
"Maaf, Pak!" ucap seorang pria berjas hitam tersebut.
"Semuanya sudah siap." lanjutnya.
"Oke, saya kesana sekarang!" jawab Fin kemudian menutup kembali jendela mobil nya.
Karina membelalakkan matanya tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Karina memberengut kesal merasa sudah di bohongi oleh suaminya.
Karina membuang wajah nya ke arah jendela luar tempat duduk nya. Fin di buat gemas oleh tingkah istrinya yang sedang ngambek karena ulah nya.
"Mommy kenapa?" tanya Fin polos.
'Pura-pura tidak berdosa, lagi!' gerutu Karina dalam hati. Karina masih bergeming, dia tidak menjawab pertanyaan dari suaminya.
"Mommy marah?" tanya Fin kembali.
Karina menarik nafasnya, kemudian menghembuskan nya secara perlahan.
"Hush..." hembus nya.
Karina membalikan tubuhnya kemudian menatap suaminya yang tengah mencondongkan tubuhnya kehadapan Karina.
Karina memasang senyum termanisnya sambil berkata.
"Tidak apa-apa, Mommy hanya terkejut saja," ucapnya lembut.
Fin terkejut dengan respon istrinya. Dia sudah membayangkan bagaimana sang istri merajuk dan Fin harus membujuknya agar tidak ngambek lagi.
Fin lupa, kalau istrinya perempuan istimewa. Dia berbeda dengan perempuan lain yang kadang memiliki emosi yang meledak-ledak saat ada yang tidak disukai dari pasangannya.
Fin arahkan tangannya ke depan terulur mengelus pipinya.
"Ayo, kita berangkat sekarang, Devin pasti sudah menunggu kedatangan kita" ucap Fin sambil membawa kepala istrinya ke depan kemudian memberikan kecupan singkat pada bibir candu istrinya tersebut. Selanjutnya Fin kembali fokus pada jalanan dan melajukan mobilnya menuju tempat yang akan mereka tuju.
Karina mengangguk dengan rona merah pada pipinya. Walaupun suaminya sudah sering melakukan hal-hal seperti itu, tapi entah kenapa Karina selalu tersipu saat Fin melakukan hal yang bahkan Fin anggap sebagai tindakan kecil. Ya, tindakan kecil yang berpengaruh besar pada mood Karina sekarang.
Dalam seketika, dia melupakan kekesalannya karena sang suami sudah membohonginya. Mood nya kembali meningkat hanya karena sebuah kecupan.
Mobil yang Fin kendarai berhenti di depan sebuah bangunan tinggi, tidak jauh dari lokasi saat Fin berhenti untuk bercinta tadi.
__ADS_1
Karina mengerutkan keningnya bingung, karena tujuan mereka masih sangat jauh tapi Fin mengajaknya untuk berhenti kembali di sebuah bangunan yang di yakini Karina sebagai perusahaan mitra dari Grahatama Group sendiri.
"Kenapa berhenti disini?" tanya Karina bingung.
"Bukannya tujuan kita masih jauh, Dad?" lanjut Karina dengan kebingungannya.
Fin hanya tersenyum sambil memberi Karina sebuah topi dan sunglasses. Karina memakainya tanpa bertanya kembali. Karina juga mengeluarkan sebuah masker dari tas mungil berharga fantastis nya kemudian memakainya.
Fin hanya menggeleng pelan menyaksikan istrinya yang sudah siap dengan tampilannya yang tertutup.
Sebelum keluar, Fin pun memakai topi yang sama persis dengan yang di pakai istrinya, sunglasses milik Fin sendiri, hanya dia gantung di atas sweater yang di pakainya.
"Ayo!" ajak Fin yang saat ini tengah membuka kan pintu mobil untuk istrinya keluar. Karina keluar dengan ragu, namun suaminya meyakinkan Karina kalau semuanya akan baik-baik saja.
Karina turun di sambut oleh suaminya yang langsung membawa pinggang ramping istrinya untuk dia rangkul secara posesif.
Mereka masuk ke dalam gedung kosong yang sepi. Gedung tersebut sepi, karena kebetulan bertepatan dengan libur akhir pekan.
Karina meremas lengan suaminya saat di dalam bertemu kembali dengan pria berjas hitam yang mengetuk jendela mobil Fin saat mereka tengah berhenti di pinggir jalan.
"Daddy, mau apa kita ke gedung kosong?" bisik Karina pada suaminya.
Fin mengangguk memberi kode pada pria yang membimbing perjalanannya menuju tempat yang akan mereka tuju.
"Bukannya Mommy ingin bertemu, Devin?" tanya Fin. Dahi Karina berkerut bingung.
"Ini cara tercepat untuk sampai di tempat, Devin." lanjut Fin menjelaskan.
"Hem? Kok bisa?" bingung Karina.
Fin merangkul pundak istrinya kemudian membawa ke dalam pelukannya. Fin menekan kedua pipi Karina menggunakan sebelah tangannya hingga bibir Karina berkerut dan mengerucut seperti bibir bebek.
Fin kecup bibir istrinya beberapa kali, sebelum melepaskannya kembali.
"Bawel!" ucapnya sambil menyentil hidung Karina pelan.
"Daddy, malu!" bisiknya sambil mengusap hidung yang Fin sentil. Fin hanya mengangkat bahunya tidak peduli.
Si pria yang berdiri di hadapan Fin dan Karina menundukkan kepalanya dengan posisi tangan yang terlipat ke belakang dan tubuh yang berdiri tegak. Setelah beberapa saat, lift mereka sampai di lantai paling atas dari gedung yang Fin datangi.
__ADS_1
Mata Karina membelalak dengan kedua tangan menutup mulutnya yang tengah menganga. Di hadapannya saat ini sudah terparkir sebuah helikopter bertuliskan Grahatama Group.
"Daddy, apa ini tidak berlebihan?" tanya Karina pada suaminya.
"Tidak ada yang namanya berlebihan jika itu untuk memfasilitasi Mommy dan Devin!" ucap Fin penuh keyakinan.
"Ayo, berangkat sekarang!" ajak Fin sambil membimbing Karina untuk dia naik ke dalam helikopter.
Heli yang mereka naiki terbang membawa Karina dan Fin untuk bertemu dengan anaknya. Tidak membutuhkan waktu berjam-jam, hanya dua puluh menit mereka sampai di kebun binatang tempat Devin dan Renal menghabiskan akhir pekan.
Helikopter tersebut parkir di lapangan masih di dalam area kebun binatang. Kedatangan heli yang tiba-tiba menjadi tontonan bagi orang-orang yang kebetulan berada disana.
Mata mereka berbinar saat melihat nama Grahatama Group tertulis pada heli tersebut. Beberapa wanita berkumpul hanya untuk melihat si tampan yang selalu menjadi perbincangan itu.
Ini adalah momen langka bagi mereka karena bisa bertemu secara langsung dengan pewaris Grahatama Group yang terkenal dingin itu.
"Boy, sepertinya Daddy dan Mommy kamu sudah datang." ucap Renal saat matanya melihat helikopter bertuliskan Grahatama Group turun.
Mata Devin berbinar mendengar kedatangan Mommy dan Daddy nya. Dia mengalihkan perhatiannya untuk mencari keberadaan kedua orang tuanya.
"Lihat, Boy... Bapak kamu malah sibuk tebar pesona!" ucap Renal yang mendapat delikan tajam dari Devin.
"Bukan tebar pesona!" celetuk Eca menyahut perkataan Renal.
"Tapi pesonanya yang bertebaran dengan sendirinya." lanjut Eca dengan wajah cueknya.
Devin tersenyum sambil menatap Eca, seolah mengerti apa yang bodyguard Mommy nya itu jelaskan.
"Ckk," decak Rena kesal.
"Cece, apa kamu sedang memuji pria lain di hadapan calon suami kamu?" tanya Renal mengeluarkan jurus andalannya dalam menggoda.
Eca tersenyum miring seolah mengejek.
"Mimpi!" jawabnya padat dan singkat.
"Maaf, Bapak salah orang! Saya bukan orang yang akan luluh dengan gombalan receh, Bapak." lanjut Eca.
"Tapi saya, serius." cicit Renal pelan. Namun sayang, Eca tidak mendengar kalimat terakhir yang Renal ucapkan karena Eca sudah berlalu pergi untuk mengamankan Karina dari orang-orang yang mencoba mendekatinya.
__ADS_1
Renal hanya dapat menatap punggung kokoh yang tampak seksi itu dari kejauhan. Eca tampak mengesankan, saat dia tengah bergerak lincah, membawa Karina dan Fin keluar dari keramaian.
"Semua berawal dari mimpi. Dan aku akan mulai bermimpi untuk bisa bersanding dengan kamu!" lirih Renal dalam hati.