
Nada tersenyum penuh syukur mendengar jawaban dari Karina. Dia mengangguk dengan antusias.
"Tante tau, kamu memang dapat diandalkan. Sekarang Tante sudah jauh lebih tenang." ucap Nada dengan kedua tangan menggenggam tangan Karina.
"Yuk, sekarang pakai lagi alatnya." Karina memasangkan kembali sungkup yang sempat Nada tolak untuk Karina pasangkan.
Nada menurut. Dia memakai kembali alat bantu pernafasannya itu. Karina menyelimuti Nada sebelum akhirnya beranjak untuk membawa buku yang akan di bacakan nya.
"Devin bobo lagi?" tanya Karina pada Fin saat sampai di ruang tengah kamar Nada. Devin tengah tertidur di atas sofa bed yang ada disana. Di sisi kanan tubuhnya, tersimpan beberapa bantal sofa untuk menghalangi agar Devin tidak terjatuh.
Fin mengalihakan pandangannya ke arah sang istri yang datang. Fin baru selesai membereskan buku Devin dan memasukannya kembali ke dalam tas Dinosaurus milik sang anak.
Fin tersenyum bahagia saat melihat istrinya datang. Entah kenapa, Fin selalu merasa nyaman saat sang istri ada di sekelilingnya. Tiga tahun terpisah dari Karina membuat Fin khawatir tiap kali sang istri tidak ada di sampingnya.
"Kekenyangan mungkin." jawab Fin.
"Tuh," tunjuk nya pada strawberry cake yang Devin habiskan.
"Wow! Dia sudah mencuri start, ternyata" ucap Karina sambil tersenyum. Fin sendiri berjalan mengikuti kemana sang istri pergi.
__ADS_1
Fin berdiri di belakang Karina dengan kedua tangan terulur ke depan memeluk perut ramping istrinya itu. Dagunya dia simpan di atas kepala Karina yang kebetulan tinggi Karina hanya sebatas pundak Fin.
"Daddd..." rengek Karina kesal karena Fin yang terus menerus menempel di belakang tubuhnya dan mengikuti kemana Karina melangkah.
Karina kembali ke ruangan sang Tante, setelah menemukan buku yang akan dibacakannya.
Fin tentu saja ikut. Dia menempel di bagian belakang tubuh Karina. Kepalanya dia masukkan ke sela-sela leher dari Karina dengan bibir Fin yang terus mengecup serta menghisap leher mulus istrinya itu sampai berbekas.
"Daddyyyyyy, ih... " kesal Karina sambil menjauhkan lehernya dari bibir sang suami. Beberapa langkah lagi, Karina sampai di depan bed Tante Nada. Karina risih kalau sang Tante sampai melihat kelakuan keponakannya itu.
Namun, Fin tidak menghiraukan peringatan istrinya.
"Heh?" tanya Karina sambil kepalanya terangkat memastikan apa yang suaminya katakan barusan. Benar saja.
Nada tertidur kembali setelah menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan sebelumnya.
"Ayo kembali!" ajak Fin. Padahal beberapa langkah lagi, sampai di depan bed Nada.
"Sebentahhhh..." Karina memekik saat dengan tiba-tiba, Fin menggendongnya ala bridal style.
__ADS_1
Karina langsung menutup mulutnya menggunakan kedua tangan saat di rasa teriakannya itu akan membangunkan anak dan tantenya yang baru saja terlelap.
Buku yang Karina bawa untuk di bacakan di depan Tantenya itu pun terjatuh di lantai dan Fin biarkan begitu saja.
"Daddy ih!" rengek Karina kembali sambil menggerakkan bahunya agar Fin menurunkannya.
"Mommy terlalu banyak bicara hari ini." ucap Fin dengan suara bass nya yang serak. Fin terus berjalan membawa tubuh istrinya menuju ruang tengah tempat sang anak terlelap.
"Dad, jangan di sini! Ada Devin!" bisik Karina pelan tepat di telinga suaminya.
Fin mengerutkan keningnya, 'Jangan di sini?" batin Fin mencoba menerjemahkan maksud dari perkataan istrinya.
"Di sana saja," bisik Karina kembali.
Hembusan nafas Karina mengenai daun telinga Fin. Fin meremang.
"Mommy tengah merayu?" tanya Fin dengan kabut gairah di matanya.
Fin membawa Karina menuju ruangan lain yang tersekat pintu. Ruangan tersebut adalah dapur.
__ADS_1
Fin menurunkan Karina di atas kitchen island. Ruangan itu jauh dari ruangan sang anak dan sang tante, Jadi Fin pikir, di sana adalah tempat yang aman untuk bercinta di saat terdesak seperti sekarang ini.