
Karina menatap kosong buket bunga di hadapannya. Entah apa yang dia pikirkan saat ini. Nyawanya melayang membayangkan segala kemungkinan yang akan terjadi ke depannya.
Kurang dari tiga hari lagi, Karina akan berangkat untuk perjalanan dinasnya. Namun, sekalipun suaminya tidak pernah membahas hal tersebut dengan Karina.
Apa penugasan Karina ada hubungannya dengan kedatangan si wanita pengirim buket bunga tersebut? Fin bahkan tidak menjelaskan maksud dari terpilihnya Karina, yang notabene nya hanya seorang anak magang, namun menjadi perwakilan dari kantor pusat Grahatama Group. Yang Karina dengar bahwa sebelum-sebelumnya, yang mewakili perusahaan adalah, mereka-mereka para senior di Grahatama Group.
Hal tersebut membuat gosip perihal Karina yang di tandai bos gara-gara telat sepuluh menit saat tempo hari pun, menyebar dengan sangat cepat, dari mulut ke mulut karyawan kantor.
Karina terhenyak, tersadar dari lamunan nya. Sebuah tangan kekar milik seseorang, melingkar di perut rampingnya. Bahu polosnya pun terasa dingin, di saat sebuah ciuman lembut mendarat di sana. Karina refleks membalikan tubuhnya, dan berusaha menjauh dari kungkungan orang tersebut.
Mata coklat Karina, bersibobrok dengan mata zamrud pria yang memeluknya. Nafas lega, berhembus dari hidung mancung nan mungil Karina, setelah tau kalau yang tengah memeluknya saat ini adalah Fin, sang suami.
"Mommy, sedang apa melamun disini, hem?" tanya Fin sambil merapikan rambut depan Karina.
"Di sini dingin!" Karina tengah berada di taman depan rumah.
Karina melepaskan tubuhnya dari pelukan Fin, kemudian memundurkan tubuhnya beberapa langkah, Fin mengerutkan dahinya bingung dengan apa yang istrinya lakukan.
__ADS_1
"Ini tempat umum, Daddy! Nanti di lihat banyak orang!" jelas Karina pada suaminya.
"Memangnya kenapa?" tanya Fin.
"Ingat, perjanjian yang kita buat? Kita rahasiakan pernikahan kita dari khalayak ramai!" jawab Karina kembali mengingatkan.
Fin menarik nafasnya panjang.
"Oke," ucap Fin sambil menaikan alis dengan kepala mengangguk pelan.
"Kalau itu yang Mommy mau!" lanjutnya merubah nada bicaranya menjadi lebih dingin. Fin berlalu begitu saja dari hadapan Karina, Karina mematung menatap punggung lebar suaminya yang semakin menjauh dari pandangan nya.
"Ya, lebih baik seperti itu. Sehingga tidak ada rasa yang akan tumbuh di dalam sini" lirih Karina sambil memegang dada dengan kedua tangannya.
Karina berjalan untuk kembali masuk ke tempat acara, namun secara tiba-tiba, seseorang menabrak tubuhnya.
"Ups, sorry!" ucap seorang perempuan sambil menutup mulut dengan tangannya.
__ADS_1
"Tidak masa..." jawab Karina sambil menengok perempuan yang ada di belakangnya tersebut.
"Kamu?!" pekik Karina saat melihat wajahnya.
"Kenapa?" tanya Lisa dengan bibir tersungging miring, meremehkan. Perempuan yang dengan sengaja menabrakan tubuhnya pada tubuh Karina itu adalah Lisa, sang mantan sahabat yang telah berselingkuh dengan mantan kekasih Karina, Ramon.
Karina mencoba mengabaikan Lisa, dengan terus berjalan masuk ke dalam tempat acara.
"Wow, wow, wow... Aku kira apa yang aku dengar tempo hari di toilet hotel, hanya sebuah omong kosong. Ternyata..." ucapnya terjeda.
"Kamu memang murahan" bisik Lisa dengan sengaja sambil mencondongkan tubuhnya menghadap Karina yang tengah membelakangi nya.
Karina mengerutkan kening nya. Kemudian dia berbalik menatap Lisa dengan nyalang.
"Jaga mulut kamu, Lisa!" tegas Karina, sambil tersenyum mengintimidasi. Karina berjalan tiga langkah menghampiri tubuh Lisa.
Dia mencengkram rahang Lisa dengan kuat. Karina menyeringai seraya berkata.
__ADS_1
"Seorang murahan dilarang berteriak murahan pada orang lain!" ucap Karina menegaskan setiap kalimatnya. Semakin kencang Lisa memegang tangan Karina agar terlepas dari rahangnya, semakin kencang juga Karina menekan rahang milik, Lisa.