kalau ada apa-apa dengan Tante, kamu telpon Abang saja. Suster sebentar lagi sampai di sini. Abang sudah memencet tombol yang itu," tunjuknya pada tombol merah.
"Ckk... Apa Abang gak bisa tinggal di sini sama aku?" tanya Queen kesal dengan wajah yang memberengut.
"Gak bisa, Queen. Istri Abang sepertinya lagi sakit. Kamu sudah besar sekarang. Tinggal di Paris saja kamu berani sendiri" ucap Fin membuat Queen terdiam.
"Abang pergi sekarang!" pamit Fin sambil mengacak rambut bagian atas Queen.
__ADS_1
Fin pergi dari ruangan Nada meninggalkan Queen dalam kemurkaannya.