
Dari lantai atas villa, Karina turun di temani Fin yang berjalan di sampingnya. Wajah Fin terlihat tegang namun tak mengurangi ketampanannya. Dia mengenakan kemeja baby blue yang bagian tangannya dia gulung sebatas sikut. Sudah tau kan, Fin masuk team mana?
Berbeda dengan Fin, Karina justru menggunakan dress berwarna baby pink. Sebuah dress cantik bermodel tutu dress yang panjangnya hanya sebatas lutut. Malam ini, Karina terlihat manis sepeti seorang balerina.
Dia berhasil menjadi pusat perhatian orang-orang yang datang ke pesta. Dari sudut ruangan seseorang menatap Karina dengan penuh kerinduan. Dari sudut matanya beberapa bulir air mata menetes tanpa seizinnya.
"Tos, kita satu team!" celetuk Renal saat Karina sampai di lantai bawah tempat berlangsungnya acara. Renal menggunakan kemeja merah muda sama seperti Karina.
Karina tersenyum sementara Fin mendelik sambil berdecak seperti biasanya.
"Ckk....!!"
"Kenapa kak Renal memilih warna merah muda?" tanya Kiara yang datang menghampiri Karina dan Fin. Dia kemudian memeluk Kakak iparnya itu sambil mengelus dan mencium perut buncit Karina sebagai sapaan pada calon keponakannya.
"Biar emaknya awet muda. Sudah cukup dengan dua pria membosankan di rumahnya," ucap Renal menyindir Fin dan Devin yang Renal anggap membosankan.
"Renal!" sela Fin tidak suka. Sementara itu Kiara hanya tertawa geli mendengar jawaban kocak Renal. Namun, Kiara mengakui apa yang Renal katakan memang ada benarnya juga.
"Kamu sendiri... kenapa memakai baju pink? Jangan bilang kalau kamu tidak memiliki pakaian berwarna biru," tanya Renal pada Kiara.
"Gak lah. Aku mengikuti insting saja. Si baby dari saat hamil dia sensitif sama yang namanya pelakor. Biasanya yang tingkat sensitivitasnya tinggi itu perempuan," jawab Kiara mengemukakan hasil penerawangannya.
"Nah kan!" seru Kiara.
"Baru saja di omongin. Pelakor nya langsung datang!" celetuk Kiara begitu Queen datang menghampiri mereka.
Renal, Karina dan Fin secara serempak menengok ke arah yang Kiara tunjuk.
__ADS_1
"Kiara," sela Karina sambil meraih tangan Kiara yang masih menunjuk Queen.
"Selamat ya! Terima kasih sudah mengundang aku." tulus Queen sambil memeluk Karina.
Selanjutnya, dia beralih pada Fin.
"Abang, selamat..." ucap Queen kembali sambil mengulurkan tangannya.
Fin tidak merespon. Dia bahkan tidak mengeluarkan tangannya dari dalam saku celana.
"Daddy ke sana dulu, ya" pamit Fin pada Karina sambil mengecup kening Karina sesaat sebelum Fin pergi menemui para tamu yang datang. Dia tidak menghiraukan kehadiran Queen.
Queen menurunkan tangannya sambil tersenyum canggung.
"Maafkan Kak Fin, ya!" tulus Karina meminta maaf pada Queen.
"Lihat, wanita yang sudah kamu hancurkan masa depannya?" kesal Kiara pada Queen.
Queen tidak marah. Dia sadar ini semua buah dari kejahatannya di masa lalu. Dia sudah menyia-nyiakan kebaikan keluarga Grahatama. Masih untung Karina memaafkan kesalahan fatalnya dan membiarkan Queen menebus kesalahan seumur hidupnya.
"Karina ada Ayah kamu," Renal mencoba menghentikan amarah Kiara.
"Ayah? Ayah datang??" tanya Karina penuh antusias saat mendengar Ayahnya datang.
Karina bergegas pergi untuk menemukan Ayahnya. Hatinya berdebar. Setelah sekian lama akhirnya dia akan bertemu kembali dengan sang Ayah. Ini merupakan pertemuan pertama mereka. Karina pikir Ayahnya tidak akan datang.
Setelah mencari di beberapa tempat akhirnya Karina menemukan sosok sang Ayah yang tengah duduk di sudut ruangan yang sepi dari keramaian. Dia duduk di temani asistennya yang dari dulu setia berada di sisinya.
__ADS_1
Agam tengah memperhatikan sesuatu yang ada di hadapannya. Dia bahkan sesekali mengusap sesuatu yang menetes dari sudut matanya.
Wajah Agam terlihat pucat dengan pipi tirus berhiaskan tulang. Tanpa di tanya pun orang yang melihatnya sudah tahu apa yang di alami Agam selama ini.
Karina mengikuti arah pandangan sang Ayah. Ternyata Ayahnya tengah memperhatikan Devin yang sedang menyapa para tamu bersama Daddy nya. Dia terlihat begitu menggemaskan.
Dada Karina semakin sesak saat melihat kondisi Ayahnya. Tidak ada lagi tubuh kekar sang Ayah yang dulu selalu berdiri tegap penuh percaya diri saat bertemu dengan rekan-rekan bisnisnya. Sekarang Agam hanya bisa menunduk malu menyembunyikan wajahnya dari khalayak ramai.
"A... Ayah..." panggil Karina terbata. Mendengar suara yang tidak asing di telinganya dengan cepat Agam menoleh ke arah sumber suara.
"Sa... sayang..." panggil Agam. Dia refleks berdiri menyambut kedatangan Karina.
"Ayah..." panggil Karina kembali. Dia masih tidak percaya kalau Ayahnya berdiri di hadapannya.
Karina tidak dapat mengendalikan emosinya. Dia menangis mendengar sang Ayah memanggilnya.
"Sayang" Karina sudah sangat lama tidak mendengar panggilan tersebut.
Saat tiba di hadapan Karina dengan cepat dia berlutut sambil menundukkan kepalanya. Berlutut pun rasanya tidak akan cukup untuk menembus dosa-dosanya di masa lalu.
"Ma... maaf. Maafkan Ayah..." lirih Agam penuh penyesalan. Kalimatnya terbata-bata menahan tangisnya agar tidak pecah.
"Ayah jangan!" Karina bergegas meraih tubuh sang Ayah agar bangkit. Selanjutnya Karina bawa tubuh kurus itu masuk ke dalam pelukannya. Saat itu pula tangis keduanya pecah.
"Terima kasih sudah datang. Aku bahagia Ayah kembali," ucap Karina penuh syukur.
Agam melepaskan pelukannya. Dia menatap wajah cantik sang anak.
__ADS_1
Tangannya mengelus pipi Karina.
"Terima kasih sudah bertahan. Sekarang giliran Ayah membayar segala penderitaan yang kamu rasakan dulu," ucap Agam. Dia tersenyum saat mengatakannya. Senyum tulus seorang Ayah.